Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Obsesi


__ADS_3

"Kak,, ayolah ke pantai,, Rey mengajakku ke pantai,, aku tidak mungkin menolaknya, tapi aku tidak berani sendiri"


"Apa kamu sudah memutuskan, dan Rey adalah pilihanmu? kenapa kamu pergi ke pantai bersama Rey?!"


"Aku masih sedikit bingung kak"


"Ajak Seno juga, biar adil"


"Tapi kak,,, ini Rey yang mengajak, bagaimana bisa aku mengajak kak Seno juga?"


"Iya juga,, tapi pergi berlibur berdua, itu sepertinya sudah seperti pasangan"


"Maka dari itu kak,, ayo temani aku"


"Tidak Ning,, aku tidak bisa,, kamu saja sendiri,, aku yakin kalau kamu tau apa yang harus kamu lakukan, sudah dulu ya" Naina mematikan panggilan telepon karena melihat Endra yang sudah keluar dari dalam kamar mandi setelah mandi.


Naina sudah menyiapkan baju untuk suaminya, saat menyerahkan pakaian yang dia siapkan, Endra tidak hanya mengambil bajunya, tapi juga menarik tangan Naina.


"Pakaikan" pinta Endra pada istrinya sambil tersenyum menggoda Naina.


"Apa kamu bayi??" tanya Naina, sepertinya hendak menolak keinginan suaminya.


"Iya,, aku adalah bayi besar mu,, aku adalah bayi yang selalu membutuhkan dirimu untuk apapun itu, kamu tau apa yang biasanya disukai oleh bayi?" tanya Endra dengan pandangan matanya mengarah pada dada Naina yang sedikit tersembul, karena Naina belum sempat memakai baju setelah tadi mandi dan hanya memakai jubah mandi yang tali nya tidak terikat kencang, saat tadi Naina hendak memakai baju, Ningsih menelepon jadi Naina focus mengobrol bersama adiknya.


"Aaakkkkkhhhh!" Naina kaget dan berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, karena Endra dengan cepat telah membuka jubah mandi yang Naina pakai, dan dengan mudahnya jubah mandi itu di lemparkan.


"Sayang,, bukankah kamu bilang hari ini ada pekerjaan penting, aaaakkkhhhh sayang sudah" Naina terus merintih karena suaminya telah menyesap gunung kembarnya, tangan yang dia pakai untuk menutupi aset berharga nya tadi telah dicengkeram erat oleh Endra.


"Aku harus mengisi tenaga terlebih dahulu,, bayi harus meminum susu supaya kuat,, lagipula kamu sengaja menggodaku dengan tidak memakai pakaian"


"Bukan seperti itu sayang,, aku belum sempat memakai baju, sekarang lepaskan aku, ayo kita memakai baju bersama"


Tidak mungkin Endra akan melepaskan istrinya begitu saja kalau sudah seperti itu, dengan cepat Endra mendorong tubuh Naina ke arah ranjang.


"Sayang,, nanti kamu terlambat" Naina membelai lembut dada suaminya, sementara Endra sedang memposisikan tubuhnya untuk segera memasuki istrinya.


"Aaagggghhhh!" Naina meremas sprei yang baru diganti setiap paginya, Endra tidak berbicara dan hanya terus memandangi wajah cantik istrinya yang semakin cantik dengan ekspresi nya menahan kenikmatan yang dia berikan.


"Aaaahhh,, aaahhhhhh,, aaahhhhhh,, saaayyanngg!" Naina terus menggelengkan kepalanya karena merasa sebentar lagi dia akan mendapatkan rasa nikmat yang selalu diberikan oleh suaminya.


Wajah cantik Naina terlihat merah merona dan berkeringat, padahal dia belum lama mandi, Endra terus mengerahkan kekuatannya supaya segera selesai, karena Naina terlihat sudah kelelahan.


Endra berguling tanpa melepaskan tubuh mereka yang masih menyatu, membiarkan Naina yang berada diatas tubuhnya, gunung kembar itu terus bergerak seirama gerakan tubuh Naina yang terguncang karena Endra terus menggoyangnya.


"Aakkkkhhhhhh!!" Naina mengejang lalu ambruk ke atas tubuh Endra.


"Tahan sebentar lagi sayang" bisik Endra sambil mendekap erat tubuh Naina, ternyata dia belum juga mencapai puncaknya, rintihan terus terdengar dari mulut Naina yang sudah sangat lemas di pelukan Endra.


Endra kembali berguling hingga Naina kembali dalam kungkungannya, setelah berusaha cukup lama, akhirnya lahan basah Naina kembali dibanjiri oleh Endra, melihat Naina yang tidak mungkin sanggup untuk ke kamar mandi sendiri, tanpa diminta Endra sudah tau apa yang harus dilakukan, setelah membersihkan dirinya dan tidak lupa membersihkan tubuh Naina, Endra kembali menggendong istrinya dan mengambilkan baju sesuai keinginannya.


"Kenapa aku memakai rok sepanjang ini??,, ini pasti gerah sayang"

__ADS_1


"Pakai saja"


Tanpa banyak protes lagi, Naina memakai baju dan rok yang dipilih oleh suaminya, memang dasarnya cantik, mau pakai apapun tetap cantik, Endra jadi kesal melihatnya.


"Diam dikamar dan jangan pernah keluar sebelum aku izinkan, hari ini aku bekerja di sini, jadi banyak orang yang akan datang, jadi dengar baik-baik yang aku ucapkan tadi, jangan keluar dari kamar"


"Tidak sopan sayang,, kalau ada tamu,, apalagi itu klien kamu, masa aku tidak menyapa mereka?"


"Kalau aku bilang tidak ya tidak,, awas saja kalau kamu berani keluar,, aku akan membuatmu tidak bisa bergerak sedikitpun dari ranjang"


Mendengar ancaman suaminya, Naina hanya bisa memanyunkan bibirnya karena kesal dan tidak bisa untuk membantah, walau memang dia masih sakit saat berjalan, setidaknya nanti juga mendingan.


"Aku akan mengambilkan sarapan untuk mu, duduklah dulu" Endra membopong tubuh Naina keatas sofa yang ada di ujung kamar, setelah Endra keluar dari dalam kamar, Naina melihat kearah meja.


"Ini foto-foto yang dia maksudkan?" gumam Naina melihat tumpukan foto polaroid di atas meja, ada fotonya saat memasak, ada juga saat menyiram bunga dan juga foto saat dirinya mengobrol dengan ikan hias.


Naina tersenyum melihat Endra yang bersikap sangat manis, walau mungkin Endra sangat posesif terhadap dirinya tetapi ada sisi manisnya juga.


"Sayang,, sarapan dulu" Endra masuk kedalam kamar membawa nampan berisi makanan untuk istrinya, tetapi Naina bingung karena sarapan nya hanya untuk satu porsi.


"Kenapa?? apa kamu tidak sarapan pagi lebih dulu sebelum bekerja?" tanya Naina sambil mengambil segelas susu hangat yang dibawa oleh Endra, sesaat Naina merasa kalau rasa susunya berbeda, tetapi Naina hanya diam dan tidak mau cerewet hanya karena masalah susu.


"Aku sarapan bersama Seno sambil bekerja,, sepertinya sudah harus dimulai dari sekarang,, habiskan sarapanmu,, setelah selesai beristirahatlah" Endra lalu mencium kening Naina sebelum keluar lagi dari kamar.


"Kenapa aku melihat seolah kamu adalah pelayan Naina? kenapa dia tidak mengambil sarapannya sendiri?" tanya Suseno heran.


"Aku rela menjadi pelayannya seumur hidupku asalkan dia selalu menurut padaku, sudahlah mari bekerja"


"Sudah aku katakan untuk tidak membicarakan tentang istriku,, kamu itu sudah punya calon istri sendiri,, urus sana calon istrimu"


Endra dan Suseno bekerja sambil sarapan, mereka mempelajari berkas-berkas untuk rapat sebentar lagi dengan Arga, karena ingin bertemu dengan Rayhan, Arga meminta untuk rapat kali ini dilakukan dirumah Rayhan.


"Maaf tidak membesuk mu, aku mendengar kamu menolak dibesuk oleh siapapun bahkan oleh istrimu sendiri" ujar Arga setelah dia sampai, sepertinya rapat kali ini tidak layak disebut rapat, karena mereka terlihat santai seperti berkumpul biasa.


"Tidak perlu terlalu memikirkan tentang pekerjaan, hari ini aku meminta untuk bertemu disini karena ingin berjumpa dengan tuan Rayhan, sekaligus berpamitan pada kalian"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Arga, Suseno dan Endra langsung saling pandang, mereka mengira bahwa kerja sama mereka pasti akan segera berakhir.


Tetapi diluar dugaan, ternyata Arga tidak akan memutuskan kontrak kerja sama, dia bahkan kembali memastikan kalau sampai kapanpun mereka akan terus bekerja sama.


"Dimana istri cantikmu?" tanya Arga pada Endra.


"Ada ditempat nya" jawab Endra santai.


"Apa aku tidak boleh menemuinya?"


"Tidak"


"Kamu ternyata begitu manis ya, kalau dilihat dari penampilan mu,, tidak akan ada yang mengira bahwa kamu begitu menyayangi istrimu"


Endra tidak menjawab perkataan Arga dan lebih memilih untuk kembali memeriksa berkas-berkas yang ada didepannya, setelah hampir waktu makan siang, mereka menyelesaikan rapat santai itu, Arga menolak tawaran untuk makan siang bersama, karena dia harus segera berangkat ke luar negeri.

__ADS_1


Sebelum Endra masuk kedalam kamar nya lagi untuk membawakan istrinya makan siang, Suseno mengajaknya berbicara tentang masalahnya dengan Ningsih, sepertinya Suseno ingin meminta saran.


"Apa menurutmu aku lebih baik mundur saja? karena aku merasa cinta Rey lebih besar dari pada cintaku, karena perasaan itu lebih dahulu dirasakan oleh Rey daripada aku"


"Kalau kamu meminta pendapat ku, tentu saja yang akan aku katakan adalah caraku,, dan kamu tau sendiri bagaimana caraku mendapatkan Naina,, aku menghancurkan segala penghalang, dan tidak memperdulikan tentang yang lain,, kamu terlalu perasa dan selalu mengalah,, kepadaku saja dari dulu kamu selalu mengalah tentang apapun,, apa kamu ingat saat mama membuat kan bekal untuk kita berdua yang akan pergi melakukan studi tour??,, saat itu tanpa sengaja aku melupakan bekal ku dan meninggalkan nya,, terapi dengan suka rela kamu memberikan milikmu, padahal aku sangat yakin kalau kamu juga sangat menginginkan bekal buatan mama itu,, saat itu aku sangat egois dan mengambilnya" Endra lalu terdiam sambil menerawang mengingat kejadian itu, Suseno juga terlihat tersenyum kecil mengingat nya.


"Aku selalu merasa kalau kamu adalah adikku dari dulu,, aku sebagai kakak harus selalu mementingkan kepentingan mu lebih dulu, aku tidak merasa terbebani melakukan hal itu, hanya saja memang benar seperti yang kamu katakan, saat itu aku memang menginginkan bekal itu juga, aku hanya bisa melihat saat kamu memakannya,, apakah itu sangat enak?"


"Tentu saja sangat enak, tidak mungkin makanan buatan mama tidak enak,, kalau tidak salah waktu itu mama membuat kan sushi"


"Seandainya mama masih ada, aku akan meminta mama untuk membuat nya lagi" ujar Endra kemudian sambil melihat foto mamanya yang ada di tembok di ruang tamu.


"Kita kembali ke masalah dirimu,, apa yang kamu rencanakan?,, kamu juga berhak bahagia, kalau memang kamu menginginkan Ningsih, kamu kejar dan berusahalah sampai akhir, sehingga kamu tidak akan menyesal dikemudian hari,,, apapun hasilnya nanti, yang penting kamu sudah berusaha"


"Aku mendengar bahwa Rey mengajak Ningsih pergi berlibur ke sebuah pantai, apa aku harus membiarkan nya saja?" tanya Suseno, mereka adalah para pria yang sudah dewasa, tapi dalam hal percintaan, mereka seperti anak remaja yang tidak tau apa yang harus dilakukan.


"Rey ternyata selangkah lebih maju darimu,, sementara kamu hanya disini berkeluh kesah padaku" cibir Endra lalu segera bergegas mengambil makan siang untuk istrinya karena sudah terlambat, Naina pasti sudah menunggunya terlalu lama.


"Tanyakan pada hatimu saja,, hanya saja untuk cinta,, jangan mengalah untuk siapapun" Endra memberi masukan pada Suseno sebelum masuk ke dalam kamar.


"Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Endra saat melihat Naina yang tengah menari mengikuti irama musik yang sedang dia dengarkan, melihat suaminya yang baru datang, Naina lalu mematikan musik dan mendekati Endra untuk membantu membawa nampan.


"Tidak ada,, aku hanya bosan saja, apa semua orang sudah pergi? bolehkah aku keluar dari dalam kamar,, ini sangat membosankan, biasanya aku baru selesai memasak"


"Aku datang sayangku,, saat aku datang maka kamu tidak akan pernah merasakan kebosanan lagi"


Naina tersedak mendengar ucapan suaminya, Endra membantu mengambilkan air minum untuk Naina, Endra memandangi wajah Naina tanpa berkedip, hingga membuat Naina sedikit merasa risih.


"Apa yang kamu lihat?? seperti tidak pernah melihat ku saja"


"Apa yang kamu lakukan terhadap diriku??" tanya Endra lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Naina dan ikut menggigit apel yang sedang di gigit oleh Naina.


"Memang nya apa yang aku lakukan?,, aku hanya terdiam di dalam kamar tanpa melakukan apapun dari tadi" Naina merasa heran dengan pertanyaan suaminya.


"Kamu membuatku tidak bisa menahan hasrat ku saat berdekatan dengan mu,,, kamu membuatku serasa ingin mati saat tidak mengetahui keberadaan mu,, aku juga seperti kehilangan diriku sendiri dan hanya terfokus kepada dirimu"


Mendengar apa yang dikatakan oleh Endra membuat Naina tertawa, dia mengira kalau suaminya sedang menggombal dan merayunya supaya tidak marah karena dia tidak di izinkan keluar.


"Tidak perlu banyak merayu,, aku tidak marah karena kamu melarang ku untuk keluar dari kamar, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menuruti apa yang dikatakan oleh suamiku, kamu sudah memberikan segalanya untuk ku, bahkan dari dulu sebelum aku memberikan hatiku untukmu,, aku juga tau kalau darahmu mengalir dalam diriku, aku tau begitu banyak pengorbanan yang kamu lakukan untuk ku,, jadi sungguh tidak tau diri kalau aku tidak,, akkkkhhhhhh" Naina tidak meneruskan ucapannya karena Endra telah ******* bibirnya.


"Jangan katakan kalau kamu melakukannya karena ingin balas budi,, apa kamu masih tidak mencintai ku?" tanya Endra setelah melepaskan ciumannya, mereka berpandangan dengan bibir masih saling menempel.


"Apa kamu masih meragukan cintaku?" Naina mundur untuk memberikan jarak.


"Jangan menjauh!!" Endra tidak suka istrinya menjauhinya dan langsung menarik Naina dan memeluknya erat.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? kenapa kamu terlihat sangat aneh?" tanya Naina lalu mengusap lembut punggung suaminya.


"Seno sedang berebut cinta Ningsih dengan Rey,, aku membayangkan bagaimana kalau lelaki itu muncul lagi dan merebut mu kembali,, Anton telah aku musnahkan, apa aku juga harus melakukan hal yang sama kalau lelaki itu muncul lagi? Seno merasa kalau Rey lebih mencintai Ningsih,, mungkin karena dia bisa melihatnya,, tapi aku tidak tau pasti seberapa besar cinta lelaki itu padamu" Endra mengingat bahwa Roni begitu terobsesi pada Naina, Endra sepertinya sedikit khawatir kalau obsesi itu dikarenakan cinta yang begitu besar.


Karena Endra juga menyadari saat ini dia merasakannya sendiri, cinta nya yang begitu besar pada Naina membuatnya terkadang melakukan hal yang diluar logika seperti contoh kecilnya saat ini, dia melarang Naina untuk keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2