Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Aku Bukan Kakakmu!!


__ADS_3

"Aaahhhh!!"


Naina terus berusaha untuk mendorong tubuh Endra yang terus mendekap erat tubuhnya dan juga masih tidak melepaskan ciumannya, Endra lalu melepaskan ciumannya walaupun belum melepaskan pelukan nya, Naina menjatuhkan kepalanya di dada Endra, dengan mengatur nafasnya karena baru terlepas dari ciuman Endra, Naina memegangi kepalanya.


"Aaahhhh,, sssaaakittt!!"


Naina kembali berteriak memegangi kepalanya, Endra kaget dengan reaksi Naina, dengan cepat Endra menggendong Naina dan mendudukkannya di sofa, Naina terus memegangi kepalanya dan berteriak kesakitan, bayangan saat dulu Endra menciumnya muncul dipikiran nya membuat Naina membuka matanya yang sedari tadi terpejam karena menahan rasa sakit di kepalanya.


"Kakak, apa ini bukan pertama kalinya kakak melakukan hal ini?" tanya Naina dan terus melihat kearah Endra yang dari tadi berlutut dihadapan nya, Endra tidak menjawab apapun dan terus menggenggam tangan Naina, dia menyadari kalau Naina akan segera mengingat kembali semuanya.


"Kakak, aku tau kalau aku bukan anak kandung ayah, karena dirumah ini tidak ada jejakku sama sekali, aku memang tidak mengingat siapa diriku, tapi aku yakin kalian pasti tau sesuatu, tolong katakan padaku, jadi aku akan pergi dari sini, sepertinya kakak membenciku" Naina mulai menyadari saat dirumah itu tidak ada foto-fotonya sedari kecil, tetapi banyak foto Endra dari kecil hingga dewasa.


"Apa kamu belum mengingat semuanya?" tanya Endra heran, dia sudah bersiap dengan kemarahan dan amukan dari Naina tetapi reaksi Naina hanya seperti ini.


Naina menggeleng, dia hanya mengingat Endra yang mencium nya diberbagai tempat, tapi hanya itu yang baru dia ingat, Naina berfikir kalau Endra melakukan hal itu karena Endra membencinya.


"Apa kakak membenciku karena aku ada disini? haruskah aku pergi, aku tau kalau ini bukan rumahku, aku,,,,, aaahhhh"


Naina tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Endra kembali menciumnya, Naina mendorong tubuh Endra mencoba untuk melawan, tetapi Endra tidak membiarkan Naina lepas dari dirinya, Endra bahkan sudah mendorong tubuh Naina di sofa lalu menindihnya.


"Maafkan aku,,, maafkan aku,,, maafkan aku" batin Endra dan terus dengan rakusnya ******* bibir Naina dan memaksanya membuka mulutnya, Endra turun dari tubuh Naina dengan tidak melepaskan ciumannya.


Naina menangis frustasi karena dia tidak mengerti apa yang terjadi, dia sadar kalau ini bukan rumahnya dan juga yakin kalau Rayhan bukan ayahnya, tetapi dia masih tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Endra terhadapnya, Naina tau kalau Endra adalah anak Rayhan karena banyak fotonya menghiasi rumah, tetapi dia tidak mengingat siapa Endra untuknya karena terus melakukan hal ini.


"Sebenarnya aku ini siapa? kenapa kakak melakukan hal ini padaku, apa aku anak pungut yang tidak diterima kehadirannya oleh anak kandung dari keluarga ini?" batin Naina yang terus menggelengkan kepalanya untuk melepaskan diri dari ciuman Endra.


Endra melepaskan ciumannya dan memiringkan tubuh Naina menghadap sandaran sofa, Endra memeluknya erat dari belakang, cukup lama mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, Endra sengaja melakukan hal itu karena kalau dia melihat wajah Naina, dia tidak akan bisa menahan diri, dia takut melakukan hal yang lebih dari ciuman.


Setelah malam semakin larut, terdengar suara nafas Naina yang teratur, sepertinya dia sudah tertidur, Endra melepaskan pelukannya dan memindahkan Naina ke ranjang, mencium kening Naina setelah menyelimutinya lalu dia keluar dari kamar.


"Astaga ayah!" Endra kaget melihat ayahnya yang berada didepan pintu.


"Apa yang kamu lakukan didalam kamar adikmu ditengah malam seperti ini?" tanya Rayhan, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan senyumannya melihat tingkah Endra.


Endra tidak menjawab apapun karena sadar kalau ayahnya sedang menggodanya.


"Kenapa sudah keluar dari kamar itu lagi? ayah pikir kamu tidak akan pernah keluar lagi dari sana, apa dia menolakmu?"

__ADS_1


"Ayah, kenapa ayah memegang gembok?" tanya Endra yang tidak sengaja melihat ke arah tangan ayahnya.


Rayhan lalu bercerita kalau Naina pernah mencoba pergi dari rumah saat malam hari, untung saja saat itu bibi belum tidur, Rayhan juga sudah tau kalau Naina pasti menyadari kalau dia bukan ayahnya, tetapi untuk keamanan Naina, Rayhan terus bersandiwara dan menggembok pintu kamar Endra yang selama ini ditempati oleh Naina, untuk menghindari Naina yang ditakutkan mencoba pergi lagi dari rumah itu, setiap malam pintunya digembok dari luar setelah Naina tidur.


"Tetapi tadi sebelum ayah sempat melakukan itu, ayah melihat kamu masuk kesana, ayah tidak menyangka kalau kamu begitu tidak sabaran, sebenarnya ayah tidak masalah karena ayah malah sangat senang, teruslah masuk kesana setiap malam dan secepatnya berikan cucu untuk ayah,, sebelum ayahmu yang sudah renta ini meninggalkan dunia ini, ayah berharap menimang cucu"


"Ayah jangan berlebihan, sudah aku bilang kalau dia membenci diriku, aku akan secepatnya mengirim nya kembali pada keluarganya setelah memastikan Anton lenyap dari dunia ini"




Pagi hari nya Naina terlihat canggung saat melihat Endra, sebenarnya sebaliknya pun seperti itu tetapi Endra berpura-pura tidak memperdulikan Naina dan bersikap acuh pada Naina.



"Naina!!" teriak Suseno yang pagi itu datang untuk membawakan beberapa berkas pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Endra, Naina hanya menoleh dan tersenyum karena sudah pasti dia juga melupakan Suseno.



"Kakak, apa dia temanmu?" tanya Naina yang terus melihat kearah Suseno membuat Endra cemburu.




"Punya mata jangan jelalatan!" ucap Endra melihat kearah Naina yang terus melihat kearah Suseno yang sedang berjalan mengikuti Rayhan.



"Aku merasa pernah melihatnya" ujar Naina dan terus mengerutkan keningnya mencoba mengingat sesuatu, tetapi dia tidak ingat sama sekali.



Suseno sudah kembali lagi setelah mendengar segalanya dari Rayhan, seperti halnya dengan Rayhan yang senang menjahili Endra, saat ini hal yang sama dilakukan oleh Suseno, dengan sengaja dia mendekati Naina dan mengajaknya berbicara santai dan mengobrol.


__ADS_1


"Sudah lama tidak bertemu, kamu makin cantik saja" Suseno melirik ke arah Endra saat mengatakannya, dia ingin melihat reaksi sahabatnya itu tetapi Endra terlihat biasa saja.



"Apa kakak mengenalku?" tanya Naina



"Tentu saja, aku inikan sahabat dari kakakmu" jawab Suseno dengan menekankan kata kakak dan terus tersenyum melihat kearah Endra.



"Naina, masuk kamar mu!!" teriak Endra


"Aku tidak mau kak, aku bosan terus di dalam kamar"



"Kamu jangan keterlaluan Ndra, dia kan bukan anak kecil lagi, Naina kamu sudah sehat kan? bagaimana kalau nanti malam kita nonton ke bioskop" sepertinya Suseno sengaja masuk kedalam kandang singa karena terlihat Endra yang sudah mengepalkan tangannya.



Endra menarik tangan Naina dan menariknya menuju ke dalam kamar, Suseno tidak bisa menahan tawanya melihat hal itu, begitu pula dengan Rayhan yang dari tadi melihat yang dilakukan oleh Suseno, Rayhan lalu mendekati Suseno dan mereka melakukan high five.



Endra kembali mencium Naina setelah menutup pintu kamar, tidak membiarkan Naina menolak nya, bahkan kali ini Endra sudah lebih berani, bagaimanapun juga,, naluri hasratnya tidak bisa terus dia tahan saat didekat wanita yang sangat dia cintai, hanya Naina yang bisa membangkitkan gairah nya, jadi sangat sulit bagi Endra untuk menahan nya apalagi sekarang mereka tinggal satu atap.



"Kkaakkaakk,, jaannggaann" rintih Naina saat tangan Endra sudah menjamah tubuhnya, Endra terus membelai gunung kembar Naina.



"Aku bukan kakakmu!!" teriak Endra lalu keluar dari dalam kamar, Endra mengumpulkan kembali akal sehatnya, dia sadar tidak boleh melakukan hal ini disaat Naina tidak mengingat siapa dirinya.


__ADS_1


Endra kembali duduk ditempat nya tadi, Suseno dan Rayhan diam tidak berkutik melihat raut wajah Endra yang terlihat merah padam dan penuh kemarahan.


__ADS_2