Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Like Father like Son


__ADS_3

POV Ningsih


"Ningsih, ikutlah aku" ucap Putra yang sedang menelfon Ningsih


"Apa maksud kamu? bukankah kamu dulu berjanji akan mengikuti kepercayaan aku? kenapa sekarang kamu meminta ini, dari awal aku tidak pernah bilang akan mengikuti kepercayaan keluarga kalian"


"Ningsih tolonglah, ini demi anak kita, apa kamu tidak malu, perut kamu pasti akan semakin membesar"


"Aku tidak mau, lagipula untuk apa aku mengikuti kalian? kemarin aku dan kakak ku di hina bahkan kakakku di tuduh melakukan hal yang tidak dia lakukan sama sekali, tetapi kamu bahkan tidak sedikitpun menoleh padaku, lalu sekarang kamu seperti ini?"


"Maafkan aku karena tidak membela kamu, aku terlalu panik karena kehilangan ayahku"


"Apa sekarang sudah ditemukan?"


"Belum, tetapi kami terus memperluas pencarian"


"Sudah dulu Putra, sepertinya kakakku pulang"


Ningsih mematikan ponselnya karena mendengar suara mobil kakaknya, dia langsung keluar menemui kakaknya, dia bingung akan menceritakan pada kakaknya kalau Putra menghubunginya atau tidak.


Ningsih sangat mencintai Putra tapi dia tidak mau kalau harus mengikuti kepercayaan keluarga Putra, tetapi seperti yang dikatakan oleh Putra, perutnya pasti akan semakin membesar dia pasti akan menjadi bahan gunjingan orang lain.


"Kakak, boleh kah aku menikah dengan Putra dan mengikuti kepercayaan keluarga mereka?"


"Apa kamu sudah gila, tentu saja itu tidak boleh Ningsih, kenapa sekarang kamu bisa berfikir seperti itu?


"Perut aku akan semakin membesar kak, tidak mungkin bisa disembunyikan lagi, pasti aku dan keluarga kita akan jadi bahan gunjingan"


"Tidak Ningsih, kamu tetap tidak boleh melakukan hal itu"


"Kakak tidak mengerti, dan kakak tidak mau memahami perasaan ku, aku ini sedang hamil kak, aku butuh perhatian dan kasih sayang, bayi ini juga harus dekat dengan ayahnya"


"Ningsih, apa kamu lupa kalau Putra dan mamanya datang dan merendahkan kita tempo hari, apa waktu itu Putra membelamu? kejadian itu disini, bagaimana kalau disana, apa yang akan terjadi padamu, menikah itu akan selalu menemui jalan berliku tidak selamanya mulus, apalagi dari awal hubungan kalian sudah seperti ini"


"Aku sudah dewasa kak, aku tau jalan apa yang akan aku pilih"


Brraaakkkkk


"Apa maksudmu Ningsih?!" teriak mama Nimah yang ternyata tidak sengaja melewati kamar Ningsih dan mendengar yang Ningsih katakan


"Mama, aku tidak mau menjadi bahan gunjingan, tolong biarkan aku mengikuti Putra"


"Tidak Ningsih, tidak akan pernah, dirumah ini mamanya begitu arogan, apa yang akan terjadi padamu nanti disana?" mama Nimah tetap menolak keputusan anak bungsunya.


"Ini jalan yang aku pilih ma, aku sudah dewasa, tidak bisa diatur-atur lagi" Ningsih tetap saja tidak mau mengerti.


Naina ingat dengan ucapan Anton, Naina takut terjadi sesuatu dengan adiknya kalau sampai memasuki keluarga Putra, sampai saat ini, Naina belum memperlihatkan Vidio kejahatan Anton.

__ADS_1


"Disana berbahaya Ningsih, apalagi ayah Putra belum ditemukan" ujar Naina, akhirnya Naina menunjukkan bukti kejahatan Anton.


"Untung saja saat itu ada yang datang menyelamatkan diriku, kakak tidak mau Ningsih kalau sampai kamu mengalami hal buruk disana"


"Kenapa ayah Putra tidak dipenjarakan saja Naina?" tanya mama Nimah


"Sejak kejadian itu, tidak diketahui dimana keberadaannya" jawab Naina, sebenarnya dia juga merasa aneh, kenapa bisa Anton menghilang.


Naina lalu mengambil koper nya, dia sudah menemukan rumah untuk dia tinggali, rumah yang dekat dengan salon kecantikan nya agar tidak terlalu jauh saat pergi bekerja.


Mama Nimah membantu kepindahan Naina, mereka sekeluarga datang kerumah baru Naina yang sangat minimalis, hanya ada kamar dua kamar, yang satu untuknya dan satu lagi untuk anak-anaknya dikala libur sekolah anak-anaknya pasti akan pulang berlibur.


"Apa kamu tidak menjemput saja mereka dari asrama agar disini kamu ada teman?" usul mama Nimah


"Mereka tidak mau ma, sudah aku telepon saat aku mencari rumah ini, mereka sepertinya sudah betah disana karena sudah terbiasa"


Malam itu keluarga Naina tidur dirumah baru Naina, Ningsih gelisah karena mengingat kejahatan ayahnya Putra tapi dia juga sangat ingin dekat dengan Putra, dia seperti nya membutuhkan belaian, apalagi kehamilannya sudah memasuki trimester kedua, jadi hormon progesteron dan estrogen nya meningkat.


Ningsih menghubungi Putra untuk bertemu secara diam-diam besok siang, yang tentu saja disetujui oleh Putra.




Siang harinya Ningsih berpamitan dan berbohong dengan mengatakan kalau dia akan berkunjung ke rumah temannya.




Sampailah Ningsih disebuah hotel yang dia dan Putra sepakati untuk bertemu, Putra sudah menunggunya, tidak butuh waktu lama baginya untuk terus merendahkan harga dirinya dengan kembali menyerahkan tubuhnya untuk Putra.



Mereka saling merindukan, Ningsih butuh belaian dan dia merasa melakukan ini dilandasi oleh cinta, padahal cinta itu hanya berlandaskan nafsu belaka, Ningsih begitu mencintai Putra, walau dia sempat kecewa karena Putra tidak memperjuangkan nya, tetapi Ningsih kalah dengan hasrat birahinya sendiri.



"Puttrraaa, enak sayang, terus bergeeerraakkk,, aaahhhhh enaaakkkk,, aku merindukanmu" rintih Ningsih merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak dia rasakan, Putra tersenyum, entah apa arti senyumannya.



Ningsih mengejang menikmati semburan hangat dari Putra, mereka kembali melakukan itu saat akan kembali pulang, Ningsih terlihat bahagia karena hasratnya sudah tersalurkan, dia tidak berfikir panjang, dan selalu saja bertindak semaunya.



Saat mereka akan pulang, Putra mengajak Ningsih untuk rutin bertemu di tempat itu, yang tentu saja disetujui oleh Ningsih.

__ADS_1



"Kita bertemu disini 3 hari sekali, karena kalau terlalu sering pasti keluarga ku akan curiga" ucap Ningsih yang masih betah di dalam pelukan Putra.



Ningsih ingat dengan video ayah Putra tapi dia tidak menceritakan pada Putra karena takut kekasih hatinya tersebut terluka dan kecewa, Ningsih berfikir kalau Putra dan ayahnya tidaklah sama, Putra pasti tidak akan melakukan hal kotor seperti ayahnya.



Ningsih begitu dibutakan oleh cinta, atau mungkin oleh hasrat birahinya, dia tidak menyadari bahaya apa yang akan menimpa nya kalau sampai dia masuk kedalam keluarga Putra.



"Sayang, sudahkah kamu memutuskan untuk menikah dan ikut denganku? tidak mungkin selamanya kita hanya bertemu disini, aku ingin setiap saat bersamamu" ujar Putra sambil membelai rambut Ningsih.



"Kakak dan mamaku belum mengizinkan, aku akan terus berusaha, tapi Putra,, bisakah kita berpisah rumah dari orang tua mu saat nanti kita menikah?" ucap Ningsih yang sepertinya masih merasa gatal karena dia sudah kembali memegang pedang Putra.


"Tentu saja kita akan pisah rumah, pokoknya apapun mau kamu, pasti aku turuti" jawab Putra lalu menahan tangan Ningsih pada pedangnya



"Sayang, sudah ya, ini sudah hampir malam, nanti orang tua mu bingung mencari mu" ujar Putra



"Sekali saja, aku diatas biar cepat keluar" pinta Ningsih dan langsung membuka kembali bajunya dan menyodorkan gunung kembarnya untuk Putra, lalu mereka melakukan itu lagi sebelum akhirnya pulang kerumahnya masing-masing.



"Dia tidak mungkin bisa lepas dari jeratan ku, dia sudah tergila-gila padaku" batin Putra puas, dengan riang gembira dia memasuki sebuah kamar yang ternyata didalamnya ada seorang wanita.



"Hey baby, kau menungguku?" tanya Putra pada wanita itu yang sudah berpakaian alakadarnya itu.



"Darimana saja kamu, aku menunggumu sampai kering" ucap wanita itu manja


"Aku akan segera membasahi dirimu baby, are you ready?" ucap Putra yang langsung menyusup ke bagian bawah wanita itu yang sudah terbuka dari tadi.



Sementara Ningsih juga tidak kalah bahagia, dia merasa Putra masih sangat mencintainya dan masih mau bertanggung jawab, karena masih mau menemuinya bahkan mengajaknya menikah, dia tidak tau, dia telah menjatuhkan harga dirinya kembali dan memasuki dunia kelam bersama predator wanita.

__ADS_1


__ADS_2