
Pagi ini Vony kembali ke kantor setelah seharian kemarin mengistirahatkan tubuh sebelum kembali bekerja. Seperti biasa Alan mengantarnya sampai di depan lobi beda nya pagi ini Alan berbicara pada sang anak untuk pertama kali dan itu berhasil membuat Vony merasa geli sendiri di tambah Alan mengusap dan mendekatkan wajah begitu dekat pada permukaan perut.
"Nanti kalo mama kecapekan suruh mama langsung istirahat okey?"
"Kalo mama telat makan bilang sama ayah, biar ayah hukum mama nanti malam"
"Dan kalo ada yang dekat-dekat dengan mama di kantor selain kakek kamu harus mengeluarkan jurus ngambek"
"Kenapa begitu?" tanya Vony merasa aneh pada ucapan terakhir Alan.
Alan menegapkan tubuh setelah puas berbicara pada sang anak. "Karena aku ingin dia ada di posisi ku, jadi kalo kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain di kantor selain ayah aku ada yang mendukung"
"Ceritanya kamu sedang mencari dukungan dengan membawa-bawa anak mu?"
"Anggap saja begitu"
"Itu sangat tidak adil"
__ADS_1
"Kenapa tidak adil? aku saja turut adil dalam membuat nya itu artinya aku juga harus memiliki dukungan darinya"
Vony mengangguk mendengar ucapan Alan yang sepertinya begitu bangga. "Kalo seperti itu aku juga ingin dia mendukung ku"
"Dalam hal apa?"
"Aku ingin dia mogok di jenguk ayah nya jika kamu berani melewati batas bersama Anggit suatu saat nanti! dan juga aku ingin dia meminta hall yang aneh-aneh saat ngidam nanti agar kamu kwalahan mencarikan untuk nya!" ucap Vony begitu tegas.
"Aku yakin aku pasti bisa mengabulkan apapun ayang akan dia inginkan nanti" ucap Alan sangat yakin.
"Jangan terlalu yakin, karena sekarang kamu memiliki dua orang wanita!"
"Siapa lagi satunya kalo bukan Anggit dia kan wanita yang sedang menjadi tunangan pura-pura mu sekarang"
Melihat Vony yang berkata tegas tapi terdengar cemburu di telinganya membuat Alan mendaratkan ciuman singkat pada bibir merah sang istri. "Kamu cemburu?"
"Ma-mana ada, siapa juga yang cemburu dengan wanita seperti Anggit" Vony langsung menatap ke arah depan tak berani menatap Alan yang tengah terkekeh karena melihat semburat kemerahan di pipinya.
__ADS_1
"Kamu benar tidak cemburu?" Alan mendekatkan wajah melihat lebih jelas seperti apa jika Vony sedang cemburu.
"I-iyah"
"Kalo begitu nanti malam aku akan pergi bersama Anggit" pancing Alan.
Vony menatap tajam wajah Alan yang tersenyum begitu lebar seperti pria itu benar-benar ingin berkencan dengan Anggit malam ini. "Kalo kamu berani pergi dengannya malam ini, tidur kamu diluar!" ancam Vony.
"Kata mu, kamu tidak cemburu kenapa marah-marah?" goda Alan merasa senang melihat Vony yang tengah menahan cemburu tapi tak berani mengungkapkannya, 'lucu' kata yang di keluarkan hati Alan saat Vony yang biasanya marah-marah pada dirinya ketika salah sekarang harus marah Karana menahan rasa cemburu.
Vony yang merasa pagi ini dirinya terlalu terbawa suasana memilih mengelak. Menjauhkan tubuh Alan yang masih mengati wajahnya Vony mengambil dokumen di jok belakang. "Aku harus kerja"
"Bilang saja kamu cemburu sayang"
"Aku tidak cemburu!" elak Vony setelah keluar dari dalam mobil.
"Tapi kamu terlihat lebih cantik saat sedang cemburu" teriak Alan menurunkan kaca mobil.
__ADS_1
Vony yang mendapatkan godaan seperti itu hanya menutup telinganya berjalan terus masuk ke dalam perusaahan tak menghiraukan Alan yang malah berteriak-teriak seperti orang gila di luar sana.