Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Wanita Gratisan


__ADS_3

"Kenapa kamu membukanya?" ujar Endra pada Suseno


Suseno tidak menjawab, dia masih kesal karena Endra mengerjainya tadi, tidak ada rencana kalau Suseno akan bermain bersama Sindi, karena dia sudah mempunyai kekasih yang rutin memberinya jatah.


"Roni!!" pekik Sindi melihat yang dibawah selimut itu ternyata adalah kekasih gelapnya, tangan dan kaki Roni terikat pada ranjang dan mulut nya ditutup lakban, Sindi langsung menolong Roni dan melepaskan tali yang mengikat Roni.


"Dasar wanita tidak tau di untung!! teriak Roni lalu menampar pipi Sindi


"Aaahhhhh" Sindi terpelanting ke belakang karena kerasnya tamparan dari Roni


"Jangan terlalu banyak drama!" teriak Suseno lalu melemparkan surat perjanjian tertulis itu pada Sindi


"Sudah jelas tertulis disana untuk tidak membocorkan rahasia tentang hal itu, kamu bahkan diberikan uang tutup mulut yang sangat banyak, kenapa kamu membocorkannya kepada orang lain?" ujar Suseno menjelaskan maksud dari dibawanya Sindi ketempat itu.


"Apa kamu malu tuan impoten?" ledek Roni pada Endra dan tersenyum meremehkan, Endra tetap diam tidak menjawab apapun, malah terlihat Suseno yang sangat marah


"Lalu kamu bangga karena punyamu peltu? bahkan kekasih gelap mu begitu mendambakan sentuhan pria lain, tuan Roni,,,, anda menyakiti dan membuang berlian hanya untuk mendapatkan batu kerikil? sungguh sangat disayangkan" ucap Suseno


"Sudahlah Seno, jangan terlalu ikut campur urusan orang lain" ujar Endra lalu bangun dari duduknya


"Nona Sindi, kalau sampai berita ini terus tersebar, aku akan mengambil tindakan tegas" ucap Endra lalu pergi dari sana yang disusul oleh Suseno.


"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan? aku bisa menjelaskan" ucap Sindi dan meraih tangan Roni


"Aku tau siapa kamu, dari awal juga aku sudah bilang, aku hanya memakai rahimmu untuk melahirkan anak laki-laki untukku" jawab Roni cuek, dia lalu membuka celananya


"Sudahlah, layani aku saja, sangat disayangkan kalau kamar ini tidak kita manfaatkan" ucap Roni membuka kakinya dan meminta Sindi untuk melayaninya, Sindi yang sudah menahan hasratnya dari tadi, langsung menuruti kemauan Roni dan langsung bertekuk lutut pada Roni yang duduk dipinggiran ranjang.


"Peltu ini lagi yang harus aku layani, tetapi lumayan dari pada tidak ada yang lain" batin Sindi dan langsung melahap burung Roni.



"Endra, apa kamu mau menjenguk ayahmu?" tanya Suseno yang terus melihat sahabatnya itu terdiam.


Endra takut kalau sampai hal ini bocor dan akan sampai pada ayahnya, dia tidak mau hal itu terulang kembali, sudah cukup mamanya yang menjadi korban.


"Jangan sekarang, nanti hari minggu aku akan kesana seperti biasanya"


"Endra, ini dari salon Naina mengajukan lagi permohonan kerja sama, apakah harus aku sobek lagi?" Endra langsung menoleh dengan cepat dan langsung menanda tangani surat perjanjian kerjasama itu tanpa membacanya lebih dulu.


"Secepatnya atur agar aku bisa cepat bertemu dengan nya, sekarang Intan pasti akan bertindak, jadi lebih aman kalau Naina didekat ku" ucap Endra sambil tersenyum-senyum, melihat hal itu Suseno hanya menghela nafasnya

__ADS_1


"Endra, jangan bikin malu, nanti kamu sendiri yang akan menyesal, tingkah lakumu ini seperti anak kecil, apa kamu tidak merasa malu pada dirimu sendiri?" ucap Suseno mengejek sahabatnya yang sedang kasmaran itu.


"Kamu sendiri kenapa tadi takut pada wanita itu, kamu pikir itu tidak memalukan?"


"Apa kamu tidak lihat kalau aku tidak kekurangan belaian, aku mendapatkan nya tiap malam minggu, jadi wanita tadi bukan level diriku" jawab Suseno dengan bangganya


"Kamu ini, merusak anak orang, kapan kamu akan menikah?" tanya Endra


"Dia tidak mau menikah, dan lebih memilih seperti ini, dia belum mau terikat"



Endra dan Suseno mengobrol santai diperjalanan itu sampai menuju kantor.


"Cepat hubungi Naina untuk membicarakan tentang kerja sama itu"


"Baik tuan" jawab Suseno yang sudah bersikap formal lagi karena sudah sampai kantor.



POV Ningsih


Ningsih dan Putra kembali bertemu di sebuah hotel, mereka berpelukan setelah melakukan cocok tanam,


"Kalau kamu sudah siap, tentu saja secepatnya karena aku hanya menunggu kesiapan dirimu"


"Keluargaku dan kakakku sudah pasti akan terus melarang, kita langsung menikah saja bagaimana? kalau kita sudah menikah mereka tidak akan bisa apa-apa lagi" ucap Ningsih lalu kembali memainkan burung Putra


"Kenapa sekarang kamu sangat ganas sekali?" ujar Putra lalu menyodorkan burung nya pada Ningsih, dengan senang hati Ningsih langsung memainkan nya dengan penuh nafsu, mereka terus melenguh merasakan kenikmatan satu sama lain.


"Mungkin ini efek hormon progesteron yang sedang meningkat pada ibu hamil, aku jadi merasa ingin terus" ucap Ningsih saat ini dia yang berada di atas untuk menggoyang kekasihnya itu.


"Aku sangat suka seperti ini, lagi pula aku bisa mendapatkan nya secara gratis, dengan wanita lain mereka selalu minta uang tetapi Ningsih dengan suka rela memberikan nya, mana bodynya makin aduhai, dadanya makin berisi, sungguh sangat nikmat yang berlipat-lipat" batin Putra tersenyum simpul memandang wajah Ningsih yang terpejam sambil bergoyang, Putra langsung melahap buah kenyal yang dari tadi bergoyang kesana kemari dengan indahnya karena efek goyangan Ningsih


"Aaauuuuuu, Putra,,, sangat nikmat" ucap Ningsih merasakan lidah Putra yang memainkan buah kembarnya.


Mereka terus berolahraga sampai menjelang sore, karena Ningsih harus pulang sebelum malam hari.


Mereka lalu pulang kerumahnya masing-masing, atau mungkin Putra akan mencari lubang tambahan untuk kembali menghangat kan burungnya.


"Ningsih, dari mana saja kamu? kenapa sekarang kamu sering pergi-pergi, teman yang mana yang sering kamu temui? kenapa tidak sekali-kali ajak temanmu yang main kesini jadi gantian, tidak hanya kamu yang selalu kesana" tanya mama Nimah yang heran melihat Ningsih yang sekarang sering pergi entah kemana, karena Ningsih setiap ditanya tidak menjawab dengan jelas tujuan kepergian nya.

__ADS_1


"Dia pemalu ma, lagi pula dia anak orang kaya, mana mau main kerumah ini" jawab Ningsih sekenanya


"Ningsih, di kamar mu ada kakakmu, dia mengajak kita merayakan sesuatu, kalau tidak salah dia berhasil kontrak kerjasama dengan perusahaan besar" ujar mama Nimah dan meminta Ningsih segera bersiap, Ningsih tentu sangat senang dan langsung menuju kamar.


"Kita mau kemana kak? ke restoran mahal lagi ya?" tanya Ningsih antusias


"Kita akan makan malam di sebuah hotel, sekarang cepat kamu bersiap" ujar Naina lalu keluar kamar agar Ningsih bisa bersiap.


Naina dan keluarganya sudah sampai di sebuah hotel yang sangat mewah, mereka hanya akan makan malam disana, tidak untuk menginap.


Mereka terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis, tidak terlihat kalau kedua anak mereka mempunyai masalah mereka masing-masing yang sama-sama berat.


Ningsih mau ke toilet , tapi tidak mau diantar, di sebuah kamar mandi yang terlihat sepi itu, Ningsih masuk kedalam dan mencari ruang toilet yang kosong, saat Ningsih selesai buang air kecil, dia mendengar ******* yang sangat dia kenal.


"Aaauuucccchhh, kamu nikmat sekali sayangku"


Ningsih kaget mendengarnya, apalagi ini toilet khusus cewek, terdengar lagi suara ******* yang seperti tertahan karena pasangan itu sepertinya tidak mau didengar orang lain.


Ningsih mencoba tidak peduli, karena suara orang bisa saja mirip, dia lalu menyelesaikan urusannya, tetapi saat dia mencuci tangan nya, dia kembali dikagetkan dengan sebuah suara.


"Aaakkkhhhh, kamu begitu nikmat Ningsih"


"Aku bukan Ningsih" ucap sebuah suara wanita


"Maaf sayang, aku kelepasan soalnya tadi aku baru bermain dengannya"


"Enak aku apa enak dia" suara itu terdengar manja disusul lenguhan panjang dari mereka.


"Enak kamu sayang, aku melakukan dengannya hanya karena gratis, aku tidak mau menyia-nyiakan, lagipula kasian kalau tidak ada yang membelainya"


"Kamu sangat nakal sekali, sekarang bayaran ku double karena kita melakukan nya disini, jadi kamu tidak perlu membayar kamar hotel"


"Tentu saja sayangku, aku minta sekali lagi" ucap suara pria yang membuat Ningsih benar-benar menjadi sangat penasaran karena sangat mirip dengan suara Putra.


Kalau menunggu akan sangat lama, Ningsih takut kalau kakak atau orang tuanya mencarinya, akhirnya Ningsih kepikiran dengan suatu ide,


Kring kring kring


Ningsih sangat kaget karena bunyi dering telepon itu benar-benar ada di ruangan toilet itu


"Siapa sih ganggu saja" ucap suara wanita itu

__ADS_1


"Ini wanita gratisan itu, sudah biarkan saja karena nanti dia pasti akan menelepon lagi, dia tidak akan tahan kalau burungku tidak bermain ke lubang nya" telepon lalu terputus.


Ningsih kaget dan menjatuhkan ponselnya, dia terkulai lemas di tembok, tidak menyangka begini nasipnya.


__ADS_2