
"Kejar perawat yang baru saja keluar dari ruangan ini!!" teriak salah seorang perawat setelah membuka pintu ruangan.
Terjadi kepanikan didalam ruangan dimana Naina dirawat, kejadian yang sangat fatal terjadi dan hampir saja merenggut nyawa Naina, untungnya ada salah satu perawat yang melihat kondisi Naina sebelum terlambat.
Semua kaget dan langsung menghentikan perdebatan mereka, Roni, papa Yanto dan pengawal Naina dengan cepat bergegas dan berlari untuk mencari perawat palsu yang telah mencelakai Naina, walau mereka tidak terlalu memperhatikan saat Putra yang sedang menyamar melewati mereka, mereka hanya reflek berlari untuk mencari perawat yang mencurigakan.
"Kakak,,,,!" teriak Ningsih khawatir pada kakaknya dan mencoba untuk melihat kondisi nya, tapi dia dihalangi oleh perawat untuk tidak masuk kedalam ruangan.
Endra datang dengan Suseno, mereka terkejut dengan kepanikan Ningsih dan mama Nimah,
"Maaf nyonya? apa yang terjadi?" tanya Suseno
"Ada yang berniat mencelakai Naina" jawab mama Nimah dengan suara yang tidak terdengar jelas karena sedang menangis,Ningsih hanya diam karena dia merasa tidak mengenal Endra.
Endra langsung bergegas untuk melihat kondisi Naina, tetapi dia juga tidak bisa masuk kedalam ruangan karena dihalangi oleh perawat, Endra kembali geram dan bahkan dia salah sangka dan mengira kalau semua ini adalah ulah Intan.
"Tidak Ndra, jangan gegabah,, lebih baik sekarang kita periksa semua CCTV terlebih dahulu, dan jangan sampai Intan mengetahui kondisi Naina, bisa-bisa dia juga berniat jahat pada Naina disaat seperti ini " ujar Suseno, dengan cepat Endra bergegas untuk memeriksa CCTV.
"Siapa mereka ma?" tanya Ningsih pada mama Nimah
"Mama juga belum tau, hanya saja,,,," mama Nimah tidak melanjutkan ucapannya karena Roni dan papa Yanto sudah kembali, mereka kehilangan jejak Putra.
"Lebih baik kamu segera pergi dari sini" ucap mama Nimah tanpa melihat kearah Roni, lelaki itu telah menyakiti dan menghianati putri nya, walau saat ini Roni terlihat sangat peduli dan menghawatirkan kondisi Naina, tetapi bagi seorang ibu tetap saja tidak bisa melupakan apa yang dilakukan Roni pada Naina.
"Tapi ma, Naina masih mau menemani dan merawat Naina"
"Siapa yang kamu panggil mama?"
"Ma, saat ini kita harus saling,,,," Roni tidak bisa melanjutkan ucapannya karena papa Yanto sudah memegangi kerah bajunya.
"Kamu bukan siapa-siapa lagi bagi kami, apalagi bagi Naina,, sekarang cepat pergi dari sini, dari tadi kami sudah cukup bersabar dengan berbicara baik-baik, tetapi kamu masih saja tidak mengerti!!" teriak papa Yanto lalu mendorong tubuh Roni.
"Pa, bagaimanapun juga Naina adalah istriku" Roni berusaha mencari alasan untuk tetap berada disana
"Urusi istri barumu yang sedang di interogasi polisi, dia sedang mengandung anak yang kamu harapkan, disini kami tidak membutuhkan dirimu lagi, dan harus kamu ingat, kalian sudah bercerai, jadi jangan mengucapkan omong kosong tentang hubungan kalian!" papa Yanto semakin marah karena Roni masih tidak mau pergi dari sana.
__ADS_1
"Apa perlu bantuan saya tuan?" pengawal Endra yang ada di sana menawarkan bantuan untuk mengusir Roni, dan tanpa menunggu jawaban, pengawal itu langsung saja menarik Roni menjauh.
"Maaf nyonya, apa dokter belum keluar untuk menjelaskan kondisi Naina saat ini?" tanya Endra yang sudah kembali lagi.
"Belum, bagaimana ini??,, apa terjadi hal yang lebih buruk pada Naina?" jawab mama Nimah lalu mendekati pintu ruangan, dan mencoba melihat kedalam walau tetap saja tidak bisa melihat apapun.
"Tenang ma" Ningsih mendekati mama Nimah dan membawa mamanya untuk duduk supaya lebih tenang.
Endra mendekati mama Nimah dan berpamitan, karena ada sesuatu yang harus segera diselesaikan.
"Tuan dan nyonya, saya pamit undur diri, pengawal saya tetap ada disini, jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada nya kalau terjadi sesuatu, dan tolong ingat pesan saya tadi"
"Baik tuan, terimakasih atas bantuannya" papa Yanto lalu mengantarkan Endra sampai ke depan lift.
"Ma, apa benar yang mendonorkan darah untuk kakak adalah mantan suaminya? apa itu alasannya tadi tidak mau pergi dari sini, lalu bagaimana dengan wanita selingkuhannya?,,, bukankah dia sedang mengandung, tapi kenapa lebih memilih menemani kakak disini daripada menemani selingkuhan nya di kantor polisi?" Ningsih terus bertanya tanpa memberi jeda waktu untuk mamanya menjawab.
"Sudahlah Ning, yang lebih penting sekarang kita focus dulu pada kesembuhan kakak mu" jawab papa Yanto.
"Tapi pa, bagaimana kalau lelaki itu menggunakan kesempatan ini untuk kembali meminta kakak kembali kepadanya? papa tau sendiri bagaimana kakak, dia pasti akan menuruti hal seperti itu, karena kakak sangat pandai menyimpan perasaannya, bahkan kakak tidak menceritakan tentang rasa sakit dan masalah nya selama ini" Ningsih terus saja merasa kesal karena membayangkan apa yang akan terjadi saat kakaknya siuman dan sembuh, memang nyawa kakaknya yang lebih utama saat ini, dan harus segera di selamatkan, tetapi tetap saja rasanya sangat pilu bila membayangkan apa yang akan diminta oleh Roni pada kakaknya, karena pasti Roni akan mengambil dan manfaatkan kesempatan ini dengan baik untuk kepentingan nya sendiri.
"Apa sudah dapat informasi siapa pria yang mencelakai Naina?" tanya Endra sambil membuka laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena cukup lama di rumah sakit.
"Belum, sepertinya agak sulit, karena pria itu sangat lihai dan sepertinya paham dengan adanya CCTV di banyak sudut di rumah sakit itu"
"Baiklah, aku akan mengirimkan banyak pengawal lagi supaya kejadian ini tidak terulang, lalu apa pihak Intan tidak melakukan pergerakan apapun tentang perusahaan?" Endra yang masih terus menyelesaikan pekerjaannya tetapi tetap bisa focus juga dengan pembicaraan nya dengan Suseno.
"Tentu saja sudah, mereka mencari banyak bantuan bahkan sampai ke luar negeri, kalau seandainya kita kalah, kira-kira apa yang akan terjadi padaku?" Suseno terdengar pesimis dengan masalah akuisisi perusahaan, karena secara kolega dan koneksi bisnis, keluarga Intan lebih berpengaruh dibandingkan dengan Endra maupun Rayhan.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tetap masih punya saham di perusahaan, jadi kalau aku kalah, aku tidak akan langsung bangkrut, aku akan menjualnya lalu kita mencoba lagi dari awal membangun perusahaan yang baru" Endra terdengar sangat enteng dalam mengucapkannya, sepertinya dia memang sudah tidak terlalu perduli masalah perusahaan.
"Kenapa harus kata kita yang kamu pakai? kamu pikir aku ini sangat setia?? tidak perlu banyak berkhayal, karena aku tidak akan pergi kemanapun dari perusahaan itu, dan aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sana" Suseno melihat kearah Endra yang terlihat sangat serius mengerjakan pekerjaan nya, Suseno kembali mengingat kenangan saat pertama kali dia mengenal Endra.
Flashback
"Ma, kenapa teman belajar ku harus dia?" Endra kecil yang masih duduk di sekolah menengah pertama, dia sedang protes pada mamanya karena teman belajar nya tidak sesuai seperti yang dia inginkan.
"Dia sangat pintar, mama sudah mengambilnya dari suatu rumah singgah, dia mempunyai sebuah masalah yang tidak bisa mama ceritakan padamu saat ini, yang jelas dia akan selalu membantumu dan menjagamu"
Mendengar jawaban dari mamanya membuat Endra merasa ada suatu keanehan tetapi saat itu dia masih muda jadi tidak terlalu memperdulikan hal itu, tetapi dia tidak mungkin menolak dan membantah apa yang diinginkan oleh mamanya.
Seiring dengan berjalannya waktu, mereka menjadi semakin akrab, bahkan saat tragedi penculikan yang menimpa Endra, Suseno terus berjuang untuk mencari tanpa mengenal waktu, Endra lebih muda dari Suseno, jadi Suseno sangat menyayangi Endra seperti adiknya walau dia tidak pernah mengatakannya.
Flashback End
"Ada apa?" tanya Endra menyadarkan lamunan Suseno.
Suseno tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu, Endra tidak ambil pusing, karena dia sudah biasa dengan kelakuan sahabatnya itu, Suseno bisa sangat hormat padanya, bisa juga seperti saat ini yang tidak memperdulikan pertanyaannya.
"Aku sudah tidak terlalu memperdulikan perusahaan lagi, aku hanya ingin hidup damai" ucap Endra lalu menutup laptopnya.
__ADS_1