
"Kamu mau kan jadi pacar Alan?" ucap Salma penuh harap. Dengan cara yang bisa di bilang sedikit nekat dan memaksakan kehendaknya Salma harap ini hal yang terbaik untuk putranya agar segara menikah karena disini tidak ada yang bisa jamin dirinya akan tetap hidup sampai anaknya menikah nanti.
Vony yang mendapatkan pertanyaan seperti itu merasa sangat menyesal telah berusaha menguping pembicaraan anak dan mama itu kalau tau dirinya akan berada di situsi seperti ini.
"Ta-tapi tante-"
"Hanya pacaran nak, bukan tunangan atau kamu mau bertunangan dengan Alan sekarang juga?"
Vony menggeleng cepat, menjadi kekasih Alan saja tidak pernah ia bayangkan sebelumnya apa lagi langsung menjadi tunangan seorang pria yang selalu membuatnya marah?, sungguh itu benar-benar tidak ada dalam list kehidupannya.
"Kenapa mama tiba-tiba menjadi pemaksa seperti ini?, Alan tidak mau ma..di jodoh-jodo in segala, bukankah Alan sudah bilang tadi kalo waktunya tiba Alan pasti nikah" kata Alan saat Vony tak kunjung membuka suaranya.
"Apa kamu setuju jadi pacar Alan nak?" tak menghiraukan perkataan putranya Salma masih menatap Vony yang tengah mengigit bibir bawahnya.
Vony menggeleng menolak pertanyaan Salma. "Maaf tante saya tidak bisa karena saya juga memiliki kriteria pria idaman saya"
"Idaman?, bahkan tak ada seorang pria yang mau menjadi suaminya"
Mendapat penolakan akan hal tersebut Salma memegang dadanya yang langsung terasa sakit. Kedua manusia itu yang tadinya saling diam mulai kepanikan tak kala Salma merintih kesakitan di bagian dadanya.
Tak ingin terjadi sesuatu pada sang mama Alan berjalan keluar dari dalam kamar mencari dokter yang biasanya menangani sang mama.
"Tante tarik nafas panjang keluarkan pelan-pelan" ucap Vony memberi aba-aba, ia tak tau harus berbuat apa untuk meredakan rasa sakit yang sedang Salma rasakan yang ada sekarang ia di penuhi dengan rasa bersalah dan lebih menakutkan kondisi Salma akan semakin memburuk dan bisa-bisa pria itu menuntutnya dan dia masuk ke dalam penjara.
"Tidak-tidak, aku tidak mau masuk penjara!" jeritnya dalam hati.
"Tante tenang ya, jangan pikir yang macam-macam"
"Minggir" mendorong tubuh Vony agar menjauh dari sang mama Alan mempersilahkan dokter dan suster memeriksa keadaan Salma.
"Kenapa nyonya Salma bisa seperti ini?" tanya dokter tersebut.
"Sa-saya ingin wanita itu menjadi kekasih anak saya" ucap Salma terbata-bata.
Mendengar hal itu membuat Vony semakin dilanda rasa bersalah semakin besar. Tapi tidak mungkin ia menjadi kekasih dari seorang pria nyebelin seperti Alan.
__ADS_1
"Mama mau dia jadi pacar Alan bukan?" Salma mengangguk lemah, terpaksa Alan harus melakukan hal ini demi sang mama. Menarik nafas dalam Alan melanjutkan perkataannya. "Bahkan mama bisa mendapatkan dia sebagai calon mantu mama"
"Ti-tidak, saya tidak mau!!" tolak Vony dengan cepat. "Kamu jangan asal bicara seperti itu saya tidak mau jadi istri dari pria gila seperti kamu!" tegas Vony.
Melihat kondisi yang canggung Alan berpamitan pada Salma yang masih ditangani oleh dokter. "Ma Alan keluar dulu, dok tolong lakukan yang terbaik buat mama saya" ucap Alan sebelum menarik tangan Vony keluar dari ruangan sang mama.
Keluar dari ruang inap Salma, Vony melepaskan genggaman tangan Alan. "Kenapa kamu bilang saya calon istri kamu?, apa tidak ada wanita lain dimuka bumi ini selain saya?" cecer Vony.
"Aku terpaksa bilang seperti itu" ucap Alan menundukkan tubuhnya di kursi rumah sakit.
"Apa kamu bilang terpaksa?" bagaimana pria ini bisa bilang terpaksa kalo saja keterpaksaan itu membuat Salma pasti sudah berharap lebih. "Intinya aku gak Sudi dan gak akan pernah mau menikah dengan pria seperti dirimu!"
Menaikan pandangannya yang sempat tertunduk Alan menatap wajah cantik wanita Vony. "Aku juga tidak mau menikah dengan sama kamu!"
Kalo pria ini tidak mau menikah dengannya kenapa ia harus bilang dengan jelas tadi pada mamanya. "Kalo kamu tidak mau menikah dengan ku, sekarang juga aku minta bilang sama mama kamu kalo aku bukan calon istri kamu!"
Mengusap wajahnya kasar Alan mensejajarkan tubuhnya dengan Vony. "Sudah aku bilang, aku tidak bisa mengatakan hal itu!"
"Tuhan tolong turunkan hujan aku ingin membuang laki-laki ini ke kali Ciliwung sekarang juga!"
Mendapat pertanyaan seperti itu Alan membuang pandangannya kearah lain, apakah ini bisa dibilang sebuah rencana atau takdir yang mempertemukan keduanya dalam keadaan seperti ini.
"Ayah ingin kamu menikah dengan Anggit!" suara penuh penekanan itu membuat tangan Alan langsung terkepal.
"Aku tidak mau!" jawab Alan cepat.
"Kamu harus mau atau ayah tidak akan memberikan jabatan ini kepada mu!"
Alan berdecik selalu saja pria itu mengancamnya menggunakan kata-kata andalannya. "Tidak masalah jika aku tidak bisa menjadi CEO di perusahaan mama setidaknya satu saat nanti pasti ada seorang perempuan yang akan menerima ku apa adanya!"
Elard tergelak mendengar omong kosong puteranya yang sangat mustahil dizaman sekarang ini dimana perempuan lebih mengincar harta dari pada Cinta. "Terima tawaran ini dan mau tidak perlu capek-capek bekerja di perusahaan orang!" tawar Elard sesekali lagi.
"Apa aku terlalu bodoh?,ayah ingin aku menikah dengan Anggit agar perusahaan mama bisa dengan kuat bekerjasama dengan perusahaan yang bergerak di dunia bawah itu bukan?" ucap Alan yang tak tanggung-tanggung membuka rencana busuk sang ayah. "Kalo ayah ingin bekerjasama dengan perusahaan besar ayah tinggal bilang sama Alan tanpa harus bekerjasama dengan perusahaan yang jelas-jelas sudah bermasalah dari awal!"
Rahang Elrad mengeras mendengar hal tersebut, Salma yang melihat sorot kemarahan dari mata sang suami meminta Alan agar diam.
__ADS_1
"Kita lihat saja wanita bodoh mana yang mau menikah dengan pria miskin seperti dirimu!" membanting Alat makannya dengan kasar Elrad bangkit dari kursi berjalan meninggalkan meja makan.
"Alan!" panggil Vony. Membuat pria itu langsung tersadar akan lamunannya. "Kamu melamun?"
"Tidak" elak Alan menetralkan ekspresi wajahnya.
"Jadi apa kamu memiliki rencana di balik semua ini?" tanya Vony dengan pertanyaan yang sama.
Menatap sesaat wajah di hadapannya Alan melayangkan pertanyaan yang didalamnya terselip tawaran. "Apa kamu ingin bekerjasama dengan ku?"
"Kerjasama?" dahi Vony menimbulkan garis halus tanda ia tak paham akan ucapan tersebut.
Alan mengangguk mulai menjelaskan kenapa ia bisa berbicara seperti itu. "Aku tidak mungkin masuk kedalam dan berbicara pada mama tentang hal yang sebenarnya, apa lagi kamu lihat sendiri kondisi mama sedang tidak baik-baik saja jadi aku minta tolong sama kamu iyakan saja ucapan mama dan sebagian gantinya aku akan membantu mu memincut perusahaan-perusahaan besar di negeri ini bahkan jika kamu mau aku bisa memincut beberapa perusahaan luar untuk bekerja dengan Adhitama Company, bagaimana?"
Otak Vony mencerna setiap ucapan yang terlontar padanya, tawaran yang sangat mengiurkan untuk dirinya sekarang mengingat Alan merupakan asissten Kenzou yang pastinya sudah memiliki kepercayaan dimana-mana dan itu akan memperlancar usahanya untuk cepat menjadi CEO di Adhitama Company. Tapi tunggu dulu dari mana Alan tau tentang apa yang sedang ia usahakan?.
"Dari mana kamu tahu kalo aku sedang berusaha memincut perusahaan-perusahaan besar itu?".
"Kau tidak perlu tahu aku tahu dari mana,cukup kamu mau terima atau tidak tawaran ini!"
Vony diam seribu bahasa, ini memang tawaran yang sangat langka dan mengiurkan untuk dirinya, disisi lain Vony juga tidak ingin menukar tumbuhnya dengan menikah bersama Alan-manusia yang sangat menyebalkan tapi ia juga tidak ingin kehilangan kesempatan emas.
Melihat Vony mengekang kecil dengan pandan lurus kedepan Alan membuka suaranya. "Kalo kamu mau kita akan menikah selama enam bulan dan selama enam bulan itu juga tidak ada kontak fisik di antara kita dan selama enam bulan kita menikah aku akan memincut perusahaan-perusahaan besar sebanyak-banyaknya untuk Adhitama Company" ucap Alan seakan-akan tahu apa isi kepala wanita itu.
"Itu artinya kamu menjadi asisten ku?"
"Anggap saja seperti itu" jawab Alan.
"Aku butuh waktu, ini bukan keputusan gampang yang bisa di putuskan dengan cepat" ujar Vony memijat keningnya yang mulai terasa pusing.
"Setidaknya kamu harus menerima tawaran ini karena mama ku pasti sudah berharap lebih"
***
Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1