My Assistant Husband

My Assistant Husband
Pelukan


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Vony semakin penasaran.


Alan menundukkan wajahnya, ia tak berani menatap mata Vony yang masih menatapnya tajam.


"Sungguh kau telah membuat ku penasaran Alan, segera katakan atau aku akan memukul mu sekarang juga!" ancam Vony. Dirinya tak akan benar-benar memukul pria yang telah resmi menjadi suaminya itu karena dirinya masih tau batas seorang istri.


"Ayah ku meminta kita untuk bercerai" ujar Alan lirih.


"Apa!, bercerai? apa ayah mu sudah gila?, kita baru menikah dua hari dan kau mau menceraikan ku?" bukannya berniat menghina ayah mertuanya. Tapi bagaimana bisa ayah mertuanya itu meminta Alan menceraikan dirinya. "Apa pernikahan ini tidak dilandasi restu dari ayah mu?" lanjut Vony.


Alan mengangguk kecil semakin menundukkan wajahnya seperti anak kecil yang ketakutan dimarahi sang mama.


Tangannya yang memegang sapu tangan terkepal kuat, ia marah,kesal dan juga takut, Vony takut menjadi janda dalam waktu dua hari menjadi istri Alan, sungguh tidak lucu bukan jika ia bercerai setelah dua hari menikah bahkan melakukan malam pertama saja belum.


Vony menggelengkan kepala cepat saat otaknya malah memikirkan malam pertama yang belum terselenggara.


"Disini kau yang bodoh, kenapa kau menikahi anak orang tanpa meminta restu ayah mu sendiri!"


"Karena aku yakin dia tidak akan memberikan restu" jawab Alan cepat.


"Tapi setidaknya kamu sudah berusaha, dan kalo seperti ini ceritanya apa kamu benar-benar akan menceraikan ku?" tanya Vony memastikan.


Dengan cepat Alan menaikkan pandangannya, menatap mata Vony yang tersirat ketakutan. "Tentu tidak, bahkan aku sudah bersumpah dihadapan ayah kalo aku tidak akan pernah mencarikan mu!"


Alan meraih tangan Vony yang terkepal kuat. "Aku harus jujur soal ini"


"Katakan semua yang belum aku ketahui!" pinta Vony dengan cepat. Ia ingin semuanya jelas saat ini juga sebelum permasalahan yang awalnya sepele menjadi besar nantinya.


"Sebenarnya ayah ku ingin menjodohkan ku dengan teman anaknya. Namanya Anggit dia putri dari Restu CEO PutraTama Company"


Vony merasa pernah mendengar nama perusahaan yang baru saja Alan ucapkan tapi ia lupa dalam acara apa ia pernah mendengar nya.


"Kamu menolaknya?"


"Iyah, aku menolak perjodohan itu mati-matian karena wanita itu mengalami gangguan mental yang sampai sekarang belum membaik. Dan tentang pernikahan kita ini, itu salah satu cara ku agar terbebas dari jeratan pernikahan gila itu"


"Jadi kamu menjebak ku dalam masalah mu?!" Vony melepas tangannya dari Alan beralih memukul lengan Alan bertubi-tubi. "Kenapa kau jahat sekali hah!"

__ADS_1


"Aku terpaksa melakukan semua ini" Ucap Alan yang tak dapat menghindari pukulan Vony. "Siapa yang rela untuk dinikahkan dengan orang gila seperti Anggit?, Aku ini tampan,waras,anak baik-baik jadi aku juga harus mencari istri yang waras juga!"


Vony menghentikan pukulannya mendengar ucapan Alan yang mengati dirinya sendiri waras. "Kau tidak waras!, kalo kau waras kamu tidak akan melibatkan orang lain dalam masalah pribadi mu!"


"Sudah aku bilang kalo aku terpaksa, kenapa kamu tidak bisa memahaminya!" Alan meremas rambutnya kuat. "Kau tau, masalah ini tidak akan selesai setelah aku menikah dengan mu karena aku yakin ayah ku sekarang pasti sedang menyusun rencana untuk memisahkan kita!"


Vony terkesiap mendengar ucapan Alan yang terdengar frustasi.


"Aku juga ingin hidup seperti kamu, Kenzou, dan Aleta yang hidup dengan tenang, tak seperti ini!. Apa kau pikir hidup ku enak sehingga kau terus mengalahkan ku?, jika aku tau kapan aku mati maka akan aku minta kematian menjemput ku sekarang juga!"


Deg!


Kata kematian yang di ucapkan Alan berhasil membuat hatinya bergetar hebat, entah kenapa ia tak suka mendengar Alan berkata seperti itu.


"Ja-jagan berkata seperti itu" tangan Vony terulur berniat mengusap punggung Alan.


"Terus aku harus berkata apa hah?, berkata tuhan untuk merubah takdir ku?" bentak Alan cepat menatap Vony. Refleks tangannya yang sempat terulur kembali ia tarik mendengar bentakan Alan.


"Setidaknya jangan berkata untuk mati"


Alan yang selalu terlihat menyebalkan di matanya kali ini berubah menjadi Alan yang penuh dengan kesediaan yang seperti sudah sangat lama ia pendam seorang diri.


"Alan bukan itu maksud ku"


"Sudahlah kau itu sama saja seperti mereka yang tak pernah memikirkan perasaan ku!" Alan bangkit dari duduknya berjalan kearah kamar mandi.


Baru dirinya memasuki area dapur sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


"Maaf" lirih Vony, memeluk tubuh Alan dari belakang.


"Apa yang kau lakukan Vony lepas!"


"Tidak!" Vony semakin mempererat pelukannya tak membiarkan Alan melepasnya.


Alan membiarkan Vony memeluknya dari belakang tanpa bertanya apapun pada wanita itu.


"Alan" panggil Vony tak mendapat sahutan darinya. "Jangan anggap dirimu seorang diri sekarang, karena ada aku yang akan menemani mu melangkah kemanapun"

__ADS_1


Alan tetap diam memilih mendengarkan apa yang akan wanita itu katakan.


"Kita memang baru kenal dan langsung menikah, tapi bukankah seorang istri harus terus berada di samping suaminya?" Vony melepaskan pelukannya membalikan tubuh Alan, menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya. "Kita hadapi ini masalah ini bersama-sama, aku akan terus berada di samping mu jadi jangan merasa kamu sendirian karena sekarang kamu memiliki bahu yang sekuat baja untuk tempat bersandar mu"


"Kamu lagi tidak sedang menipu ku bukan?"


"Tentu tidak, lagi pula menipu mu tidak ada untungnya buat ku"


Alan tersenyum senang mendengar hal tersebut. Setidaknya meski ia jauh dari Salma ia masih memiliki bahu untuk bersandar sekarang yang sewaktu-waktu ia butuhkan.


"Jadi sekarang apa boleh aku melakukan itu?" tanya Alan hati-hati.


Dengan cepat Vony mendaratkan pukulan lagi pada lengan kekar Alan. "Kenapa kau memukul ku?"


"Kau sudah berjanji tidak akan melakukan itu Alan!" marah Vony.


Alan menatap bingung wajah Vony yang cepat sekali berubah dari baik menjadi sangat galak.


"Melakukan apa?, aku tidak akan melakukan apapun pada mu"


"Terus kenapa kamu berbicara seperti itu?"


"Aku hanya ingin memeluk mu, seperti kau memeluk ku tadi, apa itu salah?" tanya Alan. Sesaat ia paham apa yang membuat Vony tiba-tiba marah padanya. "Atau jangan-jangan-"


Blus pipi Vony bersemu merah saat dirinya sudah salah tangkap maksud perkataan Alan. "Jangan-jangan apa!, jangan macam-macam!"


Alan mendekat kan wajahnya pada Vony. "Apa kau sedang memikirkan malam pertama kita?" Alan menaik turunkan alis nya.


"A-aku, A-aku-"


Melihat Vony yang tak bisa menjawab pertanyaan, Alan langsung membawa wanita itu kedalam pelukannya. "Kenapa lama kelamaan kamu sangat menggemaskan"


"Aku mengenaskan sejak lahir, kamu nya saja yang belum menyadarinya" cibir Vony.


***


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️

__ADS_1


__ADS_2