
Selesai sarapan Salma berpamitan untuk pulang kerumah karena masih ada perkejaan yang harus ia selesaikan.
Sedangkan Alan dan Vony kembali kedalam kamar. Tangan Vony sibuk memasukan satu demi satu tumpukan bajunya kedalam koper yang akan ia bawa ke apartemen milik Alan, dirinya hanya membawa satu buah koper, tak perlu membawa banyak baju toh dia akan kembali lagi kerumah ini nantinya.
Sedangkan Alan, pria itu memainkan ponsel ditangannya mengirimkan email kepada Kenzou bahwa ia izin cuti selama satu hari.
"Bisa cepat sedikit?, kita sudah sangat terlambat!" ucap Alan melihat Vony yang begitu lelet masih harus memasukan skincare miliknya.
"Kalo kau tidak sabar lebih baik keluar dari kamar ku!" usir Vony menatap malas Alan.
Alan hanya diam tak ingin menjawab ucapan Vony yang sudah mulai mengibarkan bendera perang bisa-bisa miliknya ditendang lagi oleh istri bar-bar nya itu, sungguh hari pertama pernikahan yang sangat sial bagi Alan.
"Tolong bawakan!" pinta Vony mendorong koper miliknya.
Alan menatap koper dihadapannya sekilas dan kembali menatap sang pemilik. "Apa kau ingin pindahan selama satu tahun?, kenapa koper ini sangat besar sekali?"
"Kau tau ini bahkan tidak ada setengah baju ku di lemari, jadi bawakan dan jangan banyak bicara!" ucap Vony meraih tas cangklong miliknya, melangkah keluar terlebih dahulu meninggalkan Alan.
"Sabar Alan" Alan mengusap dadanya, menarik koper besar milik Vony keluar dari dalam kamar.
Sampai dilantai bawah Anggra dan Livia sudah menunggu keduanya.
"Kalian benar-benar tidak ingin menerima hadiah rumah dari ayah?" Anggara sengaja membelikan rumah untuk kado pernikahan putri satu-satu itu, tapi sayang kado yang ia kasih harus ditolak secara halus oleh Alan dengan alasan dirinya sendiri yang akan membelikan Vony rumah impian hasil keringatnya.
Meski sempat mendapatkan penolakan Anggara juga merasa sedikit senang karena Alan akan berusaha membahagiakan putrinya.
"Sebelumnya terimakasih, tapi untuk sekarang Alan belum bisa menerima kado dari ayah" ucap Alan sopan.
Anggara mengangguk pelan. "Ayah harap suatu saat nanti kamu bisa menerima rumah ini"
"Pasti yah" jawab Alan.
"Sayang kamu sekarang sudah punya suami, jadi ubah cara bicara kamu yang selalu judes itu. Karena rumah tangga yang harmonis itu kuncinya satu, akur!" ingat Livia pada putrinya.
Mendengar Livia berkata seperti itu Alan menatap Vony. "Dengar itu baik-baik!" ucapnya melalui isyarat mata.
Sedangkan Vony membalas tatapan itu dengan tatapan tajam. "Gak akan pernah!"
"Sayang" tegur Livia saat Vony malah beradu tatap dengan Alan. "Kamu dengar kan pesan mama?"
"I-iyah ma" jawabnya terbata-bata.
Livia tersenyum senang, memeluk tubuh Vony sebelum melepas putrinya pergi dari rumah bersama Alan.
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik, sering-sering main kesini sama Alan untuk nengok mama sama ayah"
"Iyah"
"Dan cepat kasih kabar gembira buat mama" lanjut Livia.
Vony hanya diam tak membalas ucapan Livia yang satu ini, yang menurutnya tak akan pernah terjadi.
Masuk kedalam mobil keduanya meninggalkan halaman rumah Adhitama menuju apartemen milik Alan yang berada di tengah kota.
"Pernikahan sudah dilakukan sesuai dengan keinginan mu bukan?, sekarang tinggal kau yang mengabulkan keinginan sekaligus impian ku menjadi CEO di Adhitama Company!" ucap Vony mengingatkan janji yang harus suaminya itu tepati.
"Akan aku usahakan" jawab Alan singkat.
Kembali tercipta keheningan Alan yang fokus pada jalan sedangkan Vony mengerakan jarinya diatas layar ponsel.
Sampai diparkir apartemen Vony keluar terlebih dahulu membiarkan Alan menurunkan koper miliknya dari dalam bagasi.
Mengekor di belakang Alan Vony mengikuti langkah Alan yang masuk kedalam lift yang akan membawa mereka kelantai tujuh gedug pencakar langit yang akan menjadi tempat tinggal barunya.
Keluar dari dalam lift Alan melangkah menuju unit apartemen miliknya, memasang kartu akses kamar miliknya Alan mendorong pintu agar dirinya dan Vony bisa masuk.
Mata Vony terus menatap seluruh sudut apartemen milik Alan. "Ini punya kamu?" tanya Vony.
"Terus ada berapa kamar disini?" tanya Vony ikut duduk disamping Alan.
"Dua, hanya saja satu kamarnya lagi aku jadikan walk in closet"
"Apa?, terus aku tidur dimana?" Alan menatap langit-langit kamarnya berdiam sejenak sebelum menjawab ucapan Vony. "Aku tidak mau tidur di sofa apa lagi tidur satu ranjang lagi sama kamu!, bisa-bisa pernikahan ini tidak hanya bertahan selama enam bulan kedepan!" lanjut Vony yang tak bisa membayangkan berbagai kasur dan selimut lagi dengan Alan.
"Terus kamu menyuruhku untuk tidur di sofa?"
"Jika kau mau, itu lebih baik dari pada kita satu tempat tidur lagi!"
"Heiii, ini rumah ku tapi kenapa kamu yang menentukan dimana pemiliknya akan tidur?" ucap Alan yang merasa sangat tak setuju akan ide Vony.
"Karena sekarang aku istrimu otomatis aku juga punya hak dirumah ini!" jawab Vony yang tak mau kalah.
"Baru jadi istri sehari aja kamu sudah bisa mengatur rumah ku, bagaimana jadinya enam bulan kedepan?" cibir Alan.
"Maka akan ku pastikan enam bulan kedepan aku juga akan ikut menikmati setiap kartu debit mu!" ucap Vony menunjukkan senyum jahilnya.
"Itu tidak akan pernah terjadi!" tegas Alan.
__ADS_1
Vony kembali ketempat ternyaman dalam duduknya, menatap lurus kedepan. "Ini semua salah mu!, sok jual mahal tidak mau menerima hadiah dari ayah segala dan lihat sekarang, siapa diantara kita yang akan mengalah?"
"Aku tidak ingin menerima hadiah itu karena itu sangat-sangat berlebihan!"
"Kalo bagimu itu sangat berlebihan maka nanti malam kau tidur saja disini!" ucap Vony bangkit dari sofa menarik kopernya berjalan kearah pintu, dan saat membukanya Vony menatap ranjang dengan ukuran besar yang bisa dipastikan itu kamar pribadi milik Alan.
Melihat Vony masuk ke kamarnya dengan gerakan cepat Alan juga ikut masuk kedalam.
"Kau mau apa?"
"Menaruh semua bajuku, apa lagi?. Dan kau kenapa ikut masuk segala?!"
"Suka-suka aku ini kamar ku jadi aku berhak melakukan apa saja disini"
"Itu dulu, sekarang kamar ini milik ku karena aku istrimu yang harus mendapatkan fasilitas terbaik!"
"Enak saja, apa kau pikir dirimu ini ratu?"
"Tentu!"
"Tidak bisa ini kamar ku"
"Kamar ku!"
"Kalo begitu kamu booking satu unit apartemen lagi saja, bukankah kamu orang kaya?" ucap Vony menatap remeh Alan.
"Kenapa tidak kamu saja, kenapa harus menyuruhku?!" jawab Alan yang tak ingin membooking apartemen lagi.
"Sudahlah kau itu sangat keras kepala!" Vony memilih menyudahi perdebatan dari pada ia dipaksa untuk membooking apartemen lagi yang bisa dipastikan akan menguras uang tabungannya.
"Kenapa diam?, apa kau tidak punya uang?" kini giliran Alan yang mencibir Vony.
"Punya"
"Mana?"
"Uang suami, uang istri jadi uang yang ada di dompet mu itu milik ku juga!"
Alan meremas udara tepat didepan wajah Vony,wanita ini sangat susah sekali untuk dikalahkan, selalu ada saja jawaban dari mulutnya itu yang tiada habisnya.
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1