Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Cinta Suseno


__ADS_3

"Naina!!!" Endra berteriak dan langsung menembak Anton karena dia pikir Anton yang membuat Naina seperti itu, sementara Anton tidak sempat menghindar karena dia juga kaget dengan kejadian yang tiba-tiba terjadi pada Naina.


Naina langsung dibawa kerumah sakit, kondisi didalam rumah Anton sudah sangat kacau, semua sudah diringkus tak terkecuali semua anggota keluarganya, karena ditakutkan semua terlibat, Suseno melihat rekaman video untuk mengetahui apa yang terjadi pada Naina, tetapi kamera itu baru dipasang jadi tidak memperlihatkan kejadian dari awal.


Suseno melihat sebuah ponsel yang berada di ujung lemari yang ada dipojok ruangan itu, posisi ponsel itu seperti sengaja diletakkan disana untuk membuat video secara sembunyi-sembunyi, Suseno memeriksa ponsel itu tetapi tidak bisa terbuka karena menggunakan kode sandi, pada awalnya tidak ada yang mengaku sebagai pemilik dari ponsel tersebut, tetapi Suseno yang sudah tidak sabaran menembak salah satu anak buah Anton membuat yang lain ketakutan dan menunjuk Putra sebagai pemilik dari ponsel tersebut.


Suseno memberi perintah kepada Putra untuk memberitahu kode ponselnya, dan setelah ponsel itu terbuka,, terlihatlah video dari awal saat Naina baru turun dari mobil dan memasuki rumah.


"Kita saksikan bagaimana seekor domba memasuki sarang serigala, sudah terlalu lama kita menunggu kedatangannya, akhirnya datang juga,, dia lebih cantik dari adiknya tetapi tidak tau dengan permainan dan goyangan nya, apakah akan sepintar adiknya atau bahkan lebih,,," Suseno muak melihatnya dan langsung mempercepat video yang direkam oleh Putra.


Sampai pada saat Suseno melihat Naina mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya, saat diperbesar itu terlihat seperti kacang atau entah obat, tidak terlalu kelihatan karena posisi ponsel yang jauh, awalnya ponsel itu terlihat selalu dipegang oleh Putra, tetapi saat Anton meminta untuk mempersiapkan beberapa kamera profesional untuk dipasang diberbagai sudut ruangan itu.


Putra meletakkan ponselnya diujung lemari supaya bisa membantu yang lain memasang kamera profesional, Suseno terlihat sedikit lega karena Naina sama sekali belum disentuh oleh Anton, karena Endra bisa sangat mengamuk kalau sampai hal itu terjadi.


Sebelum polisi datang, Suseno menyimpan ponsel Putra kedalam saku celananya, dia ingin menyimpannya untuk diberikan kepada Endra.


"Bapak kepala polisi Eko yang terhormat" sapa Suseno pada polisi yang baru datang, tidak lama petugas kepolisian lain juga datang tetapi dengan tegas Suseno menjelaskan bahwa kantor polisi yang berada di daerah itu sudah tidak bisa dipercaya lagi karena kepala polisinya diketahui selalu menerima suap dan melakukan tindakan hukum yang tidak sesuai, seperti halnya dengan Anton yang bisa bebas dengan leluasa padahal telah melakukan kejahatan.


Karena tidak bisa lagi mengelak, kepala polisi yang telah membebaskan Anton dan memasukkan orang lain sebagai ganti untuk masuk penjara, akhirnya kepala polisi itu di jatuhi hukuman dan sudah pasti dicopot dari jabatannya.


Suseno segera menuju ke rumah sakit dimana Naina dirawat, nyawanya sudah hampir tidak tertolong lagi, setelah diperiksa,, diketahui bahwa Naina memakan kacang almond yang dibalut dengan sianida, untung saja dosis nya tidak terlalu tinggi dan nyawanya masih bisa diselamatkan.


"Setelah ini, walaupun kamu membenciku ataupun kamu menolak diriku, tetapi aku akan mengurung dirimu supaya tidak melakukan hal bodoh lagi" ucap Endra dengan terus menggenggam tangan Naina.


Tidak lama keluarga Naina datang, Endra langsung pergi bersama Suseno untuk melihat situasi di perusahaannya, sudah bisa dipastikan kalau mereka terlambat, perusahaan telah berhasil di akuisisi oleh pihak keluarga Intan dan Endra hanya mempunyai saham sebesar 49%.


Endra mencoba meredam rasa kecewanya karena walaupun waktu diputar kembali, tetap saja Naina yang akan dia pilih, Endra mengemasi semua barang-barangnya walau dia masih tetap bisa bertahan dan bekerja di sana lagi tapi dia tidak mau menjadi bawahan keluarga Intan.


"Jangan terburu-buru sayang, aku bisa memberikan perusahaan ini sepenuhnya untukmu kalau kamu mau kembali padaku dan tidak menceraikan diriku, lihat dengan mata terbuka Endra sayangku, aku bisa memberikan apapun padamu, dan lihat yang wanita itu berikan untukmu,, hanya kehancuran dan kerugian yang dia berikan" ujar Intan lalu mendekati Endra dan berusaha mencium Endra.


"Enyahlah!!" Endra mendorong Intan.


"Endra, kamu akan menyesali perbuatanmu terhadap ku!" teriak Intan tidak terima dengan perlakuan Endra.


Endra tidak memperdulikan Intan lagi dan dengan cepat pergi setelah selesai membereskan semua barang-barang pribadinya, didalam mobil Suseno sudah menunggunya, melihat Endra yang hanya diam Suseno lalu membicarakan langkah Endra selanjutnya.


"Aku hanya ingin menemani Naina untuk saat ini, aku akan beristirahat dulu dari urusan pekerjaan" jawab Endra lalu melihat ponselnya, Suseno menyerahkan ponsel Putra dan memperlihatkan kejadian saat Naina berada dirumah Anton, Suseno sadar kalau Endra pasti gelisah dengan kondisi Naina.


"Aku pikir dia melakukan itu karena dia,,,, ah sudahlah,, sungguh aku bisa menerima dia apa adanya, aku sadar aku bukan orang suci dan bersih, yang terjadi padaku bahkan lebih gila dari apa yang bisa saja Naina alami, tetapi terimakasih untuk ini" Endra lalu menyerahkan kembali ponsel Putra pada Suseno, tadinya Endra pikir Naina melakukan bunuh diri karena telah dilecehkan oleh Anton tetapi dia sekarang mengetahui bahwa Naina memilih membunuh dirinya dibanding harus menerima pelecehan.


"Naina sudah mempersiapkan segalanya, dia mencoba menjauh darimu dan berencana tinggal di luar negeri, dia berencana membalas dendam pada keluarga Anton karena anak lelaki Anton telah menyakiti adiknya, dengan cara mengancam istri Anton dengan video kejadian saat di hotel dulu, sepertinya dia ingin semua masalah keluarganya selesai sebelum kepergiannya"


Mendengar penjelasan dari Suseno membuat Endra terdiam, dia tidak mengerti harus dengan cara apa supaya Naina mau menerimanya, Endra menyadari kalau yang dia lakukan selama ini terhadap Naina juga termasuk pelecehan, jadi wajar saja kalau Naina mencoba menjauh darinya, karena Naina bahkan memilih bunuh diri karena dia sudah merasa terpojok dengan apa yang dilakukan oleh Anton dan merasa tidak bisa melarikan diri lagi.




"Tuan Endra,," sapa mama Nimah saat melihat Endra datang.


__ADS_1


"Jangan memanggil seperti itu, panggil namaku saja"



"Apa itu sopan? terhadap orang yang selalu menyelamatkan anakku"



"Saya melakukannya untuk diri sendiri, maaf kalau saya lancang, tetapi saya mencintai Naina" Endra memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya, mama Nimah tersenyum, dia merasa sangat terharu dan bahagia, karena anaknya bisa dicintai oleh orang seperti Endra, tetapi seperti yang dikatakan pada Rayhan, mama Nimah tidak bisa menjanjikan apapun, karena itu semua hanya Naina yang bisa memutuskan.



Ningsih mendengar semua percakapan antara mamanya dan juga Endra, dia lalu duduk disebuah kursi yang ada diluar ruangan, Suseno ikut duduk disampingnya.



"Apa kamu menyukai Endra?" tanya Suseno memulai obrolan.



"Wanita normal mana yang tidak suka padanya?" jawab Ningsih santai.



"Kakakmu apakah tidak normal?"




"Seno??" panggil seseorang.



"Vanya" Suseno lalu bangun dan mendekati gadis yang memanggilnya.



"Aku pikir kamu selama ini tidak mempunyai banyak waktu untukku karena kamu sibuk bekerja, tetapi kamu disini bersama dengan wanita ini,, apakah bayi itu adalah milikmu??!!"


"Tidak Vanya, kamu salah paham" Suseno berusaha menghalangi Vanya yang mencoba mendekati Ningsih.



"Sayang,, apa yang terjadi?" seorang lelaki mendekati Vanya dan meraih tubuhnya karena terlihat Vanya yang sedang mengamuk memukuli Suseno.



Ningsih dan Suseno yang masih kaget dengan kedatangan Vanya menjadi semakin kaget dengan kedatangan pria itu.


__ADS_1


"Sayang tenanglah, bayi kita bisa terguncang" ucap pria itu dan terus menenangkan Vanya.



Vanya lalu tertawa walaupun air matanya masih mengalir, dia mencurahkan segala isi hatinya, dia selalu merasa jauh dari Suseno akhir-akhir ini karena kekasihnya itu sibuk dengan pekerjaannya, hingga kedua orang tuanya menjodohkannya dengan orang lain,



"Dua bulan lalu, aku menelepon dirimu untuk meminta bantuan darimu, tetapi bahkan mengangkat telepon pun tidak kamu lakukan, hingga akhirnya aku memilih jalan ini,, aku sangat sedih karena sadar telah mengkhianati dirimu, hidupku tidak tenang, tetapi melihatmu seperti ini, aku sangat lega karena aku bisa lepas dari pria seperti dirimu" Vanya lalu menghapus air matanya, Suseno terhuyung dan ditangkap oleh Ningsih.



Suseno melihat kearah Ningsih dan merangkulnya,


"Kenalkan,, ini calon istriku dan kami akan segera dikaruniai anak, maafkan diriku yang pengecut ini" ucap Suseno.



Pppllaakkkk



Tamparan keras mendarat di pipi Suseno, Vanya langsung pergi dari sana tanpa menoleh sedikitpun, Suseno menatap kepergian Vanya dengan hati yang sangat terluka, dia tidak menyangka akhir dari kisah cintanya akan begitu menyakitkan.



"Apa yang kamu lakukan? kamu bisa menjelaskan padanya bahwa kita tidak ada hubungan apapun, atau biarkan aku yang akan menjelaskan nya" Ningsih langsung bergegas untuk menyusul Vanya, tetapi tangannya ditahan oleh Suseno.



"Biarkan saja seperti ini, dia akan semakin menderita kalau mengetahui hanya dia yang berkhianat, aku yang telah membuat nya dalam situasi seperti ini, biarkan dia berfikir aku yang menghianati terlebih dahulu, dengan begitu dia bisa hidup dengan bahagia setelah ini"



"Tapi kamu,,," Ningsih tidak melanjutkan ucapannya karena papa Yanto datang.



"Apa kakakmu sudah sadar?"


"Belum pa, tetapi masa kritisnya sudah lewat" jawab Ningsih.



Setelah ayahnya masuk kedalam ruangan rawat kakaknya, Ningsih menanyakan sesuatu pada Suseno,


"Apa kak Endra benar-benar menyukai kakakku?" tanya Ningsih pada Suseno.


"Sepertinya begitu, memang nya kenapa??" Suseno balas bertanya.


"Aku akan,,,,"

__ADS_1


__ADS_2