Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Kematian Anton


__ADS_3

"Kamu manis sekali" puji Suseno membalas foto yang dikirim oleh Ningsih.


"Kirimkan fotomu juga" pinta Ningsih.


Suseno merapikan rambut dan bajunya, dia berpose dengan berbagai macam gaya, tetapi tidak ada bagus menurutnya, jadi dia terus menghapusnya, hingga dia tanpa sengaja memencet tombol voice note, saat berkeluh kesah dan langsung terkirim ke Ningsih.


"Kenapa aku sangat jelek seperti ini, sementara Ningsih begitu manis" sebelum Suseno menyadari pesan suara itu terkirim, Ningsih telah membuka nya terlebih dahulu.


Ningsih tersenyum tersipu, dia tidak menyangka, dibalik sikap dingin yang Suseno tunjukkan, ternyata dia juga sangat lucu.


"Kamu itu tampan" Ningsih juga membalas dengan pesan suara, Suseno kaget mendengarnya dan baru menyadari kalau tanpa sengaja dia mengirimkan pesan suara, Suseno malu saat menyadarinya, mereka terus berkirim pesan sampai Reynolds menelepon Ningsih.


"Apa yang sedang kamu lakukan? tumben tidak menggangguku lagi?" tanya Reynolds dalam sambungan telepon nya yang sudah diangkat oleh Ningsih.


"Aku tidak mau mengganggumu, bukankah kamu mengatakan bahwa kamu merasa terganggu waktu itu?"


"Aku hanya bercanda, aku suka saat kamu menggangguku"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Reynolds, membuat Ningsih merasa bimbang kembali, dia semakin bingung, siapa yang akan dia pilih, dua-duanya saat ini begitu perhatian padanya.




"Endra, jaga Naina lebih ketat,,, Anton dan Putra melarikan diri dari penjara!" Suseno langsung mengabarkan pada Endra tentang berita yang baru dia dapatkan.



"Apa, bagaimana mungkin?!!" teriak Endra yang menjadi panik karena dia terjebak kemacetan, dia lalu menghubungi rumah tetapi tidak ada jawaban, dan begitu kagetnya dia saat melihat CCTV dirumahnya, karena para pembantu dan pelayannya telah terikat diatas sofa, para pengawal yang menjaga rumahnya telah dikalahkan.



Endra yang panik langsung keluar dari mobil dan berlari menuju rumahnya, tidak lupa dia menghubungi semua pengawalnya.



Reynolds dan Suseno langsung bergerak cepat kerumah Endra setelah mendapatkan kabar dari Endra.



"Kenapa bisa kecolongan seperti ini!!" Suseno frustasi karena masalah kembali muncul, Endra terus berlari dan saat melewati pangkalan ojek, dia langsung menaiki nya sehingga tukang ojek nya yang berada dibelakang.



"Biarkan aku yang didepan, ini darurat dan harus mengebut" Endra dengan cepat melajukan motor tukang ojek itu, dengan cepat dan asal dia menarik uang dari dompetnya untuk diberikan kepada tukang ojek itu.



"Ini kembalian nya pak!" teriak tukang ojeknya, tetapi sudah tentu Endra tidak memperdulikannya, dengan cepat dia membuka pagar dan terlihatlah pemandangan seperti yang tadi terlihat dari ponselnya yang tersambung CCTV rumah nya.



"Nai,,, Naaiii,, Endra langsung berlari mencari istrinya, dia semakin marah saat Naina tidak ditemukan, kamar nya juga sudah sangat berantakan dan acak-acakan, Endra lalu berjalan cepat mendekati para pelayannya yang telah diikat dan menolong salah satunya.



"Dimana nona??!" teriak Endra tidak sabaran setelah melepaskan lakban yang menutupi mulut pelayannya itu.



"Sebelum kejadian datangnya para penjahat itu, nona dan bi Wulan pergi, mereka mengatakan akan pergi ke rumah sakit"



"Rumah sakit mana? apa yang terjadi?!!" Endra semakin panik saat mengetahui bahwa istrinya pergi ke rumah sakit.



"Kami tidak tau" pelayan itu terlihat ketakutan melihat kemarahan Endra.



"Rumah sakit mana?"



"Rumah sakit XZ"



"Apa kalian memberikan informasi itu pada para penjahat tadi?!



"Iya tuan, maafkan kami, mereka menodongkan senjata tajam pada kami"



Tanpa menunggu waktu lama, Endra langsung bergegas menuju ke rumah sakit dimana istrinya berada, mobilnya dia tinggalkan di kemacetan tadi, mobil Naina sepertinya dibawa untuk menuju rumah sakit, Endra lalu memakai motor milik salah satu pengawalnya.



"Aku mohon sayang, jangan sampai kamu bertemu lagi dengan pria jahanam itu" batin Endra lalu terus menambah kecepatan motor yang dia kendarai.



Endra langsung berlari masuk kedalam rumah sakit, bahkan tidak memarkirkan motor yang dia bawa dengan benar, Endra berlari dengan sedikit berteriak, dan bertanya pada bagian pendaftaran pasien.



Awalnya Endra sedikit dihalangi oleh security karena dikira akan melakukan keributan, hingga tiba-tiba terdengar bunyi tembakan dari salah satu ruangan dirumah sakit itu, Endra langsung berlari ke arah asal suara.



"Annttoonnn!!" Endra berteriak saat melihat Anton yang baru saja menembak seorang dokter, Anton tidak terlalu kaget melihat Endra.



"Ternyata kamu cepat juga, rupanya aku salah perhitungan kali ini" ucap Anton lalu mengacungkan senjata pada Endra, untung saja Endra bisa menghindar, para pengawal Endra datang berbarengan dengan datangnya para anak buah Anton yang sepertinya tadi sedang berpencar mencari keberadaan Naina.


__ADS_1


Sudah bisa dipastikan apa yang selanjutnya terjadi, Endra tidak gentar terus mendekati Anton, kesabarannya sudah habis menghadapi lelaki busuk satu ini, yang selalu saja berniat mengganggu istrinya.



"Dimana istriku?!!" Endra langsung menendang perut Anton, sementara yang ditendang seperti tertawa meremehkan.



"Sampai matipun aku akan terus mencari perempuan itu sampai aku bisa merasakannya, jadi kalau kamu mau aku tidak mengganggunya lagi, biarkan lah aku memakai nya sekali saja"



Ucapan Anton benar-benar membuat Endra murka, saat ujung matanya melihat kearah meja dokter dan melihat sebuah gunting, Endra dengan cepat memakai nya untuk dijadikan senjata menghadapi Anton.



Anton sepertinya kali ini sangat kewalahan menghadapi Endra, bahkan pistol yang dipegangnya terlepas dan terjatuh, Endra langsung mengambil nya.



Dor dor dor



Endra tidak pikir panjang lagi untuk melakukan hal itu, sudah terlalu banyak kesempatan yang diberikan pada Anton, tetapi kali ini dia harus menghabisinya karena tidak mau istrinya selalu dalam bahaya karena Anton.



Tiga tembakan bersarang ditubuh lelaki maniak itu, kali ini Endra memastikan sendiri kematian musuh bebuyutannya itu, setelah nya dia langsung keluar untuk mencari keberadaan istrinya.



"Tuan, dirumah sakit ini benar-benar tidak ada pasien yang bernama Naina, kenapa kalian semua tidak percaya" salah satu dokter mendekati Endra untuk memberikan informasi itu, karena sebelumnya Anton menanyakan hal yang sama, jadi dokter itu mengambil kesimpulan kalau Endra juga mencari orang yang sama.



"Tuan, bi Wulan menelepon" salah satu pengawal nya memberikan ponsel pada Endra.



"Iya bi, dimana Naina!?"



"Sayang ini aku, bisakah kamu pulang, rumah kita didatangi penjahat"



"Naina??!"



Endra kaget tetapi juga lega, dia langsung bergegas untuk segera kembali kerumahnya, saat di depan rumah sakit, dia berpapasan dengan para polisi, tapi dia tidak menghiraukan nya dulu, karena saat ini hanya istrinya yang dia pikirkan.



Endra terus mengebut menuju rumah nya, dia bahkan terserempet sebuah mobil hingga tangannya terluka karena terjatuh dengan cepat, tetapi dia tidak menghiraukannya dan langsung kembali bangkit.




Endra begitu lega dan langsung memeluk erat istrinya, untuk bi Wulan sigap mengambil baskom air yang dipegang oleh Naina sehingga tidak tumpah.



"Sayang, jangan menakuti ku lagi, katakan padaku kalau kamu mau pergi kemanapun!!" Endra berteriak karena sangat panik, tanpa sengaja Naina memegang darah di lengan Endra.



"Apa yang terjadi? kenapa kamu terluka?" sekarang Naina yang panik melihat kondisi suaminya, tetapi Endra belum mau melepaskan pelukannya.



"Sayang, maafkan aku, aku meminta tolong pada bi Wulan untuk mengantarkan aku kesebuah rumah sakit untuk memeriksakan kondisiku saat ini, aku tadinya malu kalau harus pergi ke dokter bersama mu?" Naina menjelaskan dan terus membelai lembut punggung suaminya supaya tenang.



"Apa yang membuatmu malu padaku?! setiap malam aku melihat semuanya" Endra yang masih sedikit panik masih saja berbicara keras pada istrinya, para pelayan tersenyum mendengar perkataan Endra, Naina yang malu lalu mencubit pinggang Endra.



"Sayang, kamu tidak terluka kan??" Endra lalu memeriksa istrinya.



"Aku tidak apa-apa, ayo sekarang kita obati dulu lenganmu" Naina menuntun Endra ke sofa lalu mengambil kotak PPPK yang dari tadi sudah ada di atas meja untuk mengobati para pelayan yang juga mendapatkan luka-luka karena melawan Anton dan anak buahnya.



"Sebenarnya tadi pergi kemana? aku kerumah sakit XZ seperti yang dikatakan pelayan, tetapi kamu tidak ada disana" Endra terus memandangi istrinya yang sedang membersihkan luka di lengan nya karena terjatuh tadi.



"Bukan rumah sakit XZ,, disana kan rumah sakit umum, aku kerumah sakit XV yang merupakan rumah sakit khusus kandungan dan ibu hamil"



"Siapa tadi yang mengatakan bahwa nona pergi kerumah sakit XZ!!" Endra berteriak dan mengedarkan pandangannya mencari pelayan itu, tetapi dia tidak paham yang mana karena baju mereka semua sama.



Seorang wanita setengah baya berjalan dengan takut-takut mendekat kearah Endra dan Naina, tangannya bahkan menggigil ketakutan.



"Siapa nama mu?!" tanya Endra yang masih saja tidak bisa menurunkan volume suaranya.



"Panggil dengan sebutan bibi kalau kamu tidak mengetahui namanya, tidak sopan pada yang lebih tua" ujar Naina pada Endra.

__ADS_1



"Iya maaf" jawab Endra pelan, dari jauh bi Wulan tersenyum melihat tuan mudanya menjadi tidak bernyali saat menghadapi istrinya.



"Kalau tidak salah, bibi ini namanya bi Murni, benar kan?" tanya Naina, yang dijawab dengan anggukan berkali-kali oleh bi Murni karena dia masih ketakutan.



"Sayang, bi Murni ketakutan melihat dirimu, sekarang katakan padaku, ada perlu apa? biar aku yang menyampaikan" ucap Naina yang sudah menyelesaikan mengobati lengan Endra yang terluka.



"Aku akan memberikan bonus padanya, karena dia salah menyebutkan nama rumah sakit yang kamu datangi, seandainya dia benar, aku tidak tau lagi apa yang sudah terjadi padamu"



"Sebenarnya ada apa? dan siapa para penjahat itu?" tanya Naina penasaran, Endra tidak menjawab karena tidak mau kalau Naina ketakutan, tetapi tiba-tiba polisi masuk kerumah, dan berniat membawa Endra ke kantor polisi.



"Apa yang terjadi?!" Naina takut dan panik, lalu menghalangi polisi yang berniat membawa suaminya.



"Maaf nona,, tuan Endra telah membunuh seseorang, jadi kami harus menangkapnya"



"Apa maksudnya? siapa yang dibunuh oleh suamiku?"



Saat polisi hendak mengatakan sesuatu, Endra lalu menggeleng dan entah kenapa polisi itu menurut saja, padahal seharusnya Endra yang lebih takut pada polisi yang akan menangkapnya, tetapi polisi itu terlihat segan pada Endra.



"Sayang, tunggu dirumah ayah Rayhan untuk sementara, disana kamu aman" Endra memegangi kedua pipi Naina untuk menenangkannya.



"Apa yang sebenarnya terjadi?" Naina yang takut lalu menangis dan memeluk erat suaminya dan tidak mengizinkannya pergi.



"Sayang,, tenang ya,, aku akan baik-baik saja, aku berjanji untuk segera menjemput mu"



"Tidak,, jangan pergi!!" Naina terus mempererat pelukannya saat Endra hendak bergerak mengikuti polisi.



"Sayang,, kamu percaya padaku?? sekarang ikuti dulu apa yang aku katakan" Endra mencium kening Naina lalu dengan berat hati mengikuti polisi yang datang untuk menangkap nya.



"Tidak apa-apa aku harus mengalami hal ini, yang terpenting kamu sudah aman dari pria busuk itu" batin Endra saat melihat Naina yang terus menangis mengejar nya, tetapi saat ini ditahan oleh bi Wulan.



"Tenang nona,,, percayalah pada den Endra"



"Tapi bibi, sebenarnya ada apa ini? siapa yang dibunuh oleh suamiku,, dia tidak mungkin melakukan kejahatan" Naina semakin keras menangis saat mobil polisi yang membawa Endra sudah tidak terlihat.



Reynolds datang bersama Suseno, sepertinya mereka memang sengaja masuk rumah saat polisi sudah pergi.



"Bi Wulan,, temani Naina kerumah ayah Rayhan" ucap Suseno pada bi Wulan.



"Sebenarnya apa yang terjadi?!" Naina semakin menangis histeris karena dari tadi tidak mendapatkan jawaban, tetapi saat ini, baik Suseno maupun Reynolds juga diam tidak ada yang menjawab apapun.



"Naina,, ikuti Reynolds,, dia yang akan mengantarkan mu ke rumah ayah Rayhan, cepat sekarang" Suseno terlihat sangat serius, karena dia harus segera mencarikan pengacara hebat untuk membela Endra.



Bi Wulan sedikit menarik tangan Naina, karena masih tidak juga mau bergegas pergi.



"Bi,, aku tidak mau pergi ke rumah ayah Rayhan, aku mau ketempat suamiku berada,, Rey,, antarkan aku ke kantor polisi, aku harus menemani suamiku!!" Naina berteriak frustasi.



"Naina,, jangan menyulitkan kami,, cepat ikuti apa yang Endra tadi katakan,, Reynolds,, cepat siapkan mobil, bawa beberapa pengawal" setelah memberi perintah pada Reynolds, Suseno langsung mengambil ponsel nya untuk menghubungi seseorang.



Naina akhirnya menurut, dia berjalan pelan menuju mobil, para pengawal yang tadi dikalahkan oleh Anton dan anak buahnya menundukkan kepalanya saat Naina lewat, mereka sudah babak belur tapi belum juga diobati.



"Kenapa kalian tidak berobat dulu, nanti lukanya infeksi" ujar Naina, hati para pengawal itu tersentuh dengan perhatian dari Naina, sebenarnya mereka sangat malu karena bisa dikalahkan oleh Anton dan anak buahnya, padahal itu bukan salah mereka, karena Anton datang secara tiba-tiba dan membawa banyak anak buah, mereka tidak terbunuh juga sudah sangat beruntung.



Setelah Naina berada ditempat aman, dan Suseno sudah mendapatkan pengacara hebat untuk membela Endra, mereka lega karena masalah cepat selesai, walau belum tau apa yang akan terjadi pada Endra nantinya.



"Mungkinkah Endra akan dihukum berat karena membunuh seseorang?,, semoga pengacara itu bisa diandalkan" batin Suseno sambil membantu merapikan rumah Endra yang berantakan.

__ADS_1


__ADS_2