
Baby Arka sudah diperbolehkan pulang dua bulan lalu membuat suasana rumah semakin ramai akan tangis dan tawa baby Arka, meskipun begitu Vony sering mengalami pusing saat Alan melakukan hal konyol terhadap sang anak, seperti sekarang ini ayah muda itu hilang secara misterius meninggalkan sang anak diruang tengah seorang diri tanpa dititipkan art untuk menjaganya.
"Alan!" panggil Vony menggema di seluruh rumah tapi yang datang malah art menanyakan kenapa dirinya. "Dimana tuan?!" tanya Vony penuh amarah.
"Sa-saya tidak tau nyonya" jawab art terbata-bata.
"Titip Arka sebentar" ucap Vony berlalu meninggalkan sang anak dengan art menuju kamar mencari Alan dengan langkah emosi.
Vony membuka pintu dengan kasar tapi dengan cepat keningnya menimbulkan garis halus saat seorang mengenakan seragam SMA berada di dalam kamarnya, mengamati berulang kali tubuh pria yang tengah membelakanginya itu, merasa pria itu bukan layaknya anak SMA sekarang.
Sekalipun ada penyusup kenapa satpam dan art tidak ada satupun yang heboh tadi, apa mungkin mereka lali menjaga rumah sebesar ini, kalo iyah kenapa sang anak baik-baik saja dan kenapa kamarnya yang menjadi sasaran pria itu?. Tak ingin berdebat dengan fikirkan nya Vony melangkah masuk kedalam kamar tanpa ragu.
"Siapa kamu!" tanya Vony penuh penekanan tak suka ada orang lain berada di dalam kamarnya.
Tak kunjung mendapat jawaban membuat Vony geram meraih pundaknya memutar tubuh tegap itu. "Siapa kamu..." ucapan Vony tergantung mendapati pria cupu dengan setelan sragam SMA berada di kamarnya, Vony terus menatap wajah itu merasa pernah bertemu orang yang ada dihadapannya ini tapi dimana?, Vony berfikir keras membuat pria dihadapannya terkekeh.
"Apa kamu tidak mengenali ku?"
__ADS_1
Refleks kaki Vony melangkah kebelakang terkejut mendengar suara Alan dari pria cupu itu. "A-alan, ini beneran kamu?" Vony menatap tak percaya penampilan Alan dari atas sampai bawah berulang kali.
Alan mengangguk melepas kaca mata bulat, membenarkan tatanan rambutnya menjadi cool. Vony mengatupkan kedua tangan saat memorinya kembali ke belasan tahun silam dimana pria cupu yang pernah ia tolong dulu adalah Alan yang menjadi suaminya sekarang.
"Apa kamu sudah mengingat ku?"
"Gak, gak mungkin, ini hanya halusinasi ku saja" Vony memukul kepalanya berulang kali membelakanginya Alan berharap kesadarannya segera kembali, sial nya ini bukanlah halusinasi Vony melainkan sebuah kenyataan saat Alan kembali mengenakan kaca mata bulat pada wajahnya.
"Anak SMA cupu, berkacamata, membawa botol minum seperti anak tk, dengan tas yang sangat pendek, dan pernah ditolong seorang gadis yang sangat cantik" Alan mengatakan bagaimana dirinya dulu membuat sang istri semakin tak percaya.
"Dan sekarang pria cupu itu menjadi suami dan ayah dari anak mu" sambung Alan.
"Itulah yang namanya takdir kita tidak akan pernah tau bagaimana dan dengan siapa kita akan hidup nanti" jelas Alan semakin merengkuh erat pinggang Vony.
Vony pasrah saat Alan semakin memeluknya dengan sangat erat, yang masih memiliki banyak tanya dalam benaknya. "Aku tau itu, hanya saja yang membuat ku bingung sekarang kenapa kamu tidak berada di sekolah setelah aku menolong mu?"
"Aku dibawa keluar negeri dengan mama meneruskan sekolah disana dengan Kenzou" jelas Alan akan kepergiannya setalah Vony menolongnya hari itu. "Apa kamu mencari ku?"
__ADS_1
Vony mengangguk mengungkapkan rasa penasaran nya dulu langsung pada pria cupu itu yang sekarang malah menjadi suaminya. "Hanya sekali, setalah itu aku tidak mencari mu lagi karena aku juga berfikir kamu pindah sekolah, padahal saat itu aku belum berkenalan dengan mu"
"Kalo begitu apa kamu mau kembali berkenalan dengan ku?" tawar Alan mengedipkan sebelah mata.
"Tidak terimakasih, aku tidak berminat" tolak Vony langsung disambut gelak tawa dari Alan. "Tapi tunggu, dari mana kamu tau kalo aku gadis yang pernah menolong mu dulu? bukannya kamu tadi bilang kamu langsung pindah?"
"Saat kita kerumah mama kemarin aku tidak sengaja menemukan foto mu saat SMP dan saat itu juga aku baru sadar kalo kamu adalah gadis galak itu bahkan sampai sekarang galak nya tidak berkurang sedikit saja"
"Apa kamu bilang!" Vony melepaskan tangan Alan dari pinggangnya mendaratkan cubitan pada pinggang Alan membuat pria itu mengaduh kesakitan. "Coba kamu ulangi sekali lagi?!"
"Kamu cantik" ucap Alan disertai tawa kecil, meraih tangan Vony mengenggam nya tak membiarkan wanita itu kembali mendaratkan cubitan. "Kamu wanita tercantik di dunia ini"
"Bohong!"
"Kalo kamu tidak percaya kamu bisa tanya Arka pasti dia akan menjawab Iyah"
"Jangan ngawur kamu mana bisa bayi dua tahun berbicara" kesal Vony.
__ADS_1
Melihat sang istri semakin kesal membuat Alan semakin gemas, entah kenapa setiap omelan dan kekesalan Vony memiliki nilai tambah dimata Alan, meskipun kadang dirinya sering menerima serangan mendadak dari sang istri.
Ditengah perdebatan kecil dengan Vony Alan tak henti-hentinya mengucapakan syukur pada tuhan. Bagaimana tidak dulu ia pernah berdoa pada tuhan agar mempertemukan nya dengan gadis yang pernah menolongnya dulu hanya sekedar mengucapkan terima kasih, tapi yang ia dapatkan sekarang bukan hanya sekedar bertemu tapi juga memiliki nya sampai batas usianya usai nanti.