
"Sayang aku minta maaf, tadi aku benar-benar sibuk, bahkan aku saja lupa ponsel ku dimana" ucap Alan mengikuti langkah Vony yang kesana kemari yang tengah meluapkan kekesalannya dengan mencari kesibukan agar tak terjadi pertengkaran diantara keduanya. "Sayang..."
Vony berbalik menatap sang suami yang masih mengenakan setelan jasnya. "Aku tidak betah dengan bau badan mu itu Alan, cepat mandi sana!" suruh Vony menunjuk kamar mandi.
"Aku tadi benar-benar sibuk, kalo tidak percaya kamu bisa menghubungi Kholis karena satu hari ini aku selalu bersamanya mulai dari meeting, makan siang, ke pabrik, menemui klien dan..." saat Alan mencoba menjelaskan Vony memotong ucapannya.
"Iyah, iyah aku percaya kamu sangat sibuk, makanya aku suruh kamu segara mandi agar tubuh dan fikiran mu segar" potong Vony berharap Alan segara mandi. Vony menghela nafas panjang saat Alan masih berada di tempat memasang ekspresi wajah bersalah. "Aku tidak marah hanya sedikit kesal saja karena kamu tidak memberikan kabar. Kamu tau akhir-akhir ini aku sangat tidak betah kalo tidak mendapatkan kabar dari mu barang sedetik saja, rasanya sungguh tidak enak Alan cemas, takut, campur menjadi satu, coba kalo kamu ada diposisi ku sungguh itu sangat menyiksa"
Alan meraih tubuh sang istri memeluknya dengan lembut dengan perut buncit Vony yang ada diantara keduanya. "Maafkan aku"
__ADS_1
Mendengar kata maaf yang lagi-lagi Alan lontarkan membuat air mata Vony menetes begitu saja memukul dada bidang Alan dengan kuat. "Aku tidak suka kamu seperti itu!"
"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi" janji Alan mengecup kepala Vony dengan cukup lama. Merasa sang istri mulai tenang Alan melonggarkan pelukannya menghapus jejek air mata di kulit putih sang istri, mendaratkan ciuman singkat pada bibirnya. "Cantik"
Wajah Vony langsung bersemu merah mendengar gombalan dari mulut Alan yang berhasil menghilangkan rasa kesalnya dengan begitu cepat.
Baru saja ingin menyuruh Alan untuk segera mandi Vony merasakan mulas pada perut bagian bawah membuat wanita cantik itu mengaduh kesakitan dengan memegangi perutnya membuat Alan menatap nya khawatir membawa sang istri ke atas ranjang, duduk di hadang Vony Alan menatap nya cemas.
"Tidak" jawab Vony tersenyum manis pada Alan yang masih mengusap perutnya. "Apa dia sudah mau bertemu kita?"
__ADS_1
"Sepertinya begitu"
"Aku tidak sabar mendengar tangisannya" ucap Vony perlahan memejamkan mata, berniat mengumpulkan tenaga sebelum rasa sakit itu kembali menyerang.
Dengan telaten Alan berada disampingnya mengusap bagian perut dan punggung Vony secara bergantian mengantarkan sang istri ke alam mimpi. Mendengar hembusan nafas teratur dari sang istri Alan menarik selimut sampai batas pinggang mendaratkan ciuman pada keningnya.
Merogoh ponselnya dari tas kerja, Alan mengirimkan pesan pada Kholis yang berkata dirinya besok akan mengambil cuti. Baru saja Alan akan meletakan benda pipih itu sebuah balasan dari Kholis membuat dirinya mengumpat dalam hati.
Berjalan sedikit menjauh Alan melakukan sambungan telefon pada mantan assisten sang ayah yang menjadi assistant nya sekarang. "Handle semua pekerjaan ku besok bagiamana pun caranya, kalo kamu tidak bisa, kamu bisa mengirimkan surat pengunduran diri mu malam ini juga!" Alan langsung mematikan sambungan telfonnya secara sepihak tanpa menunggu balasan dari Kholis.
__ADS_1
Tubuh dan pikirannya yang terasa sangat lelah membuat Alan berjalan masuk kedalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah dinginnya air shower.