My Assistant Husband

My Assistant Husband
Kamar Bayi


__ADS_3

Bersama dengan Salma dan juga Livia Vony menata kamar bayi yang akan di tempati sang buah hati sebentar lagi, kamar dengan nuansa biru muda dan biru tua itu akan membuat siapa saja yang masuk akan langsung paham jenis kelamin sang anak ditambah koleksi mainan mobil-mobilan, pesawat, kereta terpasang dengan begitu rapi di dalam rak. Menata baju-baju kecil yang telah di cuci art ke dalam lemari dengan telaten membuat calon mama muda itu tak sabar sang anak mengenakan baju yang sangat lucu tersebut.


Beralih ke box bayi Vony terus mengulas senyum mengusap bantal dan guling yang begitu mungil tersebut, bahkan Vony tak pernah absen untuk selalu membersihkan tempat itu padahal belum tentu ada debu yang menempel disana karena Alan yang selalu mengingatkan nya untuk membersihkan tempat itu dan tak boleh dipegang siapapun membuat Vony merasa tingkah Alan itu sangat berlebihan.


"Barang-barang ini sangat lucu" ucap Livia yang terdengar di telinga Vony, kedua wanita itu baru saja membelikan mainan lagi untuk sang anak yang bahkan dari beberapa mainan yang mereka beli sudah ada di dalam lemari. "Aku jadi tidak sabar mengajaknya bermain dan melihat tawa manis nya nanti"


"Iyah, pasti dia akan terlihat sangat tampan kalo sedang tertawa" imbuh Salma. "Aku jadi penasaran wajahnya akan mirip Alan atau Vony? atau mungkin mirip dengan kita"

__ADS_1


Livia dan Salma tertawa bersamaan menduga-duga wajah siapa yang akan di bawa cucu merek nanti, sedangkan Vony menggeleng kecil mendengar pembicaraan kedua nenek itu yang membahas wajah sang cucu yang bahkan mereka sudah melihat wajahnya dari hasil usg beberapa kali bahkan dokter saja mengatakan wajah sang anak akan mirip seperti nya.


Meraih ponselnya Vony berhadapan ada satu saja pesan yang di kirimkan Alan seperti biasa memberitahukan aktivitas nya di kantor tapi sayang bahkan notifikasi dari sang suami tidak ada dilayar ponselnya. Menghela nafas panjang Vony berusaha berfikir positif kalo Alan tengah sibuk dengan pekerjaan nya sehingga lupa memberinya kabar.


"Sayang" panggil Livia saat melihat sang putri melamun. "Kamu ngelamun?" Vony menggeleng sebagai jawabannya. "Jangan nglamun nak pamali kamu sedang hamil besar sekarang jadi kalo kamu bosan bilang sama mama nanti kita bisa jalan-jalan ataupun melakukan hal yang lain"


Salma menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengah empat sore. "Apa tadi siang Alan juga tidak memberikan mu kabar?"

__ADS_1


Vony menggeleng menghela nafas panjang berusaha menenangkan perasaan yang sangat gelisah, karena jujur belakang ini sifat sensitif Vony semakin tinggi hanya karena tidak mendapatkan pesan ataupun telfon dari sang suami, takut jika kejadian dimana Alan dikeroyok terulang lagi.


"Kamu yang tenang ya, sebentar lagi Alan juga akan pulang" sambung Salma menenangkan.


Vony hanya bisa mengangguk mengikuti langkah Salma dan juga Livia yang mengajaknya turun ke lantai satu untuk menikmati puding coklat yang baru saja di buat art beberapa saat lalu.


Ketiganya mengobrol ringan di belakang rumah menikmati angin sore yang semilir di temani sepiring puding. Tapi tetap mau seberapa asik pembicaraan ketiganya hati Vony tidak akan tenang jika Alan belum memberinya kabar memastikan pria itu baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2