
"Cinta itu datang tiba-tiba, tanpa kita sadari dan tanpa peringatan, tapi ingat Endra, cinta yang tidak pada tempatnya harus kamu hindari" jelas dokter pribadi Endra yang memeriksa kondisi Endra saat ini
"Apa maksudmu aku benar-benar jatuh cinta padanya?" tanya Endra
"Sepertinya begitu, yang bisa merasakan kan kamu sendiri"
"Aku tidak tau perasaan jatuh cinta itu seperti apa, dadaku hanya sakit kalau mengingatnya, makin sakit saat melihatnya tetapi aku ingin ada didekatnya" ujar Endra yang membuat dokter dan Suseno bertepuk tangan membuat Endra kebingungan.
"Itu karena dada mu berdebar, dasar stupid ni orang tua, kamu bukan remaja, sudah kakek bau tanah tapi tidak tau rasa berdebar" ujar dokter itu masih tertawa bersama Suseno
"Aku memang tidak tau" jawab Endra pelan lalu menuju kursinya dan meletakkan kepalanya di meja kerjanya, seperti seorang remaja yang patah hati, melihat itu Suseno dan dokter langsung terdiam dan merasa bersalah.
"Dasar tidak berguna kamu Ando, sebagai dokter kamu tidak mengerti kondisi pasien" ujar Suseno menyalahkan Ando padahal tadi dia juga ikut tertawa terbahak-bahak.
"Ini antarkan kamera ini pada Naina" perintah Endra pada Suseno
"Yakin tuan tidak akan mengantarkan nya sendiri?"
"Aku sangat ingin melihat wajah cantiknya, tetapi saat ini dia pasti semakin membenciku dengan apa yang aku lakukan tadi, kenapa juga tadi aku tidak bisa menahan perasaanku, bibirnya seperti magnet yang membuat diriku tertarik padanya " ujar Endra sedih tapi sambil curhat.
Suseno dan Ando tidak bisa menahan senyuman mereka dan kembali ingin tertawa, tetapi mereka menahan sekuat tenaga, mereka lalu keluar ruangan dan langsung tertawa tidak bisa lagi menahannya.
"Kenapa dia menjadi puitis dan melankolis begitu, perubahan yang bagai siang dan malam dengan sikapnya selama ini" ujar Ando, mereka langsung terdiam kembali saat Endra juga keluar dari ruangannya.
"Tuan mau kemana?" tanya Suseno
"Ketempat Naina untuk yang terakhir kali" jawab Endra yang langsung berjalan cepat menuju parkiran.
"Kenapa kamu bilang terakhir kali?" tanya Suseno saat didalam mobil
__ADS_1
"Dia akan mendapat masalah kalau aku terus didekat nya" jawab Endra tanpa ekspresi apapun.
Naina sedang melayani pelanggan VIP saat kedatangan Endra, jadi Endra harus menunggu, dia menunggu sambil melihat-lihat galeri foto yang ditempelkan di dinding, banyak penghargaan yang Naina terima, Endra terpaku lama melihat foto Naina muda, dia seperti mengingat seseorang dimasa lalunya.
"Kenapa harus anda yang datang sendiri tuan, bukankah bisa menyuruh anak buah anda? sekarang mana kameranya"
Endra lalu menyerahkan kamera itu dan meletakkan nya diatas meja, tangan mereka tidak sengaja bersentuhan membuat Endra kaget dan langsung menghempaskan tangan Naina.
"Aawwwhh, tidak perlu sampai seperti itu, aku tidak sengaja, siapa yang tadi menyentuh siapa, sekarang sok suci" gumam Naina
Endra tidak menjawab, dia tidak mau kalau terjadi apa-apa lagi pada pedang nya karena senjatanya itu seperti nya sangat sensitif terhadap sentuhan Naina.
Naina memeriksa kamera itu, sebelum selesai Naina memindahkan file itu kedalam laptopnya, kembali terjadi keributan diluar
"Ibu Naina, suami anda melakukan keributan lagi" lapor karyawannya.
"Apalagi mau mu Roni!?" teriak Naina geram
"Tidak perlu, sudah kamu diam saja, ini sudah mau selesai, setelah itu kamu bisa langsung cepat pergi!" usir Naina membuat Endra diam melihat wajah galak Naina yang malah terlihat lucu dengan bibirnya yang maju, Endra langsung mengusap wajahnya, mencoba menyadarkan pikirannya.
"Ini bawa kembali, terimakasih,, sekarang cepat pergi dari sini, aku masih ada urusan" ujar Naina langsung berjalan keluar menemui Roni.
"Naina sayang, kenapa kamu tidak pulang kerumah?" ujar Roni
"Satpam, bawa pergi orang ini dari sini dan jangan biarkan kembali masuk kesini!" teriak Naina
Tetapi Roni terus melawan dan memegang tangan Naina setelah menjatuhkan satpam, Naina melepaskan pegangan tangan Roni
"Lepas Roni, kita sudah tidak ada hubungan apapun" ujar Naina malas menanggapi Roni, tetapi Roni terus berusaha menarik Naina hingga Endra menolong Naina dan mendorong Roni.
__ADS_1
"Kamu siapa!? jangan berani-berani nya mencampuri urusan orang lain!" teriak Roni
"Kamu tidak tau malu ya, sudah dicampakkan masih saja mengemis, ini balasan atas semua perbuatan mu" ucap Endra
"Jangan sok tau dengan masalah orang lain" ucap Roni dan masih terus berusaha memegang tangan Naina, melihat itu Endra geram dan langsung memukuli Roni.
"Jangan sentuh dia!" teriak Endra
Naina kaget melihat itu, Roni tampak kewalahan menghadapi Endra, Naina langsung memisahkan mereka dan memegang tangan Endra supaya berhenti memukuli Roni
"Dia sudah menyakitimu, biarkan aku menghabisinya!" teriak Endra, Naina menggeleng dan menarik tangan Endra agar menjauh dari Roni, membuat Roni senang karena merasa dibela Naina.
"Cepatlah pulang dan jangan menggangguku lagi, istri barumu sudah menunggumu dirumah, aku tidak meminta hartamu sedikitpun, dan aku tidak akan membawa apapun dari rumah itu, kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan meminta harta gono-gini ataupun meminta tunjangan bulanan, kamu hanya perlu membayar biaya asrama serta keperluan Deva dan Yaya karena itu kewajiban mu" setelah mengatakan itu Naina langsung berjalan ke dalam salon, saat Roni ingin mengejar, dia ditahan oleh Endra.
"Jangan main-main denganku tuan impoten" bisik Roni pada Endra, tentu saja hal itu membuat Endra kaget, darimana Roni bisa tau hal itu, Roni tersenyum mengejek lalu pergi dari sana.
"Selidiki Roni, bagaimana dia bisa tau kondisiku" ujar Endra menelfon seseorang setelah kepergian Roni, Endra juga langsung pergi dari sana karena sepertinya Naina sudah tidak akan mau bertemu dengannya lagi.
Diperjalanan kembali Endra mendapat laporan dari orang suruhannya,
"Selingkuhan Roni, pernah tuan pakai"
Endra sadar kalau selingkuhan Roni yang sudah memberitahu kondisinya pada Roni, padahal jelas dalam surat perjanjian, setelah mereka keluar dari kamar itu tidak boleh memberitahu kepada siapa pun tentang hal itu.
Wanita yang masuk ke kamar itu biasanya sudah diberikan surat perjanjian dan uang tutup mulut, hanya Naina yang berbeda karena dia wanita satu-satunya yang dia pilih, dan wanita satu-satunya juga yang tidak mengambil uang sepeserpun yang diberikan padanya.
Biasanya asistennya atau Intan yang mencari para wanita itu, Endra saat itu hanya secara spontan membawa Naina kesana tanpa berfikir panjang, sepertinya saat itu Endra hanya mengikuti naluri hasratnya dan belum menyadari perasaannya pada Naina.
Sekarang dia menyesali perbuatannya waktu itu, karena Naina menjadi membencinya dan Intan jadi tau keistimewaan Naina kalau hanya Naina wanita satu-satunya yang berhasil selama ini.
__ADS_1
"Kirimkan surat perjanjian itu pada wanita selingkuhan Roni dan minta uang tutup mulut itu untuk dikembalikan" titah Endra pada orang suruhannya.