
"Kenapa di dunia ini dipenuhi dengan pria tidak tau malu semua!!" Naina berteriak didalam kamar nya dan menggigit bantal nya karena geregetan.
"Dia sangat dingin dan mendiamkan diriku selama ini, tapi tiba-tiba dia kembali bersikap semaunya" Naina lalu memegangi bibirnya yang tadi kembali di cium oleh Endra.
"Jangan berdebar hati bodoh,, dia hanya mempermainkan dirimu, kamu harus sadar" Naina terus berbicara sendiri di atas ranjangnya, dia lalu ingat untuk besok datang ke asrama anak-anaknya untuk memberikan uang saku dan semua kebutuhan mereka, Naina lalu membersihkan diri dan beristirahat karena waktu memasuki malam hari, dia merasa lelah dan tidak bernafsu makan lagi jadi lebih memilih untuk tidur lebih awal.
Karena tidur diawal waktu membuat Naina bangun diawal waktu juga, untuk menunggu waktunya pergi ke asrama anak-anaknya, Naina joging di sekitar rumah nya dan juga olahraga ringan.
Naina lalu membuat sarapan sendiri karena asisten rumah tangganya sedang pergi ke pasar, setelah sarapan Naina langsung mandi dan segera bersiap untuk menuju asrama anak-anaknya, dia tidak pergi ke salon kecantikannya karena dia berniat kesana setelah selesai urusan di asrama anak-anaknya.
Naina segera menuju kantor dari asrama anak-anaknya dan berniat membayar biaya sekolah serta keperluan sehari-hari untuk Deva dan Yaya.
"Maaf Bu, kemarin suami anda sudah datang dan membayar seluruh biaya sekolah Deva dan Yaya bahkan sudah lunas sampai mereka lulus nanti, dan untuk keperluan sehari-hari nya juga semua sudah terpenuhi, bahkan untuk uang saku nya juga seperti nya sudah lebih dari cukup"
Mendengar penjelasan itu membuat Naina keheranan, karena selama ini Roni tidak pernah menafkahi anak-anak, dan saat melihat tanda tangan diatas surat kuitansi betapa kagetnya Naina karena nama yang tertera disana bukanlah nama ayah dari anak-anaknya tetapi dibayar oleh lelaki yang seperti nya secara perlahan telah mencuri hati Naina.
"Kenapa dia melakukan hal seperti ini, membuat diriku semakin bingung saja" Naina lalu menanyakan berapa semua jumlah uang yang telah dibayarkan oleh Endra.
"Bulanannya satu bulan adalah 7 juta, dan untuk keperluan sehari-hari seperti makan, serta jajan dan kebutuhan praktek sekitar 2 juta setiap bulannya, kalau dikalikan selama 3 tahun untuk Yaya selama 3 tahun, yaitu sebesar 324 juta, sementara untuk Deva hanya tinggal satu tahun lagi jadi sekitar 108 juta, jadi total 432 juta, seingat saya beliau membayar 500 juta sekalian untuk biaya darurat jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh Deva atau Yaya"
Naina menjatuhkan tasnya karena kaget dengan apa yang dia dengar, Naina kebingungan harus dengan apa membayar kembali uang Endra, dengan memberanikan diri Naina meminta pihak sekolah untuk mengembalikan uang yang telah dibayarkan oleh Endra.
"Begini bapak, saya kan selama ini rutin membayarnya dan pasti kedepannya saya juga rutin membayarnya, jadi bisakah untuk mengembalikan uang itu"
"Maaf ibu, itu sudah tidak bisa lagi kecuali yang bersangkutan yang memintanya dan itu juga hanya dalam waktu satu minggu, karena setelah itu sudah tidak bisa, maafkan kami Bu"
Naina tidak bisa berbuat banyak, lalu keluar dari kantor asrama untuk mengunjungi anak-anaknya di kamar mereka.
"Mama, kenapa baru datang hari ini, harusnya mama datang bersama dengan om Endra, kemarin ompa membawa banyak sekali makanan dan jajanan" ujar Deva yang sedang memegang sebuah buku, sepertinya dia sedang belajar.
"Ompa??,, lalu untuk apa dia datang kesini?"
"Ompa itu artinya Om Papa,, dia sering datang menjenguk kami setiap dua minggu sekali, ompa sangat baik ma, dia ingin dipanggil ayah, tetapi kami tidak mau, karena dia bukan ayah kami atau lebih tepatnya belum, jadi kami memutuskan untuk memanggilnya seperti itu sebelum hari pernikahan mama dengannya"
"Sepertinya kalian salah faham, mama dengannya tidak ada hubungan apapun"
__ADS_1
"Kami tau kalau mama dan ompa sedang bertengkar, karena kata ompa, dulu tanpa sengaja pernah membuat mama marah padanya, tapi percayalah ma, ompa itu tulus ma, jadi cepat lah maafkan kesalahannya"
"Kalian sudah besar, jadi mama tidak ragu mengatakan ini pada kalian, tolong jangan terlalu berlebihan, kalian juga tau bahkan ayah kalian sendiri sanggup menyakiti dan mencampakkan kalian, lalu bagaimana dengan orang lain? ompa atau siapapun itu hanya baik diawalnya saja, jadi kalian jangan terlalu berharap, mama hanya ingin hidup bersama kalian tanpa perlu memikirkan perasaan lain"
Deva dan Yaya saling berpandangan, mereka menyadari kegalauan hati mamanya, tetapi apa yang dikatakan mamanya memang ada benarnya.
"Tapi ompa sangat baik ma, kemarin makanan yang dibawa sangat banyak, jadi kami berpesta bersama teman-teman di aula untuk menghabiskan semuanya" ujar Yaya antusias.
"Sudahlah, hari sudah hampir sore, mama harus segera pulang, kalian jaga diri baik-baik dan terus hubungi mama setiap kalian sempat" Naina memeluk anak-anaknya dan segera pergi setelah berpamitan.
Diperjalanan untuk menuju salon kecantikannya, Naina terus berfikir bagaimana cara untuk membayar kembali uang Endra, tabungannya mungkin cukup untuk mengembalikan uang itu, tetapi kalau dia berikan semuanya pada Endra, dia takut tidak mempunyai dana simpanan saat terjadi sesuatu.
"Sebenarnya apa yang dia lakukan, kenapa terus bertindak sesuka hati?" batin Naina dan terus melamun selama perjalanan.
Naina mengurungkan niatnya untuk pergi ke salon kecantikannya, dia memilih pergi ke rumah kedua orang tuanya, sudah lama dia tidak berkunjung kesana, sesampainya di rumah orang tuanya, Naina merasa kalau rumah terlalu sepi, tetapi pintu tidak terkunci jadi Naina langsung masuk kedalam rumah.
"Ma,, Ningsih?" panggil Naina, tetapi tetap saja tidak ada yang menjawab hingga Naina dikejutkan oleh papa Yanto yang keluar dari dapur.
"Papa mengagetkan ku saja, pada kemana pa? kenapa sangat sepi?" Naina memberi salam pada ayahnya lalu menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin.
"Dede demam?? kasian banget Dede, lalu apa,,," Naina tidak melanjutkan ucapannya karena papa Yanto sepertinya ingin berbicara serius dengan Naina mengenai Endra.
Papa Yanto berharap Naina tidak salah pilih lagi, dulu adalah kesalahan ayahnya yang memaksa Naina untuk menikah disaat umurnya yang masih sangat muda, waktu itu usaha papa Yanto sedang dilanda masalah dan tidak mempunyai pekerjaan, jadi tidak sanggup membiayai kuliah Naina, dan tidak lama setelah Naina lulus sekolah, Roni melamar Naina, karena keluarga Roni yang cukup terpandang didaerahnya membuat papa Yanto menerima lamaran itu.
"Maafkan kesalahan papa dahulu Nai,, papa sungguh menyesal, jadi sekarang papa harap kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama, kebanyakan orang kaya hanya menganggap bahwa orang seperti kita tidak layak untuk dihormati, mereka hanya baik diawalnya saja"
"Sudahlah pa,, jangan terus mengingat kejadian yang sudah berlalu, dan papa jangan khawatir padaku, aku bisa mengatasi semuanya" Naina kembali mengingat tentang Endra, tetapi dia tidak bercerita kepada ayahnya.
Ddeeerrrrtttt ddeeerrrrtttt ddeeerrrrtttt
Ponsel Naina bergetar, yang ternyata panggilan dari salon kecantikannya, pegawainya memberi tahukan bahwa ada tamu yang hanya ingin dilayani oleh Naina, dan tamu itu baru saja mendaftarkan diri sebagai anggota VVIP.
Naina segera pamit tanpa menunggu kedatangan mama Nimah ataupun Ningsih karena dia ada pekerjaan mendadak, Naina harus bekerja keras sebagai single mother, apalagi dia mengingat tentang uang yang dibayarkan oleh Endra untuk biaya sekolah anak-anaknya, Naina bertekad untuk segera membayarnya kembali.
Naina merasa kesusahan karena dia sekarang tidak mempunyai mobil, jadi untuk bepergian dia harus memesan mobil online atau ojek online.
__ADS_1
Setelah sampai di salon kecantikannya, Naina memakai baju bekerja nya lalu merapikan diri sebelum menemui tamu VVIP baru yang telah menunggunya.
"Hhhaaahhh, kenapa kamu ada disini? ini khusus wanita!!" Naina berteriak saat melihat Endra ada di dalam salah satu ruangan salon, tempat wanita melakukan perawatan, karena di salon nya, untuk ruangan pria dan wanita tempatnya terpisah.
"Tenang Naina, aku hanya memintanya untuk menemaniku sementara kamu belum datang, aku baru disini jadi takut sendirian didalam ruangan ini, sementara semua pegawai mu sedang sibuk" Raina tiba-tiba nongol dari balik selimut di atas ranjang tempat melakukan perawatan.
Naina meminta Endra untuk keluar, dan saat Endra tidak juga mau keluar dari ruangan itu, Naina lalu meminta pada Rania untuk membuka bajunya dan berganti dengan jubah karena Rania juga ingin di lulur.
Mendengar itu Endra lalu dengan cepat bergegas ke luar ruangan, Rania tertawa melihat tingkah Naina sementara Naina tidak terlalu perduli dan menyiapkan semua alat yang diperlukan untuk melakukan perawatan menyeluruh pada Rania.
"Apa kamu cemburu padaku?" tanya Rania menggoda Naina.
"Maksudnya apa? aku tidak perlu cemburu, dia bukan siapa-siapa untuk ku, lagipula kamu itu kan adiknya"
"Kamu yakin tidak ada hubungan apapun dengan kak Endra? tidak kah kamu merasakan sedikit saja perasaan atau getaran saat bersama kak Endra?"
"Untuk apa?? aku cukup sadar siapa diriku, aku sudah mempunyai dua orang putri dan belum tentu ada pria yang mau menerimanya, aku dan putri-putri ku adalah satu kesatuan, jadi aku yakin tidak ada yang bisa menerimanya, kalau pun mereka menerima nya, aku yakin itu hanya untuk awalnya saja, sekarang ini bagiku yang paling penting adalah putri-putri ku, lagipula kakakmu sudah memiliki kekasih, jadi tidak ada gunanya perasaan ku"
Rania sekarang paham kenapa Naina terus menolak Endra, untuk kesalahan yang pernah diperbuat oleh Endra, sepertinya Naina sudah memaafkannya karena Naina tidak mengungkitnya sedikitpun.
"Kak Endra akan segera menikah, bisakah istrinya melakukan perawatan disini?" tanya Rania terus saja mencoba menggoda Naina.
"Tentu saja, bukankah itu tidak merugikan diriku dan malah menguntungkan? ajaklah semua temanmu kesini, maka aku akan memberikan diskon untukmu" Naina berusaha bersikap seperti biasanya, Rania paham kalau memang sangat susah untuk mengetahui perasaan Naina apalagi untuk mendekatinya pasti butuh perjuangan.
Rania dan Naina keluar ruangan dan terlihat Endra yang ketiduran menunggu adik sepupunya yang keasyikan perawatan, sebelumnya dia menggerutu karena harus melakukan hal ini tetapi demi bertemu Naina dan mengorek informasi mengenai perasaan Naina lewat adik sepupunya, akhirnya Endra mau melakukannya.
Endra tidak sengaja menjatuhkan ponsel yang dia pegang, membuat Naina sekilas melihat wallpaper ponsel Endra adalah foto dirinya saat sedang tertidur, tetapi Naina tidak terlalu yakin, karena tidak melihat dengan jelas, Rania yang menyadari kalau Naina melihat kearah ponsel Endra, dengan cepat mengambil ponsel itu lalu mematikan layarnya.
"Terimakasih atas kedatangannya, semoga tidak kecewa dengan pelayanan kami dan kembali lagi secepatnya" Naina bersikap formal lalu izin untuk masuk keruangan nya karena harus bersiap untuk melayani pelanggan yang sudah mengantri.
Rania menyeruput teh hijau yang disuguhkan oleh Naina, suara seruput nya membangunkan Endra, dengan cepat Endra menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Naina.
"Dia masih bekerja, salon kecantikannya sangat ramai, karena Naina sangat pintar sekali, dia sangat cekatan dan profesional, tetapi dia sungguh kasian sekali, tangannya pasti sakit karena harus terus bekerja setiap hari, belum lagi harus bertemu pria hidung belang macam dirimu setiap hari"
"Apa maksudmu!!?" Endra tidak suka mendengar ucapan dari Rania, tetapi adik sepupunya itu hanya mengangkat bahunya.
__ADS_1