Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Reynolds VS Suseno part 2


__ADS_3

"Ada,,, namanya adalah Ningsih" jawab Suseno mantap lalu memandang ke arah Ningsih.


Semua terkejut, bahkan Naina yang sedang minum menjadi keselek, Endra langsung membantu membersihkan bibir Naina, tidak ada yang tidak terkejut, semuanya terkejut.


Ningsih melihat ke arah Suseno dengan pandangan tidak percaya, sementara Reynolds sudah pasti terlihat sangat sedih dan kecewa.


"Jangan bercanda" ujar Ningsih.


"Aku tidak bercanda, pada awalnya memang aku tidak mempunyai perasaan apapun terhadap dirimu, tetapi semakin aku mengetahui siapa dirimu, aku sepertinya telah jatuh cinta, bisakah kita mempercepat pernikahan kita?" Suseno lalu menggenggam tangan Ningsih.


Renata menahan air matanya melihat adegan di depan matanya itu, Reynolds langsung memalingkan wajahnya tidak mau melihatnya, sementara itu Naina yang kekagetannya belum hilang, tiba-tiba berbicara tidak jelas.


"Situasi apa ini, kenapa bisa seperti ini?" ujar Naina lalu menutup mulutnya.


"Sayang diam lah, ini urusan mereka, sekarang ayo kita pulang, aku mempunyai urusan denganmu" bisik Endra lalu mencium pipi istrinya.


Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Endra tanpa berkata apapun langsung menarik tangan istrinya untuk pergi dari tempat itu, sementara Naina yang masih terkejut hanya bisa menurut, mereka lebih dulu pergi meninggalkan empat manusia yang terlibat cinta rumit itu.


"Bagaimana bisa, aaaahhhhhhh,, sangat manis sekali, Ningsih mendapatkan pernyataan cinta seperti itu, tetapi bagaimana dengan Rey, kasian sekali dia, lalu Renata juga,, kenapa cinta mereka sangat rumit" Naina heboh sendiri saat sudah masuk kedalam mobil, Endra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat istrinya.


"Menurutmu siapa yang harusnya dipilih Ningsih? Suseno dan Reynolds sama-sama tampan dan mempesona, pasti Ningsih bingung memilihnya, aaaa aaaaaa,, ih lucu banget deh" Naina terus berbicara tanpa melihat kearah suaminya yang mukanya sudah sangat terlihat asam karena tidak suka istrinya membicarakan tentang pria lain.


"Kalau aku sih pilih Rey, dia tinggi besar dan tampan, yang paling penting Alfin menyukai Rey, tapi Seno juga kandidat kuat, sifatnya yang dingin dan jutek bikin penasaran,, aaaakkkhhh" Naina yang dari tadi tidak berhenti berbicara, tiba-tiba dikagetkan dengan mobil yang berhenti mendadak.


"Katakan lagi siapa yang tampan, dan siapa yang bikin penasaran?" tanya Endra yang telah membuka sabuk pengaman nya dan menarik tubuh Naina mendekat ke arah nya, terlihat Endra yang sangat cemburu.


"Rey sangat tampan dan Seno sangat Cool" ujar Naina pelan, masih tidak mengerti situasi yang berbahaya bagi dirinya, apalagi tanpa dia sadari, ternyata mobil mereka berhenti di sebuah pinggir pantai, dan karena ini sudah sangat malam, tempat ini sangat sepi dan gelap.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Naina dengan polos nya.


"Aaaahhhhhhh!!" Naina kaget karena Endra menarik paksa bajunya sehingga kancing atasnya terlepas.


"Sayang, kamu kenapa? ini di tempat,, hheeemmmpppp" Endra melahap habis bibir Naina dan kedua tangannya telah meremas kuat kedua buah kembar istrinya, Naina sedikit kesakitan lalu terus menggelengkan kepalanya supaya ciuman mereka terlepas.


"Sayang sakit, kamu kenapa?" tanya Naina lalu menahan wajah Endra didepan wajahnya, kedua tangan Naina memegangi kedua pipi suaminya.


"Aku tidak suka kamu memuji pria lain, focus lah padaku saja" ujar Endra dengan muka sedihnya, Naina tersenyum melihatnya dan langsung menciumi seluruh wajah suaminya sebelum menjelaskan sesuatu, supaya suaminya berhenti cemburu.


"Rey sangat tampan, Seno mempesona, tetapi suamiku tercinta ini lebih dari itu semua, didalam diri suamiku ada itu semua,, suamiku tampan, mempesona, dan yang pasti, aku sangat mencintainya" ucap Naina lalu mencium lembut bibir suaminya.


"Kita pulang ya sayang, jangan lakukan disini" pinta Naina.


"Tidak mau, kamu sudah membuatku kesal, aku tidak tahan lagi" jawab Endra lalu langsung melahap gunung kembar istrinya yang atasnya telah terbuka karena tadi dia membukanya secara paksa.


"Aku mencintaimu, kamu adalah segalanya bagiku" bisik Naina sambil menahan rasa nikmat karena sentuhan dari suaminya yang terus menuntut meminta lebih, mereka lalu pindah ke jok belakang, Endra dengan ganasnya menghabisi istrinya, mobil mereka terus bergoyang sampai lebih dari tengah malam.


"Aaaahhhh sayang!!" teriak Naina saat mereka menggapai puncak kenikmatan bersama-sama, Endra juga berteriak penuh kenikmatan, tempat yang baru, dengan sensasi yang berbeda, membuat kenikmatan yang biasanya sangat luar biasa, menjadi bertambah berkali-kali lipat.


Naina lemas tak berdaya, Endra memakaikan baju dan celana istrinya, untung didalam mobil itu ada selimut, Endra lalu menyelimuti tubuh Naina dan tidak lupa mencium keningnya.


"Istirahat lah, sekarang ayo kita pulang, sampai rumah aku akan kembali menghukum dirimu" bisik Endra yang membuat Naina kembali membuka matanya, padahal tadi dia sudah hampir terlelap karena kelelahan.


Saat akan berbicara, Endra menutup mulut istrinya dengan mulutnya, tidak memberikan waktu pada istrinya untuk membantah ucapannya, Endra melepaskan ciumannya dengan senyuman puasnya karena bisa membalaskan cemburunya dengan baik dan benar, setidaknya itulah yang dia pikirkan.

__ADS_1


Naina pasrah dan memilih menutup matanya untuk tidur, Endra tersenyum gemas lalu membelai lembut rambut istrinya, Endra memakai pakaiannya, lalu maju ke jok depan untuk menyetir menuju ke rumah mereka.


Naina masih terlelap saat mereka sampai rumah, Endra menggendong istrinya karena tidak mau membangunkan nya, tetapi Naina terbangun karena kaget dengan bunyi pintu mobil tertutup.


"Kenapa tidak membangunkan ku, aku bisa berjalan sendiri,,, turunkan"


"Tidak mau, aku mau menggendong istriku, tidak ada urusannya dengan mu" jawab Endra asal, sepertinya dia tidak malu dilihat para penjaga rumahnya.


"Turunkan aku!" teriak Naina saat sampai di ruang tamu, karena Naina berontak akhirnya dia bisa terlepas dari gendongan Endra, Naina yang masih sangat mengantuk dan lelah langsung merebahkan diri di atas sofa ruang tamu.


"Tidur dikamar sayang" ajak Endra memegangi tangan Naina.


"Tidak mau, aku mau tidur disini, biarkan aku tidur, kalau masuk kedalam kamar, aku pasti tidak akan bisa tidur" jawab Naina lalu kembali memejamkan matanya.


"Aaaakkkhhhh" Naina kaget karena Endra menindih tubuhnya.


"Kamu pikir aku tidak bisa melakukannya disini?" bisik Endra lalu menggigit telinga Naina pelan.


Naina menyesal karena tadi berbicara terlalu banyak tentang Reynolds dan Suseno, kalau tau akan seperti ini, lebih baik tadi dia diam saja.



Setelah kepergian Endra dan Naina, empat anak manusia yang sedang dilanda kebingungan karena cinta, terdiam untuk beberapa saat.



"Aku juga mencintai Ningsih" ucap Reynolds, lalu menatap kearah Ningsih, kekagetan Ningsih belum hilang karena Suseno, sekarang dia kembali dibuat kaget dengan pernyataan cinta dari Reynolds.




"Bukankah kamu menolak perjodohan itu, apa yang kamu katakan barusan?" tanya Suseno heran.



"Karena saat itu aku belum siap, aku belum memikirkan secara baik dan benar, sekarang aku sudah sadar kalau aku mencintai Ningsih" jawab Reynolds mantap.



"Tidak bisa, sudah jelas kalau aku adalah calon suaminya, kamu jangan macam-macam!" Suseno bangkit dari duduknya dan hendak mendekati Reynolds.



"Aku hanya bilang aku mencintainya, aku tidak mau menyesal dengan tidak mengatakannya, bukankah seharusnya kita serahkan semua ini pada Ningsih untuk memilih, dia mempunyai hak untuk itu" ujar Reynolds tidak gentar, dia juga bangkit dari duduknya dan bersiap menghadapi Suseno.



"Diamlah, aku tidak bisa berfikir, aku tidak mengerti, rasa-rasanya kalian sedang mempermainkan diriku, sekarang lebih baik aku pulang, Alfin pasti sudah menunggu" Ningsih meninggalkan tempat itu dan meminta kepada kedua pria tersebut untuk tidak mendekati nya dulu.



"Aku selalu merasa aku tidak pantas untuk dicintai karena masa lalu ku, aku tidak percaya lagi dengan cinta, aku menerima perjodohan yang di lakukan oleh ayah Rayhan, hanya karena ingin mencarikan sosok ayah untuk Alfin, sekarang selesaikan masalah kalian, aku tidak mau ada pertengkaran"

__ADS_1



Setelah Ningsih pergi, Renata juga pamit untuk pulang, dia mengurungkan niatnya untuk menyatakan cinta pada Suseno, karena dia sangat yakin kalau kali ini dia akan ditolak.



Kedua pria itu duduk saling berhadapan, untuk membicarakan masalah mereka, Suseno yang lebih dulu berbicara dan mengatakan kalau dia tidak akan pernah mundur, karena dari awal, dialah yang menerima perjodohan itu.



"Aku tidak akan pernah mundur" ujar Suseno.



"Aku mempunyai perasaan pada Ningsih, jauh sebelum adanya perjodohan itu, hanya saja saat itu aku menolaknya karena aku tidak yakin aku bisa membahagiakan dirinya, tetapi sekarang aku sadar, aku akan menyesalinya kalau tidak mengatakannya, lalu kamu sendiri, awalnya kamu hanya berniat untuk membahagiakan ayah Rayhan, lalu kenapa sekarang kamu mengatakan omong kosong?" Reynolds menatap tajam kearah Suseno, dia benar-benar butuh penjelasan.



"Aku mencintai dirinya setelah tau kepribadiannya, tapi karena kamu juga mencintai nya, sekarang kita hanya harus menerima keputusan Ningsih" Suseno lalu menjabat tangan Reynolds.



Naina benar-benar habis, untuk bergerak pun, badannya terasa sangat berat, Endra tersenyum puas melihat istrinya.


"Lakukanlah lagi, puji lah laki-laki lain, lalu aku akan kembali menghabisi mu" ucap Endra lalu memeluk tubuh Naina, hari semakin siang, Endra membawa Naina ke dalam kamar mandi, mereka mandi bersama untuk membersihkan diri dan supaya badan menjadi segar.


"Hari ini sepertinya aku pulangnya sedikit terlambat karena akan ada banyak meeting penting, kalau butuh sesuatu, jangan ragu meminta pada para pelayan, sekarang aku akan mengambil sarapan untuk mu" Endra yang terlihat sangat bugar, tidak terlihat kelelahan sedikitpun, padahal semalaman dia mengerjai tubuh Naina.


Setelah suaminya berangkat, dengan berjalan perlahan, Naina menuju ke telepon rumah, karena ponselnya belum juga kembali padanya setelah kejadian kaburnya dirinya.


Naina menelepon adiknya untuk menanyakan tentang kejadian semalam setelah dia pergi lebih dulu bersama dengan Endra.


"Reynolds juga menyatakan cinta padaku" ucap Ningsih, yang tentu saja membuat Naina kembali heboh.


"Aku sudah menduganya, karena tatapan Rey padamu, benar-benar tatapan seorang pria pada wanita yang dicintainya, tetapi aku tidak menyangka kalau Seno juga menyatakan cinta padamu, lalu apa yang yang akan kamu lakukan? bukankah sekarang kamu harus secepatnya menentukan pilihan? mereka pasti menunggu keputusan darimu" ujar Naina yang sedari semalam lebih heboh dari Ningsih sendiri.


"Apa aku pantas kak?, apa ini bukan mimpi?, apa mereka benar-benar tidak sedang bercanda padaku?, aku ini adalah wanita hina dan kotor dengan masalalu ku, dan mereka juga mengetahui hal itu, apa mereka cuma ingin mempermainkan diriku?" Ningsih merasa sangat kebingungan.


"Jangan seperti itu Ning,, semua orang kan memang mempunyai masa lalu, baik atau buruknya masa lalu seseorang, bisa berubah di masa depan, asalkan ada niat untuk berubah, sekarang kamu tanyakan pada hatimu, jangan sampai kamu menyesal dan salah pilih" Naina memberikan nasihat pada adiknya.


"Menurut kakak, siapa yang harus aku pilih?" tanya Ningsih.


"Bukan aku yang akan menikahi salah satu dari mereka, jadi sudah sangat jelas kalau aku tidak bisa membantumu dalam hal ini, tanyakan saja pada hatimu sendiri"


"Aku sudah tidak perduli akan cinta, aku hanya butuh sosok ayah untuk Alfin"


"Halah,, jangan munafik lah sama aku, kamu juga pasti butuh enak-enak"


"Kakak ini kalau ngomong,, suka bener, hahaha"


Mereka tertawa bersama, untuk sejenak melupakan masalah mereka masing-masing, setelah cukup lama mengobrol, mereka memutuskan sambungan telepon.


Naina menuju kamar mandi karena merasa sakit perut, dia menyadari sesuatu begitu sampai dikamar mandi, dan Naina tidak kuasa menahan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2