Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Sebuah Foto Kenangan


__ADS_3

Naina mundur melihat tatapan mata Endra yang seperti ingin memangsanya, Endra bangun dan langsung membuka pintu dan menyuruh Naina cepat pergi dari sana.


Suseno memeriksa Endra setelah melihat Naina keluar dari ruangan rahasia itu, Suseno kembali mengelus dadanya melihat kondisi sahabat nya yang terlihat sangat menyedihkan itu, Suseno lalu kembali menutup pintunya agar Endra bisa menyelesaikan urusannya.


Setelah cukup lama akhirnya Endra keluar ruangan itu, Suseno langsung memberikan minuman dingin pada Endra dan dengan sedikit meledek sahabat nya itu, Suseno mulai berbicara,


"Tempat itu sangat pas untuk kalian, kenapa kamu malah melepaskan nya dan menderita sendirian, mungkin kah kamu tidak mampu?" ujar Suseno, tetapi Endra tidak menjawab dan hanya menyelesaikan minumnya, saat selesai dia langsung bangkit dari duduknya dan memukulkan botol bekas minuman nya pada kepala Suseno


"Aku bukan predator macam dirimu yang bisa seenaknya menikmati tubuh wanitanya" ujar Endra mencibir Suseno


"Tidak usah berbesar kepala, Naina pasti semakin membencimu, jadi tidak perlu menyebutnya sebagai wanita mu" balas Suseno yang membuat Endra terdiam sesaat lalu kembali memukul kepala Suseno


"Ayo kita kembali bekerja" ujar Endra lalu keluar ruangan


"Tuan Endra, ayah anda meminta untuk anda segera datang ke rumah" lapor sekretaris wanita Endra saat melihat Endra keluar ruangan, mendengar hal itu tentu saja dengan cepat Endra langsung bergegas ke rumah ayahnya.


"Apa ada kabar berita yang aku lewatkan?" tanya Endra pada Suseno saat di perjalanan, dia khawatir ayahnya mengalami sesuatu, Endra langsung berlari saat mobilnya sampai depan rumah ayahnya.


"Ayah,, ayah,,,!!" teriak Endra mencari ayahnya


"Ayah disini anak nakal" ucap ayahnya yang sedang tertawa riang bersama seseorang

__ADS_1


"Kenapa kamu ini anak nakal? kenapa tidak menjawab telepon dari istri tercinta mu, dia sampai harus datang kesini untuk menghilangkan rasa kesepiannya, tetapi ada untungnya juga, ayah jadi bisa berkumpul dengan kalian, cepatlah duduk,, kenapa kamu hanya diam saja di sana?"


"Ayah, apa ada yang sakit?" tanya Endra duduk disebelah ayahnya


"Ayahmu ini sudah tua, apalagi yang bisa terjadi pada ayah, kamu anak nakal kenapa duduk disini? sana di sebelah istrimu yang cantik itu, kamu tidak mau kalau ayah yang duduk bersamanya kan?"


"Ayah, kalau tidak ada yang penting, aku harus kembali bekerja, banyak sekali pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan"


"Endra sayang, apa kamu lupa kalau malam ini adalah ulang tahun mendiang mama, setidaknya kita disini dulu menemani ayah Rayhan supaya tidak terlalu kesepian karena mengingat mama" Intan ikut berbicara, dengan senyuman manisnya dia berusaha menahan Endra dengan bantuan ayah mertuanya


"Istrimu bahkan lebih mengerti dari pada dirimu yang dianggap sebagai anak kesayangan oleh mamamu, terimakasih Intan sayang, malam ini kalian menginap di sini saja, kita akan makan malam bersama, sekarang kalian istirahat lah terlebih dahulu" ujar Rayhan


Endra tidak bisa menolak lagi, dia hanya diam dan menurut, saat Endra bangun dan memasuki sebuah kamar, Intan sudah pasti mengikuti nya, Intan langsung mengunci pintu dan membuka seluruh pakaiannya, dan langsung menyerang Endra.


"Apa aku harus keluar kamar sekarang dan menunjukkan pada ayahmu kalau kamu itu tidak berguna? cepat layani aku atau aku benar-benar akan keluar kamar saat ini juga,, kalau barang milik mu tidak berguna, setidaknya gunakan cara lain" Intan benar-benar haus akan gairah bercinta


Seperti biasa, Endra memuaskan hasrat istrinya menggunakan tangan dan mulutnya, dia terus menahan rasa jijik yang entah kenapa semakin menjadi-jadi saat dia menyentuh tubuh Intan, Endra selalu ingat kalau istrinya itu adalah Salome yang sering memuaskan hasrat nya bersama teman-temannya, dan sering pula menyewa para gigolo yang tentu saja tidak diragukan lagi pelayanannya.


Devan langsung membersihkan diri saat semua sudah selesai sementara Intan tidur dengan nyenyak nya, Endra keluar kamar dan menemui ayahnya yang sedang menonton berita di televisi


"Ayah, apa ada yang ayah inginkan atau butuhkan?" Endra lalu duduk di sebelah ayahnya

__ADS_1


"Ayah hanya mau kamu hidup berbahagia, jangan terlalu bekerja keras, lihatlah ayahmu ini, waktu muda selalu bekerja keras disaat tua ayah kesepian sendirian, dengan begitu tega mamamu pergi meninggalkan kita disini" ayah Endra lalu menghela napasnya dan memandangi wajah anaknya dengan seksama


"Sudahi semuanya Endra, ayah sudah tidak sanggup lagi melihatmu terus seperti ini, saat kamu menderita, ayah lebih menderita, jangan bertahan hanya karena ayah"


Endra kaget mendengar ungkapan hati ayahnya, Endra tidak mengerti kenapa ayahnya bisa tau


"Aku ayahmu, aku tau segalanya, aku hanya bertahan karena berharap semua akan membaik, tetapi sepertinya semua sudah sangat diluar batas, lepaskan saja Endra, ayah tidak mau kamu terus hidup seperti ini, kamu tidak ada bedanya dengan Endra muda yang malang itu, kamu harus menjadi budak nafsu seorang wanita" ayahnya menghapus air matanya lalu berpaling dari Endra, tidak sanggup membayangkan hari-hari yang dilalui anak semata wayangnya.


"Ayah, sejak kapan ayah tau?" Endra menahan air matanya


"Dari awal ayah tau, malam pertama yang biasanya penuh kebahagiaan tetapi untukmu, malam itu menjadi malam permulaan penderitaan yang sama seperti yang pernah kamu lalui dulu, ayah melihatmu menangis disaat keluar dari kamar hotel dimana wanita itu berada, ayah menahan semuanya hanya karena tidak mau kalau mama mu juga mengetahui hal itu" ayah Endra menghela nafas sejenak sebelum memulai kembali menceritakan semuanya


"Pada akhirnya mama mu tau sehingga membuatnya tidak mampu melihat kondisi anak kesayangannya dan lebih memilih pergi, ayah sangat ingin balas dendam pada mereka dan membiarkan dirimu tetap di sana supaya rencana ayah berjalan lancar, tetapi sekarang ayah sadar, ayah tidak boleh egois hanya untuk balas dendam, mama mu pasti mengerti karena bagi mamamu, yang terpenting adalah kebahagiaan mu" ayah Endra tidak bisa lagi menahan air matanya


"Sudahi Endra, hiduplah dengan baik mulai sekarang" ayah Endra lalu melihat ke arah anaknya,


"Tidak masalah kita mengalami kerugian besar, ayah hanya ingin melihat dirimu bahagia diakhir hidup ayah" pungkas ayah Endra lalu kembali fokus menonton televisi untuk mengalihkan perasaannya.


"Ayah,," Endra tidak meneruskan ucapannya lalu kembali ke kamar yang ditempati oleh Intan, terlihat Intan yang masih tidur dengan nyenyak nya setelah kejang berkali-kali karena jari Endra.


"Bersabarlah sebentar lagi saja Endra, karena kamu harus membalas kan dendam mama, kamu harus menghukum mereka semua" batin Endra menatap Intan.

__ADS_1


Endra keluar dari kamar itu dan menuju kamar nya, selama ini dia tidak pernah membawa Intan masuk kedalam kamar nya, yang selama ini Intan tau sebagai kamarnya adalah kamar tamu.


Endra membuka laci dan melihat foto-foto kenangannya saat lulus SMA, tidak ada yang spesial baginya karena saat itu dia masih dalam masa pengobatan karena depresi dengan apa yang menimpanya, Endra memandangi sebuah foto, dia merasa tidak asing dengan foto itu, tidak lama dia lalu mengingat sesuatu dan langsung pergi dari sana tanpa memberi tau pada Intan dan hanya berpamitan pada ayahnya.


__ADS_2