Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Kejutan


__ADS_3

Rara tidak bisa berkata apa-apa melihat adegan di depan matanya, dia lalu cukup tau diri untuk tidak jadi menumpang di mobilnya Endra, setelah kepergian Rara, Endra membuka pintu depan mobilnya supaya Naina bisa masuk, tetapi Naina menolak dan membuka pintu belakang karena dia lebih nyaman dibelakang.


"Aku bukan sopir mu, cepat pindah kedepan!"


"Tidak mau, aku lebih suka disini"


Endra tidak banyak bicara lagi dan ikut masuk kedalam mobilnya dan langsung mengunci pintu mobil dengan remot mobil yang dia pegang.


"Baiklah, sepertinya kamu masih merindukan diriku" ucap Endra membuat Naina semakin meringsek mundur karena Endra terus mendekati nya.


"Jangan bercanda, siapa yang akan menyetir?!" teriak Naina, tetapi wajah Endra sudah berada satu inci didepannya, dan dengan cepat Endra ******* bibir Naina, mereka semakin terbawa perasaan rindu, Naina sepertinya melupakan perkataan Rania yang mengatakan bahwa Endra mempunyai kekasih.


Baju Naina sudah acak-acakan dibuat oleh Endra, hingga sekelebat ingatan tentang ucapan Rania yang mengatakan bahwa Endra telah memiliki kekasih teringat kembali, membuat Naina mendorong tubuh Endra dan memintanya menyudahinya.


"Tidak, ayo segera kembali, aku mempunyai janji dengan Rania di salon, dia pasti sudah menunggu lama" Endra mengatur nafasnya karena dia sudah sangat ingin, tetapi Naina masih belum mau menerima dirinya seutuhnya.


Cukup lama sampai Endra bisa meredam rasa dan berhasil kembali menjinakkan pedangnya, Endra lalu maju kedepan supaya bisa menyetir dan tidak meminta Naina pindah kedepan lagi dan membiarkan Naina dibelakang yang sedari tadi memalingkan wajahnya ke jendela saat Endra berjuang menidurkan kembali burungnya.


Naina merapikan rambut dan bajunya sebelum turun dari mobil, yang sudah dia duga Rania sudah menunggunya dan segera mendekati Naina yang baru keluar dari mobil Endra.


"Kenapa sangat lama Nai,,, dan kemana perginya warna cantik di bibirmu tadi?" Rania terus saja mencoba untuk menggoda Naina.


"Tadi aku makan siang dan banyak minum jadi sepertinya luntur, aku lupa touch up, aku bersiap dulu, kalian bisa menunggu di ruangan kemarin" Naina menoleh kesana kemari seperti mencari keberadaan seseorang.


"Dia belum siap, sebentar lagi mungkin dia datang" Rania menjawab rasa penasaran Naina membuat Naina malu karena apa yang dia pikirkan bisa ditebak oleh Rania, Naina lalu dengan cepat bergegas untuk berganti baju kerjanya dan bersiap bekerja dan yang pasti dia harus mempersiapkan hatinya untuk bertemu dengan kekasih Endra, setelah hari ini, Naina sadar kalau dia harus benar-benar menjauh dari Endra.

__ADS_1


"Apa sudah selesai?" tanya Endra pada Rania


"Tentu saja, selesai tepat pada waktunya, apa yang kakak lakukan untuk menahannya datang dengan cepat?"


"Dengan menghabiskan warna lipstik di bibirnya" jawab Endra tanpa malu dan lebih dulu masuk kedalam salon kecantikan milik Naina untuk menuju ruangan yang Naina maksud, Rania tersenyum simpul mendengar jawaban dari kakak sepupunya yang sangat bucin pada Naina.


"Rania,,," panggil Naina saat membuka pintu ruangan tempat dimana dia kemarin melakukan perawatan pada Rania dan sekarang dia harus melayani kekasih Endra untuk melakukan perawatan juga ditempatnya, tetapi ruangan itu sangat gelap tidak seperti biasanya, Naina lalu memanggil salah satu karyawan nya untuk menanyakan yang terjadi.


"Apa lampunya rusak atau mati lampu? terus apa kamu melihat tamu yang tadi ada disini?" tanya Naina bingung karena tidak melihat keberadaan Rania.


"Saya tidak tau bu, tunggu sebentar akan saya periksa" karyawan itu lalu memeriksa dan ternyata sambungan listrik nya dimatikan, setelah dinyalakan terlihatlah keluarganya dan juga Rayhan serta tidak ketinggalan pasti Rania dan Endra yang memegang buket bunga.


"Naina, marry me please" ucap Endra dan disertai sorakan dari semuanya termasuk para karyawannya yang berada diluar ruangan, Naina kaget dan menutupi mulutnya, Endra mendekatinya dan menyerahkan bunga yang dia pegang, walau ragu Naina menerimanya, tetapi saat Endra akan memakaikan sebuah cincin dijari manisnya, Naina tiba-tiba mundur.


"Ini salah, bukankah kekasihmu akan datang? Rania bilang,," Naina lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rania, sementara yang dipandang hanya tertawa geli lalu mendekati Naina.


"Tidak Ran,, aku tidak bisa,, maafkan aku" Naina berbalik dan hendak keluar dari ruangan itu tetapi dia dikagetkan dengan kedatangan kedua anaknya yang sudah berdiri didepan pintu dengan membawa dua buket bunga.


"Mama, sebelum ompa melamar mama, ompa sudah melamar kami terlebih dahulu untuk menjadikan kami putrinya, mama,,, mari kita coba, kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, tetapi kami akan selalu menemani mama, jadi mama jangan menghawatirkan kami, mungkin bagi mama kami adalah segalanya untuk mama, tetapi mama juga jangan lupa kalau mama juga segala nya untuk kami" Dena dan Yaya bergantian berbicara pada Naina membuat Naina tidak bisa menahan perasaannya lalu menangis terharu.


Endra mendekati Naina dan menghapus air matanya, Endra lalu kembali mencoba memakaikan cincin ke jari manis Naina, dan kali ini Naina menerimanya.


"Jadilah milikku sepenuhnya, apa kamu bersedia menikah denganku" Endra memandangi wajah Naina dan menggenggam tangannya, semua yang ada disana menanti dengan cemas, karena takut kalau Naina kembali menolak.


Mereka dikagetkan dengan Naina yang menganggukkan kepalanya, Endra langsung memeluk Naina karena sangat bahagia, semua yang datang bersorak gembira, mereka lalu merayakannya dengan makan bersama disebuah restoran.

__ADS_1


Endra tidak lepas dari Naina dan terus menempel pada Naina tanpa malu dilihat oleh seluruh keluarganya, bahkan hal itu membuat Naina sedikit risih.


"Menjauh lah, apa kamu tidak gerah?" ucap Naina mencoba mendorong Endra tetapi Endra malah melingkarkan tangannya di pinggang Naina, tidak mau melepaskan Naina sedikitpun dari sisinya.


"Cepatlah tentukan tanggal pernikahan" ujar Rayhan setelah mereka memesan makanan.


"Sekarang juga aku siap" jawab Endra lalu merapihkan anak rambut Naina yang sedikit berantakan.


"Jangan terlalu terburu-buru, kita harus mempersiapkan segalanya dengan baik, lagipula akta perceraian kamu juga belum keluar.


"Apa?" Naina kaget mendengar masalah itu, Naina langsung memandang ke arah Endra.


"Kamu berarti masih suami orang,,,?!" Naina mencoba melepaskan tangan Endra tetapi Endra tidak mau melepaskan tangannya dari Naina dan makin kuat melingkarkan tangannya di pinggang Naina.


"Bukan,, aku hanya suami dirimu" Endra tidak perduli dengan masalah apapun dia hanya ingin cepat menikah dengan Naina.


"Tidak bisa Endra, akta perceraian kamu akan menjadi syarat pernikahan mu dengan Naina" ujar Rayhan menjelaskan pada Endra.


"Wah wah wah wah,,, perselingkuhan terjadi didepan mata dan disetujui oleh semua keluarga, sungguh memalukan sekali keluarga hina ini!!" ibu Romlah dan Intan ternyata juga ada di restoran tersebut dan sepertinya ingin memulai keributan.


"Jaga bicara anda!!" teriak Rayhan membela anaknya.


"Lihatlah kalian semuanya, inilah keluarga hina dengan anak mereka yang seorang pelakor!!" Intan hendak mendekati Naina tetapi dihalangi oleh Endra.


"Jangan berbuat keonaran disini, atau aku tidak akan segan-segan membuka semua kelakuanmu!!" teriak Endra lalu mendorong tubuh Intan yang terus berusaha untuk menggapai Naina.

__ADS_1


Intan terus berteriak histeris saat dia tidak bisa menggapai Naina begitu pula dengan ibu Romlah yang tiba-tiba menyerang mama Nimah.


__ADS_2