
Ningsih
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
"Ma,,,, hari ini teman ku ada yang mengadakan acara pernikahan di kota Malang, aku diundang,,, jadi kalau tidak hadir akan sangat tidak nyaman saat suatu hari nanti bertemu, tetapi karena jarak yang jauh, sepertinya harus menginap" Ningsih meminta izin pada mama Nimah untuk menghadiri acara pernikahan temannya.
"Tidak Ningsih, kalau harus menginap lebih baik jangan, akan sangat beresiko buat kamu yang sedang mengandung"
"Tenang ma, aku tidak sendirian, ada banyak yang berangkat dari sini, nanti aku bareng rombongan"
Ningsih terus membujuk mamanya supaya mengizinkannya untuk pergi ke acara pernikahan temannya, walau mama Nimah merasakan suatu firasat yang tidak enak dihatinya, tetapi karena Ningsih terus membujuk dan memohon, pada akhirnya mama Nimah mengizinkan dengan syarat untuk terus memberi kabar.
Mama Nimah memberitahukan kepada Naina tentang Ningsih yang akan pergi ke kota Malang, dan seperti yang sudah diduga, Naina pasti tidak akan mengizinkan dan melarang, mama Nimah tidak mau kembali disalahkan oleh Naina karena keputusannya, seperti dulu memberikan Ningsih izin untuk berpacaran dengan Putra.
Mama Nimah langsung bergegas menuju kamar Ningsih untuk mencegahnya pergi, mama Nimah sekarang lebih mendengarkan apa saran dari anak pertamanya yang ternyata selama ini dibalik diamnya dan terlihat tidak perduli, tetapi menyimpan kepedulian dan kasih sayangnya yang begitu besar pada adiknya, berbeda dengan mama Nimah yang terlalu menuruti segala keinginan Ningsih tanpa memikirkan efek dan akibat jangka panjang nya.
"Ningsih, lebih baik kamu batalkan,,, Ning,,, Ning,, Ningsih!" mama Nimah memasuki kamar Ningsih untuk melarang Ningsih pergi tapi ternyata Ningsih sudah pergi dan tidak pamit terlebih dahulu.
"Naina,,,,!! Ningsih sudah berangkat" mama Nimah dengan paniknya kembali menelfon anak sulungnya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa ma? bukankah mama bilang tadi Ningsih baru meminta izin, apa dia tidak berpamitan sebelum berangkat?'
"Tidak Nai,,, baiklah mama tutup dulu telepon nya, mama mau mengejar Ningsih, semoga dia belum terlalu jauh"
Mama Nimah berusaha mengejar Ningsih, tetapi sepertinya Ningsih sudah terlalu jauh karena saat dicari sampai di depan komplek, sudah tidak terlihat keberadaan Ningsih, mama Nimah kembali menelfon Naina, tetapi kali ini tidak tersambung karena sepertinya Naina sedang sibuk bekerja, Mama Nimah tidak berani untuk memberikan tahukah hal ini pada suaminya, karena pasti dia akan disalahkan.
Sore harinya ketika bapak Yanto pulang dari bekerja sudah pasti menanyakan tentang keberadaan Ningsih.
"Apa?? kenapa mama tidak belajar dari pengalaman? bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya? kita harus menyusulnya!" ujar bapak Yanto lalu kembali keluar rumah untuk segera mencari Ningsih, tidak peduli rasa capek dan lelah karena pulang dari bekerja, bapak Yanto tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya.
"Pah,,,!! memang mau mencari kemana? kota Malang itu sangat luas, kita hanya harus menunggu dan berdoa supaya Ningsih selalu terlindungi dimana pun dia berada"
Ningsih menelepon dengan panggilan video call dan memang terlihat dia yang sedang dalam perjalanan bersama teman-temannya, dan berjanji akan pulang setelah acara selesai, mama Nimah merasa sangat lega karena dari tadi Ningsih tidak bisa dihubungi.
"Maaf ma, tadi aku mencoba mengetuk pintu kamar mama tetapi sepertinya sedang sibuk menelepon kakak, jadi aku tidak mau mengganggu mama, sementara teman-teman aku sudah menunggu lama karena perjalanan yang jauh, takut kemalaman dijalan, maaf ya karena membuat mama khawatir"
Panggilan telepon terputus, tetapi kali ini mama Nimah merasa ada sesuatu yang janggal tetapi tidak membicarakan dengan suaminya karena takut masalah menjadi lebih panjang urusannya.
"Ningsih, mama harap kamu tidak melakukan hal yang diluar batas lagi" batin mama Nimah
__ADS_1
"Ningsih, kamu mau diturunkan dimana?" tanya salah seorang penumpang di mobil yang dia tumpangi.
"Turunkan aku di cafe Melati, jangan lupa saat kalian kembali jumput aku"
Ningsih memasuki sebuah hotel yang tentu saja ada Putra yang telah menunggunya dengan badan polosnya meminta segera untuk diberikan kepuasan.
"Kenapa kamu sangat lama? benarkah kali ini kita bisa menginap?" Putra sudah langsung menyerang Ningsih tanpa malu dengan kondisinya, Putra langsung melucuti semua pakaian Ningsih.
Ningsih tersenyum dan mengangguk, lalu matanya terpejam dengan sejuta perasaan nikmat yang dia rasakan ketika menerima sentuhan Putra yang sudah merajalela di sekujur tubuhnya.
__ADS_1