
"Sayang, besok aku sepertinya harus ke kantor sebentar, kata Seno ada berkas pekerjaan yang harus segera aku tanda tangani di depan klien langsung, jadi sepertinya aku juga harus rapat, tapi aku janji hanya sebentar" ucap Endra saat mereka makan malam.
"Memang sudah seharusnya kita mulai bekerja" jawab Naina lalu mengambilkan air minum untuk Endra yang sudah selesai makan, Rayhan juga berpamitan kalau besok pagi akan pulang.
"Ayah tidak mau mengganggu kalian" ujar Rayhan sambil tersenyum.
"Tidak ayah, rumah sebesar ini lebih baik ayah tinggal saja disini" jawab Naina.
"Tidak Nai,, ayah ingin tinggal dirumah ayah,, disana terlalu banyak kenangan, dimasa tua ayah ini,, ayah ingin tinggal dengan damai dirumah itu, sering-seringlah kalian menengok ayah, terutama saat nanti kalian sudah mempunyai momongan, setiap weekend kalian harus datang kesana, aku juga meminta Seno melakukan hal yang sama"
Naina mengerti dan tidak memaksa Rayhan untuk tinggal dirumahnya, setelah makan malam selesai, sebagai pengantin baru, Endra tidak mau membuang-buang waktu dan langsung menarik tangan Naina kembali ke dalam kamar.
"Sayang, apa kamu tidak bosan? tadi sore kita sudah melakukannya saat dikamar mandi" ucap Naina saat Endra menggendongnya setelah mereka gosok gigi di kamar mandi.
"Kenapa kamu terus bertanya tentang hal itu, tidak mungkin aku bosan padamu sayang" Endra yang sudah tidak sabaran langsung merebahkan tubuh Naina ke atas ranjang, tetapi Naina langsung bangun sebelum Endra menindihnya.
Naina membuka bajunya dan menyisakan baju dalamnya yang berenda cantik dengan hiasan pita, Endra tersenyum melihat istrinya yang sepertinya mulai berinisiatif untuk memulai, Naina bangun dan berdiri sementara Endra masih duduk.
"Aaaakkkhhhh!!"
Naina merintih dengan gerakan cepat Endra yang menariknya kearah nya, hingga bagian bawahnya langsung dilahap oleh Endra, Naina masih berdiri dengan memegangi kepala suaminya yang menciumi pusarnya, dan tangannya yang lincah dalam hal ini telah melucuti rok dan celana istrinya.
"Aaaauuuuwwww,,, aaaaccckkkhhh!!"
Rintihan terus keluar dari bibir Naina, dia menaikkan satu kakinya pada bahu Endra sementara bibir suaminya terus melahap bagian bawahnya dan terus memainkan lidahnya kedalam inti tubuhnya, Naina terus meremas rambut suaminya untuk menopang tubuhnya.
Naina mengejang dan terus mendekap erat kepala suaminya di bagian intinya, setelah meredam rasa nikmat itu, Naina lalu mendorong tubuh Endra hingga terlentang, dengan perlahan Naina melucuti celana suaminya, pedang suaminya yang telah terbangun telah meronta dari tadi minta diselamatkan.
Sepertinya baru kali ini Naina melihat dengan intens barang intim milik suaminya itu, biasanya hanya Endra yang bergerak dan Naina yang menerima setiap sentuhan Endra, kali ini Naina ingin mencoba hal baru.
Terlihatlah benda tumpul yang sudah mengeras itu, Naina takjub dan sedikit ragu untuk memegangnya.
__ADS_1
"Pantas saja begitu terasa sesak dan aku selalu kewalahan, bahkan saat pertama aku begitu kesakitan walaupun aku bukan gadis lagi,,, ternyata sebesar dan sepanjang ini" batin Naina lalu menggigit kuku tangganya, Endra melihat kearah istrinya yang hanya memandangi batang pribadi miliknya yang sudah sangat membutuhkan belaian.
"Sayang kenapa??" tanya Endra, Naina kaget lalu menggeleng, tetapi dia masih tidak melakukan apapun, padahal di hatinya tadi sudah berniat akan bersikap seliar mungkin di depan suaminya, Endra lalu duduk.
"Pegang sayang, lakukan apapun yang kamu mau, ini hanya milikmu" ucap Endra pelan sambil mengambil tangan Naina untuk memegang batang pribadinya itu.
Tangan lembut Naina bertemu dengan batang yang beberapa hari terakhir telah membuatnya merem melek kenikmatan, awalnya Naina memegang nya dengan pelan tetapi lama-lama dia mendekatkan bibirnya dan mulai mengulum batang itu.
"Aaagghhhh,,, sayang" Endra mendesah dan membelai rambut Naina, sepertinya Naina masih kaku dan belum lihai tetapi Endra malah bangga karena itu berarti baru dengannya Naina melakukan hal ini, Endra mengingat perkataan Rania yang mengatakan bahwa Naina tidak pernah mendapatkan kepuasan dari suaminya, karena hanya rasa sakit yang dia dapatkan sehingga dia pernah mengalami trauma.
Endra membiarkan apapun yang dilakukan oleh Naina, walau Naina belum terlalu mahir dalam menservis dirinya tetapi bagi Endra, dengan Naina mau menerima tubuhnya dan membiarkan dirinya menyentuh Naina, itu sudah sangatlah membahagiakan.
Naina memegangi ujung mulutnya, sepertinya dia merasa pegal karena terus mengulum batang milik suaminya, Endra tersenyum lalu mencium lembut bibir Naina, Endra lalu membawa Naina kedalam pangkuannya.
"Aaahhhhh" Naina mendesah karena gesekan barang pribadi milik mereka, Endra meminta Naina bermain diatas.
"Aaagggghhhh" Naina merintih lalu meremas dada Endra, milik Endra seperti menembus inti tubuhnya begitu dalam, Naina terpejam merasakan sesaknya bagian intinya, hingga tiba-tiba Endra bergoyang pelan, membuat mata Naina terbuka lebar merasakan kenikmatan, Endra terus menggoyangnya, Naina menggigit ibu jarinya untuk mencari topangan rasa nikmat karena gerakan suaminya.
Endra sangat bangga karena bisa memuaskan istrinya dengan sangat baik, Naina sepertinya gagal untuk menservis Endra, karena dialah yang terus diservis oleh suaminya itu.
Naina sepertinya sudah terbang ke langit ketujuh saat Endra menuntaskan hasratnya, Endra mencium kening Naina.
"Kamu telah bekerja keras, terimakasih sayang" bisik Endra lalu kembali mengecup bibir Naina, dia benar-benar sangat ketagihan dengan tubuh istrinya.
Endra terus membelai lembut wajah Naina dan terus tersenyum, baginya ini masih seperti mimpi, dia tidak menyangka Naina benar-benar bisa menerimanya.
Pagi telah menjelang, Naina bangun lebih dulu, dia tersenyum saat melihat wajah polos suaminya yang sedang tidur di sebelahnya, Naina mengecup pipi Endra.
"Aaakkhhhhh!!"
Naina kaget karena ternyata Endra juga telah bangun dan langsung menarik tubuhnya dan menindihnya saat tadi dia akan bangun setelah mencium Endra.
__ADS_1
"Mau kemana?,,, aku tidak akan membiarkan dirimu turun dari ranjang ini" ucap Endra yang langsung kembali melakukan kegiatan yang sangat dia sukai, yaitu mengairi lahan istrinya supaya tumbuh subuh.
"Ssaayyyaaang,, sebenarnya apa yang kamu lakukan padaku" bisik Endra ditelinga istrinya, Naina tidak menjawab apapun karena dia sedang merasakan kenikmatan oleh Endra yang sedang menggoyangnya.
"Aaaacccckkkhhhhh,, nikmat sayang" Naina merintih karena gerakan Endra yang semakin kencang, Naina terus meremas rambut Endra yang sedang mengulum buah kembarnya.
"Nnnaaaaiiinnnaaaa,, aaagggghhhh!!" Endra memeluk erat tubuh Naina saat pelepasannya.
"Aku tidak mau bekerja" ujar Endra setelah mereka bisa mengatur nafas.
"Kenapa??" tanya Naina pada Endra yang terlihat malas untuk mandi, Naina menciumi dada suaminya dan berkata dengan manja minta digendong ke kamar mandi, tentu saja Endra langsung semangat lagi.
"Sayang, hari ini izinkan aku bekerja" pinta Naina pada Endra saat mereka berendam bersama di bathtub, tetapi posisi Naina sudah diatas Endra dan menggoyangnya, kali ini Naina beneran menservis suaminya.
"Naaaiinnaa sayyanng, jangan seperti ini,, aaagggghhhh" Endra merintih dengan sensasi baru yang Naina berikan, sepertinya Naina ingin menjahili suaminya, tiba-tiba dia diam tidak melanjutkan gerakannya.
"Sayang,,, teruskan!!" pinta Endra dengan mata berkabut nya.
"Izinkan dulu, maka setiap pagi aku akan melakukan ini untukmu sampai kamu bosan nantinya" bisik Naina sambil mengigit telinga Endra.
"Tidakk,, dan ada dua tidak yang harus kamu dengarkan dengan baik, kamu tidak boleh bekerja dan tidak boleh melepaskan diriku,, cepat lanjutkan, aku tidak mau bernegosiasi masalah ini" ujar Endra.
Naina ngambek dan benar-benar tidak mood melanjutkan kegiatannya tadi, Endra sadar istrinya sedang merajuk, tapi miliknya harus mendapatkan pelepasan, Endra membuka handuk yang dipakai Naina, dan dengan gerakan cepat mendorong tubuh Naina ke tembok, dengan sekali hentakan Endra memasukkan miliknya kedalam lubang sempit istrinya.
"Aaagggghhhh,,, saaakkiittt" Naina sangat kesakitan dan tanpa sadar mendorong tubuh Endra hingga terpental, untung saja Naina dengan cepat menarik tangan Endra supaya Endra tidak terbentur.
"Maaf sayang, maafkan aku" Endra memeluk erat Naina, dia baru saja akan membuat Naina kembali trauma karena kekasarannya pasti akan membuat Naina kembali mengingat perlakuan kasar Roni.
"Aku yang seharusnya minta maaf, apa kakimu sakit??" Naina terisak, dia memang kaget dengan kejadian yang terjadi tiba-tiba, tetapi dia benar-benar tidak menyangka kalau dia akan menyakiti suaminya.
"Tidak sayang, aku tidak kenapa-kenapa, ayo selesaikan mandi dan kita bicarakan masalah ini sambil sarapan" ucap Endra membelai lembut rambut basah istrinya.
__ADS_1
Saat memakai baju, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing dan hanya diam, Endra keluar terlebih dahulu karena akan menyiapkan berkas pekerjaannya di ruangan kerjanya yang ada dirumah.
Naina yang masih merapikan bajunya dikagetkan dengan suara ponselnya, dan dengan cepat memeriksanya, Naina lalu melemparkan ponselnya saat dia melihat video dari nomor kontak yang tidak dia kenal.