
Alan yang masih membayangkan wajah lucu Vony beberapa saat lalu tersenyum di sepanjang lift membawanya ke lantai teratas, tak menyangka jika Vony bisa juga untuk cemburu akan fikir wanita itu akan selamanya lapang dada jika dirinya harus berpura-pura dekat dengan Anggit. Pintu lift terbuka Alan kembali memasangkan wajah datarnya agar tak ada satu orangpun curiga.
Alan yang baru saja datang melihat Kenzou yang keluar dari dalam ruangan terlihat nampak sangat buru-buru. "Tuan anda sudah datang?" tegur Alan merasa heran karena Kenzou tidak pernah datang lebih dulu dari nya.
"Aku tidak pulang semalaman" ucap Kenzou memasang kembali jas yang ia lepas semalam.
"Anda lembur sampai pagi hari?"
"Iyah karena tadi malam Aleta tidak mengizinkan ku untuk tidur bersamanya jadi aku ke kantor" jelas Kenzou. "Aku pulang dulu, untuk masalah tinjauan proyek kemarin bisa kamu jelaskan besok saja, sekarang aku harus segara pulang" lanjut Kenzou masuk ke dalam lift.
Mendengar Kenzou yang tak dapat tidur dengan sang istri tadi malam membuat Alan mengunggah ucapan Vony saat di depan lobi. "Kalo kamu berani pergi dengannya malam ini, tidur kamu diluar!"
Alan bergidik ngeri membayangkan jika hal tersebut benar-benar terjadi pada dirinya, tidak mungkin ia menyusul nasib Kenzou yang harus menginap di kantor seperti kemarin malam.
"Selamat pagi tuan Alan" tegur Bela sekertaris Kenzou menyadarkan Alan dari lamunannya.
__ADS_1
"Pa-pagi kamu baru datang?"
"Saya habis fotocopy tuan" Bela menunjukan kertas di tangannya.
"Kalo begitu segara kembali bekerja" ucap Alan berlalu ke ruangannya.
***
Mengirimkan pesan pada Alan jika dirinya akan ke supermarket seberang meminta pria itu menjemputnya di sana. Vony menyusuri lorong susu hamil dengan berbagai jenis merek dengan rasa yang berbeda.
"Anggit?" guman Vony menatap wajah Anggit seperti menahan amarah yang begitu besar. "Kamu sedang apa di sini?"
"Dasar wanita murahan!"
PLAK!
__ADS_1
Vony memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan Anggit sangat kuat mengenai permukaan pipinya.
"Apa selain bekerja kamu juga menjual tubuh mu dengan tunangan orang?!"
Suara Anggit yang begitu kencang menarik perhatian banyak orang apa lagi wanita itu menyebutnya menjual tubuh pada orang lain membuat para pengunjung dan karyawan yang mendengar hal tersebut saling berbisik satu sama lain.
"Aku tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu!" ralat Vony mencoba membela diri.
"Apa kamu bilang? tidak pernah?" Anggit merogoh tasnya menunjukan beberapa lembar foto tepat di hadapan wajah Vony sebelum melempar selembaran foto-foto tersebut mengenai wajahnya. "Kamu masih mau mengelak sekarang!"
Vony meraih foto yang berceceran di atas lantai matanya membulat saat beberapa lembar foto tersebut menunjukkan Alan masuk ke dalam kamarnya saat di Vila kemarin dan satu gambar lagi dirinya sedang membukakan pintu untuk Alan.
"I-ini tidak seperti yang kamu fikirkan-"
"Lalu aku harus berfikiran seperti apa? memikirkan bagaimana cara murahan mu untuk merayu tunangan orang?!"
__ADS_1
Vony tak dapat lagi membela diri di saat seperti ini saat bukti-bukti itu telah berada di depan matanya apa lagi dengan kondisi seperti sekarang ini yang pasti semua orang tidak akan percaya dengan ucapannya dan memilih percaya dengan bukti yang Anggit lemparkan.