My Assistant Husband

My Assistant Husband
Lagi Dan Lagi


__ADS_3

Sama seperti malam pertama, keduanya kembali berebut ranjang ukuran besar tersebut tanpa ada yang mau mengalah. Dan kali ini cara yang di gunakan Vony dengan menyelimuti tubuhnya dengan selimut, dan dengan segala kepintaran yang dimiliki Alan pria itu menarik ujung selimut yang membungkus tubuh Vony membuat wanita itu jatuh ke atas lantai dan meringis kesakitan.


"Aku sumpah kan kau mendapatkan karmanya Alan!" murka Vony, bangkit dari duduknya dengan susah payah memegangi pinggangnya yang sangat sakit.


"Sudah aku bilang bukan, kita bagi kasur ini menjadi dua, kamu dibagian sana dan aku disini" Alan yang sudah memberikan penawaran yang sangat bijak itu harus ditolak mentah-mentah oleh sang istri yang masih keras kepala tak ingin satu ranjang dengannya yang jelas-jelas ia tak akan melakukan apapun pada Vony. Meski melakukan lebih juga mendapatkan pahala.


"Apa aku tidak tau ide licik mu itu untuk tidur bersama ku, agar kamu bisa menyentuh ku bukan?" selidik Vony dan Alan langsung mengusap wajahnya kasar.


"Bisakah kita akur satu hari saja?, apa kau tidak capek bertengkar dengan ku hanya karena masalah ranjang?, dan apa kau tidak ingin akur dengan suami mu satu-satunya ini?"


Vony memutar bola matanya malas mendengar ucapan Alan yang harus akur dengan dirinya.


"Setidaknya kita akur selama empat hari kedepan, menikmati liburan ini dengan tenang. Kau tau kita jarang sekali memiliki waktu berlibur seperti ini!" lanjut Alan mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang.


Entah apa yang membuat Vony langsung menyetujui ucapan Alan. "Ok aku setuju akan akur dengan dirimu selama empat hari"


Alan bernafas lega merebahkan tubuhnya di sisi ranjang. "Vony apa kamu memiliki pria incaran selama ini?"


Vony menatap wajah yang yang tengah menatap langit-langit kamar. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Aku hanya ingin tau" jawab jujur.


Vony menyandarkan punggungnya ke headbor tempat tidur. Diam sejenak sebelum menjawab ucapan Alan. "Selama ini aku tidak pernah memiliki incaran, hanya saja-" ucapan Vony tergantung membuat Alan menoleh ke arah nya.


"Hanya apa?" tanya Alan penasaran.


"Aku penasaran dengan anak SMA itu" guman Vony dan ditangkap Alan dengan jelas.


Dengan gerakan cepat Alan bangun dari tidurnya, menatap wajah Vony dengan tatapan tak percaya. "Kamu suka dengan anak SMA?, astaga Vony sekian banyaknya pria dewasa kenapa harus anak SMA?"


Melihat Alan yang sudah salah tangkap maksudnya melempar bantal yang ada ditengah keduanya. "Aku tidak suka dengan anak SMA, Alan!"


"Itu buktinya kamu masih penasaran, berarti selama ini kamu tidak normal?"

__ADS_1


"Bukan begitu!, aku penasaran dengan anak SMA saat aku SMP dulu" jelas Vony sebelum Alan berfikir terlalu jauh. "Lagian kalo kamu tidak memaksaku menikah mungkin sampai sekarang aku masih singel"


Kini gantian Alan yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Jadi selama ini kamu belum pernah merasakan jatuh cinta?"


Vony menggeleng cepat, menggapkan tubuhnya. "Apa kamu sudah pernah jatuh cinta sebelumnya?"


Alan terdiam membuat Vony penasaran dengan siapa suaminya itu merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Siapa wanita itu?" tanya Vony tak sabar.


"Wanita mana?"


"Wanita yang berhasil membuat mu jatuh cinta" jawab Vony kesal.


"Tidak ada"


"Apa maksudmu?"


"Aku belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya"


"Sudahlah itu tidak penting, aku mengantuk dan ingin istirahat" Alan merebahkan kembali tubuhnya menarik selimut sampai batas pinggang.


Melihat Alan yang mulai memejamkan matanya Vony mulai merasa canggung dengan kedekatan keduanya saat ini. Ikut merebahkan tubuhnya di pinggir ranjang secara perlahan membuat jarak tengah antara keduanya sangat lebar. Mata Vony tak lepas dari Alan yang seperti sudah tertidur, seutas senyum terbit dari wajahnya.


"Dia terlihat sangat tampan"


Baru pujian itu terucap dalam hatinya Alan tiba-tiba saja bangun dan membuat Vony tersentak kaget.


"Aaaa"


Bug...


Refleks tubuhnya kembali jatuh keatas lantai untuk kedua kalinya dengan sangat keras, menatap Alan yang malah tersenyum jahil.

__ADS_1


"Apa kau ingin membuat ku patah tulang?" marah Vony yang masih duduk di lantai.


"Lagian kamu bukannya tidur malah menatap ku seperti itu, apa kau terpesona dengan ketampanan ku?"


"Cih...jangan ge-er, aku menatap mu karena kau terlalu jelek menjadi suami ku!" cibir Vony. "Cepat bantu aku!" Vony mengulurkan tangannya pada Alan meminta tolong agar pria itu membantunya.


Merasa kasihan Alan membantu Vony bangkit dari tempatnya. "Apa sakit?" tanya Alan bodoh dan mendapat tatapan tajam dari Vony. "Iyah aku tau itu pasti sangat sakit" jawab Alan cepat kembali ke posisinya.


Vony yang merasakan sakit pada pinggangnya memilih tidur dengan membelakangi Alan, dan sesekali tangannya mengusap pinggangnya yang terasa nyeri.


***


Kedua pasangan suami istri yang tadinya tidur dengan jarak yang berjauhan, sekarang saling berpelukan dibawah selimut berwarna putih. Alan merasa cahaya matahari masuk ke kamarnya mengerjapkan mata.


Pandangan pertama kali yang ia lihat adalah Vony berada di dalam dekapannya. "Bagaimana bisa seperti ini?" guman Alan mengingat-ingat kenapa ia bisa memeluk Vony. Tapi sayang ingatannya terakhir saat ia menolong Vony dan setelah itu ia tak mengingat apapun lagi.


Baru saja Alan akan menjauhkan tangannya, wanita itu bangun terlebih dahulu menatap Alan yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. "Kamu kenapa?" tanya Vony yang belum sadar sepenuhnya. Beberapa saat kemudian teriakan yang begitu melengking menusuk tajam telinga Alan. "ALAN!!!, APA YANG KAMU LAKUKAN?!!"


Vony menarik selimut sampai batas dada. "Apa yang habis kamu lakukan?!"


"A-aku tidak melakukan apapun" jawab Alan jujur.


"Jangan bohong!"


"Aku tidak bohong, lihat saja kamu masih pakai baju lengkap seperti itu" jawab Alan mencari solusi dari kehebohan di pagi hari.


Vony mengintip kedalam selimut, dan benar saja ia masih menggunakan bajunya dalam keadaan lengkap. "Terus kenapa kita bisa berpelukan seperti itu?" tanya Vony tak mau kalah.


"Aku juga tidak tau kenapa aku bisa memeluk mu seperti tadi, lagian kita sudah suami istri dan hanya berpelukan, jadi itu bukan masalah besar sampai kamu harus berteriak seperti tadi" Alan menyingkir selimut dari tubuhnya berjalan kearah kamar mandi, membersikan tubuhnya terlebih dahulu.


Vony menatap datar punggung Alan yang hilang dari balik pintu. "Iyah juga kenapa aku harus berteriak seperti itu?, lagian itu hanya pelukan" Vony memukuli kepala pelan, tapi sesaat ia kembali menyalahkan Alan. "Tetap saja ini salah Alan, pria itu selalu saja mencari celah dalam kesempatan"


***

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Vote, dan Beri Hadiah 🤗♥️


__ADS_2