
"Ning, kalau ke pantai sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat, karena suamiku sedang banyak pekerjaan, aku tidak di izinkan untuk pergi sendiri, malam minggu ini ayo kita lakukan double date, kita menonton bioskop bersama di mall" Naina mengirimkan pesan pada Ningsih.
"Baiklah, itu juga sepertinya menyenangkan, aku akan mengajak Reynolds"
"Hey, apa kamu gila? calon suamimu adalah Seno, kenapa kamu mengajak Rey?"
"Aku lebih nyaman dengan Reynolds"
"Kayaknya kepalamu harus segera aku getok, karena sepertinya kamu sudah sangat gila, Rey sudah jelas menolak dirimu, kenapa juga kamu dengan tidak tau malu malahan mendekat padanya? harusnya kamu mendekati Seno yang jelas-jelas mau walau karena ada alasan nya" Naina mencoba memprovokasi adiknya, dia sangat jelas tau kalau Reynolds menyukai Ningsih.
"Tapi kak, aku tidak berani mengajak kak Seno, rasanya seperti ada dinding tinggi yang menghalangi kami, kalau dengan Rey aku sangat mudah akrab, mungkin karena kami seumuran"
"Tidak bisa Ningsih, kamu harus menjaga perasaan calon suamimu, apa nanti yang ayah Rayhan pikirkan saat mengetahui kamu malah lebih dekat dengan Rey dari pada Seno yang sudah jelas adalah calon suamimu, pokoknya ajak Seno, kita langsung ketemuan di mall"
__ADS_1
Naina menyudahi berkirim pesan pada Ningsih karena suaminya pulang lebih awal dari kantornya.
"Sayang, kenapa jam segini sudah pulang?" tanya Naina saat melihat suaminya yang baru datang dan langsung mendekati dirinya.
"Aku haus" jawab Endra singkat lalu langsung menggendong Naina menuju kamar.
Endra sedang melepaskan dahaganya dengan meminum susu murni milik istrinya, Naina terus merintih karena suaminya terus menyentuh setiap inci bagian tubuhnya, ditambah lidah Endra yang terus memainkan gunung kembarnya.
"Bibi pamit dulu ya den, nona" pamit bi Wulan.
"Bi, waktu pulang bibi sama seperti yang lainnya, jadi bibi tidak perlu pamit dulu kepada kami, yang terpenting adalah, semua pekerjaan dan tugas semuanya telah selesai sebelum waktunya pulang" ujar Naina.
"Tidak apa-apa non,, saya juga tinggal sebatang kara di kontrakan, tidak seperti yang lainnya, yang sudah ditunggu para suami atau istri dan anak mereka, sebenarnya bibi lebih nyaman tinggal disini, karena disini ada nona yang selalu mengajak bibi berbicara dikala waktu senggang nona"
__ADS_1
"Apa bibi mau tinggal disini lagi?" tanya Naina, bi Wulan tidak berani menjawab karena dia menyadari bahwa tidak seharusnya dia berbicara seperti itu didepan tuan dan nyonya mudanya itu.
"Tidak sayang, jangan meminta hal itu padaku, bukan karena aku tidak percaya pada bi Wulan, tetapi aku harus mengantisipasi dengan segala sesuatu yang mungkin saja terjadi"
Naina menyenggol lengan Endra karena dia merasa tidak enak dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu, sementara bi Wulan malah tersenyum, karena dia sangat menyadari, bahwa tuan mudanya melakukan hal ini karena begitu sangat menyayangi istrinya, dan tidak mau kembali masuk seorang penyusup.
"Tidak apa-apa nona, bibi sangat paham dengan alasan den Endra melakukan hal ini, baiklah,, bibi pulang dulu, makan malam sudah bibi sediakan" bi Wulan lalu bergegas pulang dengan diantarkan oleh security rumah.
Dirumah Endra dan Naina, terdapat banyak security untuk menjaga rumah, supaya mereka tidak kelelahan dan bisa bekerja dengan lebih maksimal, pergantian penjaga dilakukan dalam enam jam sekali, dan ada tiga orang di setiap shift nya.
Saat makan malam, Naina membicarakan tentang kencan, yang tentu saja langsung disetujui oleh Endra, bahkan meminta saat ini juga untuk berangkat.
"Besok malam saja sayang, besok malam kan malam minggu" ujar Naina, sementara Endra sudah merasa sangat tidak sabar untuk bisa berkencan lagi dengan istrinya.
__ADS_1