
"Ibu Naina, ada pelanggan yang datang dan hanya mau ibu yang melayani nya"
"Apa dia terdaftar sebagai tamu VIP?"
"Tidak bu, tetapi dia bersikeras kalau hanya ibu yang harus melayaninya"
Naina menghela nafas, dia sebenarnya merasa sangat lelah tetapi dia harus profesional, Naina bangun dari kursinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Naina pada pelanggan baru itu yang duduk di kursi membelakangi pintu masuk
"Bisa rawat wajahku menjadi lebih cantik dari istri pacarku?"
Naina menyembunyikan rasa terkejutnya melihat pelanggan baru itu, Naina lalu duduk menghadap pelanggan itu
"Dengan siapa?" tanya Naina mengambil sebuah kartu untuk mengisi identitas sang pelanggan, dia mencoba bersikap profesional
"Namaku Sindi, tapi cukup panggil aku dengan panggilan nyonya Roni"
"Baiklah nyonya Roni, apa yang bisa saya bantu?"
Naina bersikap sangat tenang menghadapi selingkuhan suaminya atau mantan suami, karena pengajuan cerainya di pengadilan agama akan segera diputuskan, Naina sengaja tidak pernah datang ke panggilan sidang supaya perceraiannya segera selesai dan segera keluar akta perceraiannya.
"Sudah aku katakan tadi, aku ingin terlihat lebih cantik dari istri pacarku"
"Nyonya Roni, anda sudah sangat cantik, dan berhasil merebut suami orang lain, tetapi kenapa anda merasa kalau istri dari pacar anda lebih cantik?"
"Istrinya itu hanya cantik saja, tapi dia sudah menopause, sudah tidak bergairah lagi sehingga membuat suaminya mencari wanita yang bisa memuaskan hasrat nya"
"Sedikit bocoran dari istri pacar anda, katanya pada suatu malam suaminya itu pulang dari berjumpa dengan pacar gelapnya, tetapi suaminya itu terus meminta dilayani oleh istrinya, tetapi tentu saja istrinya yang sudah sangat muak dengan suaminya itu tidak mau melayani nya, dan memberikan alasan yang penuh kebohongan agar tidak melakukan hal kotor dengan orang kotor karena istri itu sudah tau kalau suaminya sudah terkontaminasi sampah di jalanan" ujar Naina penuh penekanan pada kata sampah.
Terlihat tangan Sindi mengepal, tetapi Naina makin senang mengganggu wanita selingkuhan suaminya itu.
__ADS_1
"Kalau sang suami puas dengan selingkuhannya, kenapa saat kembali kerumah masih selalu meminta dilayani oleh istrinya?"
Sindi menggebrak meja lalu berniat menampar Naina tetapi tangannya ditepis oleh Naina,
"Asal anda tau nyonya Roni, anda cuma dijadikan budak nafsu, dijadikan tempat memuntahkan air kotornya, aku berharap dengan sangat yang anda kandung adalah bayi laki-laki, karena kalau itu perempuan, anda hanya akan bernasib sama sepertiku"
Sindi meninggalkan tempat itu dengan penuh kemarahan.
"Nona Sindi" panggil seseorang, Sindi langsung menoleh dan tersenyum dengan manisnya melihat siapa yang memanggilnya dan langsung melupakan kemarahan nya pada Naina.
"Tuan Suseno, ada perlu apa sampai mencari ku kesini? apa tuan Endra perlu bantuan dariku lagi?" ucap Sindi sumringah, bayaran dari Endra satu koper uang teringat lagi di ingatannya.
"Tuan Endra ingin bertemu dengan nona, sekarang ikuti saya" ucap Suseno lalu berjalan menuju mobilnya
"Dengan senang hati" jawab Sindi kegirangan lalu mengikuti Suseno, bayangan uang satu koper yang akan kembali dia terima membuat Sindi sangat bersemangat.
"Tuan Suseno, ini sepertinya bukan arah menuju rumah besar keluarga tuan Endra, kita mau kemana?" tanya Sindi heran, walau dia hanya pernah sekali datang kerumah Endra tetapi dia sudah paham jalan nya.
"Di hotel? apa nyonya Intan juga disana? atau sekarang hanya kami berdua yang bermain?" tanya Sindi antusias, walau melayani Endra dia tidak bisa merasakan pedang Endra masuk bagian intinya tetapi bermain dengan Endra sangat menggairahkan, karena tubuhnya yang tinggi besar, membuat Endra sangat gagah, apalagi ciuman dan permainan lidahnya sangat memabukkan.
Pedang Endra memang tidak bangun saat Sindi mencobanya dulu, tetapi bahkan saat terkulai tidak bisa bangun, pedang itu terlihat besar dan panjang.
"Kalau kali ini pedang itu bangun, aku pasti mendapatkan kenikmatan yang tiada tara, ditambah dengan uang satu koper, sungguh indahnya hari ini" batin Sindi.
Mereka sudah sampai disebuah hotel mewah, Sindi dibawa menuju ke sebuah kamar, dia begitu senang dan senyuman tidak lepas dari bibirnya.
Saat pintu terbuka, terlihat Endra dengan gagahnya duduk di sofa sudah menunggunya, dengan senyuman menggoda Sindi langsung mendekat ke arah Endra.
"Langsung saja tuan, aku sudah bersih dan sangat siap, aku jamin kali ini aku akan berhasil" ucap Sindi langsung duduk disebelah Endra
"Nona Sindi, tidak perlu terburu-buru, kita masih punya banyak waktu, silahkan duduk di sofa depan saya biar kita ngobrolnya lebih santai, dan aku bisa dengan puas memandangi wajah cantikmu" ujar Endra, mendengar itu tentu saja Sindi sangat senang karena Endra begitu ramah padanya, padahal waktu pertama kali bertemu, Endra tidak berbicara apapun, hanya Intan yang menjelaskan semua nya.
__ADS_1
"Nona Sindi, seperti yang terlihat, disini tidak ada istriku, bagaimana kalau nanti nona berhasil membangunkan nya, apa tidak masalah kalau aku memasuki milikmu?" tanya Endra
"Dengan senang hati tuan, ayo kita lakukan sekarang" ujar Sindi yang seperti sudah tidak sabar dan terlihat sangat bernafsu.
"Kenapa nona begitu tidak sabaran, apa nona sudah izin pada suami,, eh maaf maksudnya adalah, apakah sudah izin pada selingkuhan anda yang bernama Roni, karena aku rasa permainan kita kali ini akan sangat lama, takutnya dia mencari-cari nona" ucap Endra dan mulai membuka kancing bajunya yang membuat Sindi semakin panas.
"Tuan tau dari mana tentang Roni?" tanya Sindi yang merasa aneh dengan perkataan Endra.
Sindi terus gelisah memegangi bagian intinya yang sudah berkedut dari tadi, tetapi dia mencoba menahan karena ternyata Endra tau tentang hubungan nya dengan Roni.
"Apa nona lupa, kita pernah bertemu di restoran, saat itu nona cantik istri Roni juga ada disana bahkan memberikan uang pada nona Sindi" jawab Endra.
Lalu Sindi mencoba mengingatnya, saat itu Endra mengenakan masker jadi Sindi tidak tau kalau itu adalah Endra.
"Tidak apa-apa tuan, Roni tidak akan mencari diriku disiang hari seperti ini, dia hanya mencari ku disaat malam, lagipula miliknya peltu" ucap Sindi semakin kepanasan dan bagian intinya semakin berkedut dan terus melihat kearah Endra seolah minta tolong untuk di dinginkan.
"Apa itu peltu?" tanya Endra
"Nempel langsung metu, itu bahasa jawa, metu itu artinya keluar" jawab Suseno yang dari tadi ada di pojok belakang dekat pintu masuk
"Nona Sindi, kalau Suseno ikut bermain apa kamu tidak keberatan? sepertinya dia juga kepengen, karena dari tadi dia memandang nona dari belakang, aku kasian padanya" ucap Endra menahan senyumnya, dari tadi dia sebenarnya mencoba menahan senyumnya saat tau arti kata peltu.
Suseno melotot kearah Endra lalu mengepalkan tangannya dan diarahkan pada Endra, saat ini Suseno dalam mode sahabat Endra jadi dia tidak ragu bercanda dengannya, karena saat mode kerja, mereka harus serius.
"Tentu saja boleh, aku sudah biasa bertiga, dan itu lebih mendebarkan" jawab Sindi
"Baiklah, kalau begitu layani dulu Suseno" ucap Endra tersenyum jahil pada sahabatnya.
Sindi langsung bangun mendekati Suseno membuat Suseno ketakutan, Sindi sudah didepan Suseno lalu menekuk lututnya, dan mencoba memegang pedang Suseno, melihat ekspresi ketakutan sahabatnya, membuat Endra tidak bisa lagi menahan tawanya, Suseno menghindar dan langsung berlari kearah ranjang yang tentu saja diikuti Sindi, karena Sindi pikir Suseno mau melakukan nya di ranjang.
Suseno lalu memegang selimut di atas ranjang itu, selimut yang dari tadi terlihat seperti ada orang dibawah nya, dari tadi juga Sindi sudah melihat dan bahkan tau kalau disana pasti ada orang karena terlihat sesekali bergerak, Sindi berfikir kalau itu pasti bawahan Endra yang juga akan mencicipinya.
__ADS_1
Sindi tersenyum, karena dia merasa kali ini dia akan merasakan kenikmatan yang super dahsyat dengan para pria kekar disekitarnya saat ini, tetapi senyuman nya langsung menghilang seketika saat selimut itu dibuka, Sindi mundur dan sedikit menjerit karena kaget.