
"Endra,,, Anton kabur!!!"
Suseno bahkan sampai membanting pintu karena begitu tergesa-gesa menyampaikan informasi yang baru dia dapatkan.
"Bagaimana bisa?!!" teriak Endra dengan keras.
"Anton mengambil kesempatan saat para penjaga sedang lengah tadi malam, ada salah satu penjaga yang sedang berulang tahun, mereka lalu minum-minum untuk merayakan, hingga tanpa sengaja salah satu botol alkohol kosong menggelinding kearah Anton, saat itu Anton langsung mengambilnya dan memecahkan botol itu untuk dijadikan senjata melawan para pengawal kita yang selama ini menjaganya, salah satu pengawal kita saat ini kritis di rumah sakit"
"Kenapa tidak langsung melaporkan hal itu?" Endra langsung bangkit dari duduknya dan dengan cepat berlari keluar, dia menyadari Naina dalam masalah besar karena pasti Anton akan kembali menyerang nya.
"Mereka panik, dan berusaha melawan dan mengejar Anton, tetapi mereka kalah karena dalam pengaruh alkohol" Suseno tidak menunggu sopir datang dan dia sendiri yang menyetir mobil menuju rumah sakit dimana Naina dirawat.
"Cepat Seno, kalau kejadiannya sudah tadi malam, dia punya banyak waktu untuk melakukan sesuatu lagi!!" Endra sangat panik dan menghubungi pengawal nya yang berada dirumah sakit tetapi tidak ada jawaban walaupun telepon itu tersambung, hal itu tentu saja membuat nya semakin panik.
Suseno berusaha mengebut karena dia juga sadar kalau Naina pasti dalam masalah besar, dia sebenarnya hanya memperdulikan Endra karena kalau terjadi sesuatu pada Naina, entah apa yang akan terjadi pada Endra, karena hanya Naina lah harapan satu-satunya untuk Endra bisa hidup normal seperti orang lain.
Mereka bahkan tidak memarkirkan mobilnya dengan benar dan langsung berlari memasuki rumah sakit, untung ada security, dengan gerakan cepat Suseno mengambil beberapa lembar uang didalam dompetnya dan langsung memberikan pada security itu untuk memintanya memarkirkan mobilnya dengan benar, lalu segera bergegas berlari menyusul Endra yang sudah langsung berlari menuju ke ruangan Naina.
Bbbrrraakkk
__ADS_1
Pintu dalam kondisi terkunci, dengan cepat Endra lngsung mendobraknya, yang ditakutkan Endra benar terjadi, ranjang itu kosong yang berarti Naina tidak ada di dalam ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara gedoran dari dalam pintu kamar mandi, Endra lngsung membukanya.
Betapa terkejutnya dia karena begitu banyak orang yang harus berdesakan di dalam kamar mandi yang sempit itu, ada dokter dan beberapa perawat serta pengawalnya yang sudah babak belur tidak berdaya, papa Yanto memeluk mama Nimah yang sudah tidak sadarkan diri karena kekurangan oksigen.
Suseno langsung keluar ruangan mencari bantuan tenaga medis, sementara Endra membantu satu persatu orang yang sepertinya sudah lama berada di dalam kamar mandi tersebut, papa Yanto lalu mendekati Endra dan berlutut didepannya dengan memohon setelah mama Nimah mendapatkan pertolongan
"Tuan Endra, tolong selamatkan anak-anak saya" papa Yanto terisak dan melupakan harga dirinya dengan berlutut di depan orang yang baru saja dia kenal, Endra memegang bahu papa Yanto dan membuat nya berdiri, dia tidak nyaman dengan apa yang dilakukan papa Yanto, bagaimanapun papa Yanto lebih tua darinya.
"Ada sekelompok pria yang tiba-tiba menyergap kami tengah malam tadi, sepertinya terdengar keributan juga diluar sebelum mereka menyergap masuk kedalam, entah dimana korban yang diluar mereka sembunyikan, mereka membawa paksa Naina dan Ningsih, saya mohon selamatkan anak-anak saya" papa Yanto memohon pada Endra dengan terus memegangi tangannya.
Suseno masuk ke dalam ruangan dengan membawa rekaman video CCTV, benar saja dugaan mereka kalau ini semua adalah perbuatan Anton, karena Anton terlihat jelas dalam video itu, bahkan dengan sengaja seperti menantang Endra dengan mengacungkan pistol dan jari tengah nya di kamera, seolah tau kalau Endra pasti akan melihat rekaman video itu.
"Cepat kerahkan seluruh pengawal dan terus cari dimana mereka membawa Naina, periksa semua CCTV yang ada di daerah sekitar ini" Endra bergegas pergi bahkan sampai lupa tidak berpamitan kepada papa Yanto.
Endra dan Suseno memeriksa semua CCTV di sekitar rumah sakit, Anton dan anak buahnya terlihat sangat lihai dan tidak mencurigakan saat memasuki rumah sakit, mereka tidak terlihat mencolok dan hanya seperti para pasien disana, membuat security di depan pintu masuk menjadi kecolongan, Anton dan anak buahnya tidak bergerombol dan masuk satu persatu, mereka baru menyergap masuk ke dalam ruangan Naina saat semua orang sudah berkumpul diluar ruangan.
Endra terus berusaha mencari petunjuk dan melihat semua CCTV yang ada di sekitar rumah sakit itu, tetapi pergerakan mobil Anton tidak lagi bisa terdeteksi, Endra frustasi karena tidak mendapatkan petunjuk apapun.
"Apa yang sekarang harus kita lakukan?" tanya Suseno yang juga merasa kesal karena mereka menemui jalan buntu.
__ADS_1
"Kita geledah rumahnya" Endra langsung masuk kedalam mobilnya dan menyetir mobil sendiri tidak menghiraukan larangan dari Suseno, tetapi karena kekhawatiran yang besar membuat Suseno sedikit kasar pada Endra dan menarik nya dari kursi kemudi.
"Endra, tenangkan dirimu terlebih dahulu, kamu bisa celaka kalau terus seperti ini, biarkan aku yang menyetir"
"Bagaimana aku bisa tenang?!!,, Naina pasti sangat ketakutan!!" Endra berteriak histeris, dia mengingat saat menyelamatkan Naina dari Anton saat di hotel, waktu itu untung saja dia datang disaat yang sangat tepat, Endra tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada Naina kalau dia terlambat sedikit saja.
"Kalau kamu celaka, apa kamu bisa menyelamatkan nya??!!,, sekarang duduklah dengan tenang" Suseno lalu menarik tubuh Endra dan memasukkan nya ke kursi belakang, dia sendiri langsung masuk kedalam mobil dan langsung bergegas melaju pergi.
Endra mendapat telepon dari nomor kontak yang tidak dia kenal tetapi tidak seperti biasanya yang pasti akan langsung dia tolak, kali ini tanpa pikir panjang dia langsung mengangkat panggilan telepon itu, Endra merekam pembicaraan itu dan mengeraskan volume ponselnya.
"Tuan, ini saya Lingga salah satu pengawal anda, Anton mempunyai sebuah villa di ujung kota ini, saya sudah mengirimkan alamat nya"
Endra tidak menjawab apa yang dikatakan oleh salah satu pengawalnya, karena dengan cepat dia langsung membuka pesan yang berisikan informasi mengenai alamat lengkap villa milik Anton, Endra meminta pada Suseno untuk segera melaju dengan lebih cepat setelah menyebutkan alamat tempat tujuan mereka.
Villa itu lumayan jauh karena terletak di pinggiran kota dengan sedikit masuk ke area hutan, Suseno lalu menelepon semua pengawal bawahan nya untuk segera menuju villa, karena mereka dari tadi melakukan pencarian secara terpisah.
Endra sungguh sangat gegabah karena tidak mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Suseno, dengan cepat dia langsung menerjang pintu masuk dengan mendobraknya, Endra melihat pemandangan yang sangat tidak pantas di ruangan itu, dimana banyak manusia berbeda jenis kelamin sedang melakukan pesta panas, para wanita berteriak karena terkejut dengan kedatangan Endra yang tiba-tiba, para pria nya langsung membenarkan celananya dan langsung bersiaga dengan senjata mereka masing-masing.
Endra murka dan bergetar ketika melihat pemandangan itu, tapi tiba-tiba ingatan saat dia diculik kembali muncul, Endra terhuyung-huyung dan jatuh berlutut lalu memegangi dadanya yang terasa sangat berat dan sakit.
__ADS_1