
🌹Satu Bulan Kemudian 🌹
"Sayang,, kita piknik ke pantai hari minggu besok"
"Ini perintah atau ajakan?"
"Permohonan,, ayolah sayang,, kita belum pernah berlibur bersama setelah pernikahan,, apa kamu bisa membuat sushi? tolong buatkan untuk kita bekal, aku ingin piknik ke pantai"
"Baiklah,, oh iya,, apa sudah ada kabar tentang Renata?" Naina menanyakan tentang keberadaan Renata yang masih menghilang padahal sudah sebulan sejak kepergiannya.
"Sepertinya dia berada di luar negeri,, jadi agak susah untuk melacaknya,, tetapi Rey masih terus berusaha, apalagi pernikahan Seno terus tertunda karena masalah itu" jawab Endra sambil memainkan rambut Naina, saat ini pasangan suami istri yang selalu beradegan panas setiap malam itu harus beristirahat karena Naina merasa sangat malas ketika didekati oleh Endra, dan bahkan selalu marah-marah.
"Lepaskan tanganmu,, sakit rambutku ditarik-tarik"
"Tidak sayang,, aku hanya memegangnya, kamu ini kenapa sebenarnya? apa kamu benar-benar bosan padaku?" Endra menunjukkan wajah sedihnya karena sudah berapa malam ini Naina bertingkah aneh.
"Jangan terlalu dekat,, sana jauh-jauh!" Naina menggeser tubuhnya, melihat hal itu Endra yang kesal tidak perduli lagi dan berniat menindih tubuh Naina.
"Aku sudah tidak akan segan lagi,, kamu sudah seperti ini beberapa malam,, kamu juga selalu memarahiku,, malam ini aku akan menyiksamu" Endra berniat membuka baju Naina, tetapi istrinya itu mendorong tubuh Endra kuat hingga terjengkang.
"Beberapa malam?? ini baru tiga malam,, kenapa sayangku ini tidak sabaran lagi,, kalau nantinya aku hamil, kamu tidak boleh melakukannya sampai aku melahirkan" ujar Naina yang langsung bangun dan sekarang dia yang menindih tubuh suaminya.
Endra yang mendengar perkataan Naina hanya bisa membuka matanya lebar, membuat Naina tidak bisa menahan tawanya, dan semakin bersemangat untuk lebih mengerjai suaminya.
__ADS_1
"Yakin kuat??" tanya Naina yang sambil menciumi leher suaminya, Endra terpejam dan memeluk erat kepala istrinya, dia sudah tidak bisa menahannya lagi, ditambah apa yang dilakukan oleh Naina membuatnya semakin kepanasan.
"Apa kamu mau membunuhku?? aku sudah bertanya pada dokter,, hal itu boleh terus dilakukan saat hamil apalagi hamil tua,, kalau awal hanya harus berhati-hati"
Naina kaget mendengar penjelasan dari Endra, tidak menyangka kalau Endra bisa mengetahui hal tersebut, itu persis seperti yang dikatakan oleh dokter kandungan, saat kemarin Naina konsultasi.
Sekarang Naina rutin melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kandungannya, tetapi setiap ke dokter, Naina tidak mau diantarkan oleh Endra dan meminta bi Wulan untuk menemaninya.
"Pokoknya mulai minggu besok, aku yang harus mengantarkan dirimu" Endra kembali mencoba membuka baju Naina yang masih saja duduk di atas tubuhnya tapi tidak melakukan apapun.
"Sayang,, apa kamu menyimpan alat penyadap pada tubuhku? kenapa bisa tau dengan apa yang dikatakan oleh dokter?" tanya Naina yang kali ini membiarkan tangan suaminya melucuti pakaiannya.
"Aaakkkkkhhhh" Naina memejamkan matanya saat tangan kekar suaminya meremas buah kembarnya, dengan refleks Naina memajukan badannya sehingga bukan tangan Endra yang sekarang bermain, melainkan bibirnya.
"Lagipula sepertinya kamu sangat aneh, kenapa suami sendiri dilarang untuk mengantarkan istrinya ke dokter? kalau keajaiban itu datang, aku ingin jadi yang pertama kali mengetahuinya tanpa mendengar dari orang lain, jadi mulai minggu depan harus aku yang mengantarkan dirimu"
Selama ini Endra mendapatkan informasi dari bi Wulan mengenai kondisi Naina dan juga apapun yang dikatakan oleh dokter selalu disampaikan oleh Endra oleh bi Wulan setelah pulang dari rumah sakit.
"Aku tidak mau kalau sampai kamu kecewa, saat aku kesana, seringnya aku kecewa dengan apa yang aku dengar, dan untuk nantinya aku juga takut" Naina menahan air matanya setelah mengatakan hal itu, membuat Endra yang sedang menggerayangi tubuh istrinya itu langsung menyudahi aksinya.
"Sayang, kamu kenapa lagi?? apa aku menyakitimu?" tanya Endra pelan lalu menarik tubuh Naina kedalam pelukannya.
Naina hanya menggeleng, dia merasa takut dengan kondisinya yang walaupun sudah normal kembali, tetapi tetap saja belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran buah hati.
__ADS_1
"Sudah aku katakan untuk tidak terlalu banyak berfikir negatif, tenangkan dirimu sayang,, kita hanya harus menunggunya" Endra mengusap lembut punggung istrinya yang berada di atas tubuhnya dan tentu saja dalam dekapan eratnya.
"Renata telah ditemukan, dia ada di negara ZZ dan tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, selama ini dia tinggal di Indonesia bersama neneknya, sekarang aku akan menemui neneknya" Reynolds sedang berbicara dengan Suseno di dalam panggilan telepon.
"Cepatlah selesaikan dan segera bawa pulang Renata, aku sudah sangat kelaparan karena kalian!!" Suseno geram lalu mematikan panggilan teleponnya.
"Emang enak?? rasain tuh,, kalau bisa aku akan mengerjai mu terlebih dahulu" ujar Reynolds karena kesal saudara angkatnya itu mematikan panggilan telepon secara sepihak.
Ningsih belum mau menikah dengan Suseno kalau Renata belum ditemukan, Ningsih merasa sangat bersalah pada Renata setelah mengetahui tragedi saat itu, walau Suseno sudah terus menjelaskan bahwa, sebagaimana Ningsih yang memilihnya, maka Suseno juga berhak memilih siapapun itu untuk menjadi pendamping hidupnya, jadi masalah Renata dan Reynolds tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
"Mereka melakukan nya secara sadar walau apapun yang mendasari hal itu bisa terjadi,, jadi tentu saja mereka harus menanggung konsekuensinya, tetapi kenapa aku ikut di salahkan dan harus menderita seperti sekarang ini!?" Suseno kesal lalu melemparkan ponselnya yang baru saja dia pakai untuk menelepon Reynolds.
__ADS_1