Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Amnesia Disosiatif


__ADS_3

"Apa yang ayah lakukan?!!" teriak Endra.


Rayhan tidak langsung menjawab dan hanya tersenyum, lalu mengajak Endra untuk duduk supaya lebih leluasa bercerita.


"Ayah selalu mengawasi nya saat tau kamu begitu menyukainya, ayah juga hanya ingin tau sebesar apa kamu menyukainya"


"Kenapa ayah tidak mengatakan apapun padaku? bukankah ayah melihat bagaimana selama ini aku mencarinya!?"


"Sudahlah Ndra, sudah tidak perlu dipikirkan lagi,, dia sudah aman, tetapi saat ini dia mengalami amnesia disosiatif,, dia sangat stress dan ketakutan karena saat itu dia akan dibawa masuk kesebuah hotel, dokter mengatakan bahwa dia pernah mengalami trauma, tapi dokter tidak mengetahui trauma apa yang dialami oleh Naina,,, ayah belum menghubungi keluarganya karena ayah pikir saat ini dia lebih aman disini,,, saat ayah menyelamatkan nya yang akan dibawa masuk ke sebuah hotel, dia sudah pingsan, sepertinya dia sangat ketakutan, ditambah kondisinya yang sedang terluka parah" Rayhan menceritakan kronologi dan juga kondisi Naina saat ini.


Endra tidak mengatakan apapun lalu berjalan cepat menuju kamarnya yang ternyata selama ini ditempati oleh Naina, Endra membuka pintu kamar dengan perlahan supaya Naina tidak terbangun, saat tadi dia masuk kedalam kamar nya, dia kaget melihat seseorang yang berada di atas ranjang nya, Endra berniat berteriak untuk mengusir orang itu karena tidak menyukai orang lain tidur dikamar dan di ranjangnya, tetapi Endra kembali kaget saat tiba-tiba orang itu bergerak dan menyingkap selimut yang menutupi wajahnya.


"Naina!" Endra berteriak tetapi lngsung menutup mulutnya karena terlihat Naina yang menggerakkan kepala nya merasa tidak nyaman dengan suara Endra yang mengganggu tidurnya, lalu dengan cepat Endra keluar dari kamar untuk meminta penjelasan dari ayahnya, setelah tau apa yang terjadi, Endra kembali masuk ke dalam kamarnya.


Endra duduk di sofa yang ada dipojokkan kamarnya, hatinya begitu lega, seolah semua beban hidupnya telah menghilang, dia sangat bahagia dan terus memandangi wajah Naina yang tertidur pulas.


Ada seseorang yang masuk kedalam kamar nya, dengan cepat Endra langsung memelototi nya karena khawatir Naina akan terbangun, tapi orang itu menjelaskan bahwa dia adalah perawat yang selama ini merawat Naina, melihat pakaian yang dikenakan oleh orang itu membuat Endra percaya.


"Nona harus bangun karena ini waktunya minum obat" ucap perawat itu, Endra kaget mendengar nya dan langsung keluar dari kamar karena dia belum siap bertemu dengan Naina.


"Ada apa Ndra?? kenapa kamu terlihat gugup sekali?" tanya Rayhan yang sedang duduk di ruang keluarga dan sedang menonton televisi.


"Tidak ada apa-apa ayah, aku hanya merasa,,,"


Rayhan tersenyum melihat tingkah laku anaknya, benar yang dikatakan oleh Suseno, Endra menjadi berbeda saat berada di sekitar Naina.


"Dia tidak akan mengenal dirimu, yang dia alami bukan karena kerusakan otak tetapi karena tekanan yang sangat kuat jadi dia bisa mengingat kembali semuanya suatu saat nanti, apalagi kalau dia mengalami hal yang membekas di hati dan ingatannya, kalau dia kembali bersama keluarganya itu pasti akan membuat nya kembali seperti dahulu secepatnya, aku menemui mu karena aku merasa dia sudah lebih sehat secara fisik walau tidak untuk masalah amnesianya" Rayhan berhenti berbicara karena Endra yang terlihat sedang berfikir.


"Ayah paham siapa Anton setelah menyelidiki nya, dia akan sangat membahayakan Naina, ayah baru mengetahui nya setelah melemparkan nya di kantor polisi, kalau tau begitu berbahayanya dia, ayah tidak akan melakukan itu dan akan menghabisinya sendiri, Naina masih dalam bahaya selama Anton masih ada di dunia ini, ayah sangat paham obsesinya pada Naina dan pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk bisa mendapatkan Naina, jadi saat ini Naina lebih aman disini"


Endra masih diam mendengar semua perkataan ayahnya, Endra paham bagaimana perasaan keluarga Naina yang pasti sangat terpukul dengan hilangnya Naina, tetapi saat ini memang lebih baik kalau Naina terus berada di rumah ayahnya, tetapi kalau seperti ini terus maka Naina akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk kembali mengingat kehidupannya.


"Atau lebih baik seperti sekarang ini saja, kalian bisa bersama selamanya, bukankah dia membencimu?? jadi dia tidak akan mengingat kebenciannya terhadap dirimu" ujar Rayhan tersenyum, entah ucapannya serius atau hanya bercanda.

__ADS_1


Endra tidak menjawab, dihatinya tentu sangat menginginkan Naina selalu berada di sisinya tetapi kalau seperti itu, akan sangat tidak adil untuk Naina.


"Ayah,,!" panggil Naina, membuat Endra kaget dengan kehadiran Naina yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Sudah bangun? apa kamu sudah makan dan meminum obat?" tanya Rayhan pada Naina, yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Naina.


"Ayah, bukankah dia kakak?" tanya Naina melihat kearah Endra, membuat Endra kembali kaget untuk yang kesekian kalinya.


"Iya, kakak baru pulang, ucapkan salam padanya" jawab Rayhan lalu tersenyum jahil melihat kearah anaknya, Rayhan sangat suka menggoda anaknya, mumpung ada kesempatan yang langka, kapan lagi bisa membuat anaknya yang biasanya pendiam, bahkan cenderung dingin dan jutek itu, menjadi tersipu malu dan salah tingkah.


"Kakak, kenapa baru datang? aku sudah terluka cukup lama, dan bahkan sudah sembuh tetapi kakak baru datang" Naina mengulurkan tangannya pada Endra dengan senyuman manisnya yang belum pernah Endra lihat sebelumnya, seperti seorang adik yang merajuk pada kakaknya karena tidak ada disampingnya saat dia terluka.


Naina yang Endra kenal selama ini tidak akan mungkin akan tersenyum padanya, Endra terkesima melihat senyuman Naina, tetapi dia segera sadar kalau itu bukan Naina yang sebenarnya, Endra tidak mengharapkan keadaan yang seperti ini, tanpa membalas sapaan akrab dari Naina, Endra langsung pergi menuju kamar tamu yang selama ini dia tempati kalau datang bersama Intan.


Naina terlihat bersedih dan kecewa melihat Endra bersikap seperti itu kepadanya, Rayhan lalu menenangkan nya dan mengatakan bahwa sepertinya Endra kecapean karena baru datang.



Flashback




"Tenang nona, anda sudah berada ditempat yang aman" jawab dokter, tetapi melihat gerak gerik Naina membuat dokter curiga ada sesuatu yang tidak beres.



"Nona, apa anda mengingat siapa nama anda?" tanya dokter memastikan dugaannya, Naina menggeleng, dan terlihat sangat ketakutan berada ditempat yang tidak dia kenali.



Rayhan menyelamatkan nya dari Anton dan membawanya ke rumah dalam keadaan pingsan, bahkan butuh waktu lama untuk Naina kembali sadar, karena kondisinya yang memang sangat lemah karena terluka akibat ulah Sindi.

__ADS_1



Awalnya Rayhan dan dokter kaget melihat reaksi Naina, dan setelah dilakukan pemeriksaan ternyata Naina diketahui mengalami amnesia disosiatif, dokter menyarankan agar Rayhan mengaku sebagai seseorang agar Naina merasa aman berada ditempat itu, dan tanpa pikir panjang, Rayhan mengatakan bahwa dia adalah ayahnya Naina.



Flashback End.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Makan malam telah tiba, Naina makan dengan lahapnya, Rayhan terus melihat kearah Endra yang terus memandangi wajah Naina.


"Endra kenapa kamu tidak makan? kenapa kamu hanya diam, apa makanannya tidak sesuai seleramu?" tanya Rayhan, Naina lalu juga melihat kearah Endra membuat Endra kembali salah tingkah dan malu karena dipandangi oleh Naina.


"Kakak, apa aku melakukan kesalahan padamu? maaf karena aku melupakan nya tapi kalau aku salah katakan saja, aku akan memperbaiki nya" ucap Naina, dia merasa aneh dari tadi melihat Endra yang dia anggap sebagai kakak nya bersikap dingin terhadap dirinya.


Endra tidak tahan lagi dan langsung pergi dan kembali menuju kamar tamu, Endra menahan air matanya,, dia tidak sanggup melihat kondisi Naina yang menjadi orang lain dan bahkan menganggap bahwa dirinya adalah kakaknya.


Malam semakin larut, Naina bersiap tidur walau dia masih merasa sedih karena sikap Endra padanya, tetapi dia dikejutkan dengan munculnya Endra kedalam kamar nya.


"Ada apa kak?" tanya Naina lalu turun dari ranjang dan berjalan mendekati Endra yang berdiri didepan pintu.


Endra sudah memikirkan secara matang, dia akan membuat Naina kembali mengingat dirinya sepenuhnya, Endra tidak perduli dengan kebencian Naina terhadapnya, itu lebih baik untuknya daripada melihat kondisi Naina saat ini, Endra menutup pintu kamar dan menatap sendu kearah Naina.


"Eekkhhmmm"


Naina membelalakkan matanya dan langsung berontak menyadari apa yang dilakukan oleh Endra.


Endra memegangi tangan Naina dan dengan kekuatan nya, Endra memeluk erat tubuh Naina yang terus berontak, Endra terus ******* bibir Naina, dia berharap dengan hal ini akan membuat Naina mengingat dirinya, Endra menitikkan air matanya karena dia harus kembali bersiap menerima kebencian Naina.


"Aku lebih memilih dibenci oleh dirimu daripada dianggap kakak olehmu" batin Endra dan masih tidak melepaskan Naina dari pelukan dan ciumannya.

__ADS_1


__ADS_2