
Naina siuman saat didalam ruangan rawat inap nya tidak ada siapapun, Naina terus menoleh untuk mencari seseorang seseorang karena tenggorokannya terasa sangat kering, dia ingin minum, hingga dia melihat seseorang yang terlihat tertidur dengan bersandar pada sofa.
Naina membulatkan matanya karena yang orang itu adalah orang yang paling ingin dia hindari, tetapi rasa hausnya sudah tidak tertahankan lagi, Naina mencoba menggapai botol minum yang ada dimeja sebelah ranjangnya.
Endra melihat hal itu dan langsung berlari mendekat, dan mengambil minum untuk Naina, tetapi Naina menggelengkan kepalanya.
"Jangan terlalu banyak berfikir, adikmu sedang melahirkan jadi kedua orang tuamu sedang menemaninya, kalau kamu menunggu mereka, itu akan sangat lama" ujar Endra, Naina kaget mendengar Ningsih yang sedang melahirkan dengan tanpa menyadari kondisinya Naina berniat bangun.
"Aahhhhhh" Naina memegangi kepalanya yang terasa berat dan sakit karena dia bergerak secara tiba-tiba.
"Diamlah, pikirkan dirimu sendiri, kamu itu sedang sakit,,, manusia normal mana yang akan memakan racun seperti dirimu" Endra kesal tetapi dia sangat lega karena Naina sudah sadar, Naina tidak menjawab dan mencoba minum dari botol minum yang diberikan oleh Endra, tetapi sial karena botol itu tidak ada sedotannya, mau tidak mau dia harus sedikit mengangkat kepalanya untuk bisa minum, Endra lalu membantu Naina walau Naina sempat menolak dengan menggeleng.
Pintu ruangan terbuka dan mama Nimah langsung masuk dengan perasaan gembira karena melihat anaknya yang sudah sadar, mama Nimah langsung menciumi Naina dengan ngomel-ngomel khas ibu-ibu.
"Kalau ada rekor untuk orang yang selalu membahayakan hidupnya dan selalu masuk rumah sakit,, itu pasti kamulah pemenangnya, kenapa kamu selalu begitu sembrono?? kamu tidak pernah berubah, untung saja nak Endra selalu ada untukmu disaat kamu dalam bahaya, seumur hidup mama untuk membalas kebaikannya juga tidak akan cukup untuk membayar semuanya, sungguh sangat beruntung sekali wanita yang menjadi pasangan dari nak Endra ini, sudah ganteng, baik dan sangat bertanggung jawab "
"Tidak seperti itu ibu, sepertinya ibu terlalu berlebihan" ucap Endra merasa salah tingkah dengan pujian dari mama Nimah.
Naina hanya diam dan melihat ke arah Endra, sementara itu yang dilihat merasa aneh karena Naina tidak biasanya seperti itu, karena biasanya melihat nya sebentar saja juga dia tidak mau dan marah-marah.
"Apa?" tanya Endra
"Apa kamu menyelamatkan ku lagi dari Anton?"
Endra tidak menjawab tetapi mama Nimah yang menceritakan semuanya,
"Nak Endra datang disaat yang tepat, saat kamu pingsan karena meminum racun, dia langsung datang,,, Naina,,, mama mohon jangan lakukan hal bodoh lagi,, bahkan kalau hal itu demi adikmu sendiri atau bahkan demi mama atau ayah sekalipun, sudah cukup Nai,, pikirkanlah hidupmu sendiri sayang" mama Nimah membelai lembut rambut anaknya.
"Oh iya Nai, anak adikmu sangat tampan sekali, kalau aku pikir-pikir kenapa bayi itu terlihat sangat mirip denganmu, sepertinya karena Ningsih sangat mengagumi dirimu"
__ADS_1
"Ma, bolehkah aku melihatnya?"
"Jangan dulu Nai, tunggu kamu pulih kembali dulu, Naina sayang,, mama akan kembali dulu keruangan adik kamu, kalau kamu memerlukan sesuatu bisa minta tolong pada nak Endra" mendengar ucapan dari mamanya, Naina menggelengkan kepalanya.
"Nak Endra,, titip Naina dulu ya" mama Nimah mengedipkan matanya pada Endra, sepertinya mama Nimah sengaja memberi waktu kepada Endra dan Naina untuk bisa berduaan.
Baik Naina atau Endra tidak ada yang bersuara hingga terdengar suara ponsel, Naina mencari asal suara karena dia menyadari kalau itu bunyi ponsel miliknya, tetapi ponselnya ada didalam tas yang terletak jauh darinya, Naina belum bisa banyak bergerak karena kalau dia bergerak, kepalanya terasa sangat sakit.
"Apa kamu butuh bantuan ku?" tanya Endra, tetapi Naina masih diam dan saat Endra kembali bertanya, Naina menggelengkan kepalanya, Endra mengambil ponsel Naina tapi tidak segera memberikan pada sang empunya ponsel.
Endra mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang menghubungi ponsel Naina, dengan cepat Endra menolak panggilan telepon itu lalu menyimpan ponsel itu kedalam saku bajunya, Naina malas meladeni Endra dan hanya membiarkan apa yang dilakukan oleh Endra.
Naina kembali tidur karena memang dia masih sangat lemah, Endra membelai lembut rambut Naina dan mencium keningnya, bertepatan dengan masuknya mama Nimah dan papa Yanto kedalam ruangan itu, mereka sama-sama menjadi canggung.
"Maafkan saya" ujar Endra lalu membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa, kita bukan orang tua yang kolot, kalian sudah dewasa" jawab mama Nimah.
Endra menyadari bahwa ayahnya Naina tidak menyukai dirinya, Endra lalu keluar ruangan mengikuti papa Yanto, saat melihat papa Yanto yang sedang duduk disebuah kursi tunggu, Endra mendekatinya.
"Maafkan atas sikap saya"
"Tuan Endra, tuan memiliki segalanya, saya yakin tuan bisa mendapatkan wanita manapun yang tuan inginkan, saya paham dan sangat sadar diri, kebaikan tuan pada keluarga kami terkhusus pada Naina, sangat banyak sekali,, saya pasti akan kehilangan anak-anak saya kalau tidak ada tuan,, tuan Endra,,, saya akan berusaha untuk mengikuti semua keinginan tuah walaupun saya harus mengabdi kepada tuan seumur hidup saya,, tapi tolong jauhi anak saya, tolong jauhi Naina, saya mohon dengan sangat" papa Endra menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya dan menunduk pada Endra, meminta Endra untuk tidak mendekati Naina.
"Jangan seperti ini,, apakah saya tidak pantas untuk Naina??" Endra turun dari kursi dan berlutut di depan papa Yanto, membuat papa Yanto terkejut.
"Saya mohon,, biarkan saya hidup bersama Naina,, saya berjanji akan selalu menjaganya, saya berjanji tidak akan pernah menyakitinya, saya mohon biarkan saya mendekatinya" Ujar Endra tidak memperdulikan pandangan orang lain yang berlalu lalang di sekitarnya.
"Tuan,, berdirilah" papa Yanto memegang bahu Endra dan memintanya untuk bangun tetapi Endra bersikeras untuk tidak bangun sebelum di izinkan untuk terus berada disisi Naina.
__ADS_1
"Enddrraa!!" panggil Rayhan yang ternyata datang untuk menjenguk Naina.
"Bapak, apa anak saya tidak masuk kriteria calon pendamping Naina? apa yang harus saya lakukan supaya bapak mengizinkan anak saya terus bersama anak bapak?" Rayhan mendekati anaknya dan papa Yanto, lalu meminta pada Endra untuk segera berdiri.
"Bukan tuan, sungguh bukan seperti itu, siapa di dunia ini yang tidak menginginkan tuan Endra untuk menjadi menantunya, hanya saja untuk Naina,,," papa Yanto tidak menyelesaikan ucapannya karena dia tidak tau harus bagaimana lagi untuk menjelaskannya.
"Bapak Yanto,, saya tau kalau Endra anak saya banyak sekali kekurangannya, tetapi apakah tidak bisa memberikannya satu kesempatan untuk bisa bersama Naina?"
"Bukan tuan, ini bukan seperti yang tuan pikirkan, saya sungguh sangat merasa tersanjung dan sangat senang karena pria sehebat tuan Endra menyukai anak saya, tapi maaf,, saya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, biarkan pendamping hidup anak saya kelak, dia sendiri yang memutuskannya"
"Berikan anak saya kesempatan, setidaknya satu bulan ini, kalau Naina tidak mau, kami tidak akan memaksa atau berusaha untuk mengganggunya lagi"
"Ayahhh" Endra memandang ayahnya, karena dia merasa tidak mungkin untuk bisa membuat Naina menerimanya hanya dalam waktu satu bulan.
"Jangan terlalu memaksakan kehendak dirimu sendiri Ndra, karena Naina berhak bahagia dengan pilihan hidupnya, kalau kamu memang mencintainya pasti kamu ingin melihatnya bahagia kan?"
Mendengar apa yang dikatakan ayahnya, Endra hanya bisa mengangguk, mereka dipanggil oleh mama Nimah karena Naina sudah kembali bangun, mereka langsung masuk ke dalam ruangan, Rayhan mendekati Naina dan menggenggam tangannya.
"Naina,,, ayah saja yang sudah renta seperti ini masih ingin berumur panjang, kenapa kamu memutuskan hal seperti ini?, lain kali jangan bertindak secara gegabah"
Naina tidak bereaksi apapun, kepalanya sangat sakit kalau digerakkan, jadi untuk mengangguk atau menggeleng, dia tidak bisa.
"Naina, kamu tinggal dirumah ayah lagi ya, seperti waktu itu, ayah akan memanggil dokter dan perawat untuk selalu memantau kondisimu"
"Tidak perlu tuan, biarkan saja Naina dirawat disini, karena sekalian adiknya juga dirawat dirumah sakit ini" jawab papa Yanto.
"Apakah adiknya juga sakit?"
"Tidak tuan, adiknya tadi pagi melahirkan"
__ADS_1
"Aku berharap bisa juga segera menimang cucu" ucap Rayhan tersenyum pada Naina tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Bukankah saat ini Endra mengalami kondisi yang tidak memungkinkan dirinya untuk mempunyai anak, apa jangan-jangan ayah Rayhan tidak mengetahui hal itu? kasian ayah Rayhan,,, apa ada yang bisa aku bantu supaya Endra bisa sembuh dari kondisinya?? sepertinya aku harus menemui Intan untuk membicarakan tentang masalah ini" batin Naina.