
"Intan, malam ini ajaklah suamimu untuk menginap di sini, lagi pula ini sudah malam"
"Baik, malam ini kami akan menemani ayah disini" Intan tersenyum lalu mencoba melayani suaminya dengan mengambilkan lauk dan sayur, dia benar-benar sangat pintar dalam bersandiwara, dia berniat mengambil hati ayah mertuanya.
"Ayah akan istirahat terlebih dahulu, kalian selesaikan dulu makan malam nya, setelah itu lakukan apapun sesuka hati kalian, ada Reynolds yang akan merapikan semuanya"
"Siapa dia? seperti nya baru kali ini aku melihatnya?" tanya Endra pada ayahnya
"Dia asisten ayah yang baru, dia selalu membantu bibi yang sudah lelah memasak, dia adalah anak dari adiknya bibi yang bekerja disini"
Intan terlihat sangat salah focus melihat kearah Reynolds, perawakannya yang tinggi besar membuat nafsunya kembali bangkit, apalagi sudah berapa hari ini dia tidak merasakan lahan basah nya di sirami, siang tadi hanya seperti biasanya, Endra hanya bisa melakukan alakadarnya.
"Intan, aku sudah selesai, apa kamu mau aku menunggumu?" tanya Endra sambil membersihkan mulut nya dari makanan yang menempel di bibirnya menggunakan tisu.
"Duluan saja, aku masih belum selesai" jawab Intan acuh bahkan tidak melihat kearah suaminya yang bersiap untuk kembali ke kamar.
"Siapa nama mu tadi?" tanya Intan pada Reynolds yang berdiri di pojokan menunggu untuk mengerjakan tugas nya.
"Reynolds nyonya" jawabnya singkat
Intan terus melihat kearah Reynolds, entah apa yang dipikirkan dan rencana apa yang sedang dia susun, karena dia terlihat tersenyum penuh arti.
"Didalam rumah ini, ada siapa saja penghuninya?" Intan terus mengajak berbicara pada Reynolds sementara tatapan matanya hanya tertuju pada **** ***** pria kekar tersebut yang terlihat menonjol bahkan sebelum dibangunkan, Intan terus saja menelan air liurnya.
"Hanya ada tuan Reyhan, bibi yang bekerja disini dan saya yang membantunya"
"Baiklah, aku sudah selesai, kamu boleh membereskannya" ucap Intan lalu sedikit memundurkan kursinya, tapi dia tidak beranjak dari tempat duduknya dan terus melihat kearah Reynolds yang sedang melakukan tugasnya.
__ADS_1
Saat Reynolds mengambil piring makan bekas dipakai Intan, dengan sengaja Intan menahan paha Reynolds, tentu saja yang empunya paha itu menjadi sangat kaget, tetapi Reynolds juga tidak berani berbuat banyak untuk melawan Intan, karena dia sadar kalau Intan adalah menantu dari majikannya.
"Dimana kamarmu?" tanya Intan sedikit berbisik dan tangannya sudah memegang pedang besar yang dari tadi menjadi focus Intan.
"Maaf nyonya, ini tidak benar, bagaimana kalau tuan Rayhan atau tuan Endra mengetahui hal ini?" Reynolds terlihat ketakutan, tetapi naluri hasratnya tidak bisa berbohong, karena sentuhan dari Intan telah membuat Otong nya mengeras.
Intan tentu senang melihatnya, dengan senyum penuh arti dia meminta Reynolds untuk mengikutinya,
"Lakukan dengan cepat, aku sudah tidak sabar lagi" Intan dengan cepat membuka celana Reynolds, dia membawa asisten rumah tangga mertuanya itu kedalam kamar mandi.
"Ohh wooww amazing, aku benar-benar akan puas malam ini, milikmu sangat besar dan keras, mari kita lihat kekuatannya" ucap Intan dan langsung melahapnya dengan sangat rakus seolah dia sangat kelaparan dan menemukan makanan yang sangat lezat.
Reynolds yang sudah terbakar nafsu birahinya tidak lagi memandang Intan sebagai nyonya yang harus dia hormati, dengan tangan kekarnya dia memegang rambut Intan dan terus menahan kepala Intan supaya terus memainkan Otong nya yang memang sudah lama tidak mendapatkan penyalurannya.
"Eeeeehhmmmm,, eeemmmmmm" suara kenikmatan dari Intan terdengar, membuat Reynolds menarik tubuh wanita yang sedang sangat menikmati makanan penutup nya
"Jangan berisik, nanti ada yang mendengarkan, tahan serangan ku, dan tutup mulut nyonya kalau-kalau nyonya ingin mendesah" bisik Reynolds ditelinga Intan
"Jangan berbangga hati terlebih dahulu, kamu tidak tau siapa diriku, aku bahkan bisa melakukannya dengan banyak pria sekaligus, jadi kalau hanya kamu, bagiku ini hanya untuk mengisi waktu luang saja" jawab Intan seolah mengejek Reynolds.
Reynolds tersenyum dan langsung menunjukkan kebolehannya, dengan sekali hentakan keras dia mampu menembus inti dari tubuh Intan membuat Intan melotot merasakan sakit tetapi penuh rasa sesak di inti tubuhnya, Intan sadar kalau Reynolds ternyata cukup jago karena hanya dengan seperti ini sudah membuat nya merasakan kenikmatan.
Intan benar-benar harus menutup mulutnya, karena permainan Reynolds sangat buas dan liar, bahkan dengan berbagai gaya tetap saja Otong nya masih kokoh menghujani tubuh Intan dengan tusukan, dorongan, dan tentu saja goyangan.
Tok tok tok
"Intan,,,, Intan,,, apa kamu didalam?" Endra mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Apa-apaan dia ini, mengganggu saja" ucap Intan yang masih belum dapat pelepasannya tetapi dia sadar harus menyudahinya terlebih dahulu, Intan lalu keluar dan beralasan kalau saluran kamar mandinya mampet jadi memanggil Reynolds untuk memperbaiki.
"Endra, aku pikir kamu sudah tidur" ucap Intan manja lalu menggandeng suaminya itu dan menariknya ke dalam kamar.
"Ndra,, cepatlah tidur, bukankah besok pagi kamu harus bekerja" sepertinya Intan sudah sangat tidak sabar untuk melanjutkan permainannya dengan Reynolds.
"Apa kamu sedang tidak ingin? bukankah biasanya kamu akan terus memaksaku untuk melakukan sesuatu untuk kepuasan dirimu?" tanya Endra penasaran dan merasa aneh dengan Intan yang terlihat gelisah.
"Tidak sayang, sudah kamu tidur saja dulu, aku merasa sangat kepanasan, jadi aku akan mencuci mukaku terlebih dahulu" Intan lalu masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam kamar itu, untuk sedikit mendinginkan dirinya yang terasa terbakar karena tidak cepat-cepat mendapatkan pelepasan.
Intan keluar dari kamar mandi dan melihat kearah suaminya yang terlihat sudah tidur,
"Dasar pria impoten tidak berguna, bisa-bisanya tidur disaat seperti ini, tapi baguslah karena aku bisa kembali bermain" gumam Intan, setelah memastikan bahwa Endra benar-benar sudah tidur, dia langsung keluar lagi dari kamar untuk mencari Otong milik Reynolds yang terus terbayang-bayang dalam pikirannya.
Intan mencari Reynolds di dapur dan ruang belakang tetapi tidak terlihat keberadaan Reynolds, Intan menjadi sedikit kesal dan tidak sabar, dia memberanikan diri untuk memasuki sebuah kamar kecil yang ada disebelah dapur.
"Nyonya, apa yang nyonya lakukan disini? aku pikir nyonya sedang bertempur dengan tuan Endra dan melupakan milikku yang tidak juga mau tidur dari tadi" Reynolds langsung menarik tubuh Intan dan tanpa permisi langsung kembali menancapkan otong nya pada lahan milik Intan.
"Sebenarnya kamu ini aaappaaa?" Intan mendesah karena terus saja digoyang oleh Reynolds, dia bahkan sudah mendapatkan pelepasannya berkali-kali tetapi Otong milik Reynolds masih saja berdiri kokoh dengan gagahnya.
Hingga saat Reynolds bergerak dengan kecepatan tinggi membuat Intan harus berpegangan erat pada lengan kekar Reynolds, semprotan Reynolds sangat kencang dan begitu derasnya, Intan benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa, dia tersenyum penuh kebahagiaan menatap Reynolds.
"Simpan nomor ponsel ku, aku pasti akan sering menghubungi dirimu, kalau perlu kamu berhenti bekerja disini dan tinggal di rumahku, kamu hanya harus berpura-pura sebagai asisten tetapi tugasmu adalah memuaskan diriku, aku akan memberikan gaji yang besar" ucap Intan setelah membersihkan tubuhnya dari sisa cairan Reynolds yang ada di pahanya dan kembali memakai bajunya.
"Sudah aku katakan nyonya pasti akan mendesah keenakan karena diriku, aku tidak mau meninggalkan rumah ini nyonya, karena orang tuaku banyak berhutang pada keluarga ini, jadi aku harus selalu disini sebagai tanda terima kasih, kalau nyonya membutuhkan kepuasan dariku, aku selalu siap sedia disini"
Intan lalu keluar dari kamar kecil tapi penuh dengan kesenangan dan kenikmatan itu, tetapi dia dikagetkan oleh seseorang yang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"A,, Ayah!!"