
Di dalam mobil Vony merasa hawa dingin begitu terasa tak seperti hari-hari yang lalu. Melirik sekilas pada Alan yang fokus pada jalan dengan kaca mata hitam di wajahnya membuat Vony tak dapat melihat ekspresi Alan saat ini.
"Alan" panggil Vony sedangkan yang dipanggil hanya diam membisu.
"Alan!!" teriak Vony.
Cit....
Dug...
Mobil Alan berhenti secara mendadak membuat kening Vony menatap bagian depan mobil lumayan keras.
"Auuu" ringisnya
"Gak usah teriak-teriak!"
Vony menatap Alan dengan tangan yang masih memegang keningnya. "Kamu kenapa?!" tanya Vony.
Alan membalas tatapan mata Vony. "Kalo kamu sudah memiliki kekasih kenapa kamu menerima tawaran untuk menikah dengan ku?, apa kamu cuma mau memanfaatkan ku?!" marah Alan mengeluarkan kegaduhan hatinya.
Melihat Alan marah-marah tak jelas Vony dibuat dengan situasi ini. "Siapa yang memanfaatkan kamu?"
"Kamu lah siapa lagi?"
"Aku tidak pernah memanfaatkan kamu sejak awal, dan apa kamu bilang tadi? kekasih?. Kamu dapat berita dari mana kalo aku sudah memiliki kekasih?" tanya Vony. Ingin rasanya tertawa tapi semua itu terhalang wajah Alan yang nampak serius.
"Jangan bohong!"
"Aku tidak bohong"
"Aku bilang jangan bohong Vony!"
Vony menarik nafas panjang mengisi kesabarannya. "Sekarang aku tanya sama kamu, dari mana kamu tau aku sudah memiliki kekasih?" tanya Vony sekali lagi.
"Itu tidak penting!, karena yang aku tau kamu telah memanfaatkan ku hanya untuk kepentingan pribadi mu!" ucap Alan yang masih yakin ia telah dimanfaatkan wanita disamping nya ini.
"Aku tidak pernah memanfaatkan kamu Alan, aku berani sumpah. Kalo hari itu kamu tidak menawarkan kerjasama gila ini aku juga tidak ingin bertemu dengan pria seperti dirimu apa lagi terlihat dalam rencana pernikahan bodoh ini!"
Alan terdiam beberapa saat memang benar ucapan Vony kalo dirinya yang telah membuat keduanya terjebak dalam situasi ini. "Kalo begitu siapa pria tadi malam?!" tanya Alan.
Kening Vony menimbulkan garis halus mencari siapa pria yang dimaksud Alan tadi malam. Selama ini Vony merasa tak pernah dekat dengan laki-laki manapun bahkan untuk kenal saja tidak ada niat didalam hatinya selain Rio.
__ADS_1
"Apa yang kamu maksud Rio?" tebak Vony karena tadi malam ia pergi dengan Rio kesebuah mall.
"Aku tidak butuh siapa nama pria itu!"
Melihat wajah Alan yang semakin kesal saat nama Rio disebut tawa Vony pecah didalam mobil.
"Siapa yang menyuruh mu untuk tertawa!"
Vony menghentikan tawanya saat mendapatkan teguran. "Kamu cemburu dengan Rio?"
"Sudah aku bilang aku tidak butuh namanya!. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran mu kau sudah memiliki kekasih dan kamu juga mau memanfaatkan ku, serakah sekali!"
"Dia bukan kekasih ku!, dia itu teman ku!" ralat Vony.
Alan terkekeh sinis. " Apa kamu mencoba menyembunyikan nya di balik kata teman?"
"Apa kamu cemburu dengannya?"
"Cemburu?, apa kamu sudah gila menuduh ku cemburu dengan orang yang bukan level ku?" sombong Alan.
Vony mengepalkan tangannya dengan kuat, bukannya mengawali pagi dengan asupan baik Alan malah membuatnya darah tinggi.
Alan memajukan wajahnya beberapa centi kedepan, menatap wajah Vony lekat. "Jauhi dia!"
"Aku tidak bisa!" tolak Vony cepat.
"Apa kamu begitu mencintainya?, sampai-sampai untuk menjauhinya saja sesulit itu?!"
"Dia itu teman SMP ku dan sampai kapan pun aku tidak akan menjauhinya!" tegas Vony.
"Cih...apa kau tidak berfikir sebelumnya kalo aku lebih segala-galanya dari pada dia!"
"Apa pria ini benar-benar cemburu, tapi buat apa?"
"Kalo kamu tidak percaya yasudah itu tidak penting buat ku!, lebih baik jalankan mobil mu sekarang karena ada banyak berkas yang harus aku kerjakan!" pinta Vony.
"Jauhkan dia baru aku akan menuruti keinginan mu!" ucap Alan memberikan penawaran.
Melihat Alan yang benar-benar aneh pagi ini membuat waktu Vony terbuang sangat banyak hanya untuk membahas hall yang tidak penting sama sekali.
"Ok kalo itu yang kamu mau, aku bisa kekantor sendiri!" keluar dari dalam mobil Vony membanting pintu dengan sangat kencang.
__ADS_1
Berdiri dipinggir trotoar Vony menyetop taksi yang kebetulan lewat, meninggalkan Alan seorang diri didalam mobil.
"Pria itu benar-benar menguras emosi pagi-pagi seperti ini!" omel Vony sepanjang jalan.
***
Ditinggal pertama kali oleh perempuan dipinggir jalan seperti tadi, hatinya terasa sangat kesal entah kenapa apa mungkin ini pertama kalinya ia dekat dekat seorang perempuan atau suasana hatinya yang sedang tidak baik.
Alhasil Alan masuk kedalam kantor dengan keadaan melamun tak memperhatikan jalan sehingga menabrak seseorang dihadapannya.
Baru saja Alan akan marah mulutnya tertutup rapat saat seseorang tersebut adalah Kenzou yang tengah menunggu pintu lift terbuka.
"Apa kamu bisa jalan dengan benar?, kalo tidak, bilang kepada ku akan ku buat kedua kaki mu itu berjalan dengan sangat benar!" ucap Kenzou penuh ancaman.
"Ma-maaf tuan saya tidak sengaja"
Masuk kedalam lift yang sama Alan hanya diam tak berani menegur Kenzou seperti biasa hanya untuk memecah ketegangan yang tercipta.
"Apa laporan dengan Michelle Company sudah siap?" tanya Kenzou menganai laporan kerjasama dengan ayah mertuanya yang akan keduanya bahas jam sepuluh nanti.
Alan menepuk jidatnya pelan saat tas kerjanya ketinggalan didalam mobil. Memencet tombol lift agar kembali ke lantai dasar Kenzou menatap bingung tingkah bodoh Alan.
"Maaf tuan tas saja ketinggalan" ucap Alan yang tau kebingungan atasannya.
"Aku benar-benar akan membunuh mu sekarang juga Alan!!" kata Kenzou melihat keteledoran Alan yang pria itu ciptakan dipagi hari.
Baru saja Kenzou akan berjalan mendekat pintu lift lebih dahulu terbuka.
"Saya keluar dulu tuan, permisi" ucap Alan berlalu pergi dari dalam lift.
Kenzou menatap wajah karyawannya yang nampak kebingungan saat pintu lift kembali terbuka.
"Kalian dibayar untuk bekerja bukan untuk mematung seperti orang bodoh seperti ini!" tegas Kenzou pada karyawan yang mematung ditempat.
Mendapatkan teguran keras semua karyawan saling dorong untuk kembali keruangannya.
Memencet tombol lantainya Kenzou menghela nafas panjang akan keributan yang sudah tercipta di pagi hari.
***
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️
__ADS_1