My Assistant Husband

My Assistant Husband
Buah Hati


__ADS_3

Raut wajah lelah tergambar jelas di wajah Alan bagaimana tidak pria yang memiliki wajah tampan itu baru saja terlelap tidur dua jam dan harus terbangun lagi saat sang istri mengalami rasa mulas yang semakin intens. Sempat menolak tawaran sang suami untuk dibawa ke rumah sakit membuat Alan tak kehilangan akal, pria pemiliki enam kotak pada badannya itu langsung mengendong tubuh sang istri menuju mobil tanpa membangunkan satupun art untuk membantunya, berfikir hal itu masih bisa ia lakukan nanti Alan mengendarai mobilnya memecah jalan ibu kota yang sangat longgar.


Sampai dirumah sakit Vony langsung mendapatkan penanganan dari suster selagi menunggu dokter yang biasa menangani Vony tiba. Dengan dibantu dua orang suster untuk memenangkan Vony agar tak terlalu banyak mengeluarkan tenaga karena biasanya pembukaan jalan lahir bisa sampai memakan waktu berjam-jam bahkan bisa sampai satu hari lamanya.


Mengikuti nasihat suster untuk memperbanyak jalan untuk memperlancar pembukaan membuat Vony tak sedikitpun melepas tautan tangan Alan bahkan tak membiarkan pria itu berada jauh darinya. Selang beberapa saat dokter datang memintanya kembali ke hospital Bed membuka paha Vony sedikit mengecek sudah pembukaan berapa sekarang.


"Masih pembukaan tiga" ucap dokter meluruskan kembali kaki Vony, beralih mengecek detak jantung dang posisi bayi.


"Tapi rasanya sangat sakit dok" keluh Vony merasa perut dan pinggang nya seperti di pukul bertubi-tubi.


Mendengar itu dokter menaikan sedikit baju belakang Vony mengusap lembut pinggangnya sebagai pengurang rasa sakit. "Itu di akibatkan janin sudah mulai aktif yang sedang berusaha menuju mulut rahim, dan saya sarankan nona lebih baik istirahat mengumpulkan tenaga untuk mengejan nanti"


Vony menggeleng rasanya ia bahkan tak bisa istirahat sebentar saja saat rasa itu semakin membuat nya kesakitan, tak bisa membayangkan se sakit apa nanti jika pembukaan sudah lengkap.


"Kamu pasti bisa" ucap Alan menyemangati mengusap kening sang istri yang mulai dipenuhi keringat.


"Kamu fikir ini tidak sakit hah! ini sangat sakit, Alan!" teriak Vony kembali meringis kesakitan.


"Nona tenangkan diri anda, jangan terlalu banyak mengeluarkan tenaga" ucap dokter mengingatkan meminta Vony menarik nafas panjang.


***


Jam menunjukkan pukul sebelas siang wajah Vony terlihat sangat pucat rasa sakit yang ia rasakan membuat wanita itu seperti ingin mati, bahkan berulang kali Vony meminta maaf pada Alan, Anggara, Erlad, Livia, dan juga Salma membuat semua orang merasa cemas akan hal tersebut bahkan Alan sampai menitikan air mata melihat wajah sang istri yang begitu pucat.


"Alan aku minta maaf kalo selama ini aku belum becus menjadi istri yang baik untuk mu" ucap Vony dengan suara parau.

__ADS_1


Alan menggeleng menyatukan keningnya dengan sang istri mendaratkan ciuman sesekali pada wajahnya. "Kamu harus kuat demi kita semua yang ada disini dan demi calon anak kita"


Bulir bening kembali jatuh di pipi Vony dan Alan membuat siapa saja yang melihat merasakan hal yang tengah mereka rasakan. Dokter kandungan kembali masuk kedalam ruangan Vony memeriksa jalan lahiran yang sekarang sudah lengkap membuat Alan dan semua orang bisa sedikit bernafas lega. Dibantu tiga orang suster Vony dibawa keruang bersalin dengan memperbolehkan Alan masuk untuk mendampingi sang istri. Livia menahan tangan Alan yang hendak masuk wanita paruh baya itu menatap Alan denger penuh permohonan.


"Mama titipkan Vony pada mu, bantu dia didalam sana, pastikan dia keluar dengan keadaan selamat beserta anak kalian"


Alan langsung memeluk tubuh Livia yang langsung bergetar hebat, isakan wanita itu terdengar sangat khawatir saat sang putri tengah bertaruh nyawa di dalam sana. "Kamu harus janji sama mama pastikan istri dan anak kalian selamat" sambung Salma.


Alan yang tak dapat menjawab hanya bisa mengulas senyum. "Alan minta doa dari mama dan papa buat Vony" Salma mengangguk langsung meminta Alan segara masuk ke dalam.


Anggara,Erlad, dan juga Salma duduk di kursi rumah sakit sedangkan Livia wanita paruh baya itu memilih berdiri didepan pintu ruang bersalin mengatupkan kedua tangan meminta pada tuhan untuk memperlancar persalinan sang putri. Suara mengejan Vony mulai terdengar dari dalam membuat semua hati merasa sakit berharap semuanya baik-baik saja.


Hampir satu jam lamanya semua orang di buat senam jantung sampai suara tangis bayi yang begitu nyaring membuat semua hati merasa lega, tangis Livia pecah dalam pelukan sang suami begitu mendengar tangis sang cucu yang selama sembilan bulan ini mereka nanti.


Melihat Alan keluar dengan mengendong sebuah bayi mungil berwarna merah membuat semua orang mendekat ke arahnya, mendapati wajah tampan nya mirip dengan sang mama serta hidung dan bibirnya meniru pada sang ayah.


"Vony baik-baik saja ma, dia masih di ditangani dokter karena mengalami robek saat melahirkan tadi" jelas Alan menyampaikan perkataan dokter beberapa saat lalu.


Livia bernafas lega mendengar keadaan Vony baik-baik saja, merasa lega saat anak dan cucunya lahir dengan selamat.


***


Vony sudah dipindahkan diruang inap merasa bahagia saat sang anak diletakan diatas dadanya yang tengah mencari sumber makanan, membuat Vony tak henti-hentinya mengulas senyum.


Berada di samping sang istri membuat Alan tak henti-hentinya merasa takjub akan makhluk mungil tersebut bahkan pria yang baru saja menyandang status sebagai seorang ayah itu sesekali mendaratkannya ciuman pada sang putra.

__ADS_1


"Apa kalian sudah menyiapkan nama?" tanya Erlad penasaran dengan siapa nama pria kecil itu.


"Sudah yah" jawab Alan meraih tangan mungil sang putra yang masih asik menyusu pada sang mama. "Namanya Gavin Arkana Narendra" sambung Alan dengan bangga.


"Baby Arka!" seru Salma sengaja mengambil nama panggilan sang cucu dari tengah, meminta pendapat semua orang yang ada dan langsung mengangguk setuju.


"Nama yang sangat luar biasa" Vony tersenyum sebagai tanda sukanya pada nama yang diberikan untuk sang putra.


Baby Arka yang telah kenyang menyusu pada sang mama langsung diambil alih oleh para nenek nya yang masih belum puas untuk mengendong cucu mereka.


"Aku saja belum mengendong nya" kesal Alan yang tak diberikan kesempatan untuk memeluk baby Arka.


"Kamu bisa mengendong nya dengan puas nanti malam" ucap Vony sebagai kode bahwa keduanya akan mulai begadang malam ini untuk bergantian menjaga baby Arka yang masih harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.


Dua keluarga itu terus tersenyum bahkan sesekali tertawa melihat pergerakan dari bayi mungil yang bisa di bilang sangat menakjubkan. Beralih menatap Alan Vony membayangkan lika-liku perjalanan keduanya sampai bisa dititik ini bukanlah hal yang mudah, berawal dari menikah karena sebuah paksaan bahkan merencanakan untuk berpisah, membuat Vony merasa bersyukur karena tuhan masih mempertahankan Alan menjadi miliknya dan menjadi ayah dari anaknya merupakan anugrah terindah yang ia dapatkan.


Merasa diperhatikan Alan menatap Vony yang tengah tersenyum kearahnya. "Apa kamu terpesona dengan ketampanan ku?"


"Aku bahkan sudah tergila-gila dengan mu" jawab Vony tersenyum sangat lebar.


Alan meraih tangan Vony mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada punggung tangan nya. "Aku begitu beruntung memiliki mu dari banyaknya pria yang pernah kamu temui sebelum aku, dan aku beruntung bisa memiliki anak dari mu, buah hati kita"


"Terimakasih sudah mau melewati segala hal dengan ku dan tetap ada disamping ku meskipun banyak godaan yang pernah meminta mu pergi dari sisi ku" ucap Alan dengan begitu tulus, menyingkirkan anak rambut dari wajah cantiknya.


"Itu sudah menjadi takdir, karena mau sekuat apapun orang memisahkan kita kalo takdirnya kita bersama tuhan akan menghadirkan seribu satu cara sebagai jalan nya"

__ADS_1


Alan mengangguk membenarkan, mendaratkan ciuman pada kening Vony dengan lumayan lama. "Tetap berada disamping ku, dan menua lah bersama ku"


"Aku sangat menanti hal itu" jawab Vony memejamkan mata menikmati ciuman yang diberikan sang suami.


__ADS_2