
"Apa aku membawanya saja sekarang ke rumah, dan tidak membolehkan untuk dia bekerja?" tanya Endra terlihat serius pada Rania.
"Paling juga dia akan semakin marah padamu, sudahlah ayo pulang terlebih dahulu, bukankah kamu harus bersiap untuk menemani client yang datang besok?"
Endra mengingat kembali pekerjaannya, sekarang ini dia sudah memiliki perusahaan baru, karena semua saham di perusahaan yang sekarang milik Intan sudah dia jual untuk membangun perusahaan baru tersebut, jadi Endra harus bekerja lebih keras lagi untuk membesarkan perusahaannya, walau Suseno bisa diandalkan dalam segala hal, tetapi untuk pemimpin perusahaan tetap Endra.
Endra pergi dengan Rania, sementara Naina masih sibuk dengan pekerjaannya, dia juga masih memikirkan tentang ponsel Endra dengan wallpaper foto dirinya yang sedang tertidur dirumahnya Rayhan, Naina ingat selimut yang menutupi tubuhnya mempunyai corak dan warna yang sama, dan setelah diingat, waktu itu dia sedang tidur bersama dengan Endra.
"Tetapi aku pasti salah, dia sudah memiliki kekasih, mana mungkin itu foto diriku"
batin Naina lalu menggelengkan kepalanya untuk membuang jauh semua pikirannya tentang Endra.
Tidak terasa waktu semakin malam, dan sudah waktunya untuk Naina pulang, tetapi sebelum pulang dia mendapatkan pesan dari seseorang untuk melakukan kerja sama, karena produk skincare milik Naina sangat laris di pasaran, jadi pihak mereka ingin melakukan kerja sama.
Naina pulang untuk beristirahat karena besok sepertinya dia akan lebih sibuk lagi, saat sampai didepan rumah nya Naina bingung karena penerangan teras rumahnya terlihat lebih terang, tetapi Naina tidak terlalu memperdulikan karena dia tidak mengerti masalah perlampuan.
Naina membersihkan diri seperti biasa lalu tidur, dia bahkan sampai melupakan makan malam.
Naina melakukan aktifitas seperti biasa, dia olahraga ringan setiap pagi sebelum berangkat bekerja, Naina berencana membeli sebuah mobil bekas untuk memudahkan dirinya beraktifitas, karena saat ini setiap mau bepergian dia harus meluangkan waktu untuk memesan mobil online yang kadang lama ditunggu dan membuat dirinya membuang banyak waktu.
"Uangku habis karena belum lama ini membeli rumah dan untuk membuat produk skincare milikku sendiri, apalagi hutangku pada pria itu sangat banyak,, aaagghhhh" Naina mengacak rambutnya karena frustasi, dia kesal karena di jam sibuk di pagi hari, dia jadi kesusahan mendapatkan mobil online.
Tin tin tin tin
Suara mobil melewati Naina, dan yang membuat Naina merasa heran karena yang didalamnya adalah Rania, dia tidak mengerti karena sepagi ini Rania sudah ada disekitar rumah nya, dan lebih bingung lagi kenapa Rania bisa tau tempat tinggalnya.
"Aku pikir itu siapa dari kejauhan, ternyata dunia ini sangat sempit, aku tinggal diujung komplek itu, itu rumah lamaku yang ada di Indonesia, dari pada aku tinggal dirumah om Rayhan lebih baik aku tinggal dirumah ku sendiri, karena sepertinya aku akan sedikit lama berada di Indonesia,, kamu mau kemana Nai?? ayo bareng, aku juga searah dengan salonmu" Rania yang memang banyak bicara, tanpa diminta sudah mengatakan semua yang membuat Naina merasa bingung, setelah mendengar penjelasan dari Rania, Naina hanya mengangguk tanda mengerti.
"Ayo masuk saja" Rania kembali menawarkan pada Naina untuk menumpang di mobilnya karena Naina masih saja diam.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi mobil pesananku juga datang, kamu duluan saja" Naina sungkan untuk meminta bantuan dari Rania, tetapi Rania malah turun dari mobilnya dan mendekati Naina.
"Baiklah aku akan menemani dirimu menunggu disini" sungguh ucapan yang sangat dihindari oleh Naina karena akan ketahuan kalau dia belum mendapatkan pesanannya karena dari tadi dia terus ditolak oleh driver.
"Lebih baik kamu pergi duluan saja, aku bisa sendiri" Naina mencoba untuk menghindari Rania, tetapi sepertinya Rania tidak akan mendengarkan dirinya, akhirnya Naina mengatakan yang sebenarnya kalau dia belum mendapatkan mobil online.
"Hari ini kamu terlihat sangat berbeda, apa akan ada acara?" tanya Rania melihat dandanan Naina yang beda dari biasanya dan riasan wajah nya juga lebih cantik dari biasanya.
"Iya, aku mau bertemu dengan client yang mengajukan kerja sama" jawab Naina sambil terus sibuk dengan ponselnya.
"Kamu sangat bekerja keras, apa kamu tidak kelelahan?"
__ADS_1
"Tidak ada kata lelah untukku, hanya aku harapan anak-anak ku dan keluarga ku untuk saat ini"
Rania terenyuh dengan kondisi Naina yang menjadi single mother dan harus juga membantu kehidupan kedua orang tuanya dan juga adiknya, hidup Naina pasti sangat berat.
Naina turun dari mobil Rania setelah sampai di salon nya, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih, dikesempatan itu juga Rania meminta jadwal kosong Naina karena dia akan membawa kekasih Endra untuk melakukan perawatan di salon kecantikan milik Naina, mendengar hal itu membuat sedikit kaget, bahkan tas yang berada di bahunya hampir terjatuh.
"Iya baik, sore ini sepertinya aku bisa setelah kembali dari rapat" Naina dengan cepat bisa menguasai perasaannya, lalu dengan cepat masuk kedalam salon kecantikannya setelah Rania pergi, Naina berusaha terus melupakan perasaan nya terhadap Endra dan sibuk mempersiapkan skincare untuk dia bawa menemui client nya, supaya dia lebih mudah memperkenalkan produk skincare miliknya.
Naina segera berangkat ke sebuah mall tempatnya janjian dengan client nya, Naina terus mencari hingga ada seseorang yang memanggilnya.
"Nona Naina?"
"Iya, saya sendiri" jawab Naina dan menghentikan langkahnya.
"Saya adalah Nurrahma,, cukup panggil Nur saja, saya adalah utusan dari ibu Rara yang telah menghubungi nona untuk melakukan kerja sama, hari ini sepertinya ibu Rara sedikit terlambat karena tiba-tiba ada urusan mendadak"
Naina mengerti, lalu mereka duduk dan langsung membicarakan kerja sama, sembari memesan makanan karena kebetulan waktu sudah menunjukkan waktu nya makan siang, mereka terlihat santai sambil membicarakan kerja sama hingga datanglah Rara yang sebelumnya menghubungi Naina, tetapi yang membuat Naina kaget, ternyata Rara tidak datang sendiri tetapi bersama dengan Endra.
Naina bangun dari duduknya dan sedikit menganggukkan kepalanya dan sedikit membungkukkan badannya, tetapi dia kaget saat Rara mengulurkan tangannya, yang berarti Naina harus berjabat tangan, dan tidak mungkin kalau hanya berjabat tangan dengan Rara, karena Endra ada tidak jauh darinya, berarti Naina juga harus berjabat tangan dengan Endra.
Naina sangat pintar dalam hal menguasai perasaannya, atas nama profesional dia dengan mudah melakukannya, tetapi Endra dengan tatapan tajamnya terus memandangi wajah Naina dan tidak juga melepaskan genggaman tangannya hingga mereka dipanggil oleh Rara.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Rara
"Tidak,, tidak!" Naina menjawab dengan gugup disertai dengan tatapan tajam dari Endra yang membuat Naina merasa tidak nyaman, mereka lalu kembali duduk dan tidak lama pesanan makanan mereka datang.
"Nur, pesan satu lagi untuk tuan Endra" perintah Rara pada asistennya, tadi Naina hanya memesan untuk tiga orang karena tidak tau kalau Rara akan datang bersama dengan Endra.
"Tidak perlu, aku suka ini" ujar Endra lalu mengambil mie ayam yang ada didepan Naina.
"Itu milik nona Naina" jawab Rara, tetapi Naina hanya diam tidak tau harus bagaimana.
"Tidak apa-apa, tiba-tiba aku merasa kenyang dan hanya ingin minum, maaf saya izin ke kamar mandi sebentar" Naina dengan tergesa-gesa beranjak dari duduknya untuk segera pergi menenangkan hatinya yang terasa canggung dengan kelakuan Endra.
__ADS_1
Naina masuk kedalam sebuah ruangan kamar mandi, tanpa dia sadari Endra ternyata mengikutinya, dengan gerakan cepat Endra memeluk erat tubuh Naina dari belakangnya, Endra membalik tanda kamar mandi menjadi tanda rusak supaya tidak ada yang masuk kedalamnya, lalu mengunci pintunya, Endra dengan cepat membekap mulut Naina lalu mendorong masuk kedalam salah satu ruangan toilet.
Naina kaget saat akan memasuki ruangan itu, dia tidak menyadari bahwa Endra telah mengikutinya, dia pikir ada yang berusaha berbuat jahat padanya lalu Naina dengan gerakan cepat menyikut perut Endra dan menendangnya, membuat Endra terjengkang ke luar ruangan toilet karena pintunya belum sempat ditutup.
Naina kaget menyadari bahwa Endra yang mengikutinya, Naina berniat membantu Endra untuk bangun tapi Endra menarik tangan Naina hingga membuat Naina terjerembap dan jatuh ke atas tubuh Endra yang masih terduduk di lantai.
Endra mencium Naina dengan cepat, tidak memberikan waktu kepada Naina untuk bangun kembali, Endra menumpahkan segala kerinduannya selama ini, sebenarnya dia tidak mau bersikap dingin dan tidak memperdulikan Naina, tetapi karena rencana dari Rania membuatnya harus bersikap seperti itu, tapi sekarang dia tidak bisa lagi menahannya.
Cukup lama mereka berciuman sampai ada suara ketukan di pintu, untung saja didalam kamar mandi itu tidak ada orang lain walau ada beberapa ruangan toilet, Endra tidak perduli dengan suara ketukan pintu itu, dan malah semakin memperdalam ciumannya pada Naina, secara perlahan dia bangkit dan mengangkat tubuh Naina dalam gendongannya sambil terus mencium bibir Naina.
Naina yang memang juga merindukan Endra, hanya bisa pasrah dan menerima perlakuan Endra padanya bahkan membalasnya, runtuh sudah segala pertahanan diri Naina, dia menitikkan air matanya dan merasakan cintanya kepada Endra yang semakin besar, Naina memeluk erat kepala Endra saat dia didudukkan di sebelah wastafel dengan bibir Endra yang sekarang bersarang dilehernya berniat memberikan sebuah tanda kepemilikan.
"Aaahhhh jangan!!" Naina melepaskan pelukannya dan mendorong kepala Endra, dengan tatapan mata yang sayu Endra seolah bertanya apa yang terjadi pada Naina karena dari tadi Naina menerima dan menikmati sentuhannya.
"Kita masih harus menyelesaikan pekerjaan, ayo cepat kembali" Naina meminta Endra menurunkannya tetapi tentu saja Endra tidak mau, dia masih sangat merindukan Naina.
"Mari bertemu lagi setelah kita menyelesaikan pekerjaan, hanya berdua" bisik Naina ditelinga Endra supaya dia segera diturunkan, tentu saja Endra sangat senang mendengarnya karena sepertinya Naina mulai menerima perasaannya.
Naina keluar lebih dahulu dan disusul oleh Endra, saat kembali ketempat nya semula melakukan rapat dengan Rara, terlihat Rara dan Nur yang merasa curiga karena Naina begitu lama dikamar mandi, Naina beralasan sakit perut, tidak lama kemudian Endra juga datang, tetapi tidak ada yang berani bertanya kenapa dia juga lama.
Pembicaraan masalah pekerjaan tidak lama selesai, Rara meminta tumpangan pada Endra karena tidak membawa mobil, sebab tadi dia pergi bersama dengan Endra setelah dia diantarkan oleh sopir ke perusahaan Endra.
"Tentu saja" Endra tersenyum jahil sambil melihat kearah Naina, dia ingin melihat kecemburuan Naina, tetapi dia kembali salah duga karena Naina dengan senyumannya mengangguk dan berpamitan setelah membereskan semua barang-barang nya.
"Apa nona Naina mau ikut bersama kami supaya saya ada teman" ajak Rara yang mengingat dirinya yang tidak boleh duduk di kursi depan mobil Endra, tetapi Naina menolak.
"Tidak perlu, terimakasih atas tawarannya, sudah ada yang akan menjemput saya,,,, mari duluan" Naina membalas Endra dengan sangatlah baik, membuat Endra langsung berlari menarik tangan Naina hingga membuat Rara terkejut.
"Siapa yang datang menjemputmu, jangan cari masalah lagi!" Endra berteriak dan menarik tangan Naina untuk mengikutinya dan bahkan melupakan Rara yang tertinggal dibelakang.
"Nona Naina, apakah nona adalah kekasih Endra?" tanya Rara saat sampai di parkiran.
"Tidak,, bukan,, Eekkhhmmm" Naina tidak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Endra tanpa malu menciumnya di depan Rara.
"Mulai sekarang,, iya benar!!" ucap Endra yakin dan terus menatap wajah Naina.
__ADS_1