Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Membuat Cucu


__ADS_3

"Apa kita akan langsung ke rumah sakit?" tanya Naina saat mereka sudah memasuki mobil, Endra membantu Naina untuk memakai sabuk pengaman nya karena lengannya sepertinya masih sakit karena terlihat Naina yang kesusahan saat memakainya sendiri.


Endra masih diam dan tidak menjawab apapun, dengan focus Endra terus melajukan mobilnya menuju rumah, karena dia mendapat kabar dari Suseno bahwa ayahnya belum sadar, jadi Endra akan mengantarkan Naina lebih dahulu kerumahnya, untung saja dirumah Naina tidak banyak orang, tidak seperti dirumah Rayhan.


"Terimakasih" ucap Naina saat turun dari mobil, tetapi dia kaget karena Endra ikut turun dari mobil.


"Bukankah kamu harus kerumah sakit?" Naina bertanya lagi tetapi Endra masih saja tidak menjawab apapun, saat sampai didalam rumah, Endra langsung duduk di sofa dan memeriksa ponselnya.


"Bukankah sebaiknya kamu menggantikan Suseno untuk menjaga ayah? kasian dia, karena dia juga butuh beristirahat" ujar Naina lalu mengambil minuman di dalam kulkas, dan memberikan salah satunya pada Endra, bukan hanya minuman nya yang diambil oleh Endra, tetapi Naina nya juga ditarik oleh Endra.


"Aaaahhhh" Naina memegangi lengannya yang masih sakit, Endra kaget karena dia melupakan hal itu, Endra lalu meminta maaf pada Naina.


"Kenapa dari tadi kamu terus manyun, apa aku bersalah?" tanya Naina.


"Tidak, aku hanya,,," Endra diam tidak melanjutkan ucapannya, dan mengelus lembut lengan Naina yang sakit.


"Maaf karena aku bertingkah seperti anak kecil" ujar Endra, Naina tersenyum melihat tingkah kekasihnya, ini hal baru untuk mereka, mungkin rasa cemburu juga hal baru.


"Tidak apa-apa, kamu sangat menggemaskan" ucap Naina lalu mengecup bibir Endra sekilas karena dia merasa lapar lalu ingin membuat makanan walau hanya dengan telur, karena dia tadi melihat hanya tinggal telur dan minuman yang ada di kulkas nya, untung lengan Naina yang sakit adalah yang kiri, jadi dia masih bisa bebas menggunakan tangan kanannya.


Naina membuat telur orak-arik, dan menawarkan pada Endra, tetapi Endra merasa aneh dengan makanan yang dimakan oleh Naina.


"Kenapa hancur seperti itu?" tanya Endra mengernyit heran karena melihat telur orak-arik, selama ini Endra makan makanan yang selalu mewah jadi dia tidak terlalu mengenal makanan rumahan.


Naina menyodorkan satu sendok nasi hangat plus telur orak-arik, awal nya Endra ragu karena dia pikir itu telur rusak, tetapi saat memakannya Endra terkejut dengan rasanya, dan malah meminta lagi dan lagi.


"Apa kamu dulunya seorang chef?? kenapa masakan yang kamu buat semuanya enak" tanya Endra setelah selesai makan, atau lebih tepatnya menghabiskan sendiri karena Naina hanya makan sedikit.


"Kamu itu terlalu aneh, telur orak-arik saja tidak tau, aku heran sebenarnya apa sebenarnya yang selama ini kamu makan? ini kan hanya makanan yang sangat sederhana karena gampang membuatnya dan sangat murah"


"Aku makan telur juga, tapi tidak rusak seperti ini"

__ADS_1


"Ini bukan rusak, ini sengaja dihancurkan karena memang namanya telur orak-arik" Naina lalu kembali ke dapur untuk mencuci piring, dia melarang Endra yang akan membantu karena hanya satu piring yang kotor, jadi Naina bisa mengerjakannya sendiri.


"Bersiaplah, ayo kita ke rumah sakit sekalian mengobati lenganmu" ucap Endra yang sudah mengikuti Naina ke dapur, dia ingin menggantikan Suseno untuk menjaga ayahnya.


"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya, lagipula sudah tidak terlalu sakit lagi, ini hanya perlu aku pijat sedikit lalu pakai koyo, lenganku bahkan tidak memar sedikitpun, kamu pergi kerumah sakit saja dulu, kasian Suseno,,, gantikan dia untuk malam ini, dan besok pagi gantian aku yang akan kesana, jadi kamu bisa beristirahat"


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu" Endra mencium kening Naina lalu segera bergegas pergi ke rumah sakit, Naina mengantarkan sampai depan pintu sekalian dia mau mengunci pintu.


"Jaga terus dari jauh, jangan sampai terjadi apapun padanya" ucap Endra menelepon seseorang, sepertinya dia menelfon pengawalnya untuk terus menjaga dan melindungi Naina selama dia tidak berada disisi Naina.


Endra yang telah sampai ke rumah sakit meminta untuk Suseno beristirahat dahulu, karena besok ada pekerjaan kantor yang harus dikerjakan karena dari kemarin mereka sibuk dengan sakitnya Rayhan.


"Apa tuan Arga membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan kita? kenapa kamu tidak menghubungi ku??"


"Tidak, kamu tenang saja, aku sudah mengurus itu, lalu apa penyebar berita-berita itu sudah diketahui dalangnya?


"Seperti dugaan awal kita, semua itu Intan yang melakukannya, dia akan terus mengganggu dirimu dan Naina, lebih baik kita segera menyelesaikannya"


Suseno bergegas pergi setelah Reynolds datang, tadi Suseno meminta Reynolds untuk beristirahat supaya bisa menggantikan dirinya menjaga Rayhan, ternyata sekarang Endra yang ingin menjaga ayahnya, tetapi Suseno tidak tenang kalau meninggalkan Endra sendiri disana tanpa pengawalan yang dipercayai oleh Suseno dan hanya bersama pengawal biasa.


Suseno merasa senasib dengan Reynolds, mereka sama-sama berasal dari keluarga tidak mampu yang diangkat derajatnya oleh keluarga Endra, jadi mereka akan mengabdi pada keluarga Endra sampai titik darah penghabisan.


"Jaga dia, jangan sampai terjadi apapun padanya, dan laporkan setiap ada kejadian apapun" bisik Suseno pada Reynolds.


Reynolds berdiri bersama para pengawal Rayhan yang lain, tetapi Endra meminta Reynolds untuk duduk disampingnya, Endra semakin dekat dengan Reynolds karena pemuda itu telah membantu nya dalam menjebak Intan.


Endra memang baru mengenal Reynolds, sementara dengan Suseno dia sudah mengenal dari saat mereka masih muda dan sekolah, tetapi Endra sadar kalau Reynolds begitu tulus membantu nya terutama membantu ayahnya.


"Apa yang ayah lakukan sehingga kamu begitu patuh pada ayah?" tanya Endra pada Reynolds.


"Tuan membantu usaha ayah saya yang hanya berjualan gorengan dipinggir jalan, tuan juga selalu membantu biaya pengobatan ibu yang tidak sedikit, karena beliau dulunya mempunyai penyakit parah, setelah kepergian ibu saya untuk selama-lamanya,,, saya diminta ayah untuk selalu menjaga tuan Rayhan, bahkan dulunya juga tidak lupa tuan Rayhan selalu membantu biaya sekolah saya,, mungkin keluarga saya sudah menggelandang dari dulu tanpa bantuan dari tuan Rayhan"

__ADS_1


Endra manggut-manggut mengerti, dia menyadari kalau ayahnya begitu banyak membantu orang lain sehingga banyak juga yang sekarang membantunya bahkan menyayanginya, Endra juga beruntung mempunyai ayah seperti Rayhan, dia jadi dikelilingi oleh orang baik seperti Suseno dan Reynolds.


"Ayah, cepatnya sadar,, Naina sudah menerima perasaanku sepenuhnya, aku berjanji akan memberikan apa yang ayah inginkan selama ini, jadi cepatlah bangun ayah" batin Endra sambil terus melihat kearah ranjang ayahnya.




Naina datang kerumah sakit pagi harinya, dia kembali tidak datang ke salon kecantikannya untuk bekerja, Naina melihat Endra yang ketiduran di samping ranjang ayahnya, Naina membelai lembut rambutnya dan mencium keningnya, Endra terbangun karena sentuhan Naina, sementara Reynolds dan pengawal lain yang melihat adegan itu hanya bisa menunduk tetapi tidak bisa menyembunyikan senyuman mereka.



"Bangunlah,, ini hampir siang,, ini aku bawakan sarapan, kamu sarapan dulu baru pulang untuk membersihkan diri, sekarang aku yang akan menjaga ayah"



Endra bangkit dari duduknya dan menyuruh para pengawal dan Reynolds untuk keluar ruangan, setelah semuanya keluar, Endra mencium Naina dengan cepat dan mendorong tubuhnya ke sofa yang ada diujung ruangan, lalu Endra mengambil rantang makanan yang dipegang oleh Naina dan meletakkan nya dimeja tanpa melepaskan ciumannya.



"Sayang sudah cukup,,, malu sama ayah,,, sekarang ayo sarapan dulu" ucap Naina yang berhasil menggelengkan kepalanya hingga ciuman Endra terlepas.



"Ayah malah akan senang melihatnya, bukankah kamu juga tau kalau ayah menginginkan seorang cucu, bagaimana kalau kita membuat nya segera" ucap Endra tanpa malu, Naina yang sekarang hatinya sudah dipenuhi cinta kepada lelaki dihadapan nya ini menjadi malu dan wajah nya merona merah.



"Wajahmu kenapa memerah?" Endra yang benar-benar sangat tidak berpengalaman dalam hal cinta merasa aneh dengan perubahan wajah Naina, tetapi Naina menjadi semakin malu dan langsung masuk dalam pelukan Endra.


__ADS_1


Terdengar suara benda jatuh, Endra dan Naina kaget lalu langsung menoleh untuk melihat sumber suara, dan betapa terkejutnya dengan apa yang terlihat di depan mata mereka.


__ADS_2