Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Mainan Baru Intan


__ADS_3

"Ada perlu apa mencari saya?" tanya papa Yanto


"Maaf bapak, apa benar bapak adalah ayah dari nona Naina?"


"Iya benar"


"Nona Naina berada dirumah sakit di kota Melati"


"Apa? bagaimana dia bisa ada disana?"


"Bapak boleh langsung menuju kesana, atau mau saya antarkan sekarang, saya adalah salah satu perawat dirumah sakit itu, nona Naina dirumah sakit tanpa ada wali yang menemani, dan temannya yang meninggal harus segera diurus, tetapi teman nya sebatang kara dilihat dari alamat KTP nya, apa bapak mengenal teman nona Naina yang bernama Tari?"


"Tidak, saya tidak mengenalnya, tuan bolehkah saya dan keluarga ikut bersama tuan untuk kerumah sakit, terimakasih atas bantuannya, saya akan memanggil dulu istri saya"


"Baik bapak, saya akan menunggu disini"


"Ma, Naina berada dirumah sakit, kita harus segera kesana"


"Apa pa? apa yang terjadi padanya?!" mama Nimah kembali terkejut dengan kejadian malang yang terus terjadi pada anaknya


"Naina kecelakaan, Ningsih kamu jangan ikut, jaga rumah dan beristirahat lah" ucap papa Yanto


"Tidak, aku mau ikut" ujar Ningsih


"Jangan membantah Ningsih, nanti atau besok kamu boleh menyusul"


Mereka lalu berangkat kerumah sakit dan langsung menuju ruangan dimana Naina dirawat, terlihat Naina yang masih belum sadar, mama Nimah langsung mendekati nya dan memegang tangan Naina.


"Sayang, Naina anakku,, apa yang telah kamu alami selama ini? kenapa tidak pernah bercerita pada mama, maafkan mama sayang" ucap mama Nimah sambil terisak mencoba menahan tangisannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Naina ma?" tanya papa Yanto


Mama Nimah menceritakan semua kejadian yang baru saja dia ketahui tentang Naina, mereka tidak percaya dengan apa yang dituduhkan oleh mamanya Putra pada anak mereka.


"Roni kurang ajar, kenapa dia begitu tega melakukan hal itu pada Naina, apa itu salah Naina kalau bukan anak laki-laki yang Naina lahirkan? papa akan segera menghajarnya" ujar papa Yanto dan ingin segera pergi dari sana tetapi ditahan mama Nimah


"Sudah pa, kita harus focus dulu pada kesembuhan Naina"




POV Endra


__ADS_1


Setelah melihat kondisi Naina dari kejauhan, Endra meminta pada salah satu pengawal nya untuk menjemput orang tua Naina agar ada yang menjaga Naina, setelah melihat kedatangan kedua orang tua Naina datang, Endra langsung pergi dari sana.



"Kenapa kamu membawa Naina ke rumah utama kalau kamu menyukai nya?" tanya Suseno diperjalanan pergi dari rumah sakit.


"Aku hanya terpesona padanya pada awalnya, aku membawanya karena aku pikir dia tidak akan berhasil"


"Setelah tau kalau dia berhasil membangunkan pedang mu lalu kamu jatuh cinta padanya? apa seperti itu yang kamu pikirkan? hahaha" Suseno tertawa setelah mengucapkan itu.


"Yang kamu rasakan bukan jatuh cinta, kamu hanya mengharapkan tubuhnya" ujar Suseno menambahkan


"Tutup mulutmu!" pekik Endra


"Endra, aku tau kamu belum pernah jatuh cinta, jadi kamu pasti bingung bagaimana rasa jatuh cinta itu, tapi yang aku simpulkan, kamu menginginkan Naina karena dia mampu membuat pedangmu bangun, rasa pedang yang bangun juga sudah sangat lama tidak kamu rasakan, jadi kamu pasti menginginkan itu lagi" ujar Suseno terkekeh.



"Tidak usah malu atau munafik, karena hal itu juga kebutuhan bagi orang dewasa, tapi kamu pikirkan lagi, coba tanya hatimu, kamu benar jatuh cinta padanya, atau hanya menginginkan tubuhnya" ujar Suseno menasehati.



Endra sudah berumur 40 tahun, tapi karena dia tidak pernah tertarik pada wanita, akhirnya dia tidak kunjung menikah, hingga akhirnya ayah Intan yang seorang kolega Ayah Endra yang sangat berpengaruh ingin menjodohkan anaknya dengan Endra.




Setelah pernikahan, barulah Intan tau tentang kondisi Endra, tetapi pernikahan itu tidak mungkin dibatalkan, dan bisnis dari dua keluarga juga langsung melonjak tinggi, bisnis mereka sangat sukses besar jadi tidak mungkin mereka berpisah, mereka saling membutuhkan untuk bisnis keluarga mereka masing-masing.



Intan kesepian dan butuh belaian, tetapi Endra tidak bisa memberikannya, dia akhirnya memutuskan mencari kepuasan dengan pria lain, Endra bukan tidak tau, jelas dia sangat tau tetapi dia membiarkannya, karena Endra sadar dia tidak mampu lagipula memang dia tidak punya perasaan apapun pada Intan jadi dia tidak terlalu memikirkannya.



"Endra, besok ada meeting dengan perusahaan kosmetik yang bernama @Naynana, tetapi owner nya sedang tidak ada ditempat dan akan diwakilkan oleh asistennya, apa tidak masalah buatmu? dan apa kamu tau siapa owner nya?" tanya Suseno yang sudah mulai membuka tas kerjanya dan membuka sebuah map berisi surat pengajuan kontrak kerja sama.



"Kenapa aku harus tau, lupakan saja kerja sama dengan label yang tidak kompeten seperti itu, kalau pemiliknya tidak bertanggung jawab dengan produk nya bagaimana dengan kerja sama kedepannya? sudah langsung blacklist saja" ujar Endra


"Apa kamu yakin?" tanya Suseno


"Baiklah, maaf nona Naina, sepertinya anda belum beruntung" gumam Suseno ingin menyobek kertas perjanjian kerja sama yang dia pegang

__ADS_1


"A, aapa?!" Endra menoleh dan langsung merebut kertas itu, tetapi dengan jahil Suseno langsung menyobek kertas perjanjian kerja sama itu baru memberikan pada Endra.


"Maaf tuan, saya terbiasa bekerja dengan cepat dan tepat" ujar Suseno sambil menahan senyumnya.


Endra menyatukan kertas itu lagi dan membacanya,


"Kenapa kamu sobek?!" teriak Endra


"Bukankah tadi tuan yang meminta saya untuk merobeknya?"


Endra tidak bisa berbicara lagi dan malah menyobek surat itu menjadi lebih kecil, membuat Suseno keheranan karena dia pikir Endra akan memarahinya.


"Jangan terima kalau Naina mengajukan kontrak kerjasama lagi dengan perusahaan kita" ucap Endra lalu menghela nafas panjang dan mengambil minuman yang selalu tersedia di mobil itu.


"Apa maksudmu?" tanya Suseno


Endra diam dan tidak menjawab apapun, entah apa yang dia pikirkan, mereka sampai kerumah utama, rumah dimana selama ini Endra dan Intan tinggal, mereka disambut oleh Intan yang selalu terlihat cantik dan anggun.


"Sayang, kamu baru pulang? aku menunggumu dari tadi" ucap Intan lalu menggandeng tangan suaminya, Endra hanya menurut bahkan saat Intan lalu mengajaknya langsung ke kamar.


"Sayang, ayo kita coba lagi, siapa tau sekarang kita berhasil, sekarang kamu mandi dulu, dan aku juga akan bersiap" perintah Intan pada Endra.



Endra sedikit kaget saat keluar dari kamar mandi, Intan berpenampilan seperti seseorang, Intan langsung menarik tangan suaminya dan langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang, Intan terus berusaha memainkan pedang Endra, tetapi seperti biasanya, pedang itu tidak kunjung terbangun.



Intan mengambil suatu mainan didalam lemari lalu memberikan pada Endra, sesaat Endra terdiam melihat mainan yang Intan berikan kepada nya


"Cepat masukkan sayang, kenapa diam saja, dengan melihat itu nanti kamu pasti kepengen" ucap Intan yakin dan sudah bersiap dengan terlentang.


"Jilat dulu milikku nanti setelahnya masukkan mainan itu" perintah Intan, Endra menurut dan \*\*\*\*\*\*\* milik istrinya, seperti yang dikatakan Intan, tidak lama Endra langsung memasukkan mainan itu kedalam lubang bawah istrinya, dan menggerakkannya naik turun


"Aahhhh sayang, nikmat sekali" desah Intan, Endra terus memainkan mainan baru itu dengan cepat hingga Intan kejang.


Intan bangun setelah merasakan gelombang kenikmatan oleh mainan yang dimainkan oleh Endra, Intan lalu memeriksa milik suaminya dan tetap saja pedang itu terlihat terkulai lemas, Intan terlihat kesal.


"Bahkan mainan ini lebih berguna daripada punyamu" ucap Intan lalu tidur membelakangi Endra.



Endra ke kamar mandi, dia mencuci tangan dan mulutnya merasa jijik dengan apa yang dia lakukan tadi, dia sebenarnya sakit hati dengan ucapan Intan tapi sepertinya hal itu sudah biasa baginya, Endra selalu menurut pada Intan karena saat ini ayahnya menderita penyakit jantung, kalau sampai dia berpisah dengan Intan, ayahnya pasti akan syok, Endra takut terjadi sesuatu pada ayahnya.


Sekelebat bayangan Naina muncul di pikirannya, membuat Endra termenung, dia sudah memutuskan untuk menjauhi Naina, dia tidak mau kalau sampai Naina terluka kembali karenanya.

__ADS_1


__ADS_2