
Sampai di ibu kota pada malam hari keduanya langsung mengistirahatkan tubuh agar bisa bekerja pagi harinya.
Paginya keduanya langsung menuju kantor mereka masing-masing dengan Alan yang terlebih dahulu mengantar Vony ke kantor Adhitama Company.
"Jangan lupa oleh-oleh untuk Aleta kamu kasih sekalian pada Kenzou" ucap Vony mengingatkan sebelum turun dari dalam mobil.
"Iyah, dan apa kamu yakin tidak ingin istirahat selama satu hari?" tanya Alan yang melihat raut lelah tergambar jelas di wajah Vony.
Alan yang melihat Vony nampak sangat kelelahan setelah berlibur sudah menyuruh istrinya itu untuk istirahat selama satu hari, dan langsung mendapat penolakan dari Vony yang tetap ingin masuk bekerja.
"Aku tidak apa-apa" jawab Vony meyakinkan. Turun dari dalam mobil ia melangkah masuk kedalam gedung pencakar langit Adhitama Company.
Melihat Vony yang sudah masuk Alan melajukan mobil ke Jhonson Company. Jalanan yang belum terlalu ramai membuat Alan bisa sedikit lebih leluasa untuk menambahkan gas mobilnya agar segara sampai di kantor.
Baru juga tangan Alan membuka pintu ruangan nya, mata Alan langsung tertuju pada berkas-berkas yang sangat banyak berada di atas meja kerja miliknya.
"Setidaknya aku sudah berlibur sebelumnya" guman Alan tak jelas.
Tak ingin membuang-buang waktu Alan langsung mengerjakan pekerjaannya agar nanti sore ia tak telat menjemput Vony.
Baru saja Alan akan mengerjakan berkas kedua pintu yang terbuka berhasil mengalihkan perhatiannya.
"Kamu sudah kembali?"
"Iyah" jawab Alan singkat kembali menatap map ditangannya.
"Apa sekarang kamu sedang belajar menjadi seorang CEO dengan bersikap seperti itu pada ku?!" sindir Kenzou berjalan mendekat kearah meja kerja Alan.
Alan yang mendengar itu langsung bangkit dari duduknya, menunduk kan wajahnya. "Ma-maaf tuan"
"Apa berlibur berhasil membuat mu menjadi Alan yang dulu?"
"Tidak tuan, hanya saja saya ingin segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa kembali istirahat"
Kenzou menepuk pundak Alan. "Kau tau aku sedikit merindukan mu yang dulu, yang tidak sangat formal seperti sekarang ini" ucap Kenzou dan Alan hanya diam.
"Kalo begitu selesaikan pekerjaan mu agar kamu bisa segera pulang" lanjut Kenzou di angguki oleh Alan.
Kenzou berjalan keluar dari dalam ruangan Alan. Dirinya yang baru saja datang mendapat kabar dari sekertarisnya jika Alan sudah kembali bekerja, dan hanya ingin memastikan bahwa sahabatnya itu kembali dengan keadaan selamat.
***
Jika Alan mengerjakan pekerjaan nya seperti biasa beda halnya dengan Vony yang berulang kali memijat keningnya yang terasa sangat pusing. Entah kenapa tubuhnya sangat jauh berbeda dari hari sebelum nya.
"Kenapa pusing sekali" lirihnya.
__ADS_1
Tok...tok...
"Masuk"
Seorang perempuan masuk dengan membawakan berkas ditangannya. "Maaf nona menganggu waktunya, saya ingin meminta tanda tangan ada untuk berkas-berkas ini" ucap nya menyodorkan empat buah berkas di hadapan Vony.
"Dimana saya harus tanda tangan?"
"Disebelah sini nona"
Meraih pena Vony menandatangi berkas dihadapannya. "Ada lagi?" tanya Vony yang sudah selesai menaruh tanda tangannya di semua berkas.
"Tidak nona, hanya ini" ucapnya mengambil map yang sudah di tandatangani Vony. Sebelum dirinya beranjak dari meja kerja Vony wanita itu menatap wajah Vony yang nampak pucat. "Apa nona baik-baik saja?"
Pandan Vony naik menatap wajah wanita itu yang nampak sangat khawatir padanya. "Aku baik-baik saja, dan kenapa kamu menatap ku seperti itu?"
"Tidak nona hanya saja saya khawatir dengan keadaan nona. Kenapa anda tidak pulang saja dan istirahat"
"Apa kamu mencoba mengatur anak pemilik perusahaan ini!"
"Ti-tidak nona-"
"Sudah lah kembali ke pekerjaan mu sekarang" usir Vony sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya.
"Apa anda tidak ingin saya buatkan minuman hangat?" tanya nya masih menwarkan.
"Ba-baik nona" ucapnya terbata-bata langsung pergi dari ruangan Vony.
"Kenapa ayah memperkerjakan orang cerewet seperti itu di kantor ini!" omel Vony kembali memijat keningnya.
Vony yang baru ingat harus fotocopy beberapa pekerjaan di lantai lima bangkit dari duduknya, menggunakan pinggiran mejanya sebagai penopang tubuh.
"Sial kenapa semakin pusing" umpat Vony beberapa kali memejamkan matanya. "Kamu pasti bisa" ucapnya memberikan semangat.
Baru tangannya meraih headline pintu, tiba-tiba saja tubuh Vony jatuh ke samping bersamaan dengan berkas-berkas yang berhamburan kemana-mana.
***
"Tuan, tuan" teriak Alan melihat Kenzou yang siap untuk masuk kedalam mobil, beruntung sahabatnya itu peka dan tidak jadi masuk kedalam mobil.
"Ada apa?"
"Ini saya ingin memberikan oleh-oleh untuk anda dan nona Aleta" ucap Alan memberikan dua buah paper bag pada Kenzou.
Kenzou menerima uluran paper bag tersebut dan tersenyum kecil yang hanya bisa di lihat Alan seorang. "Apa kau sekarang juga mulai memberikan oleh-oleh untuk istri orang?"
__ADS_1
Alan menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar sindiran Kenzou. Dirinya yang sudah meminta agar Vony menjadikan satu saja oleh-oleh itu dan Vony tetap keras kepala membuatnya menjadi dua dengan alasan agar oleh-oleh Aleta dan Kenzou tidak tercampur.
"Tidak tuan hanya saja anda sudah menikah dan tidak sopan jika saya hanya memberikan satu pada anda" ucap Alan mencoba menjelaskan.
Alan mengangguk kecil. "Terimakasih oleh-oleh pasti Aleta suka"
"Sama-sama tuan"
Dret...Dret...
Dering ponsel berhasil membuat perhatian Alan teralih, mengeluarkan ponselnya Alan membaca nama yang tertera pada layar ponselnya yang ternyata Anggara yang menghubungi nya. Merasa tak biasa Anggara menghubunginya pada sore hari, Alan mendekatkan benda pipih itu pada telinganya setelah menggeser tombol hijau.
"Halo" ucap Alan yang tak berani menyebut Anggara dihadapan Kenzou yang masih berdiri dihadapannya.
"Apa?, kenapa bisa sampai seperti itu?" tanya Alan berubah menjadi nada panik.
"Iyah Alan ke sana sekarang" dengan cepat Alan mematikan sambungan telfonnya.
"Ada apa?" tanya Kenzou.
Alan yang harus cepat-cepat pergi mendapatkan pertanyaan itu dari Kenzou membuatnya sulit berfikir. "I-itu mama baru saja menghubungi ku kalo dia keseleo" bohong Alan yang harus mengorbankan sang mama.
"Apa parah?" tanya Kenzou yang juga ikut panik. Salma yang sudah di anggapnya seperti mama kandung membuat Kenzou menaruh kecemasan pada wanita paruh baya itu.
"Ti-tidak hanya keseleo biasa"
"Kalo begitu ayo kita segera kerumah mama" ajak Kenzou meminta Alan agar masuk kedalam mobilnya.
Sungguh kenapa dalam keadaan seperti ini ia sendiri yang harus terjebak oleh bohongan nya. "Ti-tidak perlu" tolak Alan.
"Kenapa?, bukankah kamu khawatir dengan keadaan mama mu?" tanya Kenzou balik.
"I-iyah aku khawatir, tapi kamu harus ingat Aleta di rumah sedang menunggu mu kasian kalo ia sedang menunggu mu tapi kamu tidak kunjung datang pasti ia sangat cemas nanti" ucap Alan mencoba meracuni otak sahabatnya itu dengan Aleta.
"Kamu pulang saja, nanti akan aku kabari keadaan mama pada mu secepatnya" lanjut Alan saat Kenzou masih belum beranjak dari tempatnya.
"Baiklah aku akan pulang, tapi kamu harus janji memberitahu ku tentang keadaan mama"
"Iyah aku janji"
Kenzou masuk kedalam mobil dan langsung menuju rumahnya.
Melihat mobil Kenzou meninggalkan halaman kantor Alan berlari kearah parkiran mengambil mobilnya, mengendarai dengan kecepatan penuh menuju kantor Anggara.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️