
Naina mengajak Ningsih untuk datang kerumahnya Rayhan karena Rayhan memintanya datang, Naina mengendong dede Alfin yang membuatnya terlihat seperti seorang ibu.
"Nai, cepatlah buat yang seperti ini, kamu sangat pantas sekali menggendongnya, aku yakin pasti kekasihmu juga berharap kan?"
"Ayah jangan bercanda,,," Naina malu mendengarnya, dede Alfin terlihat nyaman digendong Naina, bahkan saat akan diambil oleh Ningsih dari gendongan Naina, Alfin menangis dan masih ingin digendong oleh bibinya.
"Alfin kangen ya sama bibi? maaf ya karena sudah lama bibi tidak bermain bersama Alfin" Naina menciumi wajah Alfin lalu tiba-tiba Endra datang dibelakangnya dan menghalangi bibir Naina dengan tangannya karena terlihat Naina yang kembali ingin mencium Alfin.
"Ini hanya milikku" ucap Endra memegangi bibir Naina, membuat Naina malu lalu melepaskan tangan Endra dari mulutnya.
"Kamu terlalu berlebihan, bagaimana dengan anak kalian nanti, apa Naina juga tidak boleh menciumnya" tanya Rayhan tidak habis pikir dengan tingkah laku anaknya.
"Anak??" Endra melihat ke arah Naina.
"Apa kamu ingin anak? ayo kita bikin" Endra menggoda Naina dan pura-pura akan menarik tangannya, Naina menjadi malu karena semua juga menggodanya, lalu Naina mengalihkan pembicaraan.
"Ayah, apa yang ayah inginkan atau butuhkan?" Naina memang belum tau maksud dari Rayhan yang memanggil Naina untuk datang kerumah.
"Endra bilang kamu memasak sesuatu yang sangat istimewa saat dia menginap di rumahmu waktu itu, bisa tolong buatkan juga untuk ayah"
"Masakan apa?? oowwhhh,,,, masakan yang aku buat itu hanya makanan sederhana, bahkan masakan bi Yeni lebih enak daripada masakan ku itu, saat itu aku tidak tau kalau Endra akan datang, aku hanya masak seadanya"
"Buatkan lagi" pinta Endra, Naina lalu menyerahkan Alfin pada Ningsih, lalu dia segera menuju ke dapur, tetapi di kulkas tidak ada bahan masakan yang dia perlukan.
"Tidak ada bahannya, aku akan membelinya sebentar" ucap Naina pada Endra yang dari tadi mengikutinya, tadinya Endra meminta tolong pada bi Yeni untuk membelinya, tetapi bi Yeni sedang menyetrika baju, sementara Reynolds sedang memijat Rayhan, Naina lalu pergi ke supermarket diantar oleh Endra.
Ningsih merasa sangat kewalahan dengan Alfin yang terus menangis, Reynolds lalu meminta izin pada Rayhan untuk membantu Ningsih.
"Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Reynolds pada Ningsih, awalnya Ningsih ragu tetapi karena anaknya terus menangis, akhirnya dia memberikan Alfin pada Reynolds, anehnya Alfin langsung diam setelah berada di gendongan Reynolds, terlihat Ningsih yang tanpa dia sadari terus memperhatikan Reynolds, dan saat mata mereka bertemu, mereka sama-sama menjadi salah tingkah.
"Ningsih, apa Alfin sudah sembuh?" tanya Rayhan.
"Sepertinya masih pilek, jadi dia masih susah bernafas, itulah yang membuatnya masih rewel" Reynolds yang menjawab pertanyaan Rayhan, dan Ningsih hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Reynolds, kamu sangat pantas sekali menggendongnya, kamu sudah pantas memiliki seorang anak,, apa kamu sudah memiliki kekasih? segeralah menikah"
"Siapa yang mau hidup bersama dengan orang seperti saya ini, saya hanya orang rendahan"
"Kamu jangan seperti itu, kamu sendiri yang tidak mau untuk bekerja di perusahaannya Endra dan memilih tinggal disini, kamu jangan terbebani dengan perkataan orang tuamu yang meminta padamu untuk selalu menjagaku, kamu bisa hidup sesuka hatimu, bekerjalah ditempat yang lebih baik, lalu segera menikah, lihatlah Endra yang pada akhirnya menemukan cintanya, kamu dan Seno juga harus segera menemukan pasangan kalian"
"Saya masih ingin disini tuan"
"Kamu masih tetap bisa tinggal disini, aku malah senang" jawab Rayhan lalu kembali memegangi dadanya, Reynolds lalu mengambilkan obat dan segera memberikan pada Rayhan, sementara bi Yeni mengambilkan air minum untuk memudahkan Rayhan minum obat.
"Kenapa mereka begitu lama berbelanja, mereka tidak mungkin kesasar ke sebuah hotel kan?" canda Rayhan untuk mencair kan suasana karena semua menjadi terdiam karena melihat Rayhan yang terlihat kesakitan.
"Ningsih,, jangan katakan kondisiku pada Naina,, dia pasti akan kepikiran" pinta Rayhan pada Ningsih tetapi Ningsih tidak menjawab apapun karena Endra dan Naina telah kembali berbelanja.
Naina lalu memasak dibantu oleh bi Yeni, masakan yang sama seperti yang dia masak waktu itu untuk Endra, bi Yeni tersenyum melihat betapa luwesnya Naina memasak.
"Nona sangat terampil dan cekatan, pasti tuan muda Endra sangat bahagia kalau kalian menikah, setiap hari bisa dimasakkan oleh istrinya yang cantik dan pintar memasak"
"Tetapi masakan bikinan sendiri mempunyai ciri khasnya sendiri dan terasa lebih nikmat"
"Menurut aku masakan bibi yang paling baik, aku sampai naik dua kilo saat tinggal disini karena makan terus, aku harus berusaha keras berolahraga setiap pagi untuk mengembalikan bentuk tubuh ku"
"Ternyata nona Naina sangat suka olahraga? pantas saja singset dan cantik, orang akan mengira kalau nona masih berumur 20an"
"Bibi terlalu berlebihan sekali,,,, aku tidak,,,, aaaahhh" Naina kaget karena tiba-tiba Endra memeluk nya dari belakang disaat dia sedang mengulek sambal.
"Kenapa kamu bergoyang-goyang disini, ayo ke kamar" bisik Endra, membuat bi Yeni malu mendengarnya lalu menjauh dari dapur.
"Siapa yang bergoyang, aku sedang bikin sambal, lepaskan dulu,, nanti kamu terkena cabai, ini akan segera selesai, boleh tolong bantu bawa ke meja makan, itu makanan yang sudah matang" pinta Naina pada Endra.
"Biarkan Reynolds yang melakukannya"
"Endra sayangku, kalau kamu bisa melakukannya sendiri, jangan kebiasaan meminta bantuan orang lain, apa kamu pikir kerjaan Reynolds tidak berat? jangan mentang-mentang kamu membayarnya jadi kamu bisa seenaknya" Naina sudah seperti emak-emak yang sedang mengomeli suaminya, hingga membuat Endra tersenyum.
__ADS_1
"Iya baik istriku sayang, jangan ngomel mulu, nanti tambah imut" Endra lalu menuruti apa yang diminta oleh Naina, sementara Naina malu mendengar apa yang dikatakan oleh Endra.
Semua masakan telah tersedia dan siap dimakan, malam itu Rayhan juga meminta Suseno untuk makan malam bersama, menu makanan sederhana ala chef Naina,
☘️Cah kangkung
Yang dibilang Endra sayur panjang-panjang
☘️Ikan Asin
Jadi bukan keasinan tetapi memang ikan asin (Tolong kasih tau bi Yeni 🤭)
☘️Sambal tomat
☘️Ayam goreng
☘️ Kerupuk
Mereka makan dengan penuh khidmat, bahkan sampai tidak bersuara, Naina heran melihatnya, karena mereka semua seperti tidak pernah makan masakan sederhana, Rayhan merasakan sambal buatan Naina sedikit mirip dengan buatan istrinya dulu.
"Pantas saja Endra menginginkan makanan ini lagi, pasti tanpa dia sadari dia mengingat masakan mamanya" batin Rayhan yang masih asyik makan, saat diakhir sayur cah kangkung yang tinggal sedikit menjadi rebutan Rayhan dan Endra.
"Ayah, mengalah lah, ini kekasih ku yang memasak untukku"
"Tidak bisa, ini masakan putriku untuk ayahnya, coba tanyakan sendiri pada Naina" Rayhan dan Endra melihat kearah Naina.
"Habiskan saja ayah, aku memang memasak untuk ayah" jawab Naina.
"Dengar sendiri kan?? ayah pemenangnya" Rayhan langsung menghabiskannya, sementara Endra menatap kearah Naina, tetapi Naina memajukan bibirnya dan memberikan ciuman😘 jauh untuk kekasihnya itu, membuat mereka tersenyum lalu menutupi wajah mereka masing-masing karena Rayhan menyadari hal itu saat melihat keduanya.
Rayhan benar-benar bahagia, dia seolah sangat rela walaupun harus meninggalkan dunia ini, karena dia yakin kalau Endra akan hidup bahagia bersama Naina, Rayhan lalu menatap foto istrinya.
"Ma, jemput lah aku secepatnya, aku sangat merindukanmu, disini Endra telah menemukan kebahagiaannya, jadi kita bisa tenang"
__ADS_1