
Vony yang sudah tau niat ayah mertuanya ingin memisahkan Alan dengan dirinya, memiliki inisiatif mendekati Erlad secara perlahan sebelum rencana Erlad yang bisa datang kapan saja itu benar-benar mempengaruhi rumah tangganya.
Memilih waktu dimalam hari, Vony membolak-balikan satu demi satu dress yang cocok untuk ia gunakan kerumah Erlad.
"Kenapa kamar ku jadi kapal pecah seperti ini?!" ucap Alan dengan mulut terbuka lebar mendapati pakaian Vony berserakan dimana-mana.
"Alan menurutmu bagus warna pink atau ungu?" Vony menunjukan dua buah dress ditangannya.
Alan yang sudah siap sejak setengah jam yang lalu menggeleng kecil melihat Vony yang masih sibuk mencari baju.
"Apa saja, yang penting sopan!" seru Alan memungut baju-baju Vony di atas lantai.
Vony kembali menatap pantulan tubuhnya di cermin memilih dress berwarna ungu dan membuang sembarangan dress berwarna pink ditangannya.
Alan yang baru saja berdiri tegap harus mendapatkan dress Vony tepat mengenai wajahnya.
"Tunggu sebentar aku akan bersiap" ucap Vony berlalu ke dalam kamar mandi.
Alan memasukan asal baju Vony kedalam lemari menutup pintu dengan perasaan kesal. Ia sudah menunggu Vony sejak setengah jam yang lalu dan sekarang ia juga harus menunggu lagi.
"Dasar perempuan dengan seribu kehebohannya!" cibir Alan. Memilih duduk di pinggir ranjang Alan akan langsung menarik Vony jika wanita itu sudah selesai bersiap.
Suara pintu kamar mandi membuat Alan langsung sigap bangkit dari duduknya berniat menarik Vony sekarang juga. Semua itu harus terhalang oleh Vony yang berjalan kearahnya dengan wajah malu-malu.
"Tolong aku" pinta Vony hati-hati.
"Ada apa?" tanya Alan cepat.
Vony membalikan tubuh menunjuk resleting dress yang belum tertutup dengan rapat karena tangannya yang tak bisa meraihnya. "Tolong bantu aku"
Alan menelan salivanya dengan susah payah saat melihat punggung putih Vony untuk pertama kalinya. Alan sudah sering melihat tubuh sexy wanita di bar puluhan kali saat dirinya memiliki waktu untuk minum hanya sekedar minum tanpa berminat menyentuh wanita-wanita itu.
Tapi entah kenapa saat ia melihat punggung mulus Vony untuk pertama kalinya jiwa kejantanannya tertantang.
"Alan!" seru Vony saat Alan malah melamun.
"I-iyah" jawabnya terbata-bata.
__ADS_1
"Buruan!, aku tidak mau kita telat kerumah mama!" omel Vony.
Mendekat kearah Vony tangan Alan menaikan resleting dress Vony. Entah kenapa pergerakan tangannya menjadi sangat lambat, otak dan tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi tak sejalan saat aroma parfum baju Vony masuk melalui rongga hidungnya.
Mata Alan terpejam mendekatkan wajahnya kearah leher jenjang Vony yang masih sedikit terbuka.
"Alan apa sudah selesai?" tanya Vony langsung membalikan badannya mendapati Alan yang bertingkah seperti orang bodoh. "Kamu sedang apa?"
Alan kembali ke posisi semula dengan cepat. Menggaruk rambutnya yang gan gatal.
"Kamu kenapa?" tanya Vony sekali lagi.
"Sudan siap bukan?, lebih baik kita berangkat sekarang saja sebelum pulang terlalu malam" Alan langsung berlalu keluar dari dalam kamar sebelum dirinya tak bisa menahan hasrat yang mulai timbul.
"Dasar aneh!" Vony meraih tas cangklong miliknya menyusul Alan yang terlebih dahulu keluar.
***
Sampai dirumah Erlad, Salma menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan sangat hangat. Langsung mengajak keduanya berjalan menuju meja makan.
"Mama apa kabar?" tanya Vony setelah sampai di meja makan.
"Mama di rumah sendiri?" tanya Vony tak mendapati Erlad berada di rumah tersebut.
"Ayah masih dalam perjalanan pulang. Ngomong-ngomong apa kalian tidak memiliki rencana untuk program hamil?"
Vony hampir terdesak air liurnya sendiri saat mendapat pertanyaan Salma mengenai program hamil. Vony menyikut lengan Alan agar menjawab pertanyaan Salma, mengisyaratkan dengan gerakan mata agar Alan memberikan alasan yang tepat mengai ucapan Salma.
"Ki-kita belum kepikiran ma"
"Kenapa tidak bulan madu saja dulu?" ucap Salma memberi saran. Baru Vony akan menjawab ucapan Salma suara bas seorang pria langsung menimbulkan ketengan.
"Siapa yang mau bulan madu?!"
Semua mata menatap Erlad yang berjalan dengan langkah lebar menuju meja makan.
"Ayah sudah pulang?, mau mama buatkan teh?"
__ADS_1
Erlad menaikkan tangannya memerintahkan Salma agar tetap duduk di tempatnya. "Siapa yang mau bulan madu?!" tanya Erlad sekali lagi menatap Vony yang duduk di samping Alan.
Melihat tatapan tak suka suaminya pada Vony Salma mencoba memperkenalkan menantunya. "Yah kenalkan dia Vony istri Alan"
Vony bangkit dari duduknya menghampiri Erlad yang masih dalam keadaan berdiri. Berniat mencium punggung tangan Erlad dengan cepat ayah mertuanya itu menjauhkan tangannya dari Vony.
Vony menarik nafas panjang menahan emosinya agar tak meledak saat ini.
"Mungkin kita belum terlalu kenal sebelumnya, tapi sekarang saya sudah menjadi menantu keluarga Narendra"
"Siapa yang memberikan mu restu untuk menikah dengan Alan!" tegas Erlad.
"Mungkin ayah tidak datang ke pernikahan kami, tapi bukankah doa seorang ayah itu selalu yang terbaik untuk anaknya?, jadi Vony rasa itu sudah cukup" jawab Vony mengulas senyum.
Alan dan Salma saling pandang saat Vony menjawab pertanyaan Erlad tanpa rasa takut, meski begitu keduanya berjaga-jaga agar Erlad tak bermain kasar pada Vony.
Ujung bibir Erlad tertarik membentuk senyuman saat merasa tertantang dengan keberanian dimiliki menantunya. "Apa kamu tau kalo Alan itu akan dijodohkan dengan orang lain?"
Vony mengangguk cepat. "Vony sudah tau akan hal itu, jauh sebelum kita menikah" bohong Vony.
"Artinya kamu merebut Alan dari orang lain!, Dan kamu tidak lebih dari seorang wanita murahan!"
"Ayah!" potong Alan cepat langsung bangkit dari duduknya saat mendengar hinaan keluar dari mulut Erlad untuk istrinya.
Sedangkan Vony masih bersikap tenang meski hatinya terasa sakit untuk pertama kalinya mendapat hinaan seperti itu. "Ayah, bukan Vony yang murahan hanya saja itu sebuah takdir. Jika Alan ditakdirkan untuk Vony maka ayah tidak bisa melakukan apapun kedepannya" ucap Vony penuh sindiran.
"Tapi bagaimana jika takdir itu berubah menjadi kesialan bagi dirimu?" ucap Erlad tak mau kalah.
"Tidak ada takdir yang membawa kesialan. yang ada hanya seseorang yang membawa pengaruh buruk dalam suatu hubungan" jawab Vony penuh wibawa.
Tangan Erlad terkepal di samping tubuh, menantunya itu seakan akan tau apa yang sedang ia rencanakan kedepannya sampai dia berani menyindirnya seperti itu tanpa tersita rasa takut sedikitpun dari raut wajahnya.
Melihat ketegangan yang semakin terasa Alan menghampiri Vony. "Sudah, sebaiknya kamu kembali ke tempat kamu" ucap Alan mengusap pundak Vony.
Vony menatap sekilas tangan Alan yang berada di pundaknya, mengangguk setuju karena ia tak ingin merusak suasana makan malam yang sudah tersusun sedemikian rupa.
"Ayah Dudu dulu biar mama buatkan teh buat ayah ya" ucap Salma berjalan kearah dapur membuatkan secangkir teh untuk suaminya.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️