
"Tuan Endra, nona Naina mengalami kecelakaan" lapor salah satu pengawal nya pada seorang pria yang sedang mengintrogasi Anton, setelah kejadian malam itu, Anton tidak langsung diserahkan kepada polisi tetapi masih disekap oleh Endra, karena kalau di kantor polisi, Endra takut dengan koneksi Anton, bisa saja dia akan cepat bebas lagi.
"Apa kau yang melakukan itu!?" teriak Endra pada Anton, yang ditanya sedikit mengejek dan tertawa
"Aku disini, apa lagi yang bisa aku lakukan, untuk apa kau melakukan ini padaku hanya karena dua wanita murahan itu" ejek Anton yang langsung kembali membuat Anton mendapat bogem mentah dari Endra.
"Perketat pengawasan terhadap nya, aku akan menemui Naina dulu" perintah Endra pada pengawalnya, dia lalu pergi dari sana.
"Apa Naina terluka parah? lalu sudahkah ada kabar siapa yang berniat melukai Naina?" tanya Endra pada Suseno, asisten kepercayaan nya.
"Tuan, sepertinya ini,,,," Suseno tidak melanjutkan ucapan nya.
"Ada apa!? cepat katakan saja"
"Sepertinya ini ulah nyonya Intan" ucap Suseno sedikit ragu.
"Apa kamu bilang? bukankah dia keluar negeri setelah beberapa hari yang lalu?"
"Saya juga kurang paham, dan semoga saja informasi ini tidak benar, nantinya akan menjadi masalah besar kalau sampai ini ulahnya, kedua keluarga besar tuan dan nyonya pasti akan terpecah, tuan Endra, apa sebaiknya anda tidak terlalu mengurusi masalah nona Naina? dia bukan siapa-siapa bagi tuan" ujar Suseno, sepertinya selain menjadi asistennya Endra tetapi mereka juga punya hubungan lain.
"Suseno, jangan lancang, kamu tidak tau kalau Naina spesial untuk ku" ujar Endra.
"Endra, sekarang aku berbicara sebagai temanmu, coba kamu pikir baik-baik, Intan akan terus melukai Naina, dan kita tau benar kalau kamu tidak bisa melawan Intan apalagi keluarganya"
Endra terdiam mendengar ucapan Suseno, tetapi dia tidak bisa berdiam diri melihat Naina mendapat masalah, sejak pertemuan pertama nya dengan Naina, dia sudah terpesona pada keberanian Naina, sepertinya Endra jatuh cinta pada Naina, rasa yang belum pernah dia rasakan.
Setelah kejadian dirinya diculik yang setiap saat dia harus melayani wanita yang menculiknya bahkan wanita itu sering membawa teman-temannya untuk dipuaskan olehnya, membuat Endra benci dengan wanita dan juga hubungan ****.
Flashback
__ADS_1
Endra muda yang masih bersekolah kelas 10 di SMA, tetapi dia mempunyai postur tubuh yang sempura, dia juga mengikuti ekskul basket dan menjadi idola semua cewek di sekolah, saat hari naas itu sopir pribadinya telat menjemput, suasana didepan sekolah juga sudah sepi, saat dia mencoba menghubungi sopirnya, tiba-tiba dia diseret kedalam sebuah mobil oleh dua preman berbadan besar.
"Nyonya lihatlah, apa ini sesuai untuk mangsa kali ini?" tanya preman itu pada wanita yang menggenakan kacamata hitamnya walau berada didalam mobil, wanita itu membuka kacamata hitamnya lalu memandangi Endra dari atas sampai bawah.
"Sangat sempurna" jawab wanita itu lalu mobil terus melaju kencang.
Endra dibawa kesebuah villa, dia dimasukkan dalam sebuah kamar, dia disuguhi makanan dan disuruh mandi, tetapi dia menolak itu semua dan mencoba untuk kabur.
"Sayang, ganteng ku, tenanglah sedikit, tante tidak akan menyakitimu, tante hanya ingin bermain dengan mu sebentar saja" ujar wanita itu
Endra terdiam dengan perlakuan lembut wanita itu, Endra digiring keatas ranjang, wanita itu langsung melepaskan celana sekolah Endra, terlihat pedang yang masih terkulai lemas, sepertinya Endra belum pernah menggunakannya untuk memasuki lubang siapapun.
"Tante, apa yang kamu lakukan?!" pekik Endra
"Sayang tenanglah, tante akan membuatmu melayang, bermain bersama tante sangat menyenangkan, sepertinya kamu belum pernah kan bermain seperti ini?" ujar Wanita itu dan langsung bertekuk lutut dibawah Endra dan langsung memainkan pedang Endra.
"Wooww, gantengku sayangku, pedang milikmu begitu indah, maukah kamu memainkan yang lain dengan tante?" ucap wanita itu, Endra hanya diam tidak mengerti, dia dari keluarga terpandang dan berkelas, dia tidak pernah menonton film biru layaknya teman-teman seusianya, kehidupan sehari-hari nya terpantau jadi dia tumbuh menjadi pria polos.
Wanita itu mendorong Endra ke atas ranjang, wanita itu membuka semua bajunya, memberikan buah kembarnya untuk dihisap Endra, tetapi Endra tidak mengerti.
"Dihisap sayang, disedot seperti saat kamu minum susu" ucap wanita itu lembut, wanita itu bersiap memasukkan pedang Endra kedalam miliknya.
"Aahhhh sayangku, milikmu begitu besar, sangat nikmat" wanita itu terus bergoyang membuat Endra mabuk kepayang, dia akhirnya menikmati kenikmatan yang baru kali ini dia rasakan, setelah sekian lama digoyang wanita itu akhirnya pedang Endra memuntahkan lahar nya.
"Aaauuu,, nikmat sekali sayangku!" teriak wanita itu lalu memeluk Endra, setelah itu Endra disuruh mandi.
"Tante, aku mau pulang, pasti orang tua ku bingung mencari ku" ujar Endra.
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi ya sayang, tante masih ingin bermain denganmu, enak kan rasanya bermain dengan tante?" jawab wanita itu, Endra tidak menjawab, itu pengalaman pertama baginya, memang rasa itu belum pernah dia rasakan tetapi dia dipaksa melakukan nya.
"Jeng Rani!" panggil serombongan wanita atau tante-tante memasuki villa itu.
"Katanya kamu mempunyai mainan baru, jangan dimainkan sendiri dong, ajak kita semua" ucap salah satu dari para tante itu.
"Apa ini jeng?" tanya yang lain sambil mendekati Endra dan memegang dagunya.
"Pantas kamu mau menikmati nya sendiri, yang ini sangat gagah dan tampan"
"Bukan seperti itu, aku hanya bermain sebentar tadi, hanya mencicipi" ucap wanita yang menculik Endra
Semua tertawa mendengarnya kecuali Endra yang tidak mengerti apa yang terjadi.
Endra kembali digiring ke kamar, perlawanannya tidak ada gunanya karena lawannya sangat banyak, lebih dari 15 wanita yang mengerubutinya, Endra dipaksa melayani mereka semua, bahkan dia terus dicekoki miras dan obat perangsang yang membuat pedangnya terus menerus berdiri.
Setiap hari dan malam dengan berganti-ganti sekumpulan wanita selalu datang untuk minta kepuasan pada Endra, mereka para wanita yang kebanyakan suaminya sibuk bekerja jadi kebutuhan birahinya tidak tersalurkan, mereka membuat komunitas untuk memangsa para remaja, terkadang menyewa juga pria sewaan saat tidak ada remaja yang menjadi mangsa mereka, karena mereka juga pilih-pilih saat menculik para mangsanya.
Endra sudah hancur mental dan fisiknya, malam itu Endra masih terlentang di ranjang, entah sudah berapa banyak lubang yang terus minta diasah oleh pedangnya, para wanita itu pergi setelah merasa terpuaskan atau kadang ada yang meminta tambah, pedang Endra masih berdiri kokoh, asupan obat perangsang yang terus diberikan kepada Endra membuat hormon nya tidak stabil, Dia hanya bisa terdiam saat para wanita itu terus bergantian menaiki tubuhnya, Endra sungguh sangat lelah.
Flashback End
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
"Tuan, tuan" ucap Suseno membuyarkan lamunan Endra
Endra tersadar dari lamunannya lalu melihat keluar jendela mobil.