
"Ningsih,,"
Naina mencari adiknya karena sangat lama dikamar mandi, Ningsih menghapus air matanya lalu mengambil ponselnya yang jatuh dan dengan cepat keluar.
"Iya kak, maaf lama tadi aku sakit perut, ayo cepat kak kita pergi dari sini aku sepertinya kecapean dan ingin cepat istirahat"
"Ningsih, kita baru sampai dan kamu juga belum selesai makan, ayo selesai kan dulu"
"Tidak kak, aku benar-benar tidak kuat lagi, perut aku sangat sakit" ujar Ningsih lalu berjalan cepat karena dia takut ketahuan oleh Putra.
Didalam toilet itu mereka mendengar ada yang berbicara dan samar-samar Putra mendengar suara Ningsih, dia memakai bajunya dan langsung berlari keluar untuk mencari, tetapi Ningsih sudah tidak ada
"Ada apa?" tanya wanita partner bercintanya Putra
"Aku sepertinya mendengar suara Ningsih"
"Itu cuma perasaan kamu, untuk apa dia ada disini, kamu kan sudah memberinya jatah tadi"
"Entahlah, tapi aku sangat yakin itu suara Ningsih"
"Itu cuma perasaan kamu saja, ayo mau dilanjutkan tidak?"
"Aku pulang duluan, uang jasa kamu nanti aku transfer" ujar Putra lalu berjalan cepat untuk segera pergi dari sana, perasaannya tidak enak karena kalau sampai Ningsih mengetahui niat nya mendekatinya kembali ketahuan, maka semua rencana nya akan berantakan.
"Ningsih, angkatlah telepon nya!" teriak Putra saat memasuki rumahnya
"Ada apa Putra?" tanya mamanya
"Ningsih tidak bisa dihubungi lagi ma, bagaimana kalau rencana kita sampai gagal?"
"Kenapa bisa?"
"Ceritanya panjang,, sudah dulu ma, aku mau mencoba terus menghubunginya" Putra lalu masuk ke kamarnya dan terus mencoba menelfon Ningsih
"Ada apa sayang?" terdengar suara Ningsih yang masih terdengar seperti biasanya, mendengarnya Putra lega
"Kamu lagi apa? kenapa sangat susah dihubungi?" tanya Putra masih sedikit was-was
"Aku sudah tertidur barusan, aku sangat kecapean dengan kegiatan kita tadi, kamu selalu bisa membuatku lemas tak berdaya"
"Baiklah, istirahat lagi, tidur yang nyenyak, seperti biasa kita bertemu lagi 2 hari lagi"
"Baiklah sayangku, aku sudah tidak sabar, aku selalu merindukan dirimu apalagi goyangan maut mu"
"Baiklah Ningsih, aku tutup dulu telepon nya ya, bye"
Putra sangat lega karena kecurigaannya ternyata tidak benar karena Ningsih masih berbicara seperti biasanya.
__ADS_1
POV Ningsih
"Baiklah Putra, kamu ingin bermain dengan ku, aku akan mengikuti permainanmu" Ningsih menahan air matanya dan terus memegangi dadanya menahan rasa sesak yang teramat dalam.
Ningsih menghubungi teman nya yang seorang perawat untuk menanyakan sesuatu,
"Dewi, apa ada obat yang bisa membuat mandul seorang pria?" tanya Ningsih dengan senyum jahatnya
"Ada jenis obat yang kalau diminum terus-menerus akan mempengaruhi kesuburan pria bahkan menjadi mandul kalau dikonsumsi secara terus-menerus dan dengan dosis yang tinggi"
"Baiklah Dewi, terimakasih atas informasinya" Ningsih lalu mematikan ponselnya, dia sudah tidak menangis lagi karena kebenciannya semakin besar pada Putra, tadinya dia berfikir untuk kembali bersama dengan Putra agar bayi nya mempunyai ayah walau ada selipan hasrat didalam nya juga, tetapi Ningsih sekarang sadar dengan sepenuh nya.
"Aku harus tidur dan beristirahat, dan tunggu Putra sayangku" batin Ningsih getir memikirkan hari-hari panas selama ini dia lalui bersama Putra.
"Ningsih,,, Ningsih,,!" panggil mama Nimah karena Ningsih tidak kunjung bangun, padahal biasanya dia bangun pagi dan berolahraga ringan
"Ningsih, apa perutmu masih sakit?"
"Tidak ma, sudah lebih baik, kakak mana ma?"
"Kakak mu pulang tadi malam setelah kamu tidur, dia sepertinya akan sibuk mulai sekarang karena harus mengurus kontrak kerjasamanya yang sudah dia dapatkan, dia harus bekerja lebih keras karena harus membiayai kedua anaknya, dia juga rutin memberi uang bulanan pada mama"
"Apa mantan suaminya tidak bertanggung jawab untuk anak-anaknya?"
"Lelaki tidak bisa diharapkan kalau sudah bercerai, sekarang mereka belum resmi bercerai saja tetapi kakakmu sudah tidak mendapat hak nya apapun itu, lagi pula memang kakak mu tidak berharap apapun lagi padanya"
"Aku ingin seperti kakak, setelah kelahiran anakku, aku juga akan mulai bekerja"
"Tentu saja Ningsih, jadilah wanita kuat, kalian anak-anak mama harus bernasib seperti ini, tetapi mama yakin kalian semua kuat, dan akan segera mendapatkan kebahagiaan kalian, ingatlah kalau pelangi itu muncul setelah hujan"
"Iya ma, terimakasih" Ningsih memeluk mamanya dan segera meminum susu yang dibawakan mamanya.
__ADS_1
Ningsih seperti terlahir kembali, dia benar-benar sudah sangat tidak lagi berharap pada Putra, dan dia akan segera memulai rencana balas dendamnya, dia akan memberikan berbagai macam obat-obatan agar dia tidak bisa mempunyai keturunan lagi, itu balas dendam yang sangat setimpal untuk Putra, karena dia adalah anak lelaki satu-satunya yang pasti harus meneruskan garis keturunan.
"Mau bermain-main dengan ku, lihatlah permainan apa yang akan aku mainkan" gumam Ningsih dengan senyum menyeringai nya.
"Putra sayang, aku sudah tidak kuat lagi ingin bermain dengan burung mu yang sangat perkasa itu, bisakah kita bertemu sekarang?" Ningsih mengirim pesan untuk Putra, dia sengaja masih bersikap biasa dan lebih menggodanya supaya rencananya cepat selesai
"Sebelum kelahiran bayi ini, Putra harus sudah merasakan hukumannya, jadi setelah aku melahirkan aku tidak perlu bertemu dengannya lagi, untuk saat ini aku masih harus melakukan hal seperti biasanya supaya dia tidak curiga, kuatlah Ningsih,,, ini semua untuk balas dendam yang setimpal untuknya" batin Ningsih yang dendamnya sudah sangat menggebu-gebu.
"Baiklah sayangku, burungku juga sudah tidak sabar untuk masuk sarangnya" balasan dari Putra yang membuat Ningsih tersenyum puas
"Biarkan saja dia beranggapan aku wanita murahan dan gratis untuk saat ini, tapi lihat saja Putra,, bayaran yang harus kamu bayar lebih mahal dari hal apapun" Ningsih lalu mandi untuk bersiap bertemu Putra, Ningsih harus membeli banyak obat-obatan yang harus dia oplos kedalam minuman supaya Putra tidak curiga.
Ningsih berpamitan kepada mama Nimah yang sedang memasak di dapur,
"Mama, aku akan berbelanja bulanan untuk keperluan ku, sudah banyak yang habis, apa mama mau nitip?"
"Jangan pergi sendirian Ningsih, nanti kamu berat bawa belanjaan nya, tunggu sebentar mama selesaikan memasak, nanti mama antar"
"Tidak ma, aku bisa sendiri, lagipula yang akan aku beli hanya barang yang ringan-ringan, nanti kalau sekiranya berat, aku akan menelfon mama untuk menjemput ku"
"Ya sudah, jangan terlalu lama, nanti kamu sakit lagi perutnya"
"Iya ma, tenang saja, aku sudah sehat dan tidak sakit lagi"
"Uangnya masih cukup tidak?"
"Cukup ma, dua hari yang lalu kakak memberikan uang jajan padaku, ya sudah ma,, aku berangkat dulu, bye"
Ningsih berbelanja terlebih dahulu, dia lalu membeli minuman dengan rasa kuat agar rasa obatnya tidak terlalu terasa, satu botol obat dalam sekaligus dia masukkan dalam minuman itu, supaya Putra cepat merasakan reaksinya.
"Sayang, kenapa kamu sangat lama sekali, aku sudah menunggumu dari tadi" Putra langsung mendekati Ningsih saat baru membuka pintu kamar hotel yang selalu mereka pesan saat bermantap-mantap.
"Iya sayang, tadi sangat macet sekali, aku sangat kepanasan dan kehausan, ayo kita minum-minum dulu sebelum kita bertempur panjang" ucap Ningsih lalu mengeluarkan minuman yang dia bawa.
"Ini untukmu, Boba rasa vanilla latte kesukaan mu, cepat habis kan, aku sudah tidak sabar untuk menaiki dirimu" ujar Ningsih manja
"Siap sayang, tapi kenapa hanya bawa satu? apa kamu ingin berdua dalam satu sedotan seperti saat dulu kita awal berpacaran?" ujar Putra lalu menawarkan minuman nya pada Ningsih dengan menyodorkan langsung ke mulutnya, Ningsih langsung menghindar.
"Tidak sayang, aku lagi hamil jadi harus dikurangi minuman dingin seperti itu, aku cukup minum air putih saja" jawab Ningsih sedikit gugup, tapi untungnya Putra tidak menyadarinya dan langsung menghabiskan nya.
__ADS_1
Mereka sudah kembali bertarung dengan Ningsih di atas,
"Aku harus melakukan ini supaya rencana ku berjalan mulus, tidak apa-apa aku seperti ini, lagipula aku sudah terlanjur masuk ke jurang gelap ini, aku akan terus diam dalam jurang gelap ini sampai aku bisa menyeret mu" batin Ningsih sambil memandangi pria yang ada dibawahnya itu.