
"Ningsih?"
Naina heran melihat kedatangan Ningsih bahkan tanpa anaknya, mungkin adiknya itu sedang kontrol bekas operasi caesar nya, tetapi tidak terlihat mama Nimah.
"Mana anak kamu?" tanya Naina dan mencoba mencari keberadaan mamanya.
"Tidak kak, aku sengaja datang kesini untuk menjenguk tuan Rayhan, anak aku ada dirumah bersama mama"
Ningsih mendekat ke arah Rayhan, bahkan sedikit menghalangi Naina sehingga membuat Naina mundur dan duduk di kursi sebelah Suseno.
"Jangan panggil tuan, kamu bisa memanggilku ayah seperti kakakmu memanggilku,, aku senang dan merasa bahagia mempunyai banyak anak"
Ningsih sepertinya sangat senang mendengarnya, dia bahkan lebih berani dan terlihat lebih akrab dengan Rayhan dibandingkan Naina, karena dari dulu Naina itu tipe yang apa adanya, cuek dan dingin berbanding terbalik dengan Ningsih yang supel.
Naina tidak merasakan keanehan apapun dengan maksud dari kedatangan Ningsih, walau awalnya dia kaget tapi akhirnya dia berfikir kalau Ningsih datang karena mewakili kedua orang tuanya untuk menjenguk Rayhan.
Naina tidak terlalu memperhatikan apa saja yang sedang di bicarakan oleh Ningsih dan juga Rayhan, karena dia sibuk membuka ponselnya dan yang membuat dia kaget ternyata hari ini adalah hari dimana dia harus mengambil raport anak-anaknya.
"Untung saja jadwalnya terakhir jadi masih ada waktu" batin Naina lalu kembali menyimpan ponselnya, dia tidak menyadari pandangan mata Suseno yang sedari tadi berharap Naina memperhatikan pembicaraan Ningsih dan Rayhan, saat itu Endra sedang keluar ruangan untuk mengambil sarapan.
"Bagaimana Nai?? apa kamu setuju?" tanya Rayhan tiba-tiba yang membuat Naina kebingungan.
"Ningsih adik kamu bersedia menikah dengan Endra, apa kamu juga setuju?" ujar Rayhan menjelaskan, awalnya Naina bingung tetapi dia tersenyum merasa melihat cahaya dalam hidupnya yang kembali lagi setelah sebelumnya gelap karena kelakuan Endra dan juga permintaan dari Rayhan.
Endra yang baru datang membawa banyak kantong berisi makanan juga heran melihat senyum lebar Naina, tidak terkecuali dengan semua yang berada didalam ruangan itu, Rayhan tidak percaya dengan penglihatannya begitu juga Ningsih, sementara Suseno hanya memegangi kepalanya.
"Sudah aku duga ini tidak akan berhasil" gumam Suseno.
"Iya ayah, aku sangat setuju sekali, aku bahagia untukmu sayang ku" Naina terlihat ceria mendekati Ningsih, sungguh membuat yang melihat menjadi takut karena Naina tidak pernah seperti itu selama ini, Ningsih yang adik kandungnya saja tidak pernah melihat Naina bersikap seperti itu.
Naina mencium kepala Ningsih lalu menggenggam tangan Rayhan dan meletakkan nya di kepalanya, Naina berjalan cepat mengambil tas selempang nya yang berisi ponsel yang tadi dia letakkan di kursi sebelah Suseno.
"Bye tuan Seno" Naina masih menunjukkan senyum lebar nan cantiknya berpamitan pada Suseno yang terlihat masih memegangi kepalanya, Naina lalu pamit pada Rayhan dan Ningsih karena akan datang ke sekolah anak-anaknya untuk mengambil raport, Naina melewati Endra didepan pintu yang terlihat masih kebingungan dengan tingkah laku Naina.
"Selamat ya, dan ingat baik-baik setelah ini kamu jangan menganggu diriku lagi, bye-bye" ucap Naina lalu sedikit mendorong tubuh Endra yang menghalangi pintu.
"Mau kemana?!" Endra bertanya tapi Naina tidak perduli dan dengan cepat berjalan pergi, Endra menyimpan semua bawaannya di atas meja lalu bertanya pada Suseno apa yang terjadi.
"Apa yang kalian lakukan, kenapa Naina menjadi menakutkan seperti itu?" Endra merasakan ada sesuatu yang tidak beres sehingga Naina bertingkah diluar kebiasaannya.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Endra karena semua takut dengan reaksi Endra seandainya tau apa yang terjadi, sungguh rencana yang gagal total, mereka pikir Naina tidak akan membiarkan Endra menikah dengan Ningsih karena cemburu, ternyata Naina malah kegirangan.
__ADS_1
"Sungguh berat perjuanganmu, harus mengejar wanita yang benar-benar tidak ada perasaan sedikitpun terhadap dirimu" ucap Rayhan lalu menghembuskan nafas kecewa, dia sengaja meminta Ningsih datang untuk melakukan sandiwara itu karena Ningsih pernah mengatakan pada Suseno kalau dia akan mendekati Endra, tetapi Naina sama sekali tidak perduli akan hal itu.
"Seno, kamu jelaskan pada Endra, karena ini semua kamu yang mempunyai ide" ujar Rayhan yang lalu melihat kearah Ningsih dan merasa bersalah padanya karena telah memanfaatkannya.
"Tidak tuan, saya sudah tau segalanya, pada awalnya saya ingin melakukan hal ini sendiri, mencoba untuk memancing kemarahan atau kecemburuan dari kakak, ternyata sampai seperti ini juga tidak ada pengaruhnya terhadap kakak, dia itu memang seperti es batu yang sangat susah didekati dan berhati dingin, aku tidak tau harus menjelaskan apa padanya kalau ini semua hanya pura-pura" Ningsih mengacak rambutnya karena tidak berhasil menjalankan rencananya.
Endra mendengarkan penjelasan dari Suseno dan sudah pasti Endra sangat marah mendengarnya.
"Ayah, sudah aku katakan jangan lakukan apapun tentang Naina" Endra lalu dengan cepat keluar ruangan untuk mengejar Naina, tetapi dia sudah kehilangan jejak, Endra mencari ke salon kecantikan milik Naina, tetapi tidak ada, begitu juga dirumahnya.
"Apa Naina tidak merasakan apapun dari setiap sentuhan ku padanya? kenapa bisa dia tidak ada rasa sedikitpun padaku" Endra sudah semakin putus asa dalam usahanya mendekati Naina, karena waktu terus berlalu, sementara dia hanya punya waktu satu bulan untuk mendekati Naina sesuai perjanjian Rayhan dan papa Yanto.
Endra datang ke rumah mama Nimah, dari sanalah baru diketahui kalau Naina sedang mengambil raport anak-anaknya, setelah mengetahui keberadaan Naina, Endra langsung saja tancap gas dan segera bergegas untuk menyusul Naina.
Saat tiba di sekolahan anak-anaknya Naina terdengar suara riuh karena ada acara pensi, di acara sekolah yang begitu megah dan meriah serta banyaknya murid dan para wali murid, membuat Endra kesulitan mencari Naina, apalagi ponselnya masih saja tidak diaktifkan.
"Untuk lulusan terbaik tahun ini di raih oleh siswi yang sangat berprestasi di segala bidang yang dia geluti, dari mulai ekskul Basket maupun ekskul Paskibra, walaupun begitu nilai akademiknya tetap terjaga di atas rata-rata, semoga ini menjadi motivasi untuk anak-anak kita semua, siswi ini sangat dekat dengan para guru dan bahkan para pekerja di asrama yang disiapkan oleh sekolah ini bagi yang ingin mencoba hidup mandiri, anak cantik yang selalu bersemangat dan selalu menjadi kebanggaan orang tuanya,, mari kita sambut,, Yaya Setyaningrum putri dari bapak Roni dan ibu Naina,, mohon naik ke atas podium untuk menerima trofi dan juga piala, serta untuk kedua orang tuanya juga diharapkan naik ke atas podium untuk berfoto bersama"
Naina sangat bangga pada anak keduanya, sebelumnya anak pertamanya juga menjadi lulusan terbaik dan sekarang sudah duduk dikelas satu SMA di komplek sekolah yang sama dengan adiknya, Naina kaget saat naik ke atas podium karena terlihat Roni juga menaiki podium, tetapi demi menjaga suasana tetap kondusif, Naina tidak bereaksi apapun dan langsung mendekati anaknya dan memberinya pelukan.
"Good job sayang,, kamu pasti berusaha dan belajar sangat giat, mama tidak mengharapkan ini sayang, mama hanya ingin kamu hidup bahagia" Naina tidak kuasa menahan air matanya saat memeluk anaknya, dia tidak terlalu berharap anaknya menjadi anak yang berprestasi atau apapun itu, karena baginya kebahagiaan anaknya lebih penting dari apapun.
"Mama, kenapa ada papa?" Yaya berbisik pada mamanya, sangat jelas terlihat kalau Yaya tidak menyukai ayahnya.
Setelah acara penyerahan piala selesai, mereka turun dari podium, entah karena kelelahan atau apa, Naina menjadi sedikit oleng saat menuruni tangga, Roni menangkapnya dan membantunya berjalan.
"Berpegangan pada tanganku, akan sangat memalukan kalau kamu terjatuh" bisik Roni mengancam Naina lalu terus menggandeng tangan Naina, Endra yang sudah geram dari awal melihat Roni dan Naina di atas podium langsung mendekati mereka.
"Om,,!" Yaya mendekati Endra dengan senyuman cerianya.
"Lihat lah, aku menjadi murid terbaik, jadi sesuai janji kita, aku masih bisa tetap tinggal di asrama ini, sudah aku bilang aku pasti bisa" Yaya terlihat sangat akrab dengan Endra membuat Naina merasa aneh dan heran, Roni terus memegangi tangan Naina dan tidak mau melepaskannya walau terlihat Naina yang sangat tidak nyaman hanya saja dia tidak mau terjadi keributan yang bisa mencoreng nama baik anaknya di sekolahan.
"Yaya memang anak pintar" Endra mengacungkan jempol pada Yaya tapi pandangan matanya langsung tertuju pada Naina yang terus berusaha melepaskan tangannya dari pegangan tangan Roni, Endra geram melihatnya lalu mendekati Naina, tidak peduli dengan isyarat yang diberikan oleh Naina dengan menggeleng supaya dia tidak melakukan apapun.
"Lepaskan" Endra langsung melepaskan pegangan tangan Roni pada Naina, untuk menghindari kecanggungan dan kejadian yang seperti sudah pasti akan terjadi keributan, Naina langsung mengajak Yaya keluar dari aula sekolah.
"Naina sayang, kita ini keluarga sementara dia orang luar,,," Roni tidak melanjutkan ucapannya karena Yaya sudah mendekatinya.
"Keluarga?? keluarga yang mana maksudnya?? keluarga apa yang hanya bisa menyiksa istrinya setiap hari dan mengasingkan anak-anaknya??!" teriak Yaya menumpahkan semua isi hatinya, Naina kaget mendengar ungkapan hati anaknya dan langsung memeluk anaknya untuk menenangkannya, Naina tidak mau anaknya mengalami masalah kedepannya.
"Tenang Yaya, sabar sayang" Naina berbisik dan memeluk erat anaknya supaya tidak melanjutkan ucapannya supaya tidak terjadi keributan, karena sekarang sudah ada sebagian orang yang melihat mereka, Naina menggeleng pada Endra yang terlihat ingin mendekati Roni, Naina membawa Yaya masuk kedalam asramanya.
__ADS_1
"Yaya tenanglah sayang,," Naina belum melanjutkan ucapannya saat Deva masuk kedalam kamar asrama yang ditempati oleh Yaya.
"Mama, kenapa mama biarkan papa datang?" Deva memeluk adiknya lalu mereka menangis bersama, sepertinya kedua anak itu sangat membenci ayahnya sendiri atau mungkin trauma karena begitu sering melihat mamanya disiksa dan mereka sendiri sering menjadi pelampiasan kemarahan ayah mereka.
Naina ikut menangis melihat anak-anaknya, kedua anaknya saling menguatkan ditempat ini, itulah sebabnya mereka tidak mau pergi dari sini, mereka merasa nyaman dan aman ditempat ini.
"Mama, bukankah mama sudah berpisah dengannya, lalu kenapa dia masih datang kesini?"
"Mama juga tidak tau sayang, sepertinya nomor ponselnya masih menjadi anggota grup sekolah jadi mengetahui semua kegiatan disini"
Setelah anak-anaknya tenang Naina kembali mengajak mereka untuk pulang, apalagi sudah memasuki waktu liburan.
"Aku belum libur ma, besok mendingan nenek saja yang mengambil raport milikku, jangan mama yang datang, nanti orang itu datang lagi"
"Deva,, dia itu tetaplah ayahmu, kalian mungkin membencinya tetapi tidak akan bisa dipungkiri bahwa dia adalah ayahmu, ayah kalian berdua" Naina mencoba memberi pengertian kepada kedua anaknya.
"Apa mama masih mencintainya walau dengan perlakuannya pada mama?" tanya Dena.
"Bukan seperti itu sayang, kalau mama masih mencintainya kenapa mama berpisah dengannya? sudah jangan membicarakan nya lagi, sekarang kalian bereskan baju kalian dan pulang ya" bujuk Naina.
"Tidak mama, kamu ingin disini, lagipula akan ada acara jalan-jalan bersama para pengurus asrama selama liburan ke pulau Bali, dan kami ingin ikut"
"Berlibur bersama mama, selama liburan kalian bisa minta kemana saja akan mama kabulkan" Naina masih tidak menyerah untuk membujuk kedua anaknya, tetapi anak-anaknya masih tetap pada rencana mereka dan tidak mau pulang bersama dengan Naina, hingga akhirnya Naina hanya bisa mengalah dan memberikan tambahan uang saku untuk mereka berlibur, karena hari sudah mulai malam, Naina lalu berpamitan pada anak-anaknya.
Endra dan Roni masih setia menunggu Naina untuk bisa mengantarkan pulang, tetapi Naina lebih memilih naik mobil online yang telah dia pesan sebelum keluar dari kamar asrama anaknya.
Endra dan Roni mengikuti mobil yang dinaiki oleh Naina, mereka awalnya bingung karena Naina memasuki pusat perbelanjaan, tetapi tanpa curiga dengan mobil mereka masing-masing, tetap saja mengikuti mobil yang dinaiki oleh Naina, hingga saat di depan pusat perbelanjaan itu Naina dengan cepat masuk kedalam untuk mengelabuhi kedua orang yang mengikutinya, tetapi dia langsung keluar lewat pintu belakang.
Endra dan Roni terus berusaha mencari keberadaan Naina, hingga pusat perbelanjaan itu hampir tutup tetapi mereka tidak juga menemukan Naina, mereka kembali bertemu di parkiran karena sebagian besar toko sudah tutup, mereka sadar bahwa Naina telah mengecoh mereka.
Endra tertawa frustasi dan merasa sangat bodoh, bahkan Roni yang kembali menghina nya dengan mengatakannya impoten langsung dipukuli tanpa ampun oleh Endra sampai melupakan lengannya yang masih sakit dan kembali mengeluarkan darah.
Endra langsung pergi dari sana saat ada security mendekat, dengan mengebut dia mendatangi rumah Naina, saat sampai kerumah itu terlihat rumah yang sudah sepi dan sebagian lampu sudah dimatikan, Endra mengetuk pintu dengan keras dan berteriak memanggil Naina.
Cukup lama sampai Naina bangun karena kebetulan mulai malam itu asisten rumah tangganya sedang cuti selama tiga hari karena ada acara di kampungnya, Naina membuka jendela tanpa membuka pintu untuk memperingatkan Endra, karena takut para tetangga terganggu dengan kelakuan Endra.
"Jangan berisik, kamu bisa membangunkan orang satu wilayah, ini sudah malam,, cepat kamu pulang" Naina kembali menutup jendela dan tidak berencana membukakan pintu, tetapi Endra terus saja menggedor pintunya semakin keras membuat Naina mau tidak mau membukakan pintu.
Saat pintu terbuka, Endra langsung masuk kedalam lalu langsung masuk kedalam kamar Naina yang terbuka karena tadi Naina tidak sempat menutupnya kembali saat keluar kamar karena terburu-buru melihat siapa yang menggedor pintu.
Naina kesal karena Endra terus saja melakukan sesuatu sekehendak hatinya, Naina tidak masuk kedalam kamarnya dan malah masuk kedalam kamar yang dia siapkan untuk kamar anak-anaknya.
__ADS_1
"Aku tidak mau terus disentuh dan dilecehkan oleh manusia mesum itu" batin Naina saat membuka pintu kamar, tetapi betapa kagetnya dia karena Endra sudah berada dibelakangnya saat dia membuka pintu kamar, lalu dengan tenaganya yang kuat Endra lalu menangkap tubuh Naina, dengan gerakan cepat Endra langsung mencium Naina dan kakinya menutup pintu kamar, Endra mendorong Naina menuju ranjang dan langsung mendorong dan menindih tubuh Naina.
Endra mencengkeram erat tangan Naina supaya tidak bisa berontak, Endra kesal karena dipermainkan oleh Naina hingga dia membuang waktu untuk mencarinya dipusat perbelanjaan, malam ini Endra akan meminta ganti rugi waktu nya yang terbuang.