Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Persaingan


__ADS_3

"Tidak mungkin"


"Tetapi kakak melarang ku menemuinya, ini pasti karena ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya"


"Jangan suka kepo sama urusan orang lain"


"Kak Naina itu bukan orang lain, dia kakak ku"


"Tetap saja kalian sudah dewasa, sudah punya kehidupan masing-masing, ada hal yang tidak perlu untuk kalian ketahui tentang masalah pribadi"


"Aku hanya tidak mau kalau kakak mengalami hal yang sama seperti pernikahannya dahulu"


"Jangan kamu samakan,,, tuan Endra sangat menyayangi nona Naina, dari dulu setiap nona Naina dalam masalah, tuan Endra yang paling pertama maju untuk menyelamatkan nya, apalagi sekarang mereka sudah menikah"


Ningsih menelfon Reynolds untuk menceritakan apa yang dia rasakan, setelah sempat mengantarkannya pulang waktu Naina kabur karena masalah Atika, sekarang hubungan mereka semakin dekat, walaupun tidak ada dari mereka yang terbuka tentang perasaan mereka.


"Aku juga berharap mempunyai suami yang menyayangi ku"


"Seno pasti akan seperti itu, kamu tenang saja,, dengan berjalannya waktu, aku yakin kalau kalian akan saling mencintai,,, oh iya bagaimana kabar Alfin?"


"Dia sangat menyukaimu, ini dia sedang melihat fotomu dan tersenyum"


"Foto yang mana?"


"Ini kan kamu sendiri yang memasang fotomu yang terlihat di foto profil mu, terlihat sok kecakepan,, dimana ini? apa di sebuah pantai dekat sini? aku juga ingin bisa berlibur ke pantai,, aku sudah lama tidak jalan-jalan" Ningsih memandangi foto profil WhatsApp Reynolds, foto tampan dengan latar belakang pantai pasir putih.


"Ajaklah Seno"


"Dia selalu sibuk, aku tidak mau mengganggunya"


"Lalu kamu pikir aku tidak sibuk?,, sudahlah sana telepon calon suamimu, kenapa akhir-akhir ini kamu selalu menelpon diriku?" Reynolds lalu mematikan panggilan telepon dari Ningsih.


Reynolds meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya, disebelah ruangannya terlihat Suseno yang sedari tadi memperhatikannya, tetapi Reynolds yang duduk membelakangi Suseno, jadi tidak mengetahui hal itu.


Suseno memegang ponselnya, ada keinginan dihatinya untuk menelepon Ningsih, tetapi dia urungkan niatnya, dan berlalu dari sana untuk menuju ruangan Endra.


Sang pemilik perusahaan itu sedang sibuk menandatangani berkas-berkas saat Suseno masuk kedalam ruangan dengan wajah lesunya, Endra yang sedang serius tentu saja tidak memperhatikan Suseno.


Endra bekerja dengan sangat cepat karena tidak mau berlama-lama jauh dari istrinya, tetapi pekerjaannya yang tertunda dari kemarin tentu saja sudah menumpuk.


Endra meregangkan tangannya karena merasa pegal terus memeriksa semua pekerjaannya, tanpa sengaja dia melihat kearah Suseno yang sedang melamun.


"Kenapa?" tanya Endra singkat.


"Kalau ada yang merebut calon istri mu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Suseno


"Tentu saja aku akan membunuhnya"


"Haruskah?"


"Kamu kenapa? lagipula calon istri siapa? dan siapa yang merebut nya?? kamu sangat tidak jelas" tanya Endra berturut-turut.


Suseno tidak menjawab lagi dan terus memegangi erat ponselnya, dia sangat ingin menelepon Ningsih tetapi dia ragu dan tidak tau harus mengatakan apa.


"Endra, apa kamu tidak ada rencana bulan madu ke pantai?" tanya Suseno penuh tanda tanya dan pengharapan.


"Untuk apa aku melakukan hal itu, dirumah juga aku bisa terus melakukannya" jawab Endra sekenanya karena kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Suseno lalu mengatakan mempunyai rencana untuk mengajak calon istrinya yaitu Ningsih untuk berlibur ke pantai.


"Kalian pergi saja berdua, kenapa mengajak orang lain?"

__ADS_1


Suseno lalu curhat pada Endra, dia memang awalnya hanya mengikuti keinginan Rayhan untuk menikah dengan Ningsih, tetapi sepertinya dia terus merasakan hatinya yang kesal saat melihat Ningsih dengan orang lain.


Endra menghentikan kegiatannya lalu melihat ke arah Suseno untuk menanyakan tentang masalah itu, karena bagi Endra, kebahagiaan Suseno yang lebih utama, jangan sampai melakukan sesuatu tanpa pikir panjang.


"Ayah juga tidak mau kalau sampai kamu tidak bahagia, itu kan hanya perjodohan yang tidak diwajibkan, kamu tetap bisa memilih siapa pun yang kamu inginkan sebagai pendamping mu kelak, tetapi kenapa kamu kesal saat melihat nya bersama orang lain, bukankah setau diriku, kamu tidak menyukainya, lagipula kata Naina, Rey yang menyukai Ningsih"


"Aaapppaaa?!!" teriak Suseno.


"Kenapa kamu mengagetkan diriku?" tanya Endra heran melihat keterkejutan Suseno mendengar ucapannya.


"Sejak kapan? lalu kenapa Rey menolak perjodohan itu kalau dari awal dia menyukai Ningsih? lalu sekarang aku harus bagaimana?" Suseno meniru gaya Endra saat sedang galau, yaitu meletakkan kepalanya di atas meja.


"Kenapa ini? jangan seperti anak kecil" ujar Endra tanpa tau malu dan sadar diri, karena dulu saat dia galau juga bertingkah seperti itu.


Suseno bersedih, hatinya yang awalnya ingin dia buka untuk Ningsih, sepertinya harus dia tutup kembali sebelum semakin dalam rasa itu sehingga dia akan semakin sakit hati nantinya.


"Bersaing lah secara jantan" saran Endra lalu bangkit dari duduknya untuk istirahat makan siang, tanpa diajak Suseno langsung mengikuti Endra.


"Rey, ayo kita makan siang bersama" ajak Endra, mereka bertiga lalu makan direstoran terdekat dari perusahaan, Endra meminta Suseno untuk memesankan makanan untuknya karena dia akan menelfon istri tercintanya.


"Sayang, apa kamu sudah makan siang?" tanya Endra begitu mendengar suara Naina.


"Belum, aku belum lapar, aku masih ingin tidur lagi, badanku sakit semua dan mataku sangat mengantuk"


"Aaapppaaa,, kamu sakit apa sayang?? aku segera pulang"


"Tiiddaakkk, jangan!!" teriak Naina membuat Endra kebingungan.


"Aku hanya perlu lebih banyak istirahat dan tidur, kamu jangan khawatir, bekerja keraslah sayang dan bawa uang yang banyak, istri tercinta mu ini kan pengangguran"


"Baiklah sayangku, istirahat ya,, nanti aku akan segera pulang saat pekerjaan ku selesai" Endra tersenyum dan mencium ponselnya, dia sangat senang dengan kondisi dan situasi ini, mereka seperti pasangan pada umumnya.


Saat Endra menyimpan kembali ponselnya, Endra lalu melihat ke arah kedua pria didepan dan di samping nya yang terbengong-bengong heran melihat dirinya.


"Terlalu bucin itu suatu penyakit" jawab Suseno malas lalu meminum jus semangka pesanannya.


"Kalian ini para jomblo, pasti sangat iri kan,, hahaha" Endra tertawa meremehkan atau mungkin sedang menggoda kedua pria yang dari tadi memperhatikannya itu, kedua bawahannya itu kalau mereka sedang tidak bekerja atau sedang tidak ada karyawan lain, mereka berubah menjadi layaknya sahabat, mereka dengan santai mengobrol dan sesekali bercanda.


"Permisi" ujar tiga wanita cantik mendekati meja mereka, para wanita itu meminta bergabung, Endra sangat malas mendengarnya dan menatap tajam kearah Suseno untuk segera menyingkirkan wanita-wanita itu.


"Maaf, kami sudah memiliki pasangan, jadi cepatlah pergi dari sini" usir Suseno yang membuat para wanita itu menjadi kesal, padahal penampilan mereka sudah sangat cetar membahana.


"Mereka pasti homo!" ucap salah satu wanita, tetapi tidak ada yang meresponnya.


Mereka makan siang bersama, dengan sesekali membicarakan tentang pekerjaan, Reynolds lalu ingat tentang ponsel dan barang berharga Naina lainnya yang kemarin dia temukan saat merapikan dan membereskan toko bunga milik Naina.


Endra lalu meminta pada Reynolds untuk mengurus kerusakan di toko bunga itu, dan tidak lupa untuk mencari beberapa pekerja dengan meletakkan selebaran pencarian pegawai.


"Carilah sedikitnya tiga karyawan,,, dan Seno,, tolong rekrut pekerja di kantor kita yang kompeten untuk menjadi penanggung jawab di toko itu"


Reynolds dan Suseno mengiyakan perintah dari Endra, mereka telah menyelesaikan makan siang dan segera bergegas untuk kembali ke perusahaan.


"Tuan,, ada klien dari luar negeri menunggu tuan diruang rapat" sekertaris Endra memberikan informasi begitu Endra sampai, dengan segera Endra langsung menuju ke ruangan rapat.


Rapat selesai setelah hampir menjelang sore, Endra lalu bersiap untuk segera pulang, dan merapikan tas kerjanya, tetapi Suseno datang membawa setumpuk berkas-berkas untuk segera diperiksa oleh Endra.


"Apa kamu ingin membunuhku?? ini sudah sore, istri ku sudah menunggu dari tadi" ujar Endra kesal.


"Nyonya Naina tidak mungkin menunggu anda tuan, beliau malahan sangat senang kalau tuan pulang terlambat, karena nyonya tidak akan kecapean" jawab Suseno dengan mode formalnya tetapi ada sindiran di dalamnya.


"Apa maksudmu?" tanya Endra dan hanya dijawab dengan Suseno yang menaikkan kedua bahunya seperti bergidik.

__ADS_1


"Aku akan menyelesaikannya besok, sekarang aku mau pulang, aku tidak seperti dirimu yang bisa pulang kapan saja"


"Tuan Endra, ini harus selesai saat ini juga" Suseno terus menahan Endra supaya tidak pulang lebih awal.


Endra dengan menggerutu lalu kembali duduk untuk mengerjakan semua pekerjaannya, sementara Suseno menahan senyumannya melihat Endra yang menurut padanya.


"Sayang,,, sepertinya aku sedikit terlambat, soalnya masih banyak pekerjaan" Endra menelfon Naina untuk memberikan kabar.


"Iya, tidak apa-apa, bekerja yang rajin ya, aku sedang memasak untuk makan malam, kamu mau aku buatkan apa?" tanya Naina.


"Apa?? kamu memasak untuk makan malam?? bukankah kamu masih sakit? apa sudah sembuh? aku sedang tidak nafsu makan, tapi aku nafsu yang lain, malam ini aku akan memakan dirimu saja"


Mendengar ucapan Endra membuat Suseno kesal, dia sebenarnya mau mengerjai Endra, tetapi sepertinya Endra menyadari hal itu, Suseno menutup map berkas yang sedang dipegang Endra sambil terus menelepon istrinya dengan pengeras suara.


"Sudahlah,, pulang sana, bisa pecah kupingku mendengar pembicaraan kalian" Suseno sewot melihat tingkah pasangan suami istri itu.


Endra tersenyum penuh kemenangan, dia sangat tau kalau pekerjaan ini bisa dikerjakan oleh Suseno sendiri, jadi tadi dia sudah tau niat dari bawahannya sekaligus sahabat yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri itu, jadi Endra sengaja bermesraan dengan Naina di telefon supaya Suseno mendengarkan.


"Karena kamu berusaha cukup keras, akhir minggu ini atau lebih tepatnya nanti malam minggu, ayo kita lakukan double date ke mall terbesar di kota ini, ajaklah calon istri mu" ujar Endra saat dia akan beranjak pergi untuk segera pulang.


Suseno sudah tidak terlalu mau lagi untuk pergi bersama Ningsih, karena dia tau tentang rasa suka Reynolds pada Ningsih, dan tidak menjawab apapun yang tadi dikatakan oleh Endra.


"Berusahalah lebih dahulu, lihatlah diriku yang sampai tidak terhitung ditolak oleh Naina, tetapi lihat saja hasil akhirnya, aku bisa juga mendapatkan nya"


Endra pulang kerumahnya dengan hati riang gembira, saat memasuki garasi dia melihat beberapa para pelayan yang bekerja dirumahnya pergi keluar, memang para pelayan akan pergi dari rumah sekitar pukul lima sore, mereka ditempatkan disuatu rumah kost-kostan didekat sana, satu orang satu rumah kost kecil, dengan seperti itu malah membuat para pekerjanya lebih bersemangat karena mereka bisa tinggal dengan keluarganya yang diboyong ke kost-kostan mereka masing-masing.


Endra langsung mencari istrinya yang ternyata sedang berada di dapur mengobrol dengan bi Wulan yang sepertinya masih betah disana karena Naina sudah pulang, Endra tidak langsung mendekati istrinya itu apalagi saat dia mendengarkan pembicaraan dua wanita beda generasi itu.


"Nona jangan menyerah,,, aku tau kalau nona pasti bisa hamil lagi,, nona masih muda jadi jangan terlalu menghawatirkan nya" bi Wulan menenangkan Naina yang masih kepikiran dengan kondisinya.


Naina cukup lama menggunakan alat kontrasepsi KB suntik itu, bahkan setelah dilepas kurang lebih setahun yang lalu, tetapi hormonnya belum juga normal kembali, Naina terlihat memotong sesuatu sambil melamun.


"Aaaakkkhhhh!" Naina menjerit dan memegangi jarinya, Endra kaget dan panik langsung mendekati Naina dan memeriksa jari Naina, saat melihat jari telunjuk Naina berdarah, Endra langsung menyesapnya supaya tidak terkena infeksi.


Naina dan bi Wulan kaget dengan kedatangan Endra yang tiba-tiba, bi Wulan lalu cepat mencari kotak PPPK untuk mencari plester luka.


"Sejak kapan kamu pulang?" tanya Naina mencoba menarik jarinya dari mulut Endra, tetapi Endra tidak melepaskannya.


"Lepaskan dahulu, ini tidak terlalu dalam, aku hanya tergores sedikit saja" ucap Naina menenangkan Endra karena melihat suaminya yang terlihat sangat panik, bi Wulan datang membawa kotak PPPK dan mengeluarkan sebuah plester luka.


Endra membersihkan luka Naina yang sebenarnya tidak terlalu terlihat karena memang tidak dalam seperti yang dikatakan oleh Naina, setelah luka jari Naina tertutup plester, Endra meminta pada bi wulan untuk pulang saja.


Setelah bi Wulan pulang, Endra yang masih tidak berbicara apapun pada Naina langsung menggendong istrinya itu menuju kamar dan mendudukkannya di atas ranjang.


"Kamu istirahat saja dulu, aku akan memesan makan malam, jangan banyak bergerak"


"Aku tidak apa-apa,, ini bahkan sudah tidak sakit lagi, aku mau menyelesaikan masakanku"


"Kenapa kamu suka sekali membantah diriku?!"


Naina hanya diam tidak bisa menjawab apapun lagi, Endra lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah memesan makanan lewat aplikasi online.


Naina menunggu Endra sambil melihat kearah jarinya yang telah diberi plester, Naina mengingat obrolannya dengan bi Wulan, dan menyadari bahwa Endra pasti mendengarkan nya.


"Dia pasti sangat kecewa" gumam Naina.


Endra akhirnya keluar dari dalam kamar mandi menggunakan jubah mandinya, tidak lama ponselnya berbunyi dengan notifikasi bahwa pesanan makanan nya telah datang, Endra lalu keluar dari dalam kamar untuk segera mengambilnya.


Mie ayam dan jajan-jajanan yang ternyata dipesan oleh Endra, dia tau betul kalau istrinya menyukainya, tetapi anehnya Naina menolak memakannya dan mengatakan akan mengambil buah-buahan saja, dalam hati Naina, dia sudah bertekad untuk terus memakan makanan yang sehat dan seimbang, supaya hormon nya lebih cepat stabil.


"Nai,, sayang dengarkan aku" Endra menahan Naina yang mencoba turun dari ranjang, semua makanan yang dipesan oleh Endra sudah tersedia diatas meja lipat dan diletakkan di atas ranjang.

__ADS_1


"Jangan terbebani dengan apapun, kamu hanya harus berbahagia bersamaku" ujar Endra lalu memeluk Naina.


Dalam pelukan suaminya, Naina menangis penuh kesedihan, bagaimana mungkin dia tidak kepikiran dengan masalah sebesar ini.


__ADS_2