
"Sudah-sudah tidak perlu dibahas lagi, pantas Alan bersikap seperti itu karena mungkin Vony belum memberitahu siapa saja teman-temannya" ucap Livia merasa suasana yang mulai canggung saat Alan hanya diam saja.
"Ngomong-ngomong, apa ayah Alan tidak ada?" tanya Anggara.
Salma dan Alan saling tatap mendapat pertanyaan dari Anggara.
"Ayah Alan sedang keluar kota" jawab Salma jujur.
"Mumpung tuan,nyonya dan Vony kemari ada yang ingin saya bicarakan" lanjut Salma mengalihkan topik.
Anggara yang tadi ingin berniat pulang mengurungkan niatnya mendengar ucapan Salma.
"Apa itu?" tanya Livia.
"Jadi begini kapan saya bisa kerumah nyonya untuk melamar Vony untuk putra saya?"
Seketika tubuh kedua orang yang menjadi topik pembicaraan menagang.
Vony yang hanya mengantarkan sang mama tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Sedangkan Alan yang dari awal ingin membatalkan rencana pernikahannya malah Salma ingin melamar Vony untuk dirinya.
Livia dan Anggara saling pandang, tersirat kebahagiaan dihati keduanya saat Salma juga mendukung hubungan anak-anak mereka bahkan kunjungan pertama saja Salma sudah ingin melamar putrinya.
"Secepatnya" jawab Livia dengan cepat menegang tangan Vony sedikit meremas mengisyaratkan agar tetap diam.
Sama halnya dengan Alan Salma mencubit punggung putranya lumayan keras.
"Kalo begitu bagaimana kalo minggu ini?" tanya Salma menganai hari yang dipilihnya.
Memilih mengambil keputusan secara sepihak saat Elard tidak dirumah membuat Salma menjadikannya kesempatan emas untuk mengambil satu langkah lebih maju dari sang suami.
"Bukannya itu terlalu cepat?" tanya Anggara.
"Bukankah lebih cepat lebih baik?" ralat Livia.
"Tentu itu sangat baik" jawab Salma mengulas senyumannya
Alan dan Vony saling melayangkan tatapan memelas mendengar rencana pertunangan mereka sudah berada didepan mata.
Selesai bercengkrama keluarga Vony pamit pulang karena hari yang sudah malam mengharuskan mereka untuk mengistirahatkan tubuhnya untuk aktivitas besok.
__ADS_1
"Ma kenapa harus bicara soal pertunangan?, lihat sekarang kedua orang tua Vony menyetujuinya" kata Alan dihalaman rumah saat mobil keluarga Vony meninggalkan kediamannya.
Salma mengulas senyum mengusap lengan kekar Alan. "Mama terpaksa melakukan itu Alan, apa kamu tidak ingat perkataan Ayah sebelum keluar kota?"
"Pokoknya ayah akan membawamu kerumah Anggit untuk melangsungkan pertunangan!"
"Ayah tidak bisa melakukan itu sama Alan!, Alan sudah memiliki Vony yang jelas-jelas akan menjadi istri Alan tiga bulan lagi!"
"Itu hanya omong kosong!, kalo kamu saja belum melamarnya ataupun memberikan setatus yang jelas pada wanita itu Alan!"
"Bersiaplah setelah ayah pulang dari luar kota kita akan langsung kerumah Anggit!" sambung Erlad.
Baru tau alasan Salma berkata seperti tadi untuk melindunginya tersirat rasa bersalah karena telah berburuk sangka.
"Sekarang kamu pilih ingin menikah dengan Vony kekasih kamu?, atau Anggit wanita depresi yang akan menjadi calon istri kamu sewaktu-waktu?"
Tentu itu pilihan yang sulit untuk Alan, ia tau pernikahan bukan permainan apa lagi waktu yang ditawarkan Alan pada Vony hanya enam bulan terlihat sangat lucu bukan?.
"Mama inginnya kamu langsung menikah Alan agar kamu memiliki hubungan yang jelas tidak menjadi permainan ayah mu seperti ini. Apa lagi kalo kamu langsung memiliki seorang anak yang pastinya itu akan semakin mempersulit ayah mu untuk menjodohkan mu dengan Anggit" lanjut Livia.
Apa yang dikatakan Salma semua itu memang benar, dari dulu dirinya selalu menjadi bahan permainan ayahnya agar segera menikah dengan Anggit dan lucunya ancaman yang dilayangkan Elrad adalah posisi CEO di perusahaan sang mama yang sampai sekarang tengah dipegang olehnya.
"Kamu menginap disini bukan?" tanya Salma.
Alan mengangguk lesu mengiyakan permintaan Salma kerena memang tumbuhnya yang sudah sangat lelah dan kebetulan Erlad juga tak ada dirumah.
***
"Apa menikah?!" ucap Vony keras menarik perhatian pengunjung cafe yang lain.
"Shutttt, jangan keras-keras" Alan merasa malu saat semua pandangan mata menatapnya, seolah-olah dia telah memaksa anak orang untuk menikah dengannya meski itu juga kebenaran yang ada.
Vony mengibaskan tangannya tak peduli. "Apa kau ingin melanggar perkataan mu hari itu?"
Alan menggeleng. "Aku terpaksa melakukan ini semua"
"Dan aku lebih terpaksa dari pada dirimu!" ucap Vony dengan sinis.
Alan menyandarkan punggungnya, menatap datar wajah Vony yang selalu terlihat menyebalkan dimatanya.
__ADS_1
"Bukankah kalo kita cepat menikah itu akan baik untuk dirimu?"
Vony memutar bola matanya jenuh mendengar keuntungan yang Alan sebutkan dengan mengatasnamakan dirinya. "Tuan Alan yang terhormat jangan berkata seperti seolah-olah saya yang sangat membutuhkan anda kalo anda saja jauh lebih membutuhkan saya!"
"Kalo kita saling membutuhkan, sebaiknya kita langsung menikah saja hari ini!" tegas Alan.
Tangan Vony yang hendak meraih cangkir kopi miliknya berubah menjadi kepalan yang sangat kuat.
"Aku-"
"Mama mu dan mama ku pasti sekarang sedang menyiapkan pernikahan kita nanti malam!"
"Kau sedang tidak mempermainkan aku bukan?!"
"Aku tidak sedang berbohong hanya saja itu sebuah kenyataan"
"Terus kenapa kamu tidak menolaknya!"
"Karena aku baru tahu satu jam yang lalu" bohong Alan.
Tadi pagi saat Alan hendak berangkat kekantor ia menyampaikan keinginannya untuk menikahi Vony malam ini, yang hanya dihadiri kelurga utama saja tentu itu membuat Salma sedikit kaget.
Tapi Alan berkata akan mengadakan pesta pernikahan setelah ia membuat Vony jatuh cinta dengannya, untuk sekarang ia ingin cepat-cepat mengikat Vony dalam suatu hubungan yang jelas terlebih dahulu.
Terdengar sedikit meragukan ditelinga Salma tapi akan ia sampaikan kepada kedua orang tua Vony terlebih dahulu soal masalah ini. Mengingat Vony anak satu-satunya dikeluarga Adhitama.
"Dasar tidak waras!, ini namanya pemaksaan kehendak!" marah Vony.
Sadar dari lamunannya Alan mengangkat bahunya tak acuh. "Bukan aku, tapi mama kita yang menginginkan kita segera menikah!"
"Dasar Alan brengsek!!!"
"Sudahlah jangan terlalu histeris seperti itu, seolah-olah kau sangat menginginkan hal tersebut setelah kita menikah nanti"
"Kau tau kalo tidak ada pasal penganiayaan, sudah dari tadi ku siram kopi panas ini kewajah pasaran mu itu!!"
Bangkit dari duduknya dengan kasar Vony melangkah keluar meninggalkan Alan yang menghela nafas panjang.
***
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Beri Hadiah 🤗♥️