
"Apa sangat menyakitkan?" tanya Endra saat melihat Naina yang sudah selesai diobati.
"Tidak, ini hanya tergores"
"Jangan pulang ke rumah itu lagi"
"Lalu aku harus pulang kemana? masa tinggal lagi sama orang tuaku? aku tidak mau merepotkan mereka"
"Ikut aku" Endra lalu menggandeng Naina karena kekasihnya itu tidak mau digendong lagi, Naina malu kalau digendong karena dia hanya tergores saja.
Endra membawa Naina kesebuah komplek rumah dan berhenti di salah satu rumah, Endra memasukkan mobilnya bersebelahan dengan satu mobil yang sudah terparkir didalamnya, Naina tidak tau itu rumah siapa, tetapi karena Endra terus menarik tangannya untuk memasuki rumah itu, jadi Naina hanya bisa mengikuti, ada beberapa pelayan dirumah itu yang menyambut kedatangan mereka, Naina bahkan risih saat dipanggil nyonya dan para pelayan itu menundukkan kepalanya saat didepannya.
"Ini rumah kita, tadinya aku mau membawamu kesini setelah acara pernikahan dan bulan madu kita selesai tetapi sepertinya saat ini kamu sudah harus mulai tinggal disini, rumahmu sudah diketahui oleh orang itu, lagipula disana penjagaannya tidak sebaik tempat ini"
Naina masih mencerna apa yang dikatakan oleh Endra, Naina lalu menarik tangan Endra dan menariknya keluar rumah itu.
"Jangan bercanda, ini rumah siapa? apa kamu mau menjual diriku?" bisik Naina, Endra tertawa mendengar ucapan kekasihnya.
"Melihat paras dan juga tubuhmu,,, sepertinya banyak yang akan,,, Aaahhhhh!!" Endra tidak melanjutkan ucapannya karena Naina sudah meninju lengannya.
"Jangan bercanda!!" teriak Naina.
Endra melihat Naina yang serius dan dia sadar kalau ini bukan waktunya bercanda, Endra memeluk Naina dan membelai rambutnya.
"Sayang, ini adalah rumah yang aku persiapkan untuk kita, sebenarnya aku hanya sedikit membantu saja untuk membelinya, karena aku menggunakan uang yang kamu berikan untuk membeli rumah ini, dan juga mobil yang ada disebelah mobil ku tadi, itu adalah mobil untuk mu, sepertinya kamu bosan dengan mobil lamamu jadi menjualnya, aku hanya membantu mu membeli yang baru"
"Bukan itu maksud aku memberikan uang itu, aku,,, Eeekkkkmmmmm" Naina tidak melanjutkan ucapannya karena Endra telah menutup mulutnya dengan ciuman.
Naina mencoba mendorong tubuh Endra tetapi dia tidak mungkin bisa melakukan itu, akhirnya dia menerimanya dan mencengkeram erat kerah kemeja Endra untuk mencari penopang karena tubuh Endra yang jauh lebih tinggi darinya, Endra lalu mengangkat tubuh Naina kedalam gendongan nya tanpa melepaskan ciumannya, para pelayan menundukkan pandangan saat melihat tuan dan nyonya mereka memasuki rumah kembali dengan posisi yang tidak biasa.
Endra membawa Naina masuk kedalam kamar utama, kamar tidur mereka berdua, Naina sudah berhasil melepaskan ciuman Endra tetapi masih tidak bisa turun dari gendongan lelaki yang telah menjadi kekasihnya itu, Endra masih menggendong tubuh Naina dan wanita yang dicintainya itu menyembunyikan wajahnya di lehernya, Endra lalu duduk diatas ranjang dan Naina berada dipangkunya.
"Tinggal disini mulai sekarang, ini tidak terlalu jauh juga dari salonmu, nanti akan aku siapkan sopir juga untukmu" Endra membenarkan rambut Naina yang berantakan.
"Tidak perlu, ini sungguh terlalu berlebihan untukku, aku memberikan uang itu untuk,, aaaakkkhhhh" Endra menghentikan ucapan Naina dengan memberikan tanda merah di dadanya yang sedikit terbuka karena bajunya yang ditarik oleh Endra, Naina meremas rambut Endra.
"Aku tau uang itu tidak ada seberapa nya dibandingkan dengan semua kekayaanmu tapi itu adalah,,, aaagggghhhh" Endra telah berhasil membuka baju Naina dengan menarik paksa bajunya hingga membuat seluruh kancingnya terlepas dan dengan cepat pula menurunkan kaos dalaman yang dipakai Naina, dengan gerakan cepat, Endra telah menghisap puncak gunung kembarnya.
Leher Naina yang sedikit terdorong kepala Endra menjadi terasa sakit, membuat Naina mengaduh.
"Aaawwwwhhh,,!!" Naina memegangi lehernya yang masih terdapat kain kain kasa untuk menutupi luka nya, Endra menghentikan apa yang sedang dia lakukan dan langsung meminta maaf.
"Maaf sayang, maafkan aku" Endra lalu menurunkan Naina dari pangkuannya dan mendudukkannya Naina diatas ranjang, Endra tidak bisa menahan dirinya saat bersentuhan dengan Naina, Endra lalu meminta Naina untuk beristirahat, nanti Endra yang akan meminta pada jasa pindahan rumah untuk membereskan barang-barang Naina dan dibawa kerumah baru mereka.
Endra lalu meminta izin untuk pergi ke kantornya karena ada pekerjaan yang harus diurus.
"Kalau butuh sesuatu, kamu katakan saja pada para pelayan, dan ingat untuk tidak melakukan apapun atau bahkan mencoba untuk kabur, aku akan pulang secepatnya" Endra mencium kening Naina lalu segera bergegas pergi.
"Apa ini nyata, apa ini tidak terlalu berlebihan untukku, aku takut aku terlalu terbuai, aku takut menjadi semakin serakah, apa benar aku pantas untuk Endra?" gumam Naina lalu bangun dari ranjang dan memegangi bajunya karena bajunya sudah rusak oleh Endra.
Naina melihat-lihat kamar besar itu, dia membuka lemari baju, dan betapa kagetnya dia karena isinya sudah penuh dengan baju-baju yang sesuai dengan style nya, Naina lalu membuka ponselnya yang bergetar disaku celananya.
__ADS_1
"Gantilah bajumu, dan pilih sesuka dirimu didalam lemari" Naina kaget membaca pesan dari Endra, dia lalu melihat sekeliling karena mengira didalam kamar itu dipasang CCTV.
"Apa didalam kamar ini terpasang kamera?" tanya Naina langsung pada intinya, karena dia merasa aneh dengan pesan Endra yang bisa begitu pas saat dia sedang membuka lemari pakaian.
"Tidak sayang, memang apa yang sedang kamu lakukan, apa kamu membuka semua bajumu? tidak perlu malu, aku kan pernah melihat semuanya, lagipula apa aku gila memasang kamera dikamar kita,, disana hanya akan ada adegan panas kita setiap saat"
"Dasar gila!!!😡🤬" balas Naina.
"🤣🤣🤣🥰😘" melihat balasan dari Endra, Naina tersenyum lalu menyimpan kembali ponselnya untuk berganti baju, Naina mengambil setelan rok, entah kenapa dia memang lebih nyaman saat memakai rok, walau kadang tetap memakai celana panjang, tergantung situasi dan kondisi.
Naina keluar dari kamar, dia berkeliling di rumah yang besar itu, ada pelayan yang datang mendekat dan menanyakan apa yang dibutuhkan oleh Naina.
"Tidak perlu, saya akan mencari sendiri saat memerlukan sesuatu, dan tolong jangan terlalu formal, biasa saja,, oh iya,, bibi namanya siapa?" sapa Naina sopan, sepertinya bibi yang diajak berbicara oleh Naina merasa canggung dengan sikap Naina, dulunya dia adalah pelayan yang ikut Endra dirumahnya Endra bersama Intan, tapi setelah Endra berpisah dengan Intan, banyak pekerja dan pelayan yang berhenti bekerja, saat ini mereka kembali bekerja dirumah baru Endra setelah dihubungi oleh Suseno.
"Panggil saja saya bi Wulan,, saya sudah mengabdi pada keluarga tuan muda dari saat beliau kecil dan masih tinggal dirumah tuan Rayhan, tolong Nona jangan terlalu sopan, nanti para pekerja dan pelayan bisa bersikap seenaknya"
"Tidak perlu sungkan bibi, bekerja lah dengan nyaman, apa aku boleh berkeliling?" tanya Naina.
"Tentu saja nona, rumah ini kan rumah nona, jadi bebas bagi nona mau melakukan apapun"
"Baik bibi, terimakasih,, saya izin berkeliling ya bi" Naina lalu berkeliling bahkan sampai halaman belakang yang ternyata sangat luas, di sana terdapat sebuah taman bunga mini dengan banyak bunga anggrek.
"Cantiknya,, kenapa disini bnyk bunga anggrek,, sangat indah"
Deeerrrrtttt deeerrrrtttt deeerrrrtttt
"Iya?" ujar Naina saat mengangkat ponselnya.
"Naina, sekarang kamu berada dimana? mama baru mendengar kabar tentangmu, maafkan mama"
"Sekarang kamu dimana? apa dirumahnya tuan Reyhan?"
"Tidak ma, aku dirumah Endra, tapi aku tidak tau alamat nya, nanti aku tanyakan dulu" Naina berniat masuk kedalam rumah untuk bertanya pada pelayan, alamat lengkap dari rumah itu.
"Tidak perlu Naina,, kamu istirahat dulu saja, kalau dirumah Endra berarti kamu aman, mama tidak mau mengganggu kalian"
"Menganggu apa ma? tidak seperti itu"
"Sudah sayang, mama tutup dulu ya, jaga dirimu"
Naina merasa aneh dengan mamanya, harusnya mamanya itu khawatir karena dia tinggal di rumah seorang pria, tetapi mamanya malah mendukungnya.
"Sepertinya mama sangat menyukai Endra" gumam Naina, lalu memasuki sebuah ruangan yang ternyata adalah dapur, karena akan memasuki waktu makan malam, para pelayan bagian dapur yang sepertinya ada yang merupakan seorang chef sedang sibuk memasak.
Saat melihat Naina masuk, mereka menghentikan semua aktifitas lalu menyapa Naina.
"Apa ada yang nona butuhkan, apa nona sudah lapar?" tanya bi Wulan.
"Tidak bibi, aku hanya melihat-lihat dan tanpa sengaja masuk ke ruangan ini, maaf telah menganggu, adakah yang bisa aku bantu?"
"Tidak nona, tidak perlu" Naina sadar, sepertinya mereka risih dengan keberadaan Naina, jadi dia izin untuk berkeliling lagi, Naina duduk di sofa ruang tamu yang luas, karena dia melupakan dimana kamarnya.
"Dimana ya pintu kamarnya?, akan sangat memalukan kalau aku salah masuk" Naina terus mengingat pintu masuk menuju kamarnya, tadi dia tidak memperhatikan karena saat masuk kedalam kamar, dia dalam posisi digendong oleh Endra dan mereka berciuman, saat tadi keluar kamar dia juga tidak memperhatikan.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kamu lakukan disini?" Endra yang baru datang membuat Naina terkesima melihatnya, baru kali ini Naina melihat Endra memakai dasi, sepertinya dia baru melakukan rapat dengan klien penting, jadi dia harus rapi, Endra mengendurkan dasinya lalu duduk di sebelah Naina.
"Kenapa diam?" tanya Endra melihat kearah Naina yang terlihat terus diam memandanginya.
"Ah,,,, tidak,, aku tadi baru berkeliling jadi istirahat dulu ditempat ini"
"Apa kamu menyukai rumahnya?" tanya Endra lalu mendekat ke arah Naina dan memojokkannya di ujung sofa, Naina mendorong tubuh Endra karena ditempat itu banyak sekali orang atau pelayan dan pekerja.
"Mandilah dahulu, aku merasa aneh ditempat ini, aku mau pulang" Naina menahan bibir Endra yang terus mendekat.
"Endra,,,,"
"Apa sayang?"
"Jangan seperti ini, aku mau pulang"
"Ini rumahmu, kamu mau pulang kemana lagi, disana sudah tidak aman lagi untukmu, tolong menurut"
"Tapi aku mau kamar terpisah"
"Ah apa?? kenapa?"
"Kenapa tanya kenapa, memang sudah seharusnya seperti itu"
"Apa bedanya mau sekarang atau nanti kita sekamarnya? pada akhirnya juga,,,,"
Naina menarik dasi Endra, dari tadi dia merasa sangat berdebar-debar melihat Endra, saat ini kekasih nya terlihat sangat seksi baginya, dengan dasi yang berantakan, Naina mengecup bibir Endra tetapi tidak lama kemudian melepaskan ciumannya dan mendorong Endra.
"Tunjukkan kamarku" ujar Naina, tetapi Endra tidak terima dengan kelakuan wanita yang dicintainya itu, seenaknya saja memancingnya tetapi langsung melepaskannya lagi.
"Tidak jangan" Naina menahan tubuh Endra yang kembali ingin mendekat padanya menggunakan kakinya, Naina mengatakan akan kabur kalau Endra tidak mau mengikuti perkataannya, mendengar ucapan Naina, Endra langsung mundur dan menjaga jarak.
"Baiklah, kamu pakai saja kamar utama, biarkan aku tidur dikamar tamu, diatas adalah kamar Deva dan Yaya"
Naina mengangguk mendengar penjelasan dari Endra, dia lalu meminta Endra memberi tahu padanya dimana kamar utama, Naina langsung masuk ke kamar, dia ingin menenangkan hatinya yang terasa sangat sakit saat berada di dekat Endra.
"Dia membuat jantungku berdebar-debar dan membuatku susah bernafas" batin Naina sambil memegangi dadanya, tetapi dia yang masih berdiri didekat pintu dikagetkan dengan suara ketukan pintu, Naina membuka pintu karena dia pikir ada yang penting.
"Bajuku ada disini, aku mau mengambilnya" ujar Endra langsung masuk kedalam kamar dengan mendorong tubuh Naina dan langsung menutup pintu kamar dengan kakinya, bibirnya sudah menyerbu bibir Naina.
Naina yang masih mencoba menenangkan hatinya karena rasa berdebarnya tidak bisa melawan Endra, apalagi lelaki kuat itu telah mendekapnya erat dan mendorongnya ke ranjang.
"Endra tolong, dadaku sangat sakit, berhentilah melakukan ini" ucap Naina saat Endra merendahkan tubuhnya di ranjang dan ciuman mereka sedikit terlepas, Endra kaget mendengar bahwa Naina sakit.
"Apa yang terjadi? ayo kita segera periksakan ke dokter" Endra panik lalu kembali membangunkan tubuh Naina.
"Tidak perlu, aku hanya harus istirahat, aku tidak akan makan malam, tadi aku makan Snack sambil melihat bunga anggrek di taman belakang, kamu cepatlah ambil bajumu, lalu segera keluar, aku mau beristirahat"
Endra terlihat kecewa tapi dia mengikuti apa yang dikatakan oleh Naina, setelah mencium kening Naina, Endra tidak mengambil baju karena yang dikamar itu hanya sebagian baju-bajunya karena dikamar lain juga masih banyak, dari awal dia memang hanya modus supaya bisa masuk kamar Naina.
"Padahal aku buru-buru pulang setelah pekerjaan ku selesai supaya bisa bersama mu sayang, tapi kenapa kamu seperti ini, aku harus mempercepat pernikahan supaya kamu tidak ada alasan lagi untuk aku selalu di dekatmu" batin Endra saat keluar dari kamar.
Endra yang merasa galau karena Naina yang belum mau sekamar dengan dirinya lalu mengisi waktu dengan berolahraga sebelum makan malam dan tidur.
__ADS_1
Naina terus mencoba tidur tetapi dia tidak bisa karena dia merasa lapar, dia tadi berbohong kepada Endra mengatakan dia sudah makan Snack, padahal dia belum makan apapun, dia hanya ingin menghindari Endra.
"Aku tidak tau kenapa, tetapi dadaku terasa sakit dan semakin sakit saat melihatnya atau bahkan sampai disentuhnya, apakah aku begitu mencintai nya sehingga aku menjadi lemah" batin Naina lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dan kembali mencoba untuk tidur.