
"Apa yang kamu katakan tadi sangatlah benar jika tidak ada wanita di dunia ini yang akan merasa tenang jika pria yang mereka cintai dekat dengan wanita lain, apa lagi wanita itu datang di tengah-tengah kebahagiaan yang sedang mereka bangun" Ucapan Vony bagaikan sindiran buat Anggit seolah-olah dirinya lah yang telah hadir di tengah-tengah Alan dan juga Vony. "Tapi bagaimana jadinya kalo ternyata Alan benar-benar jatuh cinta dengan ku tiga minggu kedepan?"
"Apa maksud mu!"
"Baru juga di pancing sedikit langsung marah"
"Jangan pernah mencoba merampas Alan dari ku, atau kamu akan tau akibatnya!" tegas Anggit menekan kalimat terakhir sebagai ancaman.
Jika bagi Anggit itu sebuah ancaman yang harus di ia waspadai maka beda halnya dengan Vony yang hanya menganggapnya angin lalu. "Kenapa kamu tiba-tiba marah?, aku hanya membayangkan saja tapi kamu sudah menganggap hall itu seolah-olah akan menjadi sebuah kenyataan"
Anggit menatap tajam wajah Vony yang tengah tersenyum dengan sangat lebar, mencoba menerka apa yang sedang wanita itu rencanakan kedepannya di dalam hubungannya dengan Alan.
Tak ingin berlama-lama bersama Anggit Vony mengayunkan langkah nya meninggalkan Anggit.
"Aku ingin kamu keluar dari rumah tante Salma malam ini juga!"
"Kalo dasar nya sudah gila,maka akan tetap gila" guman Vony pada dirinya sendiri sebelum berbalik badan. "Kamu bukan pemilik rumah nya, jadi kamu tidak bisa menentukan aku mau tinggal disana sampai kapan" jawab Vony enteng melanjutkan langkahnya menuju kasir dan pulang ke rumah Salma.
"Sial!" umpat Anggit
__ADS_1
_
_
_
_
"Kamu baru pulang?" Vony menatap pantulan wajah letih sang suami dari kaca rias yang baru masuk ke dalam kamar. Berjalan mendekat Vony melepas dasi dan melonggarkan kancing kemeja Alan. "Mau aku siapin air hangat?"
"Tidak perlu" tolak Alan langsung merengkuh pinggang ramping sang istri agar menempel pada tubuhnya. "Apa aku boleh mengatakan sesuatu?"
"Apa?"
Seketika tawa Vony pecah mendengar kata rindu yang baru pertama kali di layangkan sang suami. Vony yang tidak terbiasa dengan hal-hal berbau romantis pun hanya bisa tertawa geli meski dirinya juga merasa rindu dengan pria yang sedang memeluk nya ini. Dan entah kenapa saat bersama Alan semua rasa lelah setalah seharian bekerja, beban pikiran untuk mendapatkan hati sang ayah mertua, strategi untuk menghadapi Anggit seketika lenyap tergantikan rasa nyaman yang sangat amat.
"Aku tidak terbiasa dengan hal-hal romantis seperti ini Alan!"
"Maka mulai malam ini biasakanlah karena bagaimana bisa kita berdua saling menerima jika kamu tidak mau melakukan hal romantis"
__ADS_1
Vony mengangguk pelan sambil tersipu. "Baiklah aku akan mencobanya"
"Oh ya ada hal yang ingin aku sampaikan pada mu" sambung Vony yang tiba-tiba teringat dengan ajakan sang ayah untuk mengajak Erlad datang ke pernikahan kedua orang tua nya. Jujur bahkan sampai sekarang ia belum tau bagaimana caranya mengajak Erlad untuk datang besok.
"Apa?"
"Ayah dan mama akan mengadakan acara ulang tahun pernikahan dan mereka mengundang kita untuk datang minggu depan"
"Ya sudah sekalian minggu depan kita menginap di rumah ayah"
"Tapi Alan masalahnya ayah meminta ku untuk mengundang ayah dan mama mertua sekalian untuk datang ke acara itu"
Alan langsung melepaskan tangan dari pinggang ramping Vony, bukan karena tak suka dengan ajakan ayah mertuanya hanya saja ia tak yakin kalo Erlad tidak akan membuat kerusuhan di acara mertuanya mengingat sang ayah tak suka dengan Vony sampai hari ini.
"Kita tidak usah mengajak ayah"
"Keputusan macam apa itu!, dulu saat kita menikah ayah mu tidak datang dan belum tau keluarga ku dan sekarang kamu juga tidak ingin mengundang ayah mu sendiri?, apa selamanya kamu tidak ingin memperkenalkan ayah mu dengan besan nya sendiri?"
"Aku takut kalo ayah datang akan merusak semuanya"
__ADS_1
"Tetap saja kamu tidak boleh bersikap seperti itu dengan ayah mu sendiri, seburuk apapun sifat nya dia tetap ayah mu dan kamu harus ingat kalo tidak ada dia kamu juga tidak bakal ada di dunia ini!" tandas Vony membuat Alan langsung terdiam.
"Apapun yang akan terjadi minggu depan kita harus terima apapun konsekuensinya, karena bagaimana pun juga ayah mu sekarang juga menjadi ayah ku" ucap Vony dengan suara pasrah.