
"Hari ini aku tidak bisa jemput mu, karena Kenzou punya jadwal meeting nanti malam" jelas Alan sebelum Vony keluar dari dalam mobil, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga istrinya. "Kamu gak papa pulang sendiri?"
"Aku sudah besar jika aku mau aku bisa keluar negeri sendiri tanpa kamu antar" ketus Vony melihat Alan memperlakukan nya seperti anak tk.
"Apa kamu tidak bisa berbicara dengan lembut seperti aku berbicara dengan mu?"
"Aku tidak terbiasa melakukan hal itu"
Melihat Vony hendak turun tangan Alan menarik pergelangan tangan nya membuat wanita itu mau tak mau menoleh tepat dimana Alan sudah mendekatkan wajah sehingga benturan kedua bibir tersebut tak dapat di hindarkan. Tak ingin kehilangan asupan pagi tangan kanan Alan menahan tengkuk Vony memperdalam kecupan menjadi sebuah ciuman, menghisap dengan rakus nya setiap inci permukaan bibir merah milik sang istri.
Mata Vony membelak lebar melihat kegilaan yang sudah dilakukan suami nya di tempat umum seperti ini. Vony yang mulai terbuai akan permainan lidah Alan berusaha mengindikasikan nafsunya agar tak menimbulkan adegan panas yang akan menggoyang mobil sedan mewah milik sang suami di depan pintu lobi yang ada ia bisa menanggung malu seumur hidup.
Merasa bukan hanya ciuman yang ingin di cari Alan, tangan kekar pria itu mulai bergrilya kemana, ingin melepas tautan bibir itu tangan kanan Alan terus menahan tengkuk nya dengan sangat kuat. Tak ingin lebih dalam lagi Vony menahan tangan Alan yang akan memegang buah dada nya meremas tangan itu dengan sekuat tenaga.
"Kenapa?" bukan nya mengaduh kesakitan Alan bertanya dengan air muka bodoh membuat Vony geram.
"Apa kamu tidak lihat dimana kita sekarang?, kalo sampai karyawan lain melihat adegan mesum yang kamu lakukan bagaimana?" marah nya.
"Tenang saja kaca mobil ku berwarna hitam jadi orang luar tidak akan ada yang tau apa yang sedang kita lakukan" Alan mendekatkan lagi wajahnya ingin melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda.
Dengan cepat Vony menaruh telapak tangan di di depan wajah Alan meremas wajah yang sangat tampan itu untuk pertama kalinya. "Jangan gila!, aku mau bekerja bukan mau bercocok tanam dengan mu!"
"Hanya sebuah ciuman" pinta Alan setalah menjauhkan telapak tangan sang istri.
"Orang seperti mu itu sangat musyrik untuk di percayai ucapannya!" Vony keluar dari dalam mobil meninggalkan Alan dengan semua imajinasi liar nya.
Alan menatap frustasi punggung Vony yang sudah masuk ke dalam gedung pencakar langit. Menurunkan pandangan Alan mendapati celana nya mulai sesak karena benda sakral nya sudah mulai bereaksi.
__ADS_1
"Sial!"
Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi Alan ingin segara sampai di ruangannya menuntaskan sendiri hasrat yang bergelora di pagi hari.
Sampai di ruangan nya Vony menepuk jidat karena ada dua berkas yang lupa ia fotocopy kemarin. Keluar dari rungan menuju lantai lima dimana biasanya para karyawan lain juga fotocopy, berharap belum banyak orang yang juga ingin fotocopy mengingat jam kantor akan di mulai sepuluh menit lagi.
"Nona" seorang dari belakang menepuk pundak Vony membuat wanita yang tengah menunggu mesin fotocopy tersebut berbalik.
"Ada apa?"
"Tuan Anggara menyuruh nona untuk datang ke ruangannya, sekarang"
"Ada apa memang?"
"Saya tidak tau nona, tuan hanya memerintahkan saya untuk menyuruh nona segara keruangannya"
"Baik nona"
Melangkah menuju lift Vony memencet angka lantai ruangan ayah nya. Seperti dulu Vony langsung nylonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mendapati pria paruh baya tersebut tengah membunuhi tanda tangan di atas kertas.
"Apa ayah sedang merindukan ku?" goda Vony duduk di depan meja kerja sang ayah.
"Dasar anak nakal, kenapa kebiasaan buruk mu tidak pernah hilang saat masuk ruangan ayah!"
"Khilaf yah"
Anggara mengeleng mendapati sikap Vony yang tak pernah berubah sama sekali.
__ADS_1
"Ada apa ayah menyuruh ku pagi-pagi ke sini?"
Menutup dokumen terakhir Anggara menatap wajah Vony yang terlihat semakin cantik, yakin jika Alan telah merawat putrinya dengan sangat baik selama mereka menikah. "Apa kamu pindah dari apartemen?"
"Dari mama ayah tau?" kening Vony menimbulkan garis halus saat ayah nya akan menanyakan hal tersebut. "Apa ayah datang ke apartemen Alan?"
"Iyah, tapi sayang apartemen mu kosong dan kata orang di sebelahnya kamu dan Alan pergi dengan membawa koper. Jadi dimana kalian tinggal sekarang?" tanya Anggara ingin tau.
"Alan dan Vony tinggal di rumah mama Alan" jawab Vony jujur karena yakin cepat atau lambat ayah nya akan menanyakan kepindahan nya.
"Sudah berapa lama kamu tinggal di sana?"
"Hampir satu minggu"
"Apa mereka memperlakukan mu dengan baik?"
Paham siapa yang di maksud 'mereka' oleh sang ayah Vony mengangguk kecil. Melihat raut kelegaan dari sang ayah. Tak tega jika harus berkata jujur kalo sampai sekarang ayah Alan belum bisa menerimanya dengan baik.
"Minggu depan mama ingin merayakan hari pernikahan yang ke dua puluh tiga tahun dan mama berpesan pada ayah untuk mengundang mu dan Alan"
"Benarkah?"
"Iyah, sekalian kamu ajak mama dan ayah Alan. Ayah ingin berkenalan dengan besan ayah itu karena dulu kamu menikah dia tidak bisa datang karena perjalanan bisnis bukan?"
Tegang menjalar keseluruhan tubuh Vony saat Anggara memintanya mengundang ayah Alan untuk hadir di pesta pernikahan nya. Bingung bagaimana ia akan mengajak ayah mertuanya itu besok mengingat usahanya belum membuahkan hasil sampai sekarang.
"Na-nanti Vony sampaikan"
__ADS_1