
Setelah kejadian malam itu, Endra seperti menghindari Naina, memang dia sering datang menemui Naina tetapi hanya sebentar-sebentar dan palingan hanya mengantarkan makanan atau sekedar mampir dari perusahaannya, Naina sadar kalau Endra pasti kecewa padanya, tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak, karena dia memang selalu teringat dengan kekasaran Roni saat Endra berusaha melakukan hubungan yang lebih mendalam.
"Nai,, kamu sudah makan nak?" tanya Rayhan, hari ini Naina menjenguk Rayhan karena sudah lama tidak kesana, sebenarnya karena dia juga ingin bertemu dengan Endra, karena setiap bertemu Endra hanya sebentar dan bahkan beberapa hari ini tidak mampir lagi ke salonnya dan hanya Suseno yang mampir sebentar dan hanya memberikan sarapan atau sesuatu.
"Endra sedang tidur siang, ini hari minggu tetapi aneh karena sekarang dia jarang bepergian dan setelah bekerja juga langsung pulang, apa kalian bertengkar?" tanya Rayhan.
"Tidak ayah,,," Naina tidak melanjutkan ucapannya dan hanya itu yang bisa dia ucapkan.
"Kamu makan saja dulu, tadi ayah sudah makan"
"Ayah, boleh aku ke kamar Endra"
Rayhan tidak menyangka kalau Naina sekarang juga sepertinya sudah bucin pada Endra, dengan menahan senyumannya Rayhan mengizinkan dengan mengangguk, Naina lalu bergegas masuk kedalam kamar Endra.
Naina melihat Endra yang masih tidur dengan nyenyak, Naina tersenyum melihat wajah polos Endra yang sedang tidur, perlahan Naina naik keatas ranjang dan tiduran disamping Endra, karena gerakan Naina membuat Endra terbangun dan kaget dengan keberadaan Naina disampingnya.
Endra berdehem untuk menutupi perasaannya, melihat Naina yang tersenyum padanya membuat Endra terpana dan langsung terpancing mendekat, Endra langsung menindih tubuh Naina dan menciumi Naina dengan cepat, Endra bahkan menggigit pelan bibir Naina yang tidak juga terbuka, saat Naina membuka mulutnya, Endra langsung memainkan lidahnya dengan ganas, Naina mencengkeram erat punggung Endra.
Endra langsung berlari ke kamar mandi setelah cukup lama mencium Naina, dia sudah merasakan pedangnya yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi, Endra tidak mau melihat tangisan Naina lagi kalau sampai dia melakukan lebih dari ini, itulah alasan nya dia menghindari Naina beberapa hari terakhir, karena Endra menyadari dirinya tidak kuat dengan sentuhan Naina, tetapi Naina belum siap sepenuhnya jadi Endra tidak mau menyakiti wanita yang dicintainya itu.
Naina bangun lalu duduk dan merapikan baju dan rambutnya, dia menunggu Endra keluar dari kamar mandi, karena terlalu lama, akhirnya Naina mencoba menyetel televisi yang berada di kamar, tetapi betapa kagetnya dia karena Chanel televisi memperlihatkan foto-fotonya, sepertinya televisi itu masih tersambung dengan flashdisk dan Endra baru melihatnya.
Endra sepertinya mengunduh foto-fotonya dari akun media sosial miliknya, dan ada satu foto saat dia tertidur yang sepertinya itu foto yang dipakai Endra untuk foto wallpaper ponsel Endra, Naina segera mematikan televisi begitu mendengar suara gagang pintu kamar mandi terbuka, Naina memalingkan wajahnya karena Endra hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya.
Endra sengaja berlama-lama memakai baju karena ingin menggoda Naina, setelah selesai memakai baju Endra lalu duduk disebelah Naina dan meniup leher belakang Naina, saat itu Naina mengikat rambutnya, jadi leher jenjangnya terekspos, Naina memegangi lehernya dan kemudian berbalik menghadap ke arah Endra.
"Tumben kamu datang kesini, apa kamu merindukan ku?" tanya Endra sambil tersenyum lalu merapikan anak rambut Naina yang sedikit berantakan.
"Iya" jawaban singkat dan padat dari Naina tapi sukses membuat Endra kaget tapi menjadi salah tingkah, dia tidak pernah berpacaran, tidak pernah mempunyai hubungan layaknya orang lain.
"Kenapa tidak menemui ku beberapa hari ini? kenapa kamu berubah, kenapa,,,," Naina tidak melanjutkan ucapannya karena Endra meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya membuat Naina terdiam.
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak berfikir" Endra mencium kening Naina.
"Ayo hari ini kita berkencan, kita bisa menonton bioskop, berjalan-jalan ke mall lalu makan malam di warung tenda, ayolah,, aku ingin melakukan itu dari dulu dengan kekasih ku, aku belum pernah melakukannya" ajak Naina dengan antusias dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Endra dan memegangi bajunya, seperti seorang remaja yang merayu pacarnya.
Endra tersenyum lebar, dia sangat senang karena Naina bisa menunjukkan sisi manjanya, Endra sudah tentu sangat mau melakukan itu semua karena dia juga belum pernah melakukan hal seperti itu.
"Apa kamu yakin tidak sedang menyindir diriku?" tanya Endra kemudian setelah mereka berdiri untuk segera keluar dari kamar untuk bisa pergi berkencan.
"Menyindir bagaimana maksudnya?" tanya Naina.
"Aku yang tidak pernah melakukan hal itu, tapi aku tidak yakin kamu tidak pernah melakukan hal itu"
"Maksudnya berkencan?? aku memang tidak pernah, setelah tamat SMA, ayahku memaksaku untuk menikah, jadi aku tidak pernah berpacaran atau berkencan, saat menikah juga mantan suami ku selalu sibuk, dan,,,,," Naina menghentikan ucapannya karena menyadari kalau seharusnya tidak membicarakan tentang masa lalu.
"Maaf" ucap Naina merasa bersalah, tetapi Endra malah senang karena berarti mereka adalah pasangan kekasih yang sama-sama belum berpengalaman dalam berkencan dan ini sama-sama adalah pengalaman pertama mereka, perasaan mereka menjadi seperti perasaan pasangan remaja yang sedang dimabuk asmara.
Senyuman manis tidak pernah lepas dari keduanya, dengan bergandengan tangan mereka pamit pada Rayhan untuk pergi.
"Ini sangat aneh, seharusnya aku yang mengatakan itu, tapi sudahlah tidak ada bedanya" ucap Naina dan langsung berusaha menghentikan ketawanya.
"Iya, berhati-hatilah,, jangan pulang terlalu malam" jawaban Rayhan membuat Naina kembali tertawa, karena sepertinya Rayhan mengikuti drama mereka, seperti menjadi seorang ayah anak gadis yang khawatir karena anak gadisnya memasuki dunia baru yaitu dunia perkencanan.
Akhirnya mereka berangkat dengan diantar Rayhan sampai pintu depan, senyuman Rayhan tidak juga lepas dari wajahnya, tetapi tangannya terus memegangi dadanya, setelah masuk kedalam rumah kembali, Rayhan minum obat untuk mengurangi rasa sakit.
Endra dan Naina sampai disebuah mall, mereka membeli dua tiket bioskop, yang Naina pilih adalah film horor setelah memenangkan suit dengan Endra yang ingin menonton film dengan tema robot.
Waktu pemutaran film masih lama, jadi Naina mengajak Endra untuk berkeliling mall, Naina memasuki toko tas dan melihat-lihat, tetapi Endra mengambil semua tas yang dipegang Naina dan akan membayarnya.
"Tidak,,, tidak,,, bukan seperti itu" Naina mengembalikan semua tas itu ke etalase, dan menarik tangan Endra keluar toko.
"Bukan seperti itu, saat berkencan tidak harus membeli sesuatu, karena biasanya saat kencan pertama,,, aaahhh" Naina menghentikan ucapannya karena pandangan matanya teralihkan pada penjual gulali warna warni, Naina langsung mendekati penjual itu dan membeli satu.
__ADS_1
"Kenapa kamu menjadi seperti anak kecil?" tanya Endra yang tiba-tiba mulut nya terbuka karena Naina menyuapinya gulali.
"Manis" ucap Endra dan meminta lagi gulali yang dipegang oleh Naina.
"Tetapi bagi aku lebih manis bibir kamu" bisik Endra ditelinga Naina yang membuat Naina kaget dan langsung mencubit perut Endra, mereka benar-benar terlihat seperti pasangan kekasih baru, waktu pemutaran film ternyata masih masih juga belum tiba, Naina mengajak Endra untuk ber swafoto menggunakan berbagai macam filter di ponselnya.
Mereka tertawa bahagia seolah melupakan keadaan sekitar dengan banyak pengunjung mall yang memandang iri pada mereka, karena mereka terlihat sangat romantis, Endra yang tinggi besar dan gagah bersanding dengan Naina yang cantik dan bentuk tubuh yang body goal karena dia rutin berolahraga, jadi walau bukan remaja lagi, tapi Naina terlihat lebih muda dari usianya, mereka terlihat sangat serasi bersama.
"Mereka pasti pengantin baru" ucap salah satu pengunjung dan terdengar oleh telinga Endra membuat Endra sangat senang, Endra memandangi Naina yang serius melihat hasil foto-foto mereka.
"Terimakasih sayang" Endra mengecup pipi Naina yang membuat Naina kaget dan langsung menoleh, Endra lalu menarik tangan Naina untuk segera memasuki area bioskop karena waktu pemutaran film segera dimulai.
Sesaat sebelum film dimulai, Endra pamit sebentar untuk keluar karena ingin ke kamar mandi, Naina hanya mengangguk dan menunggu Endra, tidak lama Endra kembali datang membawa minuman dan juga popcorn.
"Ah iya lupa, terimakasih" Naina mengambil popcorn yang diberikan oleh Endra.
Setelah film selesai, Naina dengan lesu keluar dari bioskop sementara Endra penuh senyuman bahagia, Naina kesal karena salah pilih film, ternyata film yang dia pilih adalah film horor dengan banyak adegan dewasanya, didalam bioskop bukannya serius menonton film tetapi kebanyakan orang sibuk mengikuti adegan film yang mereka tonton, tidak terkecuali Endra yang terus saja menciumi Naina.
"Telingaku sangat gatal, kenapa suara para penonton lebih menyeramkan dibanding hantu yang muncul di film itu" gerutu Naina, tetapi dengan riangnya Endra menggenggam tangan Naina lalu menariknya untuk segera makan malam.
"Karena kamu sudah sangat pintar memilih film, aku akan mengajakmu untuk makan ditempat terbaik di tempat ini" ucap Endra, tetapi Naina melepaskan tangannya dari genggaman tangan Endra.
"Aku tidak mau makan disini, aku sudah bilang, kita makan di warung tenda pinggir jalan" ucap Naina, mendengar perkataan Naina, Endra menolak nya.
"Tidak sayang, disana pasti kotor" Endra berusaha menolak, tetapi Naina tetap bersikeras untuk makan di warung pinggir jalan, akhirnya mau tidak mau, Endra hanya bisa mengikuti kekasihnya.
Penampilan mereka yang mencolok sebenarnya tidak cocok makan di warung pinggir jalan, dan menjadikan mereka pusat perhatian, padahal Naina sebenarnya berpakaian biasa, sangat santai dengan rok kekinian dibawah lutut dengan kemeja berwarna senada dan dimasukkan ke dalam roknya di bagian depan dan membiarkan di bagian belakang, tetapi pembawaannya yang anggun dan cantik membuat nya terlihat sangat mempesona, begitu juga dengan Endra yang sebenarnya hanya memakai celana jins biasa dan kemeja dengan lengan pendek, tetapi postur tubuhnya yang sempurna, membuat para lelaki insecure dan para wanita sangat kagum.
"Aku tidak suka disini, lihat lah dengan semua pandangan mata para pria itu, sudah jelas kamu bersamaku, berarti kamu milikku, kenapa mereka masih saja memelototi dirimu,, bolehkah aku mencabut mata mereka?" ucap Endra kesal.
"Jangan terlalu berlebihan, lihat juga para wanita itu yang terus saja mengeluarkan air liur nya karena melihat dirimu" jawab Naina tidak kalah kesal, mereka berpandangan lalu tertawa bersama, karena geli dengan perkataan dan perasaan mereka sendiri.
__ADS_1
Mereka lalu pulang dengan perasaan yang sangat gembira karena mengalami hal yang baru di hidup mereka, mereka tidak menyadari bahwa dari awal kencan mereka, ada seseorang yang terus memotret kebersamaan mereka.