Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Kakak


__ADS_3

"Kamu istirahat saja, duduklah kalau ingin mengobrol sebentar dengan mama, tapi jangan lama-lama, kamu harus banyak beristirahat" ujar Endra didalam sambungan telepon.


"Sayang, aku tidak sakit, kamu jangan aneh-aneh ya"


"Pokoknya kamu harus banyak istirahat, sudah dulu ya sayang, aku sedang diruang rapat, jangan membuat ku khawatir lagi dan segera masuk kedalam kamar lagi, emuuaacchhh" Endra lalu menutup sambungan telepon nya, dia lalu melihat ke sekitar nya yang memandang penuh heran melihat tingkahnya.


"Maaf kalau sedikit mengganggu, tadi adalah istri saya, dia begitu manis sehingga aku tidak bisa sedetikpun untuk tidak mengingat nya" ucap Endra, Suseno dan Reynolds yang juga ada didalam ruangan rapat menutupi mukanya merasa malu sendiri.


"Tuan Endra memang selalu romantis terhadap istrinya, saat dulu dengan nyonya Intan juga terlihat sangat romantis, saat itu tuan dan nyonya sering tampil dimuka umum, bahkan menjadi predikat pengusaha dengan kehidupan rumah tangga yang sangat harmonis, tetapi karena ada masalah di perusahaan lalu tuan dan nyonya Intan berpisah, dan saat ini setelah tuan menikah lagi, tuan juga sangat romantis, tetapi kali ini berbeda yang saya lihat dari tuan" ujar klien Endra.


"Apa yang berbeda" tanya Endra serius, Suseno da Reynolds sudah bersiap siaga, kalau-kalau klien itu akan menyinggung perasaan tuannya.


"Dulu tuan tidak akan pernah mau diganggu saat sedang bekerja, bahkan oleh nyonya Intan sendiri, saya ingat dulu nyonya Intan berteriak dari luar ruangan rapat untuk menemui tuan, tetapi tuan tidak menemuinya dengan dalih profesional kerja, tapi saat ini tuan sendiri yang duluan menghubungi istri tuan yang sekarang"


"Lalu anehnya dimana?" tanya Endra lagi dan terlihat semakin serius, Reynolds bahkan sudah bangkit dari duduknya, tetapi Endra memberi kode supaya Reynolds kembali duduk.


"Nyonya yang sekarang sepertinya tidak pernah muncul di umum, sementara dulu nyonya Intan selalu muncul bersama anda dengan keromantisan kalian"


Endra tertawa mendengarnya, dia mengerti apa yang dimaksud oleh klien nya yang sudah bekerja sama dengannya begitu lama, mereka sebenarnya adalah teman walaupun tidak dekat, tetapi saat rapat atau urusan pekerjaan, mereka memang selalu profesional, tetapi karena kali ini, temannya itu yang duluan membicarakan masalah pribadi, Endra lalu meladeni nya.


"Aku tanya padamu? kalau kamu mempunyai permata yang sangat langka, apa kamu akan sembarangan memperlihatkan nya pada khalayak ramai, apa kamu akan terus membawanya didepan umum untuk dipertontonkan?" tanya Endra dengan senyumannya.


Klien yang juga temannya itu mengangguk mengerti, dia juga tidak lupa membalas senyuman Endra, dan menyimpulkan sendiri.


"Aku tau maksudmu, aku iri dengan mu, kapan aku boleh bertemu dengan permata langka mu itu, sewaktu pernikahan aku datang terlambat karena saat itu aku sedang diluar kota, aku sudah datang dengan sangat cepat, tapi tetap saja aku tidak bisa menemui kalian, bahkan setelah masuk kamar pengantin, kamu benar-benar tidak mau keluar lagi"


"Jangan pernah berharap sedikitpun untuk melihat permata langka berharga milikku, karena hanya aku yang boleh melihatnya"


"Ahahahaha,, aku tidak menyangka, Endra yang dingin bagai kulkas lima pintu, bisa begini bucin nya pada seseorang, baiklah,, sepertinya kita sudah melenceng terlalu jauh, mari selesaikan rapat kita, maaf tadi aku menyela"


Endra hanya mengangguk mengiyakan, lalu mereka kembali membahas tentang pekerjaan mereka, setelah waktu berlalu, rapat akhirnya selesai, Endra kembali menghubungi istrinya.


"Aku bilang masuk kedalam kamar, jangan terus mengobrol, nanti kamu kecapean, aku akan menceritakan pada mama, apa yang sedang kamu alami, mama juga pasti akan mengerti, sekarang berikan telepon nya pada mama" ujar Endra pada Naina, tetapi Naina tidak menurutinya, karena Naina tau kalau itu pasti akan memalukan.


Mana ada orang yang sedang datang bulan, diperlakukan seperti orang yang sedang sakit parah seperti ini, saat Naina hendak memutuskan sambungan telepon nya, Endra mengancamnya untuk tidak mengizinkannya keluar kamar kalau Naina tidak menurut.


"Iya baik tuan Endra Prasetya yang terhormat, aku akan selalu menurut pada mu, muuaaahhhh" Naina manyun lalu menyerahkan kembali telepon itu pada pelayan yang dari tadi menunggu, padahal menurut Naina, hal seperti ini tidak perlu dilakukan, karena kalau hanya menyimpan kembali gagang telepon, dia sudah pasti sangat bisa melakukannya.


"Ada apa Nai?" tanya mama Nimah.


"Ini tadi Endra yang menelepon, meminta ku untuk masuk kedalam kamar, aku bosan ma,, aku disuruh terus istirahat, padahal aku tidak sakit apapun, aku menyesal mengatakan hal itu padanya, dia menjadi berlebihan"


"Kamu belum mengatakan dengan jelas pada mama, apa sebenarnya sakit yang sedang kamu derita?" tanya mama Nimah terus berusaha untuk mengetahui penyakit anaknya.


"Aku tidak sakit ma, aku sudah bilang, aku hanya merasa tidak nyaman di perutku sejak kemarin sore, tetapi sekarang juga sudah lebih baik, ini semua hanya karena aku sedang datang bulan, tetapi Endra begitu berlebihan menanggapi nya" Naina akhirnya bercerita, walau dia tau kalau adik dan mamanya pasti nanti nya akan mentertawakan nya.


"Itu karena dia sangat perhatian padamu" jawab mama Nimah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ahahahaha,, aku pikir kakak kenapa dan sakit parah apa, ternyata kakak hanya sedang datang bulan, kenapa kak Endra begitu heboh, sangat aneh sekali" ucap Ningsih tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya.


"Aku sudah mengira kalau hal seperti ini pasti akan menjadi bahan tertawaan" ucap Naina pasrah ditertawakan oleh Ningsih.


"Nai, mama boleh menumpang sebentar di kamar tamu, ini Alfin sepertinya mengantuk, mama akan menidurkannya terlebih dahulu, setelah Alfin bangun, baru kita akan pulang, nak Endra tidak akan marah kan?"


"Tidak ma, Endra tidak akan marah, lagipula aku tidak melakukan apapun, masuk saja ma ke kamar, sepertinya tidak terkunci, atau mau dikamar Deva dan Yaya diatas? disana banyak mainan, aku heran sama Endra, anak-anak ku sudah besar-besar, tapi disediakan banyak mainan"


"Tidak Nai, mama di kamar bawah saja, mainan itu simpan saja, itu adalah tanda sayang nak Endra pada anak-anak,,, mama sangat bersyukur, nak Endra bisa menerima Deva dan Yaya dengan sangat baik, aku harap nantinya Suseno juga seperti itu seterusnya pada Alfin" ujar mama Nimah lalu menuju ke kamar tamu.


"Apa maksud mama dengan seterusnya tadi?" tanya Naina heran.


"Tadi kak Seno mengirimkan banyak sekali kado, dan Alfin juga mendapatkan banyak sekali mainan"


"Wwaahh, Seno sudah ambil start ni, bagaimana dengan Rey?" tanya Naina yang sangat antusias setiap membicarakan tentang percintaan adiknya.


"Aku tidak tau kak, di satu sisi aku,,," Ningsih tidak melanjutkan ucapannya, dia tidak bisa mengutarakan perasaan nya.


"Apa kamu menyukai Rey?" tanya Naina.


"Sudah aku bilang kak, aku tidak perduli lagi dengan cinta atau apalah itu namanya"


"Jangan menyakiti dirimu dan juga orang lain,, coba kamu pikirkan baik-baik, apa Seno akan senang kalau kamu berpura-pura? awalnya perjodohan kalian hanya karena keisengan ayah Rayhan, tetapi itu semua tidak perlu dianggap serius, Seno saja yang terlalu berlebihan saat itu dan menanggapinya,,, ayah mengusulkan hal itu hanya karena dia melihat anak bujang nya masih melajang di usia yang sudah sangat matang, saat melihat mu terbersit lah niatan itu, tetapi kalau kamu tidak mau ya tidak masalah, eh ternyata kamu mau, dan sekarang kedua nya juga menyukaimu"


"Apa mereka tidak sedang bercanda ya?"


"Kak Seno yang sudah mau menikahi ku dari awal, aku tidak perlu memikirkan yang lainnya, apalagi dia semakin berusaha untuk mendekati aku dan Alfin, jadi aku tidak perlu ragu lagi" ujar Ningsih dengan pandangan menerawang jauh kedepan.


Naina sepertinya bisa merasakan sesuatu yang lain dihati adiknya, Naina sepertinya paham kalau adiknya tidak menyukai Suseno, hanya saja dari awal dia sudah menerima perjodohan itu dengan siapapun prianya, karena Suseno yang menerima perjodohan itu, Ningsih juga tidak boleh seenaknya membatalkan nya.


"Seno bukan anak kecil, dia akan memahami hatimu, awalnya aku pikir Seno tidak menyukai dirimu, dia akan menikahi mu hanya karena ingin membahagiakan ayah Rayhan, aku yang dari awal mengetahui bahwa Reynolds menyukaimu, aku yang meminta nya untuk membuka hatinya, saat Rey sudah memberanikan diri menyatakan nya, ternyata Seno juga menyukaimu, jadi sekarang aku sudah tidak bisa membantu apapun lagi, keputusan ada ditangan mu"


"Kakak tau dari mana kalau dari awal Rey menyukaiku? sepertinya kakak sangat yakin?"


"Aku tau saja" jawab Naina singkat.


"Aku tidak mau Seno menikahi mu karena terpaksa yang nantinya akan membuatnya tidak bahagia, dia adalah kakak nya suamiku, jadi aku juga harus memahami dan membantu situasinya, tetapi aku tidak tau kalau perubahan perasaan nya akan melebar seperti ini, saat ini aku juga memberikan saran yang sama padamu, jangan salah pilih hingga membuat kamu terluka atau bisa melukai pasangan mu nanti nya, maafkan aku kalau terlalu ikut campur dalam masalah ini, aku sungguh tidak menyangka semua akan seperti ini" Naina sepertinya merasa menyesal telah berbicara pada Reynolds waktu itu, seandainya dia tidak terlalu banyak berbicara, mungkin Reynolds akan tetap diam, lalu Suseno dan Ningsih bisa menikah dengan damai.


"Tidak kak, kakak tidak salah apapun, kakak hanya memikirkan tentang kami semua, dan aku seharusnya sangat berterima kasih untuk itu" jawab Ningsih yang lalu menggenggam tangan kakaknya.


Hari sudah mendekati sore, Alfin sudah terbangun kembali, mama Nimah dan Ningsih lalu pamit untuk pulang.


"Setelah selesai sakit mu, jangan lupa untuk mengunjungi mama, asal kamu tau saja, papamu sangat merindukan dan menghawatirkan dirimu karena kamu tidak juga datang berkunjung, papa mu sudah berfikir yang bukan-bukan, dia berfikir kalau pernikahan mu yang sekarang tidak ada bedanya dengan pernikahan mu yang dulu" ucap mama Nimah begitu mereka sampai keluar pagar.


Naina mengangguk mengiyakan, dia merasa bersalah karena menjadi tidak perhatian lagi pada kedua orang tuanya.


"Iya kak,,, kalau sakit parah mu sudah sembuh, cepat segera keluar dari goa, bisa ketinggalan peradaban kakak ini kalau terus berdiam diri" seloroh Ningsih dengan dibarengi tawa.

__ADS_1


"Dasar kurang asam" balas Naina yang juga tidak bisa menyembunyikan tertawanya, Naina lalu melambaikan tangannya pada mama dan ibunya yang mulai menjauh menaiki sebuah mobil online, karena mamanya menolak untuk diantarkan oleh para pengawal atau penjaga rumahnya.


Setelah Naina masuk kedalam rumah, para penjaga berbicara dengan berbisik-bisik.


"Pantas saja tuan Endra begitu tergila-gila pada nona Naina, aku baru melihatnya dengan jelas barusan karena terang, ternyata nona memang begitu mempesona, bahkan tanpa polesan make up apapun"


"Iya benar juga, dan adiknya juga tidak kalah bohay walau tidak secantik nona Naina, aku dengar kalau Seno yang akan menikahinya"


"Tuan kita dan Seno mendapatkan barang bekas tetapi kualitas tinggi"


Mereka lalu tertawa bersama tanpa menyadari bahwa apa yang mereka lakukan dan ucapkan, terekam dalam kamera CCTV.


"Kurang ajar para pengawal itu, mereka berani memandang wajah istriku, lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan pada mereka"


"Tidak perlu berlebihan Ndra" ujar Suseno yang juga mendengar percakapan para pengawal itu.


"Mereka hanya mengobrol, lagipula pekerjaan mereka bagus, yang mereka katakan juga kebenaran, memang Naina sangat cantik dan Ningsih memang sangat bohay dan seksi" ujar Suseno sambil memegangi ponselnya, sepertinya dia akan mengirimkan pesan pada Ningsih.


"Berarti kamu juga memperhatikan istriku?! kenapa kamu mengatakan dia cantik?!" Endra semakin meradang.


"Kamu terlalu cemburuan dan posesif, yang seperti itu bisa membuat wanita merasa tercekik, mereka bisa saja pergi" ucap Suseno ngasal, karena dia sepertinya mulai malas menanggapi Endra yang selalu berlebihan kalau menyangkut dengan Naina.


"Apa benar seperti itu?" tanya Endra


"Iya benar"


"Lalu apa aku harus diam saat ada pria lain memandangi wajah istriku?"


Endra tidak mendapatkan jawaban tetapi dia malah melihat Suseno yang tersenyum tersipu, entah apa yang sedang dia lihat di ponsel nya.


"Dasar bucin!,, kamu tidak ada bedanya denganku, aku berharap Rey merebut nya darimu" teriak Endra, sementara Suseno sedang berkirim pesan pada Ningsih, dia mendapatkan foto selfi Ningsih yang diedit menjadi terlihat lucu.


"Apa kamu bilang?!" ujar Suseno kesal dengan apa yang dikatakan oleh Endra, sementara Endra baru kali ini melihat Suseno marah padanya.


"Sungguh menakutkan sekali,, kamu juga berubah karena seorang wanita, apa sekarang kamu akan memukul ku?,, aku ingin sekali berantem dengan seorang kakak, dari dulu kamu sudah aku anggap kakak, tetapi bagiku kamu bukan kakak yang sesungguhnya, karena kamu terus mengalah padaku, kamu juga hanya peduli padaku, melebihi peduli mu pada dirimu sendiri, sekarang karena kamu marah padaku, maka aku anggap kalau kamu adalah kakakku seutuhnya,, wahai kakakku,, selamat berebut cinta dengan Rey, lelaki yang tampan dan gagah serta tinggi itu, aku tidak yakin kalau kakak akan sanggup mengalahkan nya, hahaha" ujar Endra melihat kearah Suseno yang memandang nya tajam, Endra yang masih tertawa lalu bersiap untuk pulang.


"Terimakasih" ucap Suseno yang masih memandangi Endra, tetapi pandangannya telah berubah.


"Apa?" tanya Endra heran.


"Karena menganggap ku kakakmu, dan maaf karena belum bisa menjadi kakak seperti yang kamu harapkan, mulai sekarang aku akan berusaha lebih baik untuk menjadi kakakmu"


Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing, sama-sama kembali mengingat dari awal pertemuan mereka hingga saat ini.


"Baiklah kak, aku akan pulang menemui istri cantikku, dan kakak bisa terus berhalusinasi, karena Ningsih pasti akan direbut Rey, ahahaha" Endra mencairkan suasana dan langsung berjalan keluar ruangan.


"Dasar" gumam Suseno, tetapi senyuman tersungging di bibirnya.

__ADS_1


Diluar ruangan, Reynolds memperhatikan kedekatan mereka berdua, karena bisa terlihat dari kaca ruangan yang terbuka penutup kacanya, entah apa yang dipikirkan nya, tetapi terlihat pandangan Reynolds yang tidak menyukai hal tersebut.


__ADS_2