
"Mama ku selalu menanyakan kabar mu. Jika kamu mau kita kerumah sakit sebentar sebelum kembali ke kantor" ujar Alan memecah keheningan antara keduanya.
Menatap Alan yang tengah fokus pada jalan, dirinya juga penasaran bagaimana keadaan wanita paruh baya itu setelah menolak anaknya secara terang-terangan. "Mama mu suka makan apa?, maksud ku bukan sebaiknya kita membawakan buah tangan?"
Alan mengangguk setuju dengan ucapan wanita disebelahnya. "Mama suka buah stroberi"
"Benarkah?" Alan mengangguk mengiyakan ucapannya. "Aku juga suka buah stroberi!" serunya.
"Kebetulan di depan ada penjual buah segar, kita berhenti di sana saja" lanjutnya.
Tanpa menjawab ucapannya Alan menambah kecepatan mobil agar segera sampai sebelum jam istirahat berakhir.
***
Mengetuk pintu terlebih dahulu keduanya masuk melihat Salma yang tengah makan dibantu dengan suster jaga.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Alan berhenti di pinggir brankar Salma.
"Nyonya Salma sudah jauh lebih baik tinggal tunggu hasil leb keluar saja" jelas suster tersebut merapikan alat makan dan pamit keluar.
"Kamu?" Salma nampak merasa senang saat mendapati Vony berada di belakang Alan.
Melihat mama Alan menyambutnya dengan bahagia Vony berjalan mendekat. "Tante apa kabar?" tanya Vony basa-basi.
"Seperti yang kamu lihat saya baik-baik saja"
Meraih tangan Salma Vony meminta maaf akan kejadian kemarin atas ucapannya yang blak-blakan.
Melihat Vony yang sangat merasa bersalah Salma tak mempermasalahkan hal tersebut lagian dia sekarang baik-baik saja.
"Oh ya tadi saya belikan tante stoberi" menarik kursi di samping brankar Vony menyuapi Salma buah yang baru saja ia beli.
"Tante tau saya juga sangat suka buah stroberi"
"Benarkah?"
"Iyah, bahkan didalam kulkas ada banyak sekali makanan dan minuman ringan yang berbau stroberi" ucap Vony tanpa sadar memakan buah yang harusnya untuk Salma.
Melihat sifat Vony sangat mudah berbaur membuat Salma merasa senang. Selama ini dirinya menginginkan sekali anak perempuan tapi sayang Tuhan mentakdirkan ia tidak bisa memiliki anak lagi saat rahimnya harus di angkat sejak Alan berusia tujuh tahun.
"Kalo kamu mau bagaimana kalo kita ke kebun stoberi di puncak?" ajak Salma.
"Tante masih sakit" ucap Vony dengan polosnya.
__ADS_1
"Tante sudah baik-baik saja, mungkin sebantar lagi tante juga diperbolehkan pulang"
Mendengar itu Vony mengangguk antusias. Membicarakan apa saja yang akan mereka lakukan nanti dan membayangkan bagaimana serunya memetik stroberi langsung dari tempatnya membuat kedua wanita itu merencanakan banyak sekali hal yang belum tentu mereka akan lakukan.
Alan yang sejak tadi berada di pinggir brankar hanya menatap raut wajah sang mama yang merasa sangat bahagia.
Dret...dret....
Meraih ponselnya Alan tanpa berlama-lama langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Baik tuan saya ke sana sana sekarang"
Beralih menatap kedua wanita yang tengah memperhatikannya Alan mengusap kaki Salma pelan. "ma, Alan sama Vony pamit kita harus segara kembali ke kantor"
"Kamu baru saja datang nak, dan mama masih ingin ngobrol dengan Vony" ucap Salma sedih.
Melihat Salma merasa sedih Vony merasa tak tega, tapi urusan kantor juga tidak bisa ia tinggalkan. "Tante lain kali Vony kesini lagi, atau nanti Vony yang kerumah tante untuk main"
"Kamu tidak bohong kan?"
Vony menggeleng kecil, mendekatkan wajahnya pada telinga Salma ia membisikan sesuatu. "Nanti Tante harus menceritakan masa kecil Alan sama Vony"
"Kamu mau tau?"
"Tentu!"
***
Selesai menyegarkan tubuhnya Vony berjalan kearah meja kerja menyiapkan dokumen yang akan dia bawa ke Jhonson company besok.
"Semoga kali ini tidak ada yang salah" guman nya menata beberapa berkas menjadi satu tumpukan.
Merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal Vony naik keatas kasur berniat mengistirahatkan tubuh nya yang terasa sangat pegal.
Baru saja matanya terpejam suara pintu terlebih dahulu terdengar.
"Kamu sudah tidur sayang?" tanya Livia.
"Belum ma, ada apa?"
Berjalan masuk Livia menyerahkan paper bag ditangannya. Mendapati sebuah paper bag yang berukuran cukup besar Vony menatap bingung.
"Tadi siang Alan kasih ini sama mama, katanya dia tidak berani kasih secara langsung takut kamu menolaknya"
__ADS_1
"Dasar pengecut!"
"Apa dia mengatakan hal lain saat memberikan ini?, sejenis timbal balik?" ucap Vony penuh selidik.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?"
"Modus laki-laki zaman sekarang seperti itu!"
Livia menggeleng kecil melihat putrinya yang sangat takut dimanfaatkan. "Alan tidak mengatakan apapun, dia cuma ngomong mama harus memberikan ini sama kamu itu saja. Sudah jangan mikir yang macam-macam, sekarang tidur udah malam" ucap Livia mengusap rambut putrinya lembut berjalan keluar dari dalam kamar.
Merasa penasaran apa yang pria itu berikan Vony langsung mengeluarkan isi paper bag tersebut yang ternyata berisikan sebuah dress dengan haigh heels.
Merasa bingung dengan semua ini Vony menghubungi Alan meminta penjelasan.
...Cowok jelek (Call On)...
|"Ada apa?"
^^^"Kenapa kau memberikan ku dress lengkap dengan haigh heels nya?!"|^^^
|"Jangan salah paham dulu, itu mama yang membelikannya untuk mu!"
^^^"buat ku?, tapi buat apa?"|^^^
|"Aku juga tidak tau,jadi jangan terlalu cerewet!"
^^^"Aku serius!"|^^^
|"Apa kau pikir aku main-main?,sudah pakai saja dress itu besok!"
^^^"Buat apa?"|^^^
|"Besok mama sudah diperbolehkan pulang, jadi kamu ikut saja!"
^^^"Tapi-"|^^^
|"Sudah aku bilang jangan terlalu cerewet!, kenapa kamu jadi perempuan cerewet sekali!"
Baru saja Vony akan membalas hinaan Alan menggunakan kata-kata mautnya sambungan telefon tersebut lebih dahulu terputus sebelum satu kata keluar dari mulut cantiknya.
"Alan!!!" Teriak Vony. "kenapa pria itu tidak bisa satu hari saja berkata lembut kepada ku!"
Beralih menatap dress dihadapannya Vony memiliki ide di otaknya untuk hari esok.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like, Vote, Komen dan Beri Hadiah 🤗♥️