My Assistant Husband

My Assistant Husband
Pilihan


__ADS_3

"Ada banyak hall yang harus kita selesaikan pertama mendapatkan restu ayah, kedua mencari alasan Anggit begitu terobsesi dengan mu, ke tiga membatalkan pertunangan mu, dan ke empat mencari suntikan dana untuk perusahaan mama setelah ke tiga hall yang pertama sudah terselesaikan semua"


Alan langsung menegapkan badan begitu juga dengan Vony. "Itu semua urusan ku Von tidak ada hubungannya dengan mu ataupun calon anak kita"


"Kalo hanya kamu yang berusaha mau sampai kapan semua ini akan selesai? Sampai anak ini lahir? Kamu ingin anak mu lahir dengan kondisi seperti ini?"


"Tentu saja aku tidak ingin tapi Von-"


"Biarkan aku ikut membantu mu sebisa ku Alan" bujuk Vony berharap Alan mengizinkan nya meskipun kalo Alan nanti melarangnya ia akan tetap nekat.


"Baiklah kalo itu yang kamu mau, tapi aku juga memiliki pilihan yang harus kamu pilih"


"Pilihan apa itu?" tanyaVony penasaran berharap Alan tidak akan memberikan pilihan yang akan membuat nya pusing untuk memilih.


"Pilihan pertama kamu akan tetap bekerja di perusahaan ayah tapi jangan pernah membantuku menyelidiki masalah yang kamu sebutkan tadi, pilihan kedua kamu berhenti dari perusahaan ayah dan lakukan apapun yang kamu inginkan di luar sana"


"Ini tidak adil Alan!" Protes Vony saat Alan memberikan nya pilihan yang benar-benar sulit untuk ia pilih.


"Keputusan ada di tangan mu, jadi aku harap kamu bisa mengambil keputusan yang menurut mu sangat berharga"

__ADS_1


"Tapi-"


"Aku kasih kamu waktu sepuluh menit untuk berfikir"


"Sepuluh menit? itu waktu yang sangat singkat!"


"Tinggal sembilan menit lagi" ucap Alan membuat Vony mengepalkan tangan geram.


Menghela nafas sebanyak-banyaknya Vony berusaha tak terpancing amarah dan tetap tenang meladeni Alan yang sedang menjebaknya dengan pilihan yang sangat sulit untuk dipilih.


"Delapan menit lagi" lanjut Alan menghitung setiap menit yang terlewat kan.


"Alan aku tau kamu tidak sedang benar-benar memberikan keputusan ini pada ku bukan? jadi aku mohon jangan kasih aku pilihan yang membuat ku merasa pusing"


"Tapi pilihan kedua juga begitu penting untuk kita Alan"


"Aku bisa mengurus hall itu sendiri Vony jadi kamu tidak perlu khawatir kalo masalah ini tidak akan selesai sebelum anak kita lahir"


"Tapi aku ingin membantu Alan, aku tidak ingin melihat mu berjuang sendiri sedangkan aku diam melihat suami ku yang tengah kesusahan"

__ADS_1


Alan meraih tangan Vony mengengam nya dengan lembut. "Kamu sedang hamil sekarang, aku tidak ingin kamu mengalami masalah dengan kehamilan mu hanya karena membantu ku"


"Aku akan baik-baik saja Alan percaya sama aku"


Alan mengeleng masih tak membiarkan Vony ikut dalam masalah ini dengan keadaan nya yang tengah mengandung. "Sekarang katakan mana pilihan yang akan kamu ambil"


"Alan-"


"Katakan" potong Alan meminta Vony segera mengatakan pilihan mana yang menjadi pilihannya.


Vony menatap kesal wajah Alan yang benar-benar tidak mengizinkan nya sedikitpun dan tetap menanyakan keputusan yang ia ambil. "Pertama!"


Alan tersenyum bahagia saat rencananya berhasil. "Pilihan yang tepat"


"Alan-"


"Sekarang kita tidur sudah malam"


"Tapi aku ingin bicara-"

__ADS_1


"Kasian anak kita kalo kamu tidak mau istirahat sekarang dia pasti lelah"


Vony yang masih duduk harus terpaksa merebahkan tubuhnya saat sang suami melakukan hall tersebut membawa nya ke dalam dekapan hangat yang tak bisa ia tolak meski hati dan pikiran nya tengah kesal karena ulah Alan.


__ADS_2